Nyatanya, yang paling sulit bukanlah menghadapi keadaan.
Yang paling sulit adalah ketika perasaan mulai dipengaruhi oleh ucapan orang lain. Ketika hati perlahan mempercayai kalimat-kalimat yang bahkan belum tentu benar adanya.
Sering kali kita menganggap perkataan orang sebagai kenyataan, padahal bisa jadi itu hanya sebatas persepsi. Mereka melihat dari luar, sementara hanya Allah yang benar-benar mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati dan bagaimana sebenarnya sebuah keadaan.
Jangan sampai keputusan yang kita ambil lahir dari asumsi orang lain, bukan dari keyakinan yang telah kita timbang dengan jernih.
Aku pun masih sering terjebak di titik itu. Mendengar sesuatu, lalu buru-buru memvalidasinya dalam hati seolah itu adalah kebenaran. Padahal belum tentu demikian.
Mungkin memang tidak semua hal perlu segera diberi makna. Tidak semua ucapan harus dijadikan kesimpulan. Dan tidak semua pikiran yang muncul harus dipercaya.
Sebagai manusia, kita akan selalu memiliki lintasan-lintasan pikiran. Namun, tidak semuanya harus kita pelihara. Ada yang cukup disadari, lalu dilepaskan. Ada yang cukup menjadi pengingat bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari apa yang terdengar, melainkan dari apa yang benar-benar Allah tetapkan.














