Kopi, Hujan, Entahlah
Aku mendamba kopi hitam akhir-akhir ini. Bukan kebiasaanku untuk meneguk secangkir kopi hitam, sama halnya bukan kebiasaanku melewatkan hari tanpa hadirmu. Tapi entah mengapa aku benar-benar mendamba kopi. Mungkin saja setiap pahit kopi yang kuteguk sama dengan setiap pahit hari yang kujalani. Karena bagaimanapun kita menyajikan secangkir kopi hitam, tetap saja rasa pahitnya yang mendominasi. Sama halnya dengan berbagai cara yang aku lakukan untuk mematikan kamu di otak, pahitnya kenangan manis yang mendominasi.
Aku benci hujan beberapa waktu terakhir. Aneh memang ketika aku membenci hujan karena aku merupakan orang yang selalu menantikan hadirnya hujan. Sama anehnya dengan diriku yang tiba-tba menjadi orang asing bagimu, padahal aku dulu orang yang selalu menemani setiap detik harimu. Mungkin saja hujan terlalu banyak meneteskan cerita sendu akan kita dulu sampai aku tak lagi nyaman dengan hadirnya.
Tanpa arah. Entahlah, aku hanya berjalan mengikuti arus tanpa punya kemudi untuk melangkah. Entahlah, aku hanya mencoba untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang sekarang, dengan alur hidup kebanyakan orang normal. Mungkin saja dengan demikian aku mampu menemukan nahkoda baru, entahlah, semoga saja.









