Betapa lama kita menyelesaikan urusan kita sendiri. Membiarkannya berlarut-larut, berharap segala sesuatunya akan berubah, berharap semuanya akan menjadi lebih baik. Ternyata tidak.
Kita ingin sekali bahagia, tapi di saat yang sama kita membiarkan diri kita berada dalam keadaan yang tidak bahagia - seterusnya. Dikelilingin oleh orang-orang yang tak mencintai dan menghargai keberadaan kita, berada di sebuah kondisi yang dipaksakan untuk terus bertahan karena uang - nama baik keluarga - dan ketakutan kita pada masa depan yang tampak sangat gelap, saking gelapnya jalan yang kita lalui beberapa tahun ini. Sampai-sampai kita tidak bisa melihat jejaknya, tak tahu jalan pulangnya.
Kita ingin sekali tidur nyenyak, merasa aman dan dicintai, merasa dihargai dan dihormati. Tapi, kita membiarkan diri ini menjadi alas kaki, menjadi tempat sampah atas sumpah serapah kata-katanya, menjadi samsak yang dipukul dan ditendang sewaktu-waktu. Bahkan, kita mungkin sudah lupa kapan terakhir tidur nyenyak, kapan terakhir bermimpi indah dan bangun pagi dengan perasaan yang ringan. Tanpa takut untuk menjalani siang hingga sore, saat ruang hidup kita terkurung dan terkunci rapat dari dunia luar.Â
Waktu terus bergulir, kita sampai tak bisa lagi bermimpi tentang masa depan. Takut sekali membayangkan masa depan dalam keadaan serupa saat ini. Takut untuk membuka diri, karena siapa yang bisa menerima diri yang serusak ini. Takut untuk memperjuangkan mimpi, karena selama ini selalu dipatahkan. Takut sekali.Â
Dan telinga kita dibanjiri kata-kata untuk bersabar, barangkali ini adalah jalan pahala, nggak apa-apa dunia hanya sementara. Sampai muntab rasanya. Apakah tidak boleh seorang manusia berbahagia di dunia juga, seperti manusia lain. Kenapa kita harus diminta untuk bersabar, padahal kita tahu masalah ini ada jalan keluar. Dan aku tak boleh mengambil jalan keluar itu karena aku diminta memikirkan kebahagiaan dan ketenangan hidup orang lain, nama baik keluarga, kehormatan keluarga. Tak ada yang memikirkanku. Bahkan aku sendiri.