Kastil megah yang kita buat itupun akhirnya roboh dan hancur berantakan.
Hanya beberapa detik saja angin badai masa lalu yang sombong meluluhlantak kan segala yang kita bangun selama ini, bagai pasukan tartar yang meratakan kota baghdad pada tahun 1258 masehi. Atau bom atom, yang dijatuhkan pasukan amerika ke dua kota paling masyhur dijepang pada tahun 1945, dan membuat kota itu tak tersisa kecuali hanya puing dan kumpulan mayat manusia yang terbaring tak berdaya.
Aku bertanya tanya tentang angin badai masa lalu itu, ketika aku berjalan diantara sisa bangkai kastil yang baru saja kemarin kita banggakan. Aku fikir dia adalah pedang bermata dua yang bisa membunuh si punya pedang dan orang didepan nya sekaligus. Atau mungkin juga dia adalah buah simalakama yang kalau dimakan atau tidak dimakan samalah buruk akibatnya.
Ah, tidak tahulah aku, yang paling penting sekarang, aku sangat benci pada angin badai masa lalu itu! ia dengan mudahnya telah menghancurkan apa yang selama ini kita buat!
Ya, karena itulah aku sangat muak pada masa lalu!!
Sayang, kataku padamu, tidakah kau lihat anak kecil berwajah polos, berkulit putih, berambut ikal dan bermata bagus itu terbaring sekarat terluka diantara puing puing bekas kastil kita? Kau pun menggangguk kecil sambil menatap sedih menanggapi pertanyaan ku. Bukankah sebaiknya kita menyelamatkan dan mengobatinya sampai sembuh?
Mungkin dia adalah alasan bagi kita untuk melupakan masa lalu.
Atau mungkin juga dia adalah alasan bagiku untuk berjanji agar selalu mencintaimu.Β
-Angin badai itu bernama masa lalu-Β