Waktu yang pergi bersama kenyataan
Waktu mengiringi setiap jejak langkah, hembus nafas dan perubahan peradaban. Membicarakan waktu seperti sedang menyusun ulang fragmen perasaan yang begitu abstrak untuk disatukan. Waktu ia akan selalu bergulir ke depan, tanpa kenal jeda dan masa pemberhentian sekalipun telah berpulang waktu akan terus berjalan. Hari kemarin yang diberikan oleh waktu seperti sebuah kenyataan yang telah pergi. Sebuah kesempatan yang tidak bisa diulang untuk diperbaiki apalagi dinikmati dua kali.
Waktu mengajarkan diri menghadapi banyak kejadian dan merasakan jutaan bentuk perasaan. Menyelipkan beberapa pengertian tentang penyesalan, pelajaran juga penghargaan atas hal-hal yang mungkin tidak disyukuri selagi ada namun begitu terasa pilu ketika menjema tiada.
Waktu menghadirkan malam untuk kepada semesta dan hal istimewa untukku, bahwa waktu juga membawa malam sepaket bersama keheningan yang selalu berhasil menjelma refleksi untuk bercermin; melihat keadaan diri paling jujur.
Dewasa ini ada banyak pertanyaan yang mengusikku tentang perjalanan hidup, impian yang terus rimbun dan rumitnya kumpulan perasaan tanpa penjelasan yang hadir dalam hati. Untuk menemukan jawabanannya, maka kususuri jejak-jejak masa lalu. Untuk mencari keutuhan diriku yang pernah hancur dan keliru sebab dihantam oleh rencana yang hilang, kumpulan kenyataan pahit dan harapan-harapan yang pernah patah. Hingga aku mendapati diriku yang hari ini, yang bahkan tidak tahu selayaknya menyebut aku manusia yang bagaimana. Selalu ingin menjadi lebih baik, namun seiring itu semakin pula kutemui banyak cela dalam diriku yang kucipta dengan atau tanpa sengaja.
Aku telah berkelana dari satu rumitnya cabang pikiran menuju dini hari yang penuh dengan kegelisahan, hanya untuk sekedar menemukan tenang yang lapang, namun yang kutemukan hanyalah kepingan-kepingannya yang bersembunyi dengan sangat indah dan apik di balik doa-doa yang berserah dalam pasrahnya jiwa kepada Tuhan.
Diantara pejam mataku, aku menyadari penuh bahwa terhadap poros takdir-Nya aku tiada berdaya dan dalam seluruh ketetapan rahasia-Nya aku hanyalah musafir yang paling fakir diantara seluruh manusia.
ŮŮاŮŮŘšŮŘľŮŘąŮŰ ,
اŮŮŮ٠اŮŮاŮŮŮŘłŮاŮŮ ŮŮŮŮŮŮ ŘŽŮŘłŮŘąŮŰ ,
اŮŮŮŮا اŮŮŮذŮŮŮŮ٠اٰŮ
ŮŮŮŮŮا ŮŮŘšŮŮ
ŮŮŮŮا اŮŘľŮٰŮŮŘٰت٠ŮŮŘŞŮŮŮاؾŮŮŮا بŮاŮŮŘŮŮŮŮ ŰŰ ŮŮŘŞŮŮŮاؾŮŮŮا بŮاŮŘľŮŮبŮع٠.
Mendekati akhir, 16 Juni 2021 22.38