It's my 10 year anniversary on Tumblr đĽł

PR's Tumblrdome
tumblr dot com
Sade Olutola
Game of Thrones Daily
RMH

ellievsbear
AnasAbdin
NASA

wallacepolsom
One Nice Bug Per Day
Cosmic Funnies
todays bird

if i look back, i am lost
h
Lint Roller? I Barely Know Her

titsay
Sweet Seals For You, Always

JBB: An Artblog!

shark vs the universe
seen from Taiwan

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Spain
seen from Belgium

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from Canada
seen from Canada
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from TĂźrkiye

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from India

seen from T1

seen from United States
@nasigorengg
It's my 10 year anniversary on Tumblr đĽł

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Sekilas 2023
Menutup tahun 2023 ada baiknya melihat ke belakang apa yang sudah dilalui dan apa yang perlu diperbaiki. Memulai kehidupan baru di Dresden untuk bekerja di industri rasanya bermacam-macam. Tidak terasa bulan Desember ini adalah bulan ke 8 kami sekeluarga pindah ke kota ini. Terkhusus urusan pekerjaan, ada hal yang cukup membekas diingatan.
Tawaran pindah
Tahun ini ternyata saya menginjak umur yang sudah 27 tahun. Dengan karir yang sudah setengah jalan dan kehidupan yang tidak lagi sendiri menjadikan keputusan yang diambil tidak bisa impulsif karena konsekuensinya makin besar. Ada karir istri dan juga pendidikan anak yang harus dipertimbangkan. Baru di bulan ke 8, total sudah ada 4-5 tawaran pindah dengan posisi yang lebih tinggi seperti Sr. scientist (US), Anode R&D Manager (Spain), Project lead (Swiss), dll. Kalau kata teman, 2 dekade ini memang dunia baterai sedang gila-gilaan.
Namun setelah berdiskusi dengan istri, kami memutuskan untuk tetap di Dresden. Saya tanyakan lagi kepada diri, âApa sih yang dicariâ. Lagi pula, urusan pindah apartemen sangat menguras tenaga, waktu, dan dana. Kata istri, âbaru aja bangun dapur, masa harus dicopot lagiâ. Memang sudah seharusnya bersyukur, sudah cukup sebagai scientist, sudah bisa makan tanpa khawatir besok hari mau makan apa.
Kadang berandai-andai, harus berapa lama lagi di Jerman. Padahal ada keinginan suatu saat nanti balik ke Indonesia. Ingin bisa berkebun, duduk di teras rumah, main catur sambil menunggu return investasi. Sekarang mungkin masih gelap, semoga seiring berjalannya waktu akan terlihat hilalnya. đ
Dresden, 27 Desember 2023
Hari Pertama
Tidak terasa sudah 8 bulan saya bekerja sebagai peneliti di industri. Masih hijau, namun saya sudah merasakan bahwa kehidupan baru ini relatif berbeda dengan kehidupan saat menjadi peneliti PhD. Jujur pekerjaan ini jarang terpikirkan saat dulu masih SMA, namun beginilah uniknya Allah SWT menuntun langkah manusia. Berhubung sedang liburan akhir tahun, saya ingin menuliskan beberapa seri tulisan mengenai kejadian-kejadian yang masih membekas di ingatan.
Hari pertama kerja
Hari pertama selalu berkesan. Bagi saya, hari pertama rasanya campur aduk antara antusias dan was-was. Antusias karena ini merupakan tantangan baru, was-was karena kota Dresden, apalagi tempat kerja saya di bagian timur terkenal masih tertutup terhadap orang luar. Dulu pun ketika menerima tawaran kerja ini tidak langsung saya iya-kan. Saya diskusi panjang dengan istri serta bertanya ke tetangga kami yang sudah lama menetap di Jerman mengenai kota ini. Tambah ngeri ketika mencari berita lewat google mengenai bagaimana sikap penduduk kota ini terhadap para muslim.
Hari pertama ke kota ini untuk melihat apartemen sudah terasa aura perbedaannya. Di MĂźnster, tidak jarang penduduk lokal menyapa ketika berpapasan di jalan meskipun tidak saling mengenal. Di hari pertama di Dresden, yang kami dapat adalah tatapan tajam ke istri yang berjilbab. Karena itu, saya dan istri sempat menanyakan ke diri kami apakah keputusan ini adalah keputusan yang tepat.
Singkat cerita, alhamdulillah ternyata semua lancar pun sampai hari ini tidak pernah mengalami kejadian rasis. Di hari pertama sepulang kerja, istri menjemput di pintu dan kami berdua merasa sangat terharu. Lantas pikiran saya melayang melintasi beberapa periode waktu. Dulu saat melamar istri, saya masih kuliah S2 dan belum memiliki kepastian kerja. Alhamdulillah sekarang Allah SWT cukupkan rezeki untuk keluarga kecil kami.
Dari segi tempat tinggal pun mengalami peningkatan. Dulu saat masih di Solo kamar yang saya tempati 2.5 m x 3 m. Saat di Hsinchu, Taiwan saya menempati kamar dengan luas 3 m x 8 m dan diisi 4 orang. Selepas menikah, saya dan istri menyewa kamar kos ukuran 10m2. Kemudian di MĂźnster bersama istri di apartemen dengan ukuran 33m2. Dan sekarang di Dresden dengan ukuran 80m2, setidaknya anak bisa berlarian di rumah.
Bukan sebab âtak sengajaâ, atau âkeberuntunganâ semata, tapi memang sebab demikian Allah hendak memberikannya. Nyatanya, memang banyak sekali hal baik yang Allah hadirkan dalam hidup, yang boleh jadi tanpa sekalipun kita memintanya. Alhamdulillah.
Dresden, 25 Desember 2023
Menjadi Doktor
Menuliskan ini teringat bahwa dulu ada iklan dari susu Boneeto bahwa bagi siapa yang mengirim bungkus susu boneeto, akan berkesempatan jalan-jalan ke Eropa apabila beruntung. Saya ingat sekali. Saat itu saya masih TK dan tinggal di rumah kontrak di selatan rel kereta. Ternyata 21 tahun kemudian saya ada di Jerman. Siapa yang menyangka.
Memulai perjalan PhD ini ternyata sangat pahit. The first 3 months is a total disaster. Saat itu saya yang baru saja menikah 1.5 bulan dan harus merasakan LDM. Selisih waktu 6 jam terasa sangat menyiksa karena ketika di Jerman jam 6 sore, di Indonesia sudah pukul 12 malam, yang artinya tidak ada yang bisa ditelepon. Sepi yang menyeruak di rongga hati sangat menyiksa. Praktis saya hidup di kamar kotak ukuran 19 sqm dengan sepi dan kesendirian. Istri saya yang paling tahu berapa kali saya menangis di rentang waktu 3 bulan tersebut. Masalah demi masalah datang bertubi-tubi mulai dari administrasi hingga masalah riset.
Dulu saya benar-benar tidak mengerti kenapa setiap eksperimen selalu gagal. Padahal pengalaman riset saya di Taiwan sudah sangat tinggi. Saat di Taiwan, mungkin sudah 500 an baterai pernah saya buat. Namun di sini, direntang waktu 3 bulan tersebut, hampir sebagian besar baterai yang saya buat gagal.
Saya ingat-ingat lagi kaidah hidup bahwa seringkali kita terjebak dan tersesat bukan karena kita tak tahu rute jalan yang mana yang harus kita tempuh. Tapi karena kegelapan membuat kita kesulitan mengenali jalan yang kita tempuh.
Waktu berlalu dan saya menyesuaikan dengan keadaan, toh manusia diberi kemampuan beradaptasi untuk bertahan hidup. Saya sadar saat itu saya kesulitan mengenali rintangan. Karenanya saya bercerita ke pembimbing dan kolega. Meski terseok-seok di awal, pada akhirnya pelangi muncul juga setelah lebatnya hujan.
26 Juni 2023.
Tanggal tersebut menjadi salah satu sejarah hidup yang akan selalu saya ingat. Setelah menjalani PhD selama 2 tahun 3 bulan, akhirnya saya berhasil mendapatkan gelar Dr. rer. nat. Saya harus banyak bersyukur karena berhasil menyelesaikan PhD dalam waktu singkat dan diumur yang relatif muda (26 tahun). 4 paper sebagai penulis pertama di jurnal yang (sangat) top dan H-index 6 di google scholar juga menjadikan prestasi tersendiri.
Apabila ada yang bertanya bagaimana bisa? Saya juga tidak tahu. Sayapun tidak bisa menuliskan lebih panjang lagi. Begitu banyak kesan dan cerita, namun begitu susah untuk diilustrasikan dengan kata-kata.
Di tulis saat perjalanan MĂźnster ke Dresden
Persimpangan
Butuh waktu yang nggak sebentar bagi saya untuk meyakinkan diri. Tiga tahun lalu setelah lulus master, ketika dilanda kecemasan dan kekhawatiran juga rasa frustasi akibat banyaknya penolakan, saya mencurahkan kegundahan hati ke kolega lab yang sudah saya anggap sebagai mentor dan guru kehidupan.
âGimana ya pak, saya kok khawatir kalau daftar S3 dan nanti setelah lulus menghadapi kejadian seperti ini yang berulang lagi?â
Saya lupa jawaban pastinya, tapi intinya kita pasti akan ditemukan di persimpangan-persimpangan. âPasti nanti setelah lulus S3 juga akan menghadapi kejadian yang mirip seperti ini lagi, Gy. Tapi kamu hadapi dengan sabar, insyaAllah ada jawabannya.â
Kalau dipikir-pikir jawabannya standar. Tapi ternyata ketika hidup sedang di titik yang rendah kita hanya butuh kalimat positif agar kita memahami bahwa pikiran yang berkelamut haruslah tidak untuk dipelihara.
Menengok lagi hari-hari kebelakang, saat ini kami sedang sibuk packing barang-barang untuk pindah ke kota lain, tepatnya di Dresden.
Studi saya sudah hampir selesai. Kalau lancar dan sesuai rencana berarti 2 tahun 2 bulan. Pun sudah mendapat kepastian kerja dengan kontrak permanen. Ditawari blue card oleh Jerman. Akan menempati apartemen yang lebih layak untuk Haffa.
Kemudahan dari Allah yang dirasakan bertambah manis karena pernah merasakan yang lebih pahit saat dulu-dulu. Dulu di asrama hidup dengan âstrangerâ di satu kamar 20 m2 untuk 4 orang. Sekarang 33 m2 dengan 2 kamar dan dapur untuk keluarga. Di tempat yang baru luasnya 80 m2. Alhamdulillah.
Sebenarnya ya tetep manusiawi untuk khawatir. Tahun lalu pun masih sempat risau ke Tyas âgimana ya setelah lulus?â Ternyata semakin bertambah umur memang getirnya nggak sedikit. Akal dan perasaan kita udah merasakan banyak hal sehingga banyak kejadian yang membuat kita sedih.
Tapi selain itu, kita juga mulai memahami mana yang sifatnya sementara, mana yang menetap agak lama. Di situ kita belajar kata ridho, ikhlas, sekaligus belajar mencintai dengan baik.
Jadi, di waktu yang singkat ini, lakukan hal-hal yang menurut kita baik. Selebihnya, pasrahkan semua sama Allah. Banyak hal yang harus disyukuri.
âHiduplah dengan baik, makan yang cukup, tunaikan semua amanah dengan baik, jangan memendam rasa marah kepada sesama manusia, buatlah kebahagiaan kecil di keluarga, saudara, dan tetangga. Suatu saat kita pasti berpulang, pulanglah dengan hati yang tenang.â
MĂźnster, 19 Februari 2023

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
November rain
Bulan November 2022 akan menjadi salah satu bulan bersejarah dalam hidup saya. Saya dan istri bersyukur kepada Allah SWT yang telah menitipkan seorang putri yang kami beri nama Haffa, yang artinya hujan yang lembut yang membawa keberkahan. Arti nama ini juga terinspirasi dari kota MĂźnster yang memiliki hujan sebanyak 200 hari sepanjang tahun.
Pada bulan November pula paper ketiga saya sebagi penulis pertama diterima dan melengkapi seri paper sebelumnya di Wiley. Terbitnya paper ini juga menuntaskan target saya dalam perjalanan PhD ini. Thesis saya pun telah selesai dan dalam proses menuju koreksi terakhir dari pembimbing. Selebihnya, saya menunggu waktu sidang dan menunggu terbitnya paper-paper kolaborasi sebagai co-author. Bila lancar, saya akan menjadi orang yang tercepat menyelesaikan PhD selama 13 tahun sejak didirikannya MEET Battery Research Center dengan rentang waktu kurang lebih dari 2 tahun 1 bulan.
Bulan November juga menjadi bulan yang istimewa karena keputusan besar sudah saya ambil. Saya memutuskan untuk mengambil tawaran yang menarik dari salah satu perusahaan baterai di Jerman dan akan memulai menjadi scientist per April 2023. Artinya, saya akan memutus kontrak kerja di MEET 1 tahun lebih awal dan saya bersyukur karena pembimbing PhD sangat mendukung keputusan ini.
Menuliskan ini, ingatan saya melayang pada saat lulus Master. Saat itu saya kesulitan mendapat pekerjaan di industri di Taiwan dan harus gagal dalam aplikasi lebih dari 200 kali. Mungkin inilah yang dinamakan sesuatu ditunda karena hendak disempurnakan, dibatalkan karena hendak diganti yang utama, ditolak karena dinanti yang lebih baik.
Untungnya manusia juga memiliki anugrah untuk memilih. Apa yang kita alami hari ini adalah rangkaian dari pilihan yang sebelumnya kita buat sendiri. Sejak awal memulai PhD, saya memilih untuk bekerja efektif dengan selalu berangkat jam 7 pagi untuk mulai mengerjakan riset dan pulang sebelum dzuhur. Semua terbayar tuntas. Saya bersukur dapat meninggalkan kesan yang sangat positif di lingkungan kerja.
Belum official mendapat gelar doktor, tapi saya memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memudahkan langkah. Terima kasih tentu saja untuk istri saya yang selalu memberi kepercayaan penuh. Jadi ingat dulu saat melamar ternyata saya belum punya kerja. Memang benar, bahwa manusia sejatinya bisa saja ragu dan takut dengan apapun yang dihadapinya, tetapi kamu selalu mengingatkan untuk selalu memperkokoh iman, agar tidak ada khawatir maupun sedih hati berlebihan. Alhamdulillah.
MĂźnster, 25 November 2022
Satu-satunya jalan atau sebuah pilihan?
Fase-fase PhD memang punya banyak cerita. Mungkin bagi yang sedang menempuh/sudah selesai PhD pasti tahu kalimat âpublish or perishâ, yang artinya mahasiswa PhD harus bisa mempublikasikan hasil temuannya di jurnal ilmiah meski harus sampai diperas keringatnya. Menuliskan ini, saya teringat perkataan teman, âkenapa kita pilih jalan ini ya (baca: S2/S3). Padahal kalau dari awal milih fokus jalan hidup yang lain pasti kemumetan akademik ini gak akan terjadi.â
Saya merenung. Mungkin benar, tapi juga debatable. Karena âby natureâ manusia memang suka membandingkan. Banyak meme yang mengatakan bahwa PhD itu singkatan dari âpermanent head damageâ. Atau meme-meme lain yang mengejek dunia per-PhD-an. Contoh, meme yang mengatakan PhD sebenarnya underpaid job, atau meme yang menyentil tentang tampilan sebelum dan sesudah menjadi PhD student (dari necis menjadi lusuh).
Saya memaklumi karena pembuat meme ini boleh jadi kebanyakan adalah orang dari negara makmur yang tidak mengerti bahwa mengenyam pendidikan S2/S3 adalah, boleh dikata, satu-satunya harapan bagi kebanyakan mereka yang datang dari negara berkembang dan/atau negara konflik. Pola ini saya amati ada dan sama baik saat saya di Taiwan atau di Jerman. Dan saya yakin dapat dengan mudah diamati di negara âwelfare stateâ lainnya.
Mundur kebelakang, mereka yang dari negara berkembang/konflik ini belajar mati-matian, berproses agar menjadi berlian, dengan motif sebisa mungkin pergi dari negara asalnya. Alasannya bermacam-macam: negara tidak aman, gaji kecil, tidak percaya pemerintah, atau alasan lain yang intinya kekecewaan pada negara. Akumulasi alasan-alasan menjadi motivasi yang kuat untuk pindah ke negara makmur. Dan agar dapat diterima di negara makmur ini, pendidikan adalah satu-satunya jalan.
Ambil contoh, temuilah mahasiswa dari Iran. Tanya apa rencana mereka setelah PhD. Saya yakin mereka ingin menetap di negara di mana mereka bersekolah / setidaknya tidak pulang ke negaranya. Bila tanya mahasiswa India dan Pakistan pun kemungkinan besar jawaban yang didapat akan sama. Karena, kalaupun benar bahwa PhD adalah underpaid job, tapi kondisi rekening mahasiswa PhD berkali-kali lipat lebih sehat daripada ketika bekerja di negara asal. Hal ini yang luput serta tidak dapat dirasakan orang barat. Karena startnya saja sudah berbeda.
Bagaimana Indonesia? Boleh jadi kecenderungannya sama yakni tidak sedikit yang memilih menetap dan enggan kembali karena sistem yang kacau.
Saya teringat tahun 2015 saat S1 semester 2. Saat itu, saya baru menyadari bahwa jumlah LPTK itu sangat banyak. 415 institusi yang terdiri dari 12 eks IKIP, 24 FKIP univ negeri, 1 FKIP UT, dan 378 LPTK swasta. Artinya, saya harus menerima kenyataan bahwa 1.3 juta mahasiswa FKIP lulus tiap tahun. Dibandingkan dengan jumlah lowongan PNS, rasionya tidak masuk akal. Implikasinya, pilihan yang sangat terbatas menjadikan sebagian besar dari lulusan ini rela digaji 300 ribu per bulan yang dibayarkan setiap 6 bulan untuk mengajar di sekolah. Sudah tentu, bagi pembuat kebijakan yang duduk di kantor dengan pendingin ruangan sambil minum teh, mereka tidak akan bisa merasakan bagaimana gusarnya 1.3 juta lulusan ini.
Pada akhirnya, bagi sebagian orang di dunia ini (saya termasuk di dalamnya), PhD boleh jadi adalah adalah satu-satunya jalan, atau paling tidak, adalah jalan terbaik dari pilihan yang ada. Tentu kekhawatiran seperti bagaimana untuk lulus PhD / bagaimana langkah lanjut setelah PhD pasti pernah terbersit. Semoga kita semua senantiasa dimudahkan dan diberi keberkahan dalam setiap urusan. Aamiin.
MĂźnster, 23 Februari 2022
Kenapa ya orang-orang banyak yang ngebet ingin menebar inspirasi bagi sesama, tapi kadang karena mereka datang dari posisi dengan privilege yang terlalu out of rakjelâs world, jadinya ngga kena aja gitu. Bencik juga kalau kerja keras feat privilege dibungkus menjadi kalimat motivasional âKalau aku bisa, kamu juga pasti bisa!â
Case-nya tadi pagi baru dengerin narsum di sharing session kantor, dia dulu sempet kuliah di Teknik Industri ITB tapi dapet beasiswa ke Perancis, jadilah beliau lulus S1 dan S2 dari Nantes sana. Beres kuliah, sempet kerja jadi ekspat, anak-anaknya pun dapet fasilitas disekolahin di British International School (yang di Indonesia, tuition per tahunnya 300 juta aja bund). Pas udah sampe ujung sesi, beliau pun membagikan kisah perjuangan anaknya untuk dapetin beasiswa di 7 negara, sampai akhirnya dapet beasiswa untuk S1 di University of Cincinnati. Â
He-he. Gak yakin pas beliau cerita susahnya sang anak dapetin nilai SAT yang bagus, penonton juga langsung ngeh SAT itu apa.Â
Suka penasaran juga sih orang-orang privileged sampe kepikiran bikin buku tuh⌠apa ga riset pasar dulu ya - sama ini target audiensnya siapa sih? Berapa persen sih warga yang ortunya punya budget untuk nyekolahin anak ke international school, untuk bayar International Baccalaurate di sekolah top di Singapura, untuk bayarin SAT $117 per tes, bahkan untuk bayar admission fee buat diconsider jadi calon mahasiswa di universitas luar negeri sana? Justru kayanya kalau udah mendapatkan kualitas pendidikan yang sebagus itu dari kecil, kalau ujung-ujungnya sekolah di sekolah tidak terkenal malah itu yang aneh đđđđ
Curiga kalau para rakjel buka bukunya dengan harapan menjadi terinspirasi dengan langkah-langkah meraih mimpi, langsung ditutup lagi karena nggak ada pengalaman hidup yang relate sama sekali.Â
But then again⌠mungkin dia juga ngga tau sih kondisi pendidikan dan ekonomi mayoritas orang Indonesia pada umumnya seperti apa :(
Di saat yang sama, banyak headlines yang meromantisasi âkemiskinanâ e.g., Anak tukang becak berhasil kuliah di Inggris, dll. Yang baru-baru ini: anak supir berhasil kuliah di US. Harusnya media, atau juga si studentnya lebih menekankan ke info yang berguna. Misal, ngasih pencerahan pros and cons S2/S3. Atau mungkin bahasan mengenai apakah kuliah lanjut emang bener-bener perlu atau enggak dalam konteks ke-Indonesia-an.Â
Salah juga sih sekarang banyak yang ngepost jalan2 pas study abroad. Khalayak jadi nangkepnya satu sisi doang. Tapi ya hak individu juga sih, ga bisa ngelarang-larang. Akhirnya kembali ke value yang dipegang masing-masing.
7 bulan PhD, how is it going?
PhD boleh dikata adalah perjalanan yang dituntut untuk melampaui batas limit pengetahuan manusia. Idealnya ya. Meski tidak semua orang akan menjadi pemenang Nobel
Tanggal 1 bulan depan artinya 7 bulan perjalanan sebagai mahasiswa PhD. Waktu yang baik untuk melakukan refleksi. Sempat kesulitan mengalami penyesuaian di awal-awal, alhamdulillah sekarang bisa menemukan ritme kerja yang dirasa optimal. Perjalanan PhD kalau boleh saya bilang adalah perjalanan yang sunyi karena jenjang ini adalah jenjang dengan kemandirian tingkat tinggi. Meski kolaborasi sangat dianjurkan, namun kemauan untuk bergerak dan mencari secara mandirilah yang lebih berperan. Terlebih, supervisor saya memiliki ~200 mahasiswa PhD di MEET Battery Research Center dan Helmholtz Institute MĂźnster. Praktis setiap mahasiswanya hanya bertemu 3 kali selama masa studi.
Kata orang kantor, 1 tahun pertama biasanya sampah, penuh trial dan error, masa-masa menghabiskan kesalahan teknis, barulah kemudian di tahun kedua dan ketiga biasanya terlihat hasil. Namun tiga tahun kontrak yang saya tanda tangani tentu menjadi pengingat agar tahun pertama tidak terbuang sia-sia. Eksperimen di lab tidak selalu mulus, namun saya pikir ada di jalur yang tepat. Saya juga ingin tetap menikmati perjalanannya, maka mantra work-life balance sebisa mungkin harus tetap dijaga.
Suatu kesyukuran hasil riset saat studi master terbit juga bulan ini. Entah hanya perasaan saya atau memang iya, hal ini membuat rekan kantor semakin respect sama orang Kebumen ini.
Di sini, fokus riset saya adalah menginvestigasi permukaan elektroda baterai. Maka dari itu saya menjadi penanggung jawab X-ray Photoelectron Spectroscopy (XPS) khusus Divisi Material. Artinya rekan kantor yang ingin melakukan pengukuran XPS harus mendapat âyaâ dari saya. Apabila alasanya masuk akal secara saintifik dan XPS memang alat terbaik untuk memberi jawabannya, kemudian saya bantu mereka mengoperasikan dan menganalisis data. Tentu dengan mahasiswa sebanyak 200 orang, kami harus mengatur sebisa mungkin agar sampel yang diukur adalah yang prioritas.
Masih kurang lebih 17 bulan lagi perjalanan. Semoga senantiasa dimudahkan dan diberkahi Allah. Aamiin aamiin aamiin!
MĂźnster, 21.09.21
Mau S2? Think again :)
Langkah kehidupan bagi mereka yang lulus kuliah S1 memang menyimpan berjuta cerita. Pada persimpangan hidup ini, mereka tidak bisa lagi dikatakan muda, namun belum cukup matang untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Bagi mereka yang berangkat dari kondisi yang beruntung, akan ada uluran orang tua yang membantu mereka melalui dinamika kehidupan. Namun bagi yang tidak, mereka dipaksa berjalan sendirian di hutan belantara kehidupan dan mencari alur ceritanya sendiri. Seringkali harus tergores duri dalam perjalanan, terjatuh dalam pencariannya.
Belakangan viral cuitan untuk menghindari keputusan mengambil studi lanjut (S2/S3) karena tidak tahu harus bagaimana selepas lulus S1. Sebagai seseorang yang melanjutkan S2 sampai S3 tanpa jeda, mungkin perspektif saya dapat memperluas cara pandang pembaca tulisan ini.
Tidak dapat dipungkiri, posisi pada persimpangan jalan pasca lulus S1 pasti hadir pada siapapun tanpa terkecuali. Perbedaannya adalah ada sebagian mereka yang telah mempersiapkannya, namun tidak sedikit yang tidak tahu bagaimana kedepannya.
Saat saya di Taiwan, saya pernah bertanya seperti apa bidang kerja untuk lulusan S1 kepada teman saya. Kebanyakan di Taiwan, mereka yang lulusan S1 kerja sebagai teknisi atau pekerjaan lain yang bersifat rutin (tidak perlu inovasi). Maka dari itu banyak yang ingin mengambil S2 agar bisa masuk ke level perekayasa untuk mendapat gaji yang lebih  tinggi. Hal in lumrah karena landscape industri di Taiwan memang sudah maju dan banyak menyerap lulusan S2/S3 untuk research and development. Untuk jenjang yang lebih tinggi yaitu S3, pilihan ini tidak cukup populer karena mereka merasa cukup dengan S2 dan menyadari bahwa tuntutan S3 sangat berbeda dengan S2.
Di Indonesia sendiri, industri yang ada masih berbasis manufaktur, produksi, dan perakitan. Maka dari itu, tenaga S1 masih menjadi favorit karena kegiatan tersebut butuh inovasi yang minimal. Selain itu perusahaan akan lebih memilih tenaga kerja yang dapat digaji lebih minimal pula. Maka bagi saya, untuk kondisi di Indonesia, kuliah S2/S3 bukan pilihan yang baik apabila hanya karena tidak tahu mau apa selepas kuliah S1, terlebih bila tidak memiliki rencana mau bagaimana selepas S2. Hal ini sangat riskan untuk terjatuh dalam lubang yang sama.
Lalu bagaimana?Â
Kebimbangan pasca S1 yang terjadi, daripada memutuskan S2 tanpa arah yang jelas, lebih baik difokuskan untuk mencari jalan cerita hidup masing-masing. Waktu yang ada lebih baik diinvestasikan untuk trial and error daripada 2 tahun kuliah S2 sia-sia. Gagal dan jatuh bangun dalam kehidupan adalah hal yang niscaya. Tapi setidaknya sudah mencoba, dari pada tidak sama sekali.
Bagi saya, memutuskan kuliah S2/S3 itu dapat dipilih apabila memiliki minimal 1 diantara 2 alasan: 1. Menambah value untuk profesi yang ingin/sedang dijalani, 2. Suka dengan bidang ilmu yang digeluti. Apabila tidak menemukan salah satu hal tersebut, maka perlu dievaluasi lagi keinginan untuk studi lanjut.
Saya pilih kata âperlu dievaluasiâ dan bukan âjanganâ, artinya opini ini adalah hal yang subjektif untuk memperluas cara pandang saja. Saya juga tidak memungkiri bahwa boleh jadi ada jalan (bahkan terbuka lebih lebar) pasca S2 meski ditempuh karena tidak tahu mau bagaimana selepas S1. Yang dikhawatirkan tercermin bagian awal tulisan, adalah takutnya hanya menunda kebingungan dengan umur yang semakin bertambah.
Pada akhirnya kehidupan ini dinamis dan semoga kita senantiasa dimudahkan dalam menjalaninya. Aamiin.
MĂźnster, 22.08.2021

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Different continent different culture even for academic life
Saat piknik beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan mahasiswa dari China tentang bagaimana pengalaman dia studi Master di negara Tirai Bambu tersebut. Diskusi ini menjadi semakin menarik bagi saya pribadi karena ternyata kami memiliki pengalaman yang serupa.Â
âPembimbing saya di China selalu mendorong saya sampai limit. Di Jerman ini saya rasa lebih santaiâ begitu kata dia.
Hampir 6 bulan di Jerman tapi saya sudah dapat melihat perbedaan lumayan kontras dari berbagai aspek. Tentu saja ini pengalaman saya pribadi dan bukan merupakan hal yang mutlak, karena setiap orang memiliki pengalaman berbeda-beda.
Perbedaan pertama adalah bagaimana cara memanggil Pak Bos.
 Kala itu beberapa minggu setelah berkutat dengan administrasi Jerman yang super ribet akhirnya datang hari di mana saya bertemu dengan pembimbing untuk membahas topik PhD saya. Tentu saja saya sudah mempersiapkan pertemuan ini termasuk hal-hal kecil juga tak luput dari persiapan, seperti bagaimana saya harus memanggil nama beliau. Saat di Taiwan, seperti negara Asia kebanyakan, kami terbiasa memanggil dengan sebutan âProf + nama keluargaâ. Dengan panggilan tersebut, kesannya kami sangat hormat kepada pembimbing bahkan mungkin cenderung berlebihan.Â
Hari H saat pertemuan pertama dengan Pak Bos di Jerman datang juga. Karena saya tau dari senior bahwa beliau lebih nyaman dipanggil dengan nama langsung, mau tidak mau saya harus terbiasa. Canggung awalnya dan kalau lama-kelamaan dipikirkan malah bikin ngakak karena kurang ajar juga memanggil orang tua dengan nama depan langsung xD. Tapi ya itulah budaya, di tempat yang satu bisa âsangat wajarâ dan di tempat yang lain bisa âsangat lancangâ.Â
Perbedaan yang kedua adalah budaya kerja.Â
Perbedaan ini bikin saya terkaget-kaget. Terbiasa dengan ritme yang cepat saat di Taiwan yang membuat riset terakselarasi dengan baik, di Jerman saya merasa atmosfir risetnya lebih santai. Di Taiwan, bertemu dengan Pak Bos bisa seperti minum obat, 3x sehari. Â Di Jerman, selama saya tidak minta bertemu ya tidak bakal bertemu. Hal ini sempat menjadikan riset saya tak tentu arah. Akhirnya saya minta untuk bisa bertemu setiap 2 pekan sekali. Sisi positif dari budaya kerja di Taiwan adalah risetnya menjadi sangat terarah, cepat, dan banyak. Sisi negatifnya adalah waktu istirahat yang sedikit dan bila sudah berkeluarga akan banyak waktu yang tersita. Sedangkan sisi positif budaya kerja di Jerman adalah waktunya lebih fleksibel sehingga tetap bisa beristirahat dengan optimal. Sisi negatifnya, karena risetnya lebih independen maka apabila kita termasuk orang yang tidak pandai mengatur strategi maka riset akan tersesat dan tak tau arah jalan pulang.Â
Perbedaan ketiga adalah pendekatan riset.Â
Yang terakhir ini mungkin debatable ya. Tapi kan namanya juga pengalaman pribadi. Di Taiwan, kerja keras adalah nomor satu. Sebuah kesimpulan riset sedapat mungkin adalah hasil sebenarnya tanpa ada spekulasi teori. Hasil yang dicoba terus menerus lebih terpercaya daripada hanya sekedar teori. Mungkin ini yang membuat budaya berkutat di lab sampai larut malam sangat mengakar. Di Jerman, bukan berarti kerja keras tidak penting tapi (keliatannya sih) kadarnya masih di bawah analisis dan teori sebelumnya.
Jadi lebih betah dimana?
Sangat subjektif dan masing-masing negara memiliki sisi positif dan negatif. Beberapa orang sudah bertanya pertanyaan di atas, dan saya selalu menjawab Jerman karena saya penganut work-life balance. Mungkin di Jerman belum 100% work-life balance, tapi saya merasa nyaman dan cocok.Â
Menuliskan ini saya ingat di kalimat di Twitter bahwa kesehatan itu nomor satu. Kalau tempat kerja kehilangan kamu, maka mereka akan sangat cepat untuk mendapatkan pengganti. Maka jagalah kesehatan dan manfaatkanlah waktu sebaik mungkin untuk keluarga. Kerja/rapat sampai malam bukan hal yang bijak, apalagi sekedar untuk memberi impresi yang baik ke atasan. Bagi saya itu tidak professional dan mengindikasikan buruknya pengaturan waktu.Â
Namun bagi orang yang lebih suka budaya kerja keras dengan tempo yang cepat dan banyak maka Taiwan salah satu negara yang sangat tepat. Universitas dan laboratorium akan selalu buka 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.
Satu alasan tambahan tapi tetap signifikan kenapa saya lebih nyaman di Jerman adalah kerja buruh dibayar gaji buruh, bukan kerja buruh dibayar gaji mahasiswa .
Sekali lagi, tulisan ini berdasarkan pengalaman/stereotype pribadi. Namun yang pasti, kedua negara tersebut menjadi negara maju meski dengan pendekatan yang berbeda. Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Mengapa kita seolah berjalan di tempat?
Mungkin jawabanya adalah karena nenek moyang kita adalah orang yang merasa cukup. Duduk dengan istri di pekarangan rumah sambil minum teh sudah sangat membahagiakan. Tidak perlu pusing-pusing riset baterai. Apalagi pusing mikirin bansos yang dikorupsi. Keburu tehnya dingin nanti .
Ada yang berteriak karantina, ada yang berteriak kelaparan.Â
Sayangnya, tidak sedikit yang mengambil keuntungan.Â
Tertutup nuraninya oleh ketamakan.
Dari kejauhan di Jerman, aku melihat negeriku sedang sekarat.Â
Tukang servis HP turun ke jalan,Â
berkalung kardus bertuliskan kami lapar.
Sedang pemilik angkringan dipaksa tutup oleh aparat berseragam.
Ya Allah, mudahkan lah perjuangan setiap Ayah yang tulus mencari rezeki untuk anak isterinya.
Setiap Ibu yang meneteskan keringat demi popok bagi anaknya.
Setiap kakak yang berpeluh untuk membeli mainan bagi adiknya.
Setiap anak yang terampas hak pendidikan layaknya.
MĂźnster, 18 Juli 2021
Egy Adhitama
Memulai Perjalanan S3 di Jerman
Di antara berbagai alasan yang sering diucapkan adalah alasan menunggu siap. Namun pada akhirnya kita hanya akan tahu bahwa kita telah siap adalah saat sudah menyelesaikannya. Jauh sebelum itu, kita tak benar-benar siap.
Lama tidak menulis blog, bila memang ada yang membaca, saya mohon maaf karena 2 bulan belakangan sedang fase berat-beratnya. 1 Maret, 1.5 bulan setelah menikah, saya menginjakkan kaki di Bandara Internasional Frankfurt untuk memulai perjalanan kuliah S3 di MEET Battery Research Center, University of MĂźnster, Jerman. Memutuskan untuk menikah kemudian menjalani hubungan jarak jauh ternyata sangat tidak mudah. Namun bukan itu fokus tulisan kali ini. Saya akan bercerita perjalanan mendapatkan tempat untuk studi S3.
Boleh dibilang perjalanan ini bukan perjalanan yang pendek. Seringkali disaat saya meragukan diri saya sendiri, ia memaksa saya untuk memutuskan. Ia memaksa saya untuk mencoba, disaat saya sendiri tidak yakin. Karena hidup tidak pernah memberi jeda. Ia tidak menunggu sampai kamu siap untuk memulai kembali.
Menginjak semester 3 saat kuliah S2, saya mulai berpikir setelah lulus mau bagaimana. Tawaran PhD dari Profesor saya tolak baik-baik karena ingin memiliki pengalaman kerja di industri. Kala itu tidak terlalu khawatir, karena lulusan NCTU terkenal sangat mudah mendapat pekerjaan di Taiwan. Lulusan Materials Science NCTU untuk diterima di TSMC sudah seperti air yang masuk ke kerongkongan lalu ke perut. Tanpa hambatan.
Ketika itu saya mengirim aplikasi ke Google Taiwan karena ada lowongan yang sesuai dengan kualifikasi saya. Gayung bersambut, saya mendapat panggilan wawancara via telpon. Sayangnya, ketidakseriusan saya menjadikan kesempatan ini melayang begitu saja. Berlanjut, saya mengirim aplikasi ke company lain. Ternyata masih mendapat penolakan. Ketiga, keempat, sampai kesepuluh ternyata masih ditolak. Mulai was-was. Berpikir apakah saya memang tidak pantas, tidak cukup memiliki skill, dan disusul pikiran-pikiran negatif lain yang bermunculan.
Saya menyadari, ternyata diumur yang hampir mencapai 25 mungkin kerjadian-kejadian inilah yang orang sebut quarter life crysis. Insecure dan merasa tidak pantas. Sampai pada akhirnya saya menemukan lifehacks:
Donât think you deserve job? Apply for it anyways
Donât think theyâll reply to your email? Send it anyways.
Donât self-reject.
-Anonym-
Sampai aplikasi ke 30-an menjadikan saya terbiasa dengan penolakan. Anehnya tidak ada rasa kecewa sama sekali. Sebaliknya, malah pikiran positif yang muncul. Rejection does not define who you are. Your qualification just does not match with their criteria. It is not because you are not good enough.
Di linkedin saya mulai aktif menghubungi orang, walau mereka adalah orang yang tidak saya kenal dan tidak pernah bertemu. Saya kirim pesan menanyakan apakah ada lowongan. Beberapa membalas tapi kebanyakan hanya membaca.
Then I realized I am in the phase which I re-questioned my career decisions. What I actually want and what my passion is. I kept in faith, under whatever circumstances I am in, putting a step by step career decision progress is very important. At the end of the day, it took 243 applications rejected before I found one.
Memilih tempat PhD
Tips pertama dari saya adalah melihat track record pembimbing yang di bidang yang ingin kita tekuni. Dalam hal ini pemilihan universitas menjadi tidak relevan. Saya tanpa ragu mendaftar di tempat sekarang karena Profesor saya saat ini menjadi âbosâ di salah satu tempat riset baterai terbaik di Eropa bahkan dunia. Pembimbing saya saat ini adalah renowned researcher di bidang baterai. Kebetulan saat itu ada job vacancy di mana dibuka kesempatan PhD untuk 12 orang di bawah timnya. Lansung saya apply. Lantas, apa saja informasi yang perlu diperhatikan dan diketahui?
Personal statement dan CV
Dua hal ini adalah langkah awal dan salah termasuk yang paling penting. Ibaratnya ini adalah senjata utama untuk menembus dinding pertama dari perjalanan S3. Saya ingat betul personal statement saya dikoreksi lebih dari 5 orang. Secara singkat isi dari personal statement ini adalah perkenalan singkat, pengalaman saat S1 dan S2 yang menunjang S3, termasuk pengalaman riset, kegiatan ilmiah. Alasan ketertarikan dengan bidang riset dan tempat yang dituju, serta tujuan akhir juga perlu dipaparkan. CV juga hal yang penting karena mereka membaca dengan cermat apa yang sudah kita tekuni, so jangan malas untuk update CV ya!
Beasiswa
Beberapa lembaga Jerman yang memberikan beasiswa pada studi S3 seperti DAAD, DFG, BMBF. Kalau dari Indonesia ada Dikti dan LPDP. Kalau saya dan kebanyakan mahasiswa S3 di Jerman mendapatkan supply dana dari gaji. Di Jerman, mahasiswa S3 sudah dianggap semi-professional. Sebtuannya Mitarbeiter atau scientific staff, sehingga kegiatan perkuliahan S3 kebanyakan diisi dengan penelitian. Di sini kami mendapat hak dan kewajiban yang sama dengan pegawai kampus, digaji dan membayar pajak.
Bahasa Inggris
Memiliki kemampuan aktif Bahasa Inggris, minimal understandable adalah hal yang wajib namun tidak perlu melampirkan bukti TOEFL IBT/IELTS (at least dikasus saya). Unik ya? Karena mereka bisa menilai kemampuan Bahasa Inggris saya ketika proses interview.
IPK
Indek Prestrasi Komulatif penting dan tidak penting karena ada Profesor lebih mengutamakan pada personal statement atau proposal riset pendaftar. Meskipun demikian, bukan berarti kita menganggap remeh soal IPK (Indeks Prestasi Kumulatif), namun IPK bagus tidak menjadi jaminan.
Interview
Kalau sudah sampai tahap ini, selamat! Artinya tinggal selangkah lagi. Di proses interview ini yang paling-paling-paling-paling kritis. Harus sebisa mungkin menarik perhatian interviewer dalam waktu yang singkat. Pengalamanku saat proses interview dibagi 2 sesi. Sesi pertama adalah round table dengan aplikan lain dari berbagai negara. Masing-masing kita diberi 10 menit untuk presentasi mengenai tesis S2 dihadapan 4 Profesor. Setelah itu sesi individu di mana ke 4 Profesor tersebut akan menanyai kita lebih dalam mengenai presentasi yang sudah diberikan, CV, personal statement, dll. Jadi mereka akan tahu kalau di CV itu real atau tidak, kalau tesis kita berkualitas atau tidak. Bahkan mereka menanyai kita tentang basic keilmuan yang kita miliki. Saat itu saya ditanya tentang ilmu dasar kimia, ilmu dasar baterai, dan ilmu dasar elektrokimia.
Berdoa
Yang kadang luput dan disepelekan adalah bahwa semua ikhtiar ketika sudah dilakukan maka setelahnya bukan jatah kita. Out of our control, maka yang bisa dilakukan adalah berdoa. 30 menit setelah interview ternyata salah satu examiner mengirim e-mail bahwa saya melakukan pekerjaan hebat dan sangat besar kemungkinan untuk diterima. WOW! Langsung loncat-loncat lah saya. Alhamdulillah.
Pada akhirnya, dorongan bisa datang dari mana saja, bisa juga sekuat-kuatnya, termasuk setelah kalian membaca tulisan ini. Tapi untuk melangkah, kamu tetap butuh kakimu sendiri đ. I would be happy if there is anything I can help with.
MĂźnster, 24 Mei 2021
Sayangku, sekarang di sini jam 6 pagi ketika kebanyakan orang masih nyaman di bawah selimut. Sedang nun jauh di tempatmu sekarang jam 12 siang di mana orang-orang dalam masa puncak aktivitasnya. Aku mau bilang kalau aku kangen kamu, yang.
Sayang, semenjak 17 Januari kita habiskan waktu bersama. Yang biasanya sendiri, kemudian ada yang menemani. 1.5 bulan adalah waktu yang singkat aku habiskan bersama kamu. Sampai kemudian tibalah waktunya. Kamu menyelesaikan internshipmu, aku memulai perjalananku di Jerman. Sebenarnya kita sudah mempersiapkan bahkan semenjak 1 tahun lalu saat aku menemui ayahmu.
Sayang, ternyata tidak mudah berjauhan dengan kamu. Hari-hari pertama di sini sangat berat. Aku kangen kamu, sayang. Setiap saat. Setiap detik. Terpisah 10.000 km dengan segala kesulitan-kesulitan dihari-hari awal ini sangat menguras energi dan kesehatan mentalku, yang. Aku sempat berpikir apa ini keputusan terbaik?
Sudah tak terhitung berapa kali aku menelponmu dan keluar air mata. Sesenggukan seperti anak kecil menangis saat terjatuh dari sepeda. Sembab.
Yang, setiap kegiatan ku di sini, tidak pernah sekalipun aku tidak memikirkan kamu. Masak, mencuci, melipat baju, dan hal kerumah tanggaan semua aku teringat saat 1.5 bulan kita habiskan bersama.
Sayang, waktu yang paling menakutkan adalah ketika jam 3 pagi di sini aku terbangun yang artinya jam 9 pagi di tempatmu. Sunyi yang ada, semakin menambah rasa kangenku sama kamu. Tak terasa aku menangis dikeheningan pagi. Sungguh ini berat, yang.
Namun kita harus sepakat untuk lebih memberi ruang kepada rasa syukur. Aku masih belajar. yang. Aku masih belajar menjadi imam yang matang, stabil, dan dewasa. Mohon maaf masih cengeng, ya.
Sayang, kamu juga bilang bahwa ini adalah proses yang kita harus lulus melewatinya. Dan tutur katamu sungguh membuat aku tenang. Teduhnya dirimu, hangatnya hatimu, sungguh, aku berdoa agar kita bisa bersama-sama hingga hari tua. Semakin hari semakin menambah rasa cinta. Aku berdoa kepada Allah untuk senantiasa menjagai cinta kita, menjaga diri kita, dan juga kebaikan-kebaikan bagi orang tua kita.
Sayang, ketika aku melenceng, tolong senantiasa ingatkan aku. Ingatkanlah saat-saat ini ketika kamu selalu mensupport aku di titik terendahku. Semoga Allah ridho, yang. Aamiin.
MĂźnster, 8 Maret 2021
Pencuci Piring
Sepeda tetap saya kayuh walau track menanjak dengan jarak kurang lebih 3 km. Angin malam yang dingin membuat pikiran saya melayang memikirkan sisi lain kehidupan. Per tanggal 15 Agustus 2020 saya mengambil kerja part-time sebagai tukang cuci piring dan waiter di restauran India. Dalam kondisi saya saat itu, sebenarnya saya bisa saja untuk tidak mengambil kerja part-time ini.
Pekerjaan ini merupakan pekerjaan fisik pertama kali dalam hidup saya. Pekerjaan yang jauh dari bayangan pekerjaan ideal, membuat saya banyak merenung. Saat saya membersihkan sisa makanan, sembari mendengar customer berbincang dan tertawa, saya menjadi paham bagaimana perasaan seorang waiter. Saat ada piring berserakan di meja, saya mengerti rasanya menjadi ibu-ibu cleaning service di gedung kuliah. Saat mengangkat 1 âkrakâ tumpukan piring, saya merasakan betul perasaan penjual kursi yang biasa keliling kompleks dengan cara dipanggul.
Ini sisi kehidupan yang tidak pernah saya alami dan dan belum pernah saya rasakan sebelumnya. Praktis, pekerjaan saya sebagai Research Assistant (RA) adalah membaca paper, menemukan kebaruan dan inovasi, mengeksperimenkan, dan menuliskannya menjadi suatu jurnal ilmiah untuk dibaca kalangan sejawat. Pekerjaan yang sangat saya senangi sekaligus menghasilkan uang yang lumayan banyak. Sangat berbeda dengan pekerjaan saya tiap weekend sebagai pencuci piring.
Tapi mungkin begitulah cara dunia bekerja. Pengalaman ini menjadikan saya untuk tetap menghargai apapun profesi orang. Tiap tetes keringat, ternyata ada ketulusan didalamnya. Dibalik malamnya orang bekerja, ada keluarga yang menanti dengan harap cemas. Tiap pegalnya tangan yang bekerja, ada harap untuk membelikan anak hal yang disukainya.
Ternyata hidup itu seperti gunung es. Apa yang nampak hanya secuil dan mungkin hanya 10% dari yang tidak tampak. Membayangkan orang dengan pekerjaan fisik dengan gaji yang terbilang sedikit namun masih tetap menyisihkan hartanya untuk berderma dan membantu sesama seharusnya menjadikan refleksi bagi saya.
Maka ada baiknya saya kembali pada hakikat, bahwa semua yang ada dalam hidup adalah ladang amal bagi diri pribadi. Posisi pekerjaan yang nyaman jangan sampai melenakan. Harta kita bukanlah seluruhnya milik kita. Kita memiliki tanggung jawab menyedekahkannya, atau minimal sesimpel menggunakannya untuk membeli cilok yang lewat di depan rumah kita.
Hidup adalah ladang amal. Dan perjalanan hidup kita hanyalah perpindahan dari satu ladang amal ke ladang amal yang lain.
Sepeda masih tetap saya kayuh meski sesekali berhenti di lampu merah. Hari ini dan besok saya adalah pencuci piring. Lusa saya adalah RA. 6 bulan lagi saya belum tahu menjadi apa. Semoga Allah selalu menanamkan rasa syukur dalam diri, menjadikan saya pribadi yang baik dan rendah hati.
Hsinchu, 27 Oktober 2020
Note:
Tulisan ini dibuat bulan Agustus
Saat tulisan ini terbit, saya sudah tidak bekerja menjadi pencuci piring karena posisi tergeser oleh part-timer dari India :(
6 bulan lagi insyaAllah ada di belahan bumi Allah yang lain

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Menjadi Peka
Seisi dunia terasa berpacu layaknya perlombaan, meninggalkan saya yang duduk manis di tepian, menoleh ke kanan-kiri bak pemain figuran. Semua terlihat tergesa-gesa, berlari dengan cepat, saling meninggalkan satu dengan yang lainnya. Sampai pada suatu titik ada video muncul di beranda twitter.
Ada banyak kata-kata yang ingin saya sampaikan namun saya urung mengatakan. Oh, ternyata mendidik diri menjadi manusia pada zaman sekarang ini adalah tugas rumah yang amat besar. Melatih nurani untuk bisa membaca keadaan seolah menjadi hal yang sangat sulit.
Latar belakang setiap orang pasti berbeda, namun naluri manusia seharusnya bisa menahan kita untuk tidak menyebar kemewahan disaat jutaan pekerja terkena PHK, disaat ekonomi sedang sulit, disaat petani susah menjual hasil taninya.
Masih duduk di tepian, saya melihat ke langit-langit. Tidak ada masalah sama sekali tentang gaya hidup seseorang. I mind my business. Namun, ketika hal tersebut dibuat konsumsi publik, sungguh sangat menyakiti hati ratusan juta keluarga yang dibawah garis kemiskinan. Itulah mengapa hati perlu dilatih untuk lebih peka, agar mampu memaknai bahwa materi bukanlah segalanya.
Sekelebat, saya teringat perkataan Rasulullah SAW bahwa seseorang tidak dikatakan beriman ketika dia kenyang sedangkan tetangganya kelaparan padahal ia mengetahuinya.
Saya termenung. Dan lagi-lagi saya hanya bisa termenung di tepi lintasan.
Pulang atau Menetap?
Link:Â https://edukasi.kompas.com/read/2020/09/03/122455371/mendikbud-nadiem-mohon-kembali-ke-tanah-air-negara-membutuhkan-anda
Topik ini memang topik yang seolah tidak ada habisnya. Topik bak benang kusut yang perlu diurai satu per satu.
Saya sendiri ada pada posisi bawa penerima LPDP harus pulang. Titik. Mau ngapain? Pertanyaan yang harusnya dijawab oleh awardee itu sendiri. Harus sadar bahwa Indonesia kita ini masih merangkak, maka ekspektasi awardee ini harusnya diturunkan. Sudah dibiayai kuliah kok masih minta diberi lapangan kerja. Idealnya, mindset yang dibawa selepas S2/S3 itu membuka, bukan meminta. Meski di kondisi lapangan, saya pribadi sadar bahwa ini bukan perkara mudah. Apalagi rentang usia 25-35 yang butuh posisi aman untuk survive di kehidupan. Tapi tetap, para awardee ini memiliki tanggung jawab karena sudah makan dengan uang negara. Sedang bagi yang mendapat beasiswa di luar LPDP, saya ada pada posisi menyerahkan ke masing-masing awardee-nya.
Terlepas dari hal tersebut, saya masih berdiri di posisi yang sama dengan opini yang pernah saya sampaikan di kompas online beberapa waktu lalu bahwa pangkalnya ada di pemerintah. Perlu dibuat payung hukum sebagai dasar untuk melakukan riset fundamental dan terapan, perlu dibangun pusat riset kolaboratif, serta perlu memprioritaskan riset-riset inovatif yang menjadi kunci di masa depan. Dengan begini maka keterserapan tenaga terampil dari luar negeri dan juga dalam negeri akan tinggi.
Gejolak keraguan pulang dan tidaknya diaspora ini mungkin karena mereka sudah terpapar kehidupan yang bisa jadi sangat kontras dengan yang ada di Indonesia. Saya kadang iri dengan negara-negara skandinavia. Mereka ini unik. Tidak ada universitas yang masuk top 10 tapi negaranya makmur, pendidikan maju, lingkungan terjaga. Ternyata kalau ditarik garis merah semua berawal dari stabilnya kondisi politik dan ekonomi. Saya yakin kalau 2 ini bisa dicapai efeknya domino ke sektor lain. Termasuk tentang polemik ini.
Namun ada satu beruntungnya menjadi Indonesia. Kita masih bisa terus tertawa karena selalu disajikan pertunjukan jenaka. Membuat kalung untuk COVID-19 misalnya.