cherry valley forever
Lint Roller? I Barely Know Her
Jules of Nature
I'd rather be in outer space 🛸
official daine visual archive
Misplaced Lens Cap
hello vonnie

pixel skylines
Sweet Seals For You, Always
NASA

will byers stan first human second
Today's Document
🪼

gracie abrams
art blog(derogatory)
Xuebing Du
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Germany

seen from Indonesia
seen from Brazil
seen from Russia
seen from United States
seen from Vietnam

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Canada
seen from United States

seen from China

seen from Switzerland

seen from Türkiye
@muhammadafithabdallah

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Apakah Ismail Adalah Korban, atau Pemenang?
Kemudian, setelah saya menulis tentang bagaimana Ibrahim dan paradoks manusianya. Jujur, saya belum puas dengan hanya membahas dari aspek bahasa dan psikologi modernnya.
Izinkan saya sekali lagi menuangkan kegelisahan saya dari kisah Ibrahim dan Ismail ini. Yang ingin saya sampaikan kali ini adalah aspek kehidupan paripurna seorang anak yang bernama Ismail.
Seorang anak yang lahir dari penantian panjang oleh nabi Allah Ibrahim. Anak yang kelak melahirkan keturunan-keturunan pembawa peradaban besar, sehingga dari itu pula merubah seluruh tatanan dunia hingga sosial, lewat garis ini juga lahirnya keturunan yang mewarisi tekad untuk menghapus kebodohan dari dunia kegelapan, hingga puncaknya ke dunia seterang hari ini, ia lahir bukan tanpa alasan, Allah ingin memastikan kemurnian darah dan tekad untuk junjungan semesta alam baginda Rasulullah Muhammad SAW.
Bukan karena takut atau karena lemah, tetapi karena ia percaya penuh pada karakter seorang ayah. Ismail tidak sedang mengikuti ayah yang otoriter; ia mengikuti ayah yang sepanjang hidupnya terbukti jujur, bersih, dan memiliki integritas.
Coba bayangkan saat akan disembelih oleh Ibrahim, yang dilihat Ismail adalah seorang sosok yang korup, khianat, tak dapat diandalkan, dan memiliki rekam jejak yang buruk.
Apakah dari itu lantas Ismail memberikan dirinya secara cuma-cuma dan menyerahkan lehernya untuk disembelih? Saya rasa tidak.
Ismail rela menyerahkan dirinya bukan karena ia lemah, tetapi karena ia mengenal siapa ayahnya.
Ia tahu betul tangan yang memegang pisau itu adalah tangan yang sepanjang hidup tidak pernah khianat pada Tuhan, tidak khianat pada kebenaran, dan tidak khianat pada amanah.
Karena itu, yang membuat Ismail tenang bukan situasinya, tetapi integritas orang yang berdiri di hadapannya. Dan mungkin krisis terbesar dunia modern hari ini bukan hilangnya kecerdasan, tetapi hilangnya figur yang layak dipercaya.
KEPERCAYAAN ISMAIL PADA IBRAHIM SOSOK AYAH YANG MEMILIKI INTEGRITAS
Ketika seorang anak melihat ayahnya tidak korup terhadap harta, kekuasaan, ego, ataupun moral, maka lahirlah kepercayaan yang sangat dalam.
Jika kita ingat lagi tentang kalimat ismail dalam al-quran yang amat revolusioner itu:
“Wahai ayahku, lakukalah apa yang diperintahkan kepadamu. InshaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ini bukan mental seorang budak; ini mental sadar, tenang, matang dan jelas ini adalah mentalitas seorang revolusioner. Bahwa integritas Ibrahim melahirkan sebuah kepercayaan mutlak bagi Ismail.
Anak-anak tidak mendengar nasihat. Mereka membaca karakter, dan Ismail percaya pada ayahnya, Ibrahim, karena Ibrahim dikenal jujur, tidak cinta dunia, tidak memiliki sifat manipulatif, tidak menggunakan agama untuk kepentingan pribadi, dan tidak korup terhadap amanah.
Maka ketika ujian terbesar itu datang, Ismail tidak melihat pisau, tetapi ia melihat siapa yang memegang pisau tersebut.
“Kepercayaan ismail lahir dari integritas soerang ibrhaim”
Dan ini amat relevan dengan krisis yang hadir di tengah kita hari ini: anak kehilangan kepercayaan pada orang tua, masyarakat kehilangan kepercayaan pada pemimpin, dan generasi muda skeptis terhadap otoritas. Banyak otoritas hari ini meminta pengorbanan, tetapi mereka sendiri hidup penuh dengan kompromi.
Kata Albert Bandura, dalam bukunya Social Learning Theory, anak belajar melalui observasi model. Ismail tidak menjadi kuat karena ceramah. Ia melihat langsung kehidupan Ibrahim. Bandura menambahkan, teladan lebih kuat daripada intruksi verbal.
Ini sangat relevan dengan krisis parenting modern ketika orangtua meminta disiplin tetapi dirinya sendiri abai pada kedisiplinan, atau meminta kejujuran tetapi hidup penuh dengan kompromi.
Ismail belajar dari kehidupan Ibrahim, bukan sekadar dari perkataannya.
Ismail Mematahkan Semua Mental Hari Ini
Ini bagian yang amat relevan jika kita berbicara tentang generasi hari ini, bukan untuk menghina generasi saat ini, tetapi untuk menunjukkan perubahan budaya ke arah pemerosotan standar dan mentalitas.
Jika kita ambil Ismail sebagai role model, tentu yang terlihat oleh kita adalah rasa tahan sakitnya pada sebuah kehilangan, mampu menunda kenyamanan, taat pada nilai, tidak dikendalikan emosi sesaat, memiliki makna hidup yang besar hingga tidak menjadikan diri sebagai pusat dunia.
Sedangkan yang bias dan menjadi hype hari ini adalah budaya modern yang sering membentuk sifat instant gratification, ketergantungan validasi, mudah rapuh, takut gagal, takut tidak nyaman, dan yang paling konyolnya adalah anxiety karena kehilangan control.
Menurut Walter Mischel dalam bukunya Delayed Gratification, tentang kemampuan menahan keinginan sesaat demi tujuan lebih besar.
Dalam eksperimen marshmallow-nya, anak yang mampu menunda kesenangan cenderung lebih sukses dan stabil secara mental di masa depan.
Ismail adalah bentuk dari level tertinggi delayed gratification, karena ia rela kehilangan kenyamanan bahkan nyawa demi makna spiritual yang lebih besar.
Bukan sekedar menunda kenyamanan, tetapi ia memilih untuk menunda rasa takut, keinginan mempertahankan hidup, dan ego pribadi. Demi sesuatu yang lebih besar seperti ketaatan, makna spiritual, kepercayaan pada Allah dan penghormatan kepada ayahnya.
Kita masuk ke analisis sosial dan mental bahwa Ismail tidak dikuasai oleh impuls. Dalam psikologi modern, kebanyakan manusia digerakkan oleh rasa takut, emosi spontan, kenyamanan, dan survival instinct. Tetapi di lain sisi, Ismalil menunjukkan kontrol diri luar biasa.
Ia tidak bereaksi dengan rasa panik, marah, ataupun pemberontakan. Justru, kata-kata revolusionernya lahir dari sebuah kontrol diri tingkat tinggi.
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu". Ini menunjukkan adanya emotional regulation, self-control serta mental endurance yang luar biasa.
Dalam bahasa modernnya, Ismail mampu mengendalikan impuls demi nilai yang lebih tinggi.
Sebelum Ismail Belajar Menghadapi Pisau, Ia Lebih Dulu Belajar Melihat Keteguhan Ayahnya
Dalam delayed gratification, Mischel juga menjelaskan bahwa orang yang mampu menunda kesenangan biasanya memiliki jangka panjang, tujuan hidup, dan kemampuan melihat sesuatu yang lebih besar dari kondisi saat ini.
Ismail memiliki semua itu. Ia tidak melihat “aku akan mati”, melainkan ia melihat “ada makna besar di balik ujian ini”. Kontras dengan budaya modern hari ini.
Budaya modern banyak membentuk instant gratification serba cepat, dan ketersediaan secara instan. Ditambah dengan adanya dopamine addiction yang menginginkan hasil tanpa proses.
Sedangkan Ismail adalah simbol tertinggi karena ia memiliki kesabaran, pengendalian diri, ketahanan mental, dan keberanian menghadapi rasa tidak nyaman.
Ismail tidak dibentuk oleh budaya yang selalu berkata ‘ikuti perasaanmu’, tetapi oleh nilai yang mengajarkan ‘kuasai dirimu’.
Delayed gratification tidak lahir tiba-tiba. Ia dibentuk oleh lingkungan dan keteladanan. Ibrahim mendidik Ismail dengan kesederhanaan spiritualitas, disiplin akan makna hidup dan pengorbanan. Akibatnya, Ismail tumbuh menjadi pemuda yang tidak diperbudak oleh kenyamanan.
Generasi Kuat Lahir Bukan Dari Banyaknya Motivasi, Tetapi Dari Hadirnya Figur Yang Layak Diteladani
Ismail adalah gambaran besar manusia yang mampu menunda kenyamanan demi kebenaran. Di saat dunia modern mengajarkan manusia mengejar kepuasan secepat mungkin, Ismail mengajarkan bahwa karakter besar lahir dari kemampuan menahan diri.
Mungkin ujian terbesar manusia modern bukan kurangnya kecerdasan, tetapi ketidakmampuan menahan diri. Kita hidup di zaman ketika semua ingin didapat sekarang, uang sekarang, cinta sekarang, sukses sekarang, dan pengakuan sekarang.
Ismail tidak lahir dari generasi yang dimanjakan oleh kenyamanan. Tetapi dari rumah yang dibangun di atas integritas, makna dan keteladanan.
Krisis terbesar generasi modern bukan kurangnya teknologi, tetapi hilangnya figur yang layak dipercaya. Ismail percaya pada Ibrahim karena Ibrahim telah lebih dulu mengorbankan ego, dunia, dan kepalsuan dalam hidupnya.
Tetapi Ismail mengajarkan bahwa manusia besar lahir dari kemampuan menunda ego serta menahan rasa takut dan tetap teguh pada nilai meski harus kehilangan kenyamanan.
Karena itu, Ismail bukan hanya symbol pengorbanan tetapi symbol kedewasaan mental manusia.
Social learning theory dari Albert Bandura juga mengatakan bagaimana karakter seorang anak dibentuk oleh keteladanan ayahnya. Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar bukan hanya lewat nasihat atau hukuman, melainkan melalui observasi, imitasi dan model perilaku.
Anak melihat, anak meniru dan anak menyerap cara hidup orangtuanya. Dalam teori ini, figur teladan disebut model, dan Ibrahim adalah model utama bagi Ismail.
Ismail tidak tumbuh dari ceramah, tetapi dari ketauladanan.
Ismail tidak lahir sebagai pemuda tangguh secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari keteladanan Ibrahim yang hidupnya terlebih dahulu ditempa oleh pengorbanan.
Anak tidak tumbuh dari apa yang didengar, tetapi dari apa yang setiap hari mereka lihat. Ketika seorang ayah hidup dengan integritas, ia sedang mendidik anak bahkan saat tidak berbicara.
Dunia modern dipenuhi nasihat, tetapi kekurangan teladan. Banyak orang ingin anaknya kuat, tetapi dirinya sendiri tidak tahan ujian. Banyak yang ingin dihormati, tetapi tidak mau hidup jujur.
Ibrahim tidak mendidik Ismail hanya dengan kata-kata; ia mendidiknya dengan kehidupan. Dan dari rumah seperti itulah lahir seorang pemuda yang mampu menghadapi ujian tanpa kehilangan keteguhan jiwa.
Sampailah kita pada sintesis dari kedua teori di atas yang menunjukkan bahwa kisah Ibrahim dan Ismail ini merupakan sebuah rantai pembentukan peradaban. Ibrahim dengan memberikan teladan (Social Learning), Ismail menyerap dan menginternalisasi sebuah nilai (Observational Learning). Lalu Ismail mengimplementasikannya dan mampu menunda kepentingan diri (Delayed Gratification).
Artinya, keteladanan melahirkan disiplin batin, dan disiplin batin melahirkan generasi Tangguh.
Dapat ditarik relevansi untuk sebuah entitas modern jika diterapkan pada keluarga: ayah bukan sekedar pencari nafkah, melainkan ayah adalah “kurikulum hidup” yang menjadi model bagi anak setiap hari.
Serta kisah ini mengajarkan bahwa, keteladanan menciptakan sebuah kepercayaan, lalu dari kepercayaan melahirkan kepatuhan sadar, dari kepatuhan sadar melahirkan pengorbanan yang bersifat sukarela, dan dari seluruh kumulatif itu semua melahirkan sebuah peradaban besar bagi dunia.
Ibrahim Dan Paradoks Manusianya!
Hari itu jumat, panggilan untuk lelaki dewasa melaksanakan briefing bersama Allah di masjid. Saat khotib naik mimbar, ia memberi materi jumat tentang kemuliaan bulan Dzuhijjah.
Baru sadar jika Dzulhijjah sudah memasuki bulannya. Dalam hati bergumam, pasti materinya seputar Ibrahim dan Ismail. Dan tentu, nyatanya seperti itu. Materi jumat kali ini adalah makna berkurban, sudah barang pasti tiap Jumat (selama bulan Dzulhijjah) ditambah satu lagi khutbah saat pelaksanaan shalat Idul Adha dengan tema yang sama pula.
Bagi saya, ini tidak menjadi masalah. Tidak ada yang harus diperdebatkan. Saat saya hidup tiga puluh tahun, pembahasan berkurban selalu monoton dan terasa seperti itu-itu saja saat diatas mimbar.
Bahkan sudah menjadi bahasan tahunan yang berulang, kuno dan itu amat membosankan.
Kembali, tidak ada yang menyalahkan. Namun, pada dasarnya, pembahasan yang berulang tiap tahun adalah sebuah kebosanan mutlak bagi saya.
Sejujurnya, ini bentuk protes bagi para penceramah saat diatas mimbar, dimana saya harus mendengar kisah yang berulang-ulang. Masih belum puas rasanya jika makna dan kisah sehebat itu cuma diceritakan sedangkal itu. Padahal, amat banyak pembelajaran yang bisa kita ambil hikmah dalam kisah ini.
Sebagai muslim, itu adalah rangkaian peristiwa yang Allah beri pada Ibrahim dan Ismail putranya untuk dapat dijadikan hikayat pembelajaran dalam bentuk sebuah keikhlasan dan menjadikan manusia peka terhadap sesamanya.
Namun, di sini saya memiliki pandangan yang mungkin sedikit berbeda dalam memaknai arti dari berkurban. Mungkin dari sudut pandang pribadi yang terbatas dan bodoh ini, tidak harus melulu bercerita sesuai dengan yang diceritakan sejak zaman sekolah dasar dulu.
Baik, saya mulai dari ini..
Dalam sebagian literatur non-sahih, beberapa narasi populer yang berkembang di masyarakat bahwa Ibrahim pernah salah dalam berucap. Kemudian, Allah meminta agar ucapannya tersebut untuk segera ditunaikan.
Lalu, saya akan berhenti disini..
Kisahnya, saat perjalanan suci atas perintah Allah, dimana Ibrahim bersama istri dan putranya Ismail melakukan perjalanan suci dari Palestina (Syam) menuju Mekah. Sesaat setelah tiba di kota Mekah, beliau disambut oleh banyak sahabat yang menunggunya disana, mereka tahu Ibrahim ialah nabi Allah serta rasul yang membawa risalah agama (Tauhid).
Di tengah gegap-gempitanya sambutan, seorang sahabat berkata. “Mulialah engkau wahai Ibrahim nabi Allah, betapa dermawannya engkau dalam segala hal.” Ibrahim lalu berseru, “Bukan hanya harta, anakku itu pun akan aku korbankan. Jika aku menginginkannya”
Sehingga, pada akhirnya dari kisah tersebut, Allah pun menuntut janji Ibrahim yang telah pernah ia ucap pada saat itu. Ihwal untuk segera mengorbankan Ismail putra tercintanya, yang kelak pada peristiwa itu merubah seluruh tatanan dunia islam. Dan sebagian mengatakan, bahwa salah satu hikmah dari kisah ini adalah, berhati-hati dalam tindak-tutur kata.
Juga Sebagai Manusia Biasa
Menariknya, sebagian narasi populer membangun kisah Ibrahim dengan logika sebab-akibat moral: ucapan sama dengan konsekuensi Ilahi.
Namun, dalam teks utama Islam, pola ini tidak ditemukan. Bagian pada ujian langsung yang tidak bergantung pada kesalahan sebelumnya.
Yang ingin saya garis bawahi, ini adalah bagian kisah yang masuk tafsir namun tidak bersumber dari Rasulullah dan tidak dijadikan sebuah akidah atau biasa disebut (Israiliyat) cerita non-sahih, bahwa betapa tajamnya arti sebuah kata-kata. Ucapan yang praktis dapat merefleksikan sebuah masa depan, dan dari itu pula melahirkan sebuah peradaban baru.
Allah tidak main-main dengan sebuah perkataan/ucapan, yang mungkin hari ini kita anggap biasa, dan bagian dari sebuah kelumrahan interaksi sosial ditengah-tengah masyarakat.
Refleksi Bahasa Untuk Sebuah Entitas Baru, Bagi Peradaban
Namun, lebih dalam. Saya memahami ini sebagai epilog dari karyanya Ted Chiang, seorang penulis fiksi ilmiah yang dari teorinya ini diadaptasi menjadi sebuah film non-fiksi berjudul Arrival. Kisah Ibrahim sangat menarik jika dikaitkan dengan teorinya “Stories of Your Life and Others”.
Dikisahkan, seorang profesor muda ahli bahasa bernama Louise, harus mempelajari sebuah bahasa baru (bahasa alien) yang datang ke bumi, untuk menawarkan sebuah senjata masadepan bagi manusia, Loise dituntut oleh pemerintah AS agar dapat mempelajari bahasa asing tersebut.
Tugasnya adalah belajar untuk memahami serta membuat literasi baru, dan sampai akhirnya Loise mampu berkomunikasi langsung dengan para alien hingga berhasil menciptakan bahasa baru yang disebut Heptapod.
Bahasa tersebut memiliki keunikan yang membuat seorang dapat melihat waktu secara non-linier. Artinya masa lalu, masa kini dan masa depan dapat dilihat sekaligus bersamaan, bukan berurutan seperti manusia biasa pada kebanyakan.
Akibatnya Louise mulai mengetahui masa depannya sendiri. disaat ia harus tahu kapan anaknya akan lahir, tahu anaknya akan mati muda, dan ia juga tahu bahwa akan berhadapan pada sebuah kehilangan besar dimasadepan, namun ia tetap memilih menjalani hidup. Dan ini sangat dekat kaitannya dengan kisah (Israiliyat) Ibrahim diatas.
Di mana sebuah ucapan sebagai pembentuk realitas.
Dalam banyak tradisi spiritual, kata-kata bukan sekadar suara, tetapi komitmen eksistensial.
Saat Ibrahim berkata “bahkan anakku itu pun akan aku korbankan” , maka secara simbolik beliau membuka pintu dimensi baru masuk kedalam keterikatan dunia yang ia lampaui, dengan menyatakan totalitas dan pengabdian agar mengikat dirinya pada makna ucapan itu sendiri.
Dan ini menjadi sangat relefan, dimana ada keterkaitan dari apa yang digagas oleh ted dalam karyanya. bahwa baginya bahasa akan mengubah cara realitas yang akan dijalani.
Dalam story of your life, bahasa alien bukan cuma sekadar alat komunikasi, ia dapat membentuk sebuah persepsi waktu dan nasib. Hematnya, sebuah ucapan akan menjadi takdir yang harus dijalani hingga tak dapat di elakan. Dari narasi tersebut kita dapat mengafirmasi bahwa bahasa menuju sebuah kenyataan.
Awalnya, kata hanyalah sebuah metafora biasa, kemudian diteguhkan oleh ekspresi cinta kepada Allah, dan akhirnya menjadi bentuk kesepakatan sebuah simbol dari pengabdiannya sebagai rasul Allah. kehidupanlah yang mengubah metafor menjadi kenyataan, dan ini yang mendasari teori ted tersebut.
Bahwa mengetahui sesuatu bahasa akhirnya megubah seluruh hidup.
Ucapan dan Realitas Kebaharuan
Ibrahim dan paradoks manusianya juga menggambarkan sesuatu yang sangat manusiawi. Karena manusia memang dirancang penuh dengan keterbatasan hingga kadang manusia mudah berbicara saat belum diuji, namun amat berat saat realita itu datang. Justru lewat kisah keagungan beliau ini, ia tidak menarik Kembali ucapannya saat ujian itu benar-benar datang.
Dari situ dapat kita pahami bersama, semua itu ialah bentuk dari sebuah ketauhidan yang telah mencapai pada bentuk paripurnanya! Bukan hanya kata, melainkan dalam bentuk tindakan nyata.
Disamping itu, Perspektif Bahasa & Performative Speech dalam filsafat bahasa, ada sebuah konsep yang disebut Performative, oleh utterane (J.L. Austin) yaitu, ada ucapan yang bukan sekedar informasi tetapi tindakan.
Artinya ucapan itu menciptakan realitas baru dalam narasi ibrahim, ketika berkata anakku itu pun akan aku korbankan, itu bentuk sebuah ucapan yang akan mengubah jalan hidup beliau sendiri.
Dalam kaitannya dengan Ted Chiang waktu non-liniear. Louise mengetahui masa depan, tetapi ia tetap menjalaninya. Sedangkan Ibrahim dalam narasi ini belum mengetahui konsekuensi penuh atas ucapannya.
Namun setelah ujian itu datang, beliau menerima jalan itu sepenuhnya tanpa ada hak sanggah kepada Allah, jika ia juga bagian dari mahluk lemah dan memiliki keterbatasan.
Dari realitas keduanya, berbicara tentang menerima konsekuensi eksistensial dari pilihan dan kesadaran. Adalah bentuk lain dari sebuah penerimaan yang mutlak. Terlepas dari riwayat ini sahih atau tidak, adapun narasi ini menyampaikan sebuah pesan simbolik yang kuat.
Manusia sering mengira dirinya sudah Ikhlas, sampai pada Allah menguji apa yang benar-benar paling ia cintai.
Kadang, mudahnya kita mengutarakan sebuah frasa cinta itu dengan gampang, dan tidak akan menemukan sebuah konsekuensi nyata pada akhirnya.
Dengan seringnya mengatakan frasa cinta itu maka mutlaklah seluruhnya milik kita. Tetapi ujian nyata menunjukkan apakah itu hanya bahasa atau benar-benar keyakinan terdalam pada metafora dan kenyataan literasi dari sebuah entitas ilahi.
Adapun ini menjelaskan bahwa, bahasa Ibrahim mengubah realitas melalui literasi bahasa. Mungkin awalnya ucapan ibrahim mengandung simbolik, hiperbolik, dan ekspresi spiritual dalam bentuk totalitas pengabdian pada Allah. Tetapi, setelah diucapkan, bahasa itu mulai membentuk realitasnya sendiri tanpa kita pernah sadari.
Ditambahkannya lagi, menurut teori Sapir-Whorf, bahwa manusia hidup dalam dunia yang dibangun oleh sistem bahasa yang ia gunakan.
Maka Ketika ibrahim berkata anakku itu pun akan aku korbankan, maka beliau sedang membangun kerangka makna baru, identitas baru dan hubungan baru antara Allah, Cinta dan Pengorbanan.
Bahasa dapat menciptakan “Frame” spiritualnya sendiri, sebelum ucapan itu dimaknai bahwa anak adalah keturunan, anak adalah kebahagiaan, serta anak adalah masa depan. Itu semua adalah bagian dari frame bagi manusia biasa.
Namun, setelah kata-kata itu diucapkan, maka anak akan menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah, serta cinta menjadi sesuatu yang bisa dikorbankan demi ketauhidan.
Artinya, bahasa dapat mengubah cara pandang hubungan manusia dengan dunia.
Sapir-Whorf berkata dalam teori lainnya, bahwa struktur Bahasa membentuk struktur realitas mental. Dan itu salah satu penyebab metafora menjadi nyata.
Dalam banyak budaya, orang sering berkata, aku rela mati demi cinta, atau lebainya lagi, akan aku korbankan segalanya untukmu anakku, dan anakku adalah nyawaku. Tetapi biasanya itu hanya terbentuk oleh sebuah metafora linguistik.
"Narasi Ibrahim menjadi luar biasa karena, metafora bahasa berubah menjadi pengalaman nyata. Dan dsiitulah bahasa tidak lagi menjadi simbol, melainkan sebuah jalan hidup".
Sapir-Whorf juga membantu menjabarkan mengapa orang beriman dan materialistis memandang dunia itu dalam persepsi yang berbeda.
Karena baginya “Bahasa Bathin” antara mereka amat berbeda! Dan ini yang menjadikan lahirnya dari perbedaan antara bahasa spiritual vs bahasa dunia pada hipothesisnya.
Dalam bahasa dunia. Konotasi anakku hartaku juga miliku, kehilangannya adalah kehancuran. Maka amat berbanding terbalik dengan bahasa spiritual Ibrahim, ia dapat dengan sadar mengejawantahkan bahawa semua itu adalah titipan, semua milik Allah. Pengorbanan adalah kedekatan dan kehilangan dunia bukan sebuah awal dari kehancuran.
Artinya, Bahasa spiritual membentuk realitas spiritual itu sendiri.
Ibrahim meneguhkan hati serta jiwanya untuk keluar dari struktur bahasa manusia biasa. Jika manusia normal seperti kita masih berkutat pada bahasa (kepemilikan, keamanan, ego dan survival).
Namun, dengan hebatnya Ibrahim dapat membangun bahasa baru dalam bentuk tawakal, pengabdian, dan yang paling ekstremnya dalam bentuk penyerahan total.
Juga pada teori ini sapir-Whorf menyebutkan adanya perbedaan eksistensial level baru dari kehidupan itu sendiri yang disebut “Worldview Linguistic”. Dan pada akhirnya itu membentuk tindakan nyata dalam bertindak dan memasrahkan segalanya pada sebuah dzat tunggal.
Teori Modern Terlalu Mentah Untuknya!
Kemudian dari aspek Psikologi, ini juga menarik. Daniel Kahneman, dalam bukunya Fast, Thinking Fast and Slow, menyebutkan dalam teorinya “What You See Is All There Is”.
Manusia cenderung membuat kesimpulan hanya dari informasi yang terlihat atau tersedia di pikirannya saat itu, meskipun informasinya belum lengkap. Daniel Kahneman menjelaskan juga bahwa otak, terutama sistem 1 tidak suka kepastian. Maka otak cepat membangun “cerita” dari data yang sedikit.
What You See Is All There Is dalam sudut pandang manusia terhadap kisah Ibrahim ini dapat kita pahami bahwa sudut pandang manusia biasa yang terlihat. Ketika menyembelih anak adalah kejam; kehilangan anak adalah awal dari sebuah penderitaan, dan pengorbanan sama dengan sebuah kerugian.
Lantas, sistem 1 manusia biasa langsung membuat sebuah kesimpulan “ini buruk” karena pada dasarnya otak hanya melihat rasa sakit, kehilangan, dan aspek lahiriah. Maka dari itu, manusia biasa hanya menyimpulkan dari apa yang tampak.
Namun, pada akhirnya Ibrahim justru melampaui What You See Is All There Is tadi. Adalah Nabi Ibrahim yang tidak berhenti pada apa yang terlihat, rasa takut, dan logika emosional sesaat.
Jauh dari itu, beliau percaya bahwa ada hikmah yang belum terlihat, ada buah dari tujuan di balik kesempitan ujian dari Allah. Ia menyadari realitasnya tidak hanya sebatas yang tampak didepan mata.
Ini yang lebih membuat saya terkesan. Iman dalam banyak hal adalah kemampuan melampaui What You See Is All There Is, artinya ia tidak terjebak pada sebuah informasi parsial yang bias, emosi sesaat dan ketakutan secara langsung.
Kisah Ibrahim menghancurkan ilusi kontrol manusia lewat pendekatan What You See Is All There Is, artinya ia sadar jika saat itu adalah sebuah kebenaran penuh.
Padahal fitrahnya manusia itu makhluk yang sangat terbatas, banyak hal belum terlihat dan tidak mampu melihat sebuah masa depan. Dalam kisah Ibrahim ini juga Allah seperti mengajarkan bahwa jangan merasa seluruh realitas hanya sebatas apa yang tampak di depan mata kita.
Dan apa yang dapat kita pelajari dari ini juga adalah lebih dari sebuah cerita kuno yang membosankan, ketika disampaikan berulang-ulang dengan narasi yang membosankan oleh ustadz diatas mimbar.
Ada banyak sudut yang dapat kita ambil pelajaranya dan mengimplementasikan untuk kehidupan sehari-hari. Saat berkurban yang terlihat oleh kita adalah uang berkurang, hewan disembelih untuk dibagi-bagikan serta kehilangan sebuah aset berharga.
Tetapi ada banyak makna spiritual yang kadang kita tidak sadari, salah satunya ialah melatih melepaskan sebuah keterikatan, melawan ego, membangun kepedulian serta mendidik jiwa yang melampaui rasa takut kehilangan.
Berkurban secara psikologis adalah melatih kita keluar dari jebakan What You See Is All There Is, juga pada dasarnya kita diajak untuk memahami bahwa kerugian materi belum tentu kerugian sejati. Dalam teorinya, Daniel Kahneman menyebutkan bahwa apa yang terlihat sekarang adalah seluruh kenyataan.
Sedangkan pelajaran Ibrahim pada teorinya ini membantah semuanya dengan mengajarkan realitas lebih luas daripada apa yang bisa dipahami emosi dan mata manusia.
Itulah mengapa kisah ibrahim sering dipahami sebagai ujian tauhid tingkat tinggi dengan level yang berbeda, karena di dalamnya mengandung berbagai macam ujian. Disitu ada ujian keterikatan, egosentris dan ujian kepercayaan terhadap hikmah yang belum terlihat (ketidakpastian).
Kesimpulan besarnya dari tulisan ini adalah kisah ibrhaim dalam banyak hal dan berbagai macam perspektif. Baik itu menurut Psikologi, Bahasa (Linguistik), Waktu, dan Kesadaran.
Terutama narasi pengorbanan ismail dapat dipahami bukan hanya sebagai cerita relegius, tetapi sebagai gambaran sangat dalam tentang cara manusia memandang realitas kehidupan.
Dari situ juga, bahasa dapat membentuk kesadaran, bagaimana manusia menghadapi kehilangan, dan bagaimana iman mengubah struktur psikologi manusia.
"Manusia tidak hidup hanya berdasarkan fakta, tetapi berdasarkan bahasa, makna, persepsi waktu, dan narasi terdalam yang ia gunakan memahami hidupnya sendiri".
Muhammad Tabarak Motaz Abdallah
Ya begitulah kira-kira...
2021, akan ada banyak cerita yang tidak bisa ditebak. berjalan dengan lika-liku, memaksa untuk mempercepat langkah agar beban tidak semakin berat.
Sebuah tahun penantian, bagi mereka yang telah siap dengan dirinya sendiri. Setidaknya agar lekas beranjak untuk tidak bertahan, ketika sulit untuk berdamai dengan diri sendiri .
Cara terbaik ialah dapat memperlapang dada, karena pasti itu terasa amat melelahkan. Sebab lelah adalah pilihan, bagi yang memilih untuk melawan pada lemahnya mental dan perasaan.
Well, selamat datang tahun baru, dimana semua harus dilipat gandakan agar sejalan dengan cara tuhan untuk menempatkan segala sesuatu pada porsinya adalah pantas.
Jangan risau, karena di tiap musim akan ada sepotong harapan.
Tidak lebih rasanya dari kita tidur, kemudian esok hari tahun pun berganti. Melewati tentang apa yang selama ini telah kita lalui, tentang siapa yang selama ini menemani, serta mengajarkan diri ini untuk mampu melewati keadaan terburuk sekalipun, penuh dengan banyaknya ketidak pastian. Ditambah, hari ini dunia juga masih belum baik-baik saja.
Di cerita lainnya, ada yang telah melewati penantian dengan rasa gempita. Disaat McLaren berhasil mendapatkan jasa Daniel Ricciardo sebagai pilot kemudi bersama pabrikan asal Inggris itu, bagi mereka ini adalah awal tahun yang menentukan.
Tak lepas juga dengan gemerlap eforia sebagai juara dunia, ketika Lewis Hamilton mampu menyamai rekor para legenda-legenda F1 sebanyak tujuh kali dalam perburuan gelajar juara dunia ajang jet darat tersebut.
Begitu pun bagi mereka yang masih merasakan penantian, dimana fans Arsenal musim ini dimohon untuk tetap bersabar. disaat tim meriam london harus terseok-seok pada ambang jurang degradasi premier league. Dan banyak media yang tidak segan menyebut sebagai tim papan bawah. (dan itu luar biasa sakitnya)
Tanpa mereka semua juga tahu, itu terasa indah pada awalnya, harapan mulai tumbuh tatkala Mikel Arteta didapuk menjadi Enternador baru untuk menahkodai squad meriam london itu. Hingga banyak yang percaya dititik itulah semua dapat berubah. Namun kenyataannya proses itu memang kejam, tanpa kompromi ia buat hancur semua berantakan mereka yang tidak siap dengan mental.
Dan kembali pada kenyataan, adalah batas kita sebagai manusia untuk bisa berharap, namun dengan sekuat apa pun caranya, semesta bekerja lebih dominan untuk menjadikan apa yang menurutnya pantas. Kita semualah yang menulis, tanpa kita sadari bahwa semestalah yang miliki penghapusnya.
Ada ketidak sadaran, serta keterbatasan. Sebagai mahluk yang mempunyai batas, kita diminta tidak mudah merasa putus asa, dan sesegera mungkin membuang penyakit berlebih-lebihan. Dengan sering membayangkan diri sendiri lebih baik dan lebih mulia, bagian inilah yang sekejap dapat merusak. Padahal yang sering kita abaikan ialah, semesta juga punya cara sendiri untuk memperbaikinya.
Sadar bahwa kita tidak mampu untuk menyelesaikannya seorang diri, namun disaat semesta menganggap kita pantas, maka disanalah ketidak sadaran itu mampu mendorong sebuah keterebatasan, mendorong secara konstan untuk melampaui harapan menjamin ketermudahan. Amat nyata rasananya.
Namun sebaliknya, disaat rasa berlebih-lebihan melampaui batasnya, kita sadar sebagai manusia tunggal sebaiknya kita banyak-banyak untuk tidak menganggap semuanya dengan rata, namun apabila itu dirasa tak bisa ditarik lagi, maka jangan kaget dengan cara semesta bereaksi memporak-porandakannya.
Tanpa terkecuali. Sekalipun, dan sebanyak apapun cara untuk mendorong, tetap akan jauh dari kata selamat. karena yang kita sering abaikan ialah kita dibatasi oleh keterbatasan.
Begitulah hidup, silih berganti musim akan terus membawa harapan. mampu atau tidaknya itu bukan soal, apapun yang sudah kita capai harus tetap merendah, bangga pada sebuah pencapian yang tak berlebih-lebihan, adalah sebentuk rasa syukur tiada tara. Tidak lupa juga untuk terus berterimakasih pada diri sendiri yang telah mengajarkan cara agar mampu untuk bertahan.
Melompat ke kesimpulan
Ada begitu banyak (harapan) dalam konteks, dan semakin ramainya resolusi-resolusi yang harus tercapai.
Pada sadarnya ini bukan sebuah tulisan ramalan, atau sajak-sajak kehidupan, tentu juga bukan semacam Horoscope yang banyak digandrungi oleh kaula muda. Meskipun hebatnya lagi, masih banyak dari kita yang tidak gagal paham untuk mempercayainya.
Juga, bukan sebuah teori yang mengada-ada, tidak akan pernah mau untuk disama-samakan dengan teori paham bumi datar, atau juga dibilang teori kosnpirasi. Biarkan mereka pusing sendiri, yang setiap hari bersemangat membaca artikel-artikel konspirasi depopulasi, padahal dengan standart cocoklogi.
Percayalah, ini juga tak serumit mereka. hanya seonggok catatan bodoh yang ditulis karena ingin sedikit lebih berbuat baik untuk diri sendiri.
Kita tidak memulai sesuatu yang baru tanpa menghadirkan sepaket angan-angan dan harapan, mimpi dan resolusi adalah wajar, itu juga yang membuat kita menjadi mahluk lemah.
Mungkin bagi penikmat espresso akan di rasa aneh oleh sebagian orang, dimana pikiran mereka saat melihat ada orang yang tahan dengan meminum secangkir kopi pahit tanpa memakai gula, namun tetap bisa menikmatinya. Mungkin juga, bagi mereka ini adalah antitesa dari kebanyakan produk-produk unggulan dari kedai-kedai kopi modern yang banyak menyajikan sajian berbentuk manis dan penuh warna.
Keanehan-keanehan ini sering kali terjadi ditempat kita berinteraksi. Bagaimana lingkaran kebiasaan untuk menuntut munculnya sebuah gelombang Hypeies, yang masih juga mewarisi awal tahun dengan selusinan kata-kata bijak penuh resolusi.
Sadar atau tidak, barang kali kita juga sama, bedanya kita lebih tenang dalam menyikapi hal-hal semacam itu. Kebanyakan dari kita memilih untuk tidak memposting di ground social media, atau malah enggan menceritakan pada seorang sahabat, alih-alih hanya tak ingin dibilang orang yang takabur.
Namun, sesadar-sadarnya kita pasti akan menjadi manusia pemilik harapan. Sekecil apapun harapan itu, adalah bentuk manifestasi kebaikan pada diri sendiri.
Saya teringat ada seorang pembaca, katakanlah seperti itu, bertanya, “Dari mana kamu dapat referensi tulisan ini? Kan biasanya setiap tulisan harus disertai sumber yang jelas”.
Oke, saya tau tingkat kegelisahannya yang baru pertama kali membaca tulisan di blog ini. Dengan standar mewajibkan saya untuk mengikutsertakan refrensi, agar tidak menjadi tulisan yang diduga copy paste milik orang lain.
Baiklah untuk itu, saya amat berterimakasih padanya, sampai hari ini, ia berhasil memunculkan semangat lagi untuk melanjutkan tulisa saya yang tidak amat-amat penting ini.
Pada saat itu juga saya katakan, bahwa semua tulisan saya adalah bentuk dari opini semata, atas perasaan apa yang sedang terjadi disekitar.
Padahal dibalik itu semua saya tahu itu hanya sebatas basa-basi, untuk ingin memulai pembicaraan yang lebih menarik, disamping juga ingin membuang perasaan kakunya seperti Chicken Nugget dalam lemari pendingin di pusat perbelanjaan.
Atau mungkin juga saya bisa tebak apa yang ingin ia dengar dari percakapan itu, seperti “refrensinya dari hatiku yang terdalam”. juga hanya sebatas ingin mendengar respon yang ringan dari mulut saya. agar bisa membuang kecanggungan kami berdua.
Disamping itu, kadang kita begitu nyaman memilih menjadi orang yang gemar melompat ke kesimpulan. Tanpa harus susah payah mencari informasi dan berfikir sebelum memulainya. Tentu ini diluar konteks si pembaca yang meng-complain tulisan saya tadi.
Saya pernah membaca sebuah lawakan dari seorang Comedian. Namanya Dany Kaye, dalam sebaris lawakan itu ia bilang “Posisi terbaiknya adalah disebelah dirinya sendiri dan olahraga favoritnya adalah melompat ke kesimpulan” dan itu adalah lawakan yang cerdas menurut saya.
Seandainya saya diposisi orang yang dikatakan Danny, atau memposisikannya diri saya seperti itu, apa masih mungkin keterlibatan saya sebagai seorang individu dapat merealisasikan harapan yang memiliki segudang resolusi itu?
saya rasa kecil peluangnya.
Pada intinya melompat ke kesimpulan itu efesien jika akibat kesalahan masih bisa ditanggung dan dielakkan, serta jika lompatan bisa menghemat waktu dan usaha. Melompat ke kesimpulan itu amat beresiko jika situasinya tidak baik-baik saja dan familiar, taruhannya tinggi, memangkas waktu untuk mengumpulkan lebih banyak informasi.
“kita rasanya enggan mencari infromasi-informasi tambahan, karena itu kita takut akan merubah cerita”
Oleh sebab itu, saya enggan membuat tulisan-tulisan yang berbau “Galau” ketika seorang pembaca kembali memprotes tulisan saya dengan mengatakan bahwa isi blog saya penuh dengan kegalauan, seperti yang ia sebut “Blog ini semua isi nya cerita galau”.
Dan pada sampai alenia ini, sayapun sadar betapa ia memberi respon yang begitu cepat, kembali untuk mengajak saya tetap pada barisan depan.
Baiklah saya akan mulai mencoba tulisan ini terlebih dahulu sebagai pembuka.
Anehnya melihat apa yang terus terjadi yang sifatnya berulang-ulang. Bukan pada tingkat sadar kita untuk memaksakan kehendak. Memporsikan apa yang ada pada diri sendiri untuk orang lain juga agar sependapat itu semacam kekeliruan. Tanpa aba-aba jelas, kita terus melakukan hal itu dengan standart yang kita miliki, sedangkan apa yang kita inginkan itu tak bisa dirata-ratakan. Pilihannya cuma ada dua, kita akan dilihat bodoh didepan orang bodoh, atau terlihat bodoh didepan orang bodoh.
Kenapa ya, itu menjadi hobi? selain mancing dan minum sambil berdiri.
Karena kita senang dengan memilih untuk tidak ambil pusing, berfikir dan melihat dari sudut pandang yang kita punya, dan abai dengan kemungkinan-kemungkinannya. Karena apa yang kita poriskan pada diri sendiri sebenarnya juga belum tentu memiliki kesamaan rata-rata porsi bagi orang lain.
Dengan tidak menjadi individu yang suka melompat ke kesimpulan adalah bentuk dari cara memperkaya informasi-informasi yang di butuhkan agar menjadi sebuah kesimpulan yang objective. Supaya nanti tidak sering tersesat diajalan. (Dan ini serius, jangan mudah percaya dengan google map, percayalah!)
Lelucon itu memang diarahkan bagi saya, karena pernah pada posisi seperti itu.
Dengan adanya aspek terpenting dari contoh “orang itu aneh, jika meminum segelas espresso” adalah bentuk bahwa, sebenarnya ada pikiran pasti yang dibuat, tapi kita tidak mengetahuinya. Serta hanya ada satu tafsir yang muncul dan kita tidak pernah sadar mengenai adanya ambiguitas terhadap apa yang kita lihat.
*sumber (diri sendiri dan saya sendiri)
Diantara pilihan atau keyakinan.
Percaya atau tidak, harapan itu bersifat abstrak. Sebuah bentuk dasar dari keyakinan suatu kebaikan yang diinginkan, agar dapat tercapai di waktu mendatang. Sesuatu yang tidak tampak, tapi memiliki keyakinan bahkan terkadang mensugestinya agar terwujud.
Oleh sedikit orang, hidup adalah keyakinan. Bukan pilihan, termasuk saya. Bentuk keyakinan adalah perkara yang kompleks. Sedangkan pilihan hanya menghasilkan dua jawaban, jika, ya tidak betul-betul benar, ya betul-betul salah, tidak ada kata-kata diantara atau persamaan.
Terlepas itu baik buruknya sebuah pilihan, ialah tentang sebuah ketebalan dari keyakinan itu sendiri. Bagaimana sesorang dapat memilih jika ia sendiri belum bisa meyakini pilihannya tersebut.
“optimisme adalah kepercayaan yang mengarah pada pencapaian. Tidak ada yang bias dilakukan tanpa harapan dan keyakinan”
Dari keyakinan itu sendiri akan menimbulkan rasa penolakan untuk menyesal. Dengan otomatis dapat menyadari adanya masa jeda yang digunakan untuk menilai kesalahan dari diri sendiri.
Pada saat itu juga akan bermunculan dorongan yang kuat dari reaksi sabar, untuk sesegera mungkin kembali kedepan. Dan dari keyakinan itu juga kita banyak belajar, bagaimana memilih cara yang dianggap paling menguntungkan untuk diri sendiri dengan porsi melihat reaksi apa yang telah kita lakukan, dan apa yang akan datang. (teori sebab-akibat)
Lantas, adakah jaminan agar terhindar dari penyesalan itu masih ada? dalam dua sisi ini, setiap pilihan akan menentukan, tapi cara terbaiknya adalah dengan tidak abai dengan reaksi yang telah kita lakukan, serta kepekaan untuk menakar respon yang akan terjadi.
Cara melihat sebuah masalah dan penyelesaiannya itu bagian yang tak dapat dipisahkan, mereka ibarat satuan utuh. Saya rasa sama seperti durian dan ketan, begitu tiada tara untuk dilawan, tapi jika dinikmatinya sesudah makan. bayangkan ketika menikmati kesatuan durian dan ketan disaat perut sedang kosong? dan sambil ngopi pula, tanpa banyak kompromi asam lambung langsung silahturahmi, (agar untuk selalu memperhatikan reaksi sebab akibat.)
Maka dari itu, saya berjanji untuk tidak mau lagi menikmati panganan itu lagi.
Dengan sadar efek yang akan ditimbulkan, adalah cara paling waras saat ini dapat dilakukan. Menurut saya, baik buruknya sebuah pilihan akan selalu membawa dampak pada reaksi baru, tentu semua itu terserah pada kita, apakah mau yakin untuk memilih atau memilih untuk yakin.
(Katakan NO pada durian dan ketan)
Uniknya, saat dirasa baik dalam mengambil keputusan, efek Dophamine dikepala kita akan terus-menerus bertahan seminggu lamanya, namun jika pilihan itu salah atau keliru, (kembali) reaksi baru akan muncul dengan tidak sopannya untuk memaksa dan merampas self determined control pada diri sendiri. yang akan terus menerus menyiksa mental serta psikis, lalu menimbulkan efek pada tingkat depresi akut.
Itu adalah bagian kenapa kecondongan saya memilih yakin dari pada sebatas pilihan, akan ada dimana kita dapat menikmati rasa bersabar sehingga konsekuensi menjadi orang rendah yang tak berlebih-lebihan semakin terbuka lebar.
Saya teringat sebuah kata dari seorang sahabat, “kalau aku begini-begini terus, aku mending ndak usah nikah-nikah deh”
Juga konteksnya, bukan pada saat itu ia tak sedang didekati lelaki pengagumnya, kata-kata seperti itu terucap karena ia tidak menemukan lagi keyakinan atas banyaknya pilihan-pilihan didepan mata.
Bisa jadi nilai keyakinannya pada saat itu belum sampai pada titik klimaks, dan seluruh wanita didunia ini pasti menginginkan kondratnya didamba dan dipuja, agar juga nantinya mampu mengelakkan reaksi-reaksi yang akan membawa ke sudut penyesalan. Serta agar diberi sebuah paket kelonggaran untuk berfikir secara statistik (karena wanita berfikir berdasarkan perasaan, bukan insang ataupun trakea, percayalah)
Dan sampai kata-kata itu terlontar, bisa jadi juga dia mengetahui bahwa kelemahannya selama ini adalah penghalangnya untuk terus kedepan, Kecemasan yang berlebihan dan respon terhadap reaksi yang akan ditimbulkan menjadi tembok besar baginya sebagai wanita yang berada diposisi bebas untuk memilih atau dipilih.
Tapi pada kenyataanya secara kontekstual, dia memilih untuk meyakinkan pilihannya pada seorang yang tepat, tak hirau berapa lama waktu yang dibutuhkan saat itu. Bahwa sebuah hubungan harus didasari pilihan yang harus diyakini.
Pada akhirnya, stereotype harapan resolusi tahun ini jelas terwujud baginya, hari ini dia telah memiliki seorang pasangan yang kompak memilih yakin untuk menjadi pilihan.
Lihat bagaimana cara semesta mendobrak apa yang selama ini kita bayangkan mustahil akan terjadi malah melihatkan reaksinya secara tak terduga, bahkan didalamnya ada paket bonus untuk dapat melebihi ekpetasi kita sebagai mahluk yang lemah. Serta berkat memilih untuk tidak menjadi individu yang suka melompat ke kesimpulan jugalah kita dengan jelas melihat semua cara berfikir dari masalah, dengan akan meyakini secara utuh untuk memilih.
Semoga tahun ini adalah tahun kita semua.
Pilihan adalah bentuk keyakinan, yang berada hadapan mata, pilihan adalah sebuah jalan menuju keyakinan, makin memusingkan apabila sudah berada dipersimpangan, namun sampai kesini kita semua telah melawati tahun-tahun yang berat, berhasil keluar dari keterpurukan, dan memilih sebuah jalan yang kita patut yakini untuk memilih kearah yang baru. dari sebab itu, keyakinan adalah batang dari semua penguat pilihan-pilihan hebat yang telah kita lakukan.
Yakin memilih untuk tidak menyesali, yakin memilih untuk bisa bangkit lagi, dan yakin memilih untuk tidak mudah putus asa.
apasih ini endingnya...... hylyh !!
*sumber (melati, yang sudah berjanji akan rajin squat tiap hari)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Thank you to the media, who turned this pandemic into such a terrifying monster..
There are times when someone is only able to suppress what he is feeling, not knowing much, and not knowing more. A cliche wrapping away from what others are now accustomed to consuming. It is about time travel when everything looks fake, full of pretense, and a little bit egalitarian. Again, it's just a cliche for those who go to great lengths to cover themselves from the crowd.
The world must rest, for me, it's not just a cliche. The world is getting old, fragile, and a little crippled. Assumptions are always used as a game for those who have interests. To me, the effect rumah kaca's band is a representation of how the world will survive, a group of people who write verse after verse with the meaning of the truth. They wrap it with a melancholy poem so that the audience knows a lot about what truth means.
For the human right is the level of a portion of the freedom of a human right to survive. But not many of them don't even really understand, a limit and level must always coexist. For those who defend their human side, but do not know how to achieve it. It was futile, they said pessimists. Even though Nation Right is above a Human Right segmentation, believe me.
It is an exhausting human thought that the world continues to dictate.
THIS IS NOT ABOUT US, THIS IS ABOUT THE MEDIA AND ALL ITS GREAT
Not infrequently, information is like a double-edged knife, sometimes for those who are connoisseurs of information, it is dialectical that must be conversational. When the connoisseur of this information is a group of Mediokers Hooligans, that's when his body and mind are full of the whole menu that is lavishly presented by the media. There is nothing left, for them to swallow all the media information whole is a pleasure, if they do not want to be marginalized in coffee shop discussion groups, they will know that the consequences are so disgusting, labeled as listeners who do not know what the world is doing. This, then a very large moral content must be endured while being ashamed of oneself.
However, it is inversely proportional to those who do not want to know more than every dish served by the media gathering, staying away from the noise of information through the media is the best way to survive. For them, not all information originates from the media stage and is a justification that must be believed simultaneously. Nor is it an ordinary degradation for us to hear, that the massive irresponsible information surfing in cyberspace which the media polish has a truth, maybe more than that the connoisseurs of high expectations are part of mere nonsense.
Their insensitivity to all the information that is neatly wrapped is always ready to be served at the beginning of the day, lies sweetly at their breakfast table in the morning, does not only need a luxury television, enough with a sophisticated cellphone that is sweetly embedded in their hands, but they are also ready to enjoy, then busy. his fingers are only for scrolling through the contents of a header which sometimes cannot be justified for its truth.
For those who choose to be a survivor, they do not have to continue to enjoy the whole dish of information through the media, because they are aware that there are too many hands at work, just to find a reconciling relevance, instead, they seem nauseous by the information they don't want to know.
Just to continue to exist and survive. But as per a constant way of thinking, they all come back to the same point, to live hard.
There is a term that is quite well known in the world of communication, "who controls the media, he who controls the world". Regardless of theory, believe it or don't believe it, that's the reality. Today media has a big role in human survival, not only civilization, but even the smallest part of the molecule will not be biased by the strong waves of media.
"It's okay to enjoy all the information from the media, it is not a problem to deify a reliable source, but remember. Don't let them intimidate us"
BECOMING A SKEPTIC IS THE NEXT BEST WAY TO SURVIVE IN THIS DAY.
Mixed feelings, that's what everyone probably feels. Both when happy and sad, two perspectives will be brought up by 'em. First, allowing fear to be ended by happiness, or letting that fear continue to be nurtured until it is time to eat up all the happiness, like cancer that slowly starts to eat all the organs around it.
Again, it's just a perspective that maybe not much will be conveyed in scientific forums to simply convey that today we are in a chaotic place. Everything feels bad, one by one all will get used to the uncertainty. Today the world teaches us that being skeptical is an inevitable part of staying alive. Are we sure of all that humans are doing in a circle of pandemics like this? Is there someone we can trust? Gives you a sense of calm even for a little? I will say, there were too many hands on this day.
I am not going to take my opinion into an organized plan. For me, this is the time for the universe to take a short break, it's time for humans to be more sensitive to the meaning of humanity, and of course, it's time for all of this we will pass because of God's promise to rule the entire universe and its contents which cannot be avoided. Sounds theoretical hold, but belief not believing, When we fall asleep they prepare it, unbeknownst to us they are ready When we are awake.
So, where are all the people who have been using the media as their reference? How can they stand with all the tense news every day but still can breathe calmly? Did the media miss anything? What information did they just leave ?.
Like there is a deliberate way to make all this mess happen, believe it or not, believe maybe all of us already know the connection bit by bit, understand how the game is going, or just want to make conspiracy theorists groups feel flattered by all their preconceptions? Even though they are like opposing magnetic poles, cannot be united through anything, connoisseurs of conspiracy theories are the real enemy of science lovers. But where are we today?
THIS IS NOT A THING THAT SHOULD BE SCARED EXCESSIVELY, ALLAH SHOULD BE FEARED
This writing is only to restore our confidence, especially today with what is around us, it is everywhere, while we are sleeping, chatting, writing, working, and in our minds. This pandemic is just anxiety for those who are not careful in seeking information, for 'em, this pandemic does not know when it will end and in the end, it will be a ticking time bomb that is ready to blow his head with negative things. In contrast, they feel that a pandemic is only a way to a new world, not an order. But a world that will return to be the mother of the universe, where green leaves bloom, pollution is gone, and make believers get to know the creator better. With unfailing gratitude.
Just let them there dictate to us with a ghost of fear like this pandemic, ridiculous things are starting to surface, the latest facts about this are the work of human beings who are deliberately made and played with just to frighten us so we can submit to all the games. Nothing more, this pandemic is just a plague in its presence, not to be trifled with. Self-control is the number one bull not to get infected, but what makes this pandemic so terrifying is the gust of the media driving our opinion that this infection is deadly. The death rate due to this pandemic is lower than the rate of cured people. So it is the media that make as if this pandemic is a deadly monster for all of us, if not for the paid media polish, maybe this pandemic will only be stale news that will last one day of its life.
PANCASILA IT’S FINAL !
Speaking of Pancasila today is to see a Manifesto of the struggle, it is not just a foundation of the state, more than that is it a Control, a characteristic of the behavior of many civilized society, and a form of tolerance forms an identity that not many countries can imitate. The meaning of Pancasila itself is as the basis of the state, the main foundation, the reference point of the Indonesian people in regulating the nation, and the Unitary State of the Republic of Indonesia. Thus, it can be concluded that the importance of Pancasila in regulating the joints of the life of the nation and state, and all forms of regulations in Indonesia must refer to the Pancasila.
The meaning of Pancasila as the basis of the state is that the Pancasila is used as a basis or fundament to govern the state government, or even as a basis for regulating all state administration. Then the meaning of Pancasila as the basis of the state can be defined as a fundamental principle of the state, which means that as a basic law, both written and unwritten and all applicable laws and regulations for the Indonesian people should be sourced and exist under the fundamental principle of the state. Of course, it is also final.
"You can imagine yourself if this country does not have a state foundation. Certainly, all state administration will not have a strong or sturdy guideline or that every citizen will have their guidelines which will eventually lead to division."
But today, we are enlivened by a segmentation that wants to change the Pancasila, change from Pancasila to the Trisila model. This is our common concern, which during this time Pancasila was an instrument that could unite and symbol of the highest hopes and ideals of the nation's founders, which had to be cut off by a handful of groups who had an interest. One of them is creating and submitting the Pancasila Ideology Bow Bill (HIP Bill).
If you look again at the formulation of the HIP Bill itself, it has no basis to change Pancasila as the basis of the State. Pancasila itself regulates the entire benefit of the people in it. For it became the basis of the state and the source of all sources of law.
In this context, the HIP bill itself is very shallow, in which Pancasila should be a reference in every regulation or lawmaking. But ironically here, the HIP bill instead wants to make Pancasila as a law, a mistake when Pancasila should not be regulated by the Act because all legal and regulatory products are the implementation of Pancasila. Meanwhile, the only law that can regulate the institutionalization of Pancasila only the 1945 Constitution is not the law under it. Because also the basic position of the State is above the constitution. Metalegal, Extralegal Notion, and not part of a legal product that can be amended and added, Pancasila itself is a standard of value, not a product of value itself.
Besides that, the HIP Bill does not have priority urgency. When we pull a little towards the more obvious, this nation should not respond to this kind of bill. The many inequalities in the joints of neglected state life, ranging from welfare, health, education and clean water are fundamental, even though they are the urgency that should be the priority now resolved by the State, and has become the mandate of the opening of the 1945 Constitution. Especially now that Indonesia is facing the Covid-19 pandemic.
"How can it be called Pancasila if the Pancasila is not in the 1945 Constitution? "
Indeed there is nothing wrong with such an assumption, perhaps there are still many other assumptions that are always looking for weaknesses of Pancasila itself for those who seek to expose the country's foundations.
But if we understand again, such assumptions are fatal. Because Pancasila itself is not within the 1945 constitution and laws, but it goes beyond it. And why is the basic location of the State outside the constitution? Because the constitution can be amended, the basis for the State must be final. Changing the basis of the State will not only change the form of the State, but also the background of the establishment and purpose of the state. Therefore, changing Pancasila will surely change the unitary state of the Indonesian republic. When the form of the State changes, the legal system also changes, including the model of power.
"Then where is the location of the Pancasila textually?"
It lies in the agreement of the founders of the nation which culminated in the aftermath of the Indonesian independence preparation committee (PPKI) session which had established the precepts of divinity, humanity, unity, society, and social justice.
We are well aware that the meaning of all precepts in Pancasila is interrelated and complementary. Every precept in Pancasila must be understood and applied in the state. As a nation of faith and devotion to God Almighty, the Indonesian people must prioritize human values in daily life, want to unite to build a nation and country in accordance with their respective abilities, want to deliberate to reach consensus in decision making, not force the will or opinion, mutual respect between people, and promote justice in everyday life. This is the Pancasila as the view of the life of the Indonesian people. Therefore, a person who is Pancasilais, of course, can understand and interpret the principles of Pancasila and carry them out in their daily lives.
And despite all the noise that occurred, Pancasila should not be used as something extravagant, so that it is far from state life, it is placed in the highest place, but its value must be made as shared property, not for certain groups that can interpret the Pancasila. Pancasila must be "Grounded" so that the Indonesian people from various circles know and realize the importance of Pancasila as a foundation in the nation and state development.
Menjadi Aktor?
Saya pernah baca sebuah buku dari Mikhail Ulyanov, adalah seorang aktor dan pemain Theater dari Soviet, dia berkata “jika ingin melihat sebuah pertunjukan yang bagus, jangan lihat alur ceritanya, tapi lihatlah bagaimana seorang aktor yang mampu menghidupkan jalan cerita itu sendiri”. Dari kata-katanya itu saya dapat menarik sebuah kesimpulan besar, bahwa bagaimanapun situasi kita saat ini, jadilah seorang aktor yang mampu menghidupkan sebuah jalan cerita, lakon itu hanya bersifat sementara. Ketika kita mengalami hari tersulit sekalipun jangan pernah ikut dalam alur yang dapat membuat kita terbuai, hingga hanyut dalam sebuah kubangan kegagalan.
Ketika kita bisa menguasai sebuah peran yang mungkin susah untuk diperankan, cobalah untuk tak menyerah, dengan menjadikan rasa syukur sebagai pondasi, kemudian jadikan alur sebagai pengiring bukan menggiring, bukan juga sebagai plot usang yang dapat mematikan peran kita sebagai aktor untuk mengiprovisasikan segala kemampuan dan potensi besar dalam diri. Karena ketika aktor terbawa dalam alur cerita, maka semesta akan melihat kita sebagai orang yang tak mampu untuk menjalankan peran yang sudah ia percayai untuk kita.
Dari sana semua akan terbuka, baik itu potensi penyelesaian sebuah masalah ataupun sifat pendewasaan diri, semua akan terlihat terang. Karena bagi Tan Malaka “terbentur, terbentur, terbentuk” bukan sebuah kata-kata dibawah alam sadar jenaka belaka, baginya setiap kita berhak untuk melawan keadaan, berapa lama dan sejauh apapun bentuk benturannya, yakinlah itu akan membentuk karakter kita sebagai orang yang selalu bersyukur dalam menjalankan peran dari semesta untuk menuju proses kebahagiaan secara tak intsan.
“mereka yang mendapatkan kebahagiaan secara instan. Percayalah, kekecewaan akan datang secara instan pula”.
To be honest, we can be better than they think
Well, akhirnya nulis lagi. Setelah sekian lama diam, melihat dan belajar akhirnya memberanikan diri untuk swip up sedikit bercerita. Ya, mungkin semua kita pernah melewati saat-saat dimana akhirnya diri sendirilah yang bisa di harapkan. Jatuh terseok-seok, bangkit berdiri, menghela nafas panjang, berdiam sejenak untuk sekedar terbiasa dan membiasakan diri dari keadaan sempit.
Kita pasti pernah merasakan berada pada titik tersulit, dimana keadaan selalu mendikte, setiap ingin keluar dari lorong sempit, rasanya juga tak mampu. Kadang juga sering merasa jika hidup tak adil, jauh dari kata ramah dan selalu terabaikan. Penuh jalanan berliku tajam dan hebatnya, ketika semesta tiba-tiba meletakan kita disaat yang tak tepat, dimana untuk bernafaspun kita masih sulit.
Hidup adalah tentang perjalanan, sebuah proses perjuangan yang selalu tak mudah untuk ditaklukan. Ada kalanya bahagia yang selalu menjadi endingnya, ketika berakhir manis, namun juga ada kalanya sebelum sampai pada titik tersebut, kita harus terbiasa dengan macam keluh-kesah, mulai dari tangisan hingga air mata.
Mungkin ini adalah cara tuhan agar mengajarkan kita sebuah keikhlasan. Mampu melewati ketidak pastian, agar rela bersusah payah dalam kondisi tersulit sekalipun, tanpa harus protes. Tujuannya jelas, ingin melihat siapa saja hambanya yang terakhir berdiri untuk terus bersyukur.
Sesekali tak jarang juga kita pernah bergumam dalam hati, lalu berkata “kenapa semua ini harus terjadi?”, kemudian berkata lagi, “apa mungkin ini bisa dilewati?”
Kita juga akan sampai pada titik nadir terendah dalam hidup, tak kala harus dipaksa untuk menyerah. Berhenti melangkah, sehingga tak tahu harus berbuat apa, putus asa dengan seluruh ketidak mungkinan yang benar-benar harus dilewati. Merasa kerdil, hingga seluruhnya terasa mustahil bisa dilewati.
Entah apa masalah atau alasan dibalik itu semua, yang jelas kita pasti pernah mengalami hal serupa. Pasti..
Pikiran yang lelah, menyatu dengan beratnya langkah, maka disitulah kata-kata mundur semakin lantang untuk didorong keluar, “ya.. aku menyerah, menyerah sajalah.. aku tak sanggup lagi”.
Kita pernah mengalami masa dimana satu-satunya pilihan yang tersedia saat itu adalah “menyerah”. Menyerah dengan keadaan untuk bangkit, menyerah dengan nasib yang membuat diri semakin rendah, terhimpit oleh semua ketidak mampuan mencari harapan. Padahal kita telah mencoba semua cara, semua pendekatan, namun tidak satupun bisa membuat keadaan lebih baik atau setidaknya, kembali pada sediakala.
Dan oleh sebab itu juga, tak ada yang bisa disalahkan untuk kita yang pernah berada pada fase seperti itu.
BAGI KITA YANG SEDANG BERJUANG, BERSABARLAH. SEDIKIT LAGI..
Kemarin sempat diskusi dan memperdebatkan arti berjuang dengan seorang teman, kita membahas makna dari kata “berjuang” dan “memperjuangkan”. Kita berdiskusi tentang arti sebuah perjuangan, dan tentunya dengan perspective masing-masing, namun uniknya dari diskusi itu, kita percaya bahwa berjuang dan memperjuangkan itu sama, sama-sama mencari sebuah kebahagian. Entah itu cinta, harapan atau sekedar keluar dari kenyamanan.
Dan pada akhirnya kita sampai disebuah kesimpulan, bahwa berjuang dan memperjuangkan adalah suatu situasi bagi mereka yang Siap. Siap terjatuh, siap akan luka dan siap untuk hancur berantakan, tapi mereka menolak untuk berhenti nyaman.
Jika Sutan Sjharir berkata “Hidup yang tak diperjuangkan tak layak untuk dimenangkan”adalah sebuah manifesto politis saja, agar membakar semangat para pejuang agar terselenggaranya kemerdekaan, untuk apa mereka siap terluka? Hidup penuh terror dan terasingkan? Jawabanya, dia tahu, jika berjuang adalah standart dari orang-orang yang menolak untuk berhenti nyaman.
Memang ini bukan sebuah kata-kata motivasi atau sekedar kata-kata manis dari seorang tokoh nasional. Kadang adakalanya hidup harus benar-benar siap untuk hancur lebur, bersama sakit, perih dan air mata. Mungkin tanpa itu semua rasanya bahagia itu terasa biasa-biasa aja.
Tak mudah memang untuk mengadopsi sebuah perjuangan dalam konteks nyaman. Disaat kita harus siap dengan seluruh ketidak pastian yang menunggu didepan sana. Dan bisa jadi hasilnya pun tak selalu sesuai harapan, dan kadang diluar ekspetasi. Belum lagi ketika tak seorang pun yang ingin bersahabat dengan kita. Lengkap sudah semua rasa yang bercampur aduk itu.
Sulitnya berjuang adalah bagian dari bentuk ikhtiar. Memasrahkan seluruh proses demi hasil yang kita sendiri belum tahu persis seperti apa bentuknya. Dan suka tidak suka, kita dipaksa untuk melewati jalan terburuk sekalipun. Bagaikan sudah terjatuh, tertimpa tangga pula dan anehnya tak sanggup untuk bangkit lagi. Analogi yang kita rasa tak berlebihan, karena pasti semua pernah mengalami pada fase tersulit seperti itu.
Lantas, kita memaksa seluruh fikiran untuk berdamai, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan masa lalu, sekarang, dan berdamai dengan seluruh bagian akhir ceritanya. Karena hanya takut untuk dibilang menjadi manusia lemah, lalu akhirnya kita harus jujur dengan semesta, jika kita hanya bisa bersembunyi dibalik bayang-bayang ketakutan, dan menutup seluruh tangis lewat senyuman.
Tapi hebatnya dibalik itu semua, ada beberapa diantara kita suka dengan sebuah ketidak pastian, mereka akan melihat sebuah ketidak pastian sebagai bentuk proses berbeda dari cara orang lain kebanyakan melihat.
Bersama ketidak pastian ada sebuah harapan, bandingkan dengan sebuah kepastian, ketika semesta telah memastikan seluruh detik, menit dan perputaran waktu adalah bagian terburuk dari kita, mungkin, kita yang membaca tulisan ini berkata “untuk apa hidup susah-susah, toh nanti kita juga bakalan tau bagaimana kedepannya”. Maka disitu, hilanglah sudah fungsi semesta sebagai pemilik rahasia dan sifat tunggalnya.
Bayangkan saja, ketika semua takdir bisa kita permainkan dengan seenaknya,mungkin sudah banyak manusia didunia ini yang tidak akan merasakan manisnya berjuang untuk sebuah kebahagiaan. Bukan untuk mereka, tapi untuk diri sendiri.
“karena itu kita layak untuk dicintai, setidaknya dicintai oleh diri sendiri”.
Tak akan ada yang akan peduli dengan kita disaat sedang berjuang, mereka akan peduli dengan apa yang telah siap kita kerjakan. Dan mencari mereka yang siap untuk diperjuangkan itu sulit, bagi kita yang sedang berjuang, tak usah pamrih dengan segala macam luka dan air mata yang menemani, yakinlah ketika kita berjuang dalam keadaan terburuk sekalipun, pasti ada sebuah titik terang yang dikirimkan semesta bagi mereka yang terakhir berdiri untuk sabar. Maka dari itu,Bersabarlah, karena sedikit lagi kita akan sampai.
Karena hasil tak akan pernah rela menghianati proses, dan kala hujan badai sekalipun susah untuk menolak pelangi datang. Karena disetiap badai sekalipun pasti berujung sebuah keindahan. Percayalah, tak akan ada luka dan air mata yang terus menerus bersifat tunggal, karena setiap satuan benda dan sifat itu telah diciptakan berpasang-pasangan.
BERADAB DULU, ILMU KEMUDIAN
Menuntut ilmu adalah sebuah keharusan, sebagai aktivitas kehidupan serta bagian dari syariat dan perintah yang jelas. Menjadikan fitrah manusia sebagai mahluk sosial, diciptakan dan di jadikan khilafah dimuka bumi yang membedakan adam dari mahluk surga lainnya karena telah disempurnakan oleh akal fikiran. Serta berkat ilmu juga kita dapat menembus peradaban hingga saat ini.
Rasulullah bersabda “Tuntunlah ilmu semenjak kamu terbaring di ayunan sampai beristirahat panjang di liang kubur” atau yang sering akrab kita dengar “Tuntunlah ilmu walau hingga ke negri China”.
Betapa dasyhat ilmu bagi kehidupan peradaban manusia. Dalam konteks yang tak sempit ilmu bukan sekedar untuk dipelajari, namun ada sebuah keharusan agar mengamalkan dan berusaha untuk mencarinya sejauh apapun dan dimanapun.
Berkat ilmu juga banyak kemuliaan yang akan didapatkan oleh mereka yang tekun mencarinya. Salah satunya adalah mendapat derajat yang tinggi disisi Allah. (QS. Al Mujadillah:1)
SEBAIK-BAIKNYA ILMU ADALAH ADAB YANG MULIA
Adab menurut bahasa ialah kesopanan, tingkah laku yang baik, kehalusan budi dan tata susila. Adab juga berarti pengajaran dan pendidikan yang baik sebagaimana sabda Rasulullah (sesungguhnya Allah telah mendidikku dengan adab yang baik dan jadilah pendidikan adabku istimewa). Islam tak melulu bicara tentang ilmu, namun juga menekankan pentingnya penerapan serta implimentasi adab serta akhlak yang menjadi landasan seorang yang berilmu.
Kehadiran Rasulullah kemuka bumi tak lain tak bukan untuk menyempurnakan akhlak. Kehadiran beliau bukan semata untuk menyebarluaskan Islam, atau menjadikan bumi penuh dengan orang-orang yang berilmu pengetahuan karena pada dasarnya ilmu adalah bagian yang tak terpisahkan oleh manusia.
Bayangkan saat itu hampir seluruh peradaban penuh dengan karut-marut kejahiliahan, mereka bukan sekelompok orang-orang bodoh, mereka adalah bagian dari identitas majunya sebuah peradaban yang canggih, ketika sebelum Rasulullah diutus untuk menjadi penyempura akhlak manusia. Namun kala itu terjadi sebuah disorientasi yang mengakibatkan degradasi moral yang penuh penyimpangan, mereka mampu membuat sebuah peradaban maju namun saling membunuh, mereka mampu membuat sebuah ilmu astronomi namun masih menyembah matahri dan bulan. Sikap-sikap menyimpang seperti ini yang menjadikan ilmu akan terbuang sia-sia, banyaknya sifat-sifat yang tercela dan buruknya sebuah akhlak terhadap ilmu serta manusia adalah awal dari hancurnya sebuah peradaban yang tak lain dan tak bukan diakibatkan oleh penuhnya kejahilan, mereka berilmu namun salah dalam konteks adab ilmu pengetahuan dan berakhlak (pongah) mengesakan Allah sang pencipta.
coba ya kita fikirkan, para periwayat hadist dan ulama-ulama besar dulu menghagbiskan waktu menuntut ilmunya selama 28 tahun, namun untuk mempelajari adab mereka membutuhkan waktu lebih dari 30 tahun lamanya.
IA YANG BERILMU BELUM TENTU BENAR
Analoginya memang sedikit berlebihan, tapi seperti itulah kenyataannya. Pendidikan adalah tolak ukur dari sebuah kesuksesan seorang individu, praktisnya adalah ketika baik pendidikannya maka baik pulalah jalan karirnya.
Hari ini ilmu adalah sebuah kebutuhan yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, lewat ilmu semuanya menjadi terang dan nyata. Tapi jika di sadari hari ini, kita akan melihat banyak kontradiksi dari orang-orang berilmu yang tak memiliki adab dan akhlak.
Jika kita lihat ada banyak orang berilmu malah abai terhadap ruang sekitarnya, banyak yang memanfaatkan Tittle keilmuannya sekedar untuk menguntungkan pribadi sendiri. Tidak tahu untuk apa dan dipergunakan kemana ilmu yang selama ini mereka cari. Terkadang banyak dari mereka hanya mencari sebuah Tittle sekedar untuk mempromosikan dirinya kesebuah jabatan yang lebih menjanjikan tetapi tak tahu dipergunakan untuk apa ilmunya tersebut. And we can’t close our eyes to things like that, and that is how it really is.
Tanpa kita sadari juga sebenarnya ada sebuah keharusan bagi setiap orang berilmu memulaikan dirinya kepada adab terlebih dahulu, dalam adab tesimpan akhlak dan akhlak mengajari kita tentang semua kabaikan. Selain itu dengan adab ilmu yang kita miliki lebih berkah, karena ditakutkan ketika seseorang berilmu tak mampu mempertanggungjawabkan keilmuannya, akan terjadi sifat abai dan seketika itu pula ia lepas dan kemudian kesombongan akan bersamanya, kepongahan ini akan mengantar kepada sifat yang berlawanan dengan norma agama serta kehidupan.
Dilihat dari fungsinya, adab adalah pembeda untuk pintar dan benar. Orang yang berilmu sudah pasti pintar, namun jika tak diimbangi oleh adab, maka tak ada jaminan kepintaran dan pengetahuan yang dimiliki bisa membawa ke suatu kebenaran dan kebaikan.
Mau tidak mau memang hari ini kita harus dihadapkan dengan masalah semacam ini, mengalami disintegritas moral akut diseluruh lini kehidupan, lemahnya adab juga dapat kita rasakan pada sebuah Negara. Ada seorang terpidana yang memiliki ilmu tinggi lantaran ketahuan mencuri uang rakyat tetap saja mereka salah dalam keilmuan, orang tak akan lagi memandang ia sebagai orang berilmu. Kemudian ada juga para akademisi dan ulama, namun ketika tindakan dan ucapannya menyimpang dari adab dan akhlak, orang sudah pasti tak akan mendengarkannya apalagi menjadikan sebagai teladan.
Bagaimana mereka bisa menyebut dirinya paling benar sedangkan diatas langit masih ada lagit, dan langit sendiri tak pernah menyebut dirinya paling tinggi. Mereka berilmu, namun sayang tak memiliki adab.
Membentengi diri dengan adab dan akhlak adalah sebuah kewajiban. Karena orang berilmu tak akan pernah lepas dari sifat kepongahan. Padahal adab serta akhlak itu amatlah sederhana, berbuat Tawadhu pada orang lain, menghindari sesuatu yang dapat menyakitinya (baik fisik maupun hati) dan menahan diri ketika disakiti. Kemudian jadikan pula adab dan akhlak sebagai ukuran dalam menilai keilmuan seseorang jangan sampai kita salah untuk memilih panutan, jika ilmu adalah cahaya maka adab dan akhlak adalah pondasinya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Muda bersama Sjahrir
“Saya baru mendengarkan siaran radio kalau Jepang pada tanggal 14 Agustus 1945 baru saja menyerah pada Sekutu. Ini suatu vacum of power, karena Jepang sudah tidak lagi memiliki kekuasaan riil atas Indonesia dan Sekutu belum mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang. Jepang tidak mungkin lagi memberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia, karena Jepang sudah kalah! Jepang juga sudah terikat perjanjian dengan Sekutu untuk mempertahankan status quo! Inilah kesempatan bagi kita pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan Jepang! Tanpa PPKI buatan Jepang! Ya kemerdekaan yang murni hasil perjuangan bangsa Indonesia”.
Kira-kira, begitulah apa yang disampaikan oleh seorang anak muda yang pada saat itu amat peduli terhadap nasib bangsanya, yang diusia mudanya tertarik dengan paham beraliran kiri, ia gunakan waktunya dalam pemikiran-pemikiran barat demokrasi sosialis. Akibatnya, harus ia bayar dengan beberapa kali diasingkan kolonial, termasuk oleh bangsanya sendiri.
Memiliki sebuah ideologi pergerakan yang pada kala itu menjadi sebuah ancaman nyata bagi kolonial, tak hanya itu. Ia, adalah sebuah simbol pemikiran pergerakan kaum muda untuk menuju gerbang kemerdekaan. Mengedepankan sikap keberanian serta mental dalam sulut perjuangan tak membuat lupa akan bangsanya, dan bersama pemikiran-pemikiran kritis itulah, hari ini kita rasakan efek dahsyatnya.
Setelah ia menjadi seorang sosialis kanan, dan diplomat ulung, berwatak humanis, ia tak terkekang oleh nasionalisme sempit, pemikiran moderat serta egaliternya terus mengiringi perjalanan panjangnya, pandangan yang jauh kedepan dan digelari seorang konseptor ulung. Sosok otodidak, walaupun pendidikan formalnya sampai Belanda, namum ia tak berminat sedikitpun menyelesaikan kuliahnya di Leiden Belanda.
Ia berkata ; “ lama kelamaan saya tahu bagaimana membebaskan diri dari perbudakan ilmu resmi (pendidikan formal). Otoritas ilmiah tidak terlalu berarti bagiku secara batin. Dengan begitu seolah-olah jiwaku semakin bebas tidak ada nama besar dan tenar yang resmi maupun tidak resmi yang menguasaiku untuk membutakanku dengan kehebatannya dan membuang atau membantai semua kegiatan orisinilanku….yang lebih penting bagiku adalah bagaimana tiba pada kebenaran harmonis dan pribadi sifatnya ”.
Hari ini, kita rasanya rindu akan ketokohan Sjahrir, baginya kemerdekaan itu tak melulu berbicara tentang kekerasan, ia adalah segelintir orang yang percaya bahwa pemikiran dan kata-kata adalah senjata yang ampuh meruntuhkan satu negara sekalipun. jika kita lihat sekrang, jarang sekali orang-orangtua kita dirumah inginkan anak-anaknya menjadi semisal tokoh perjuangan, yang mungkin rasanya, tak begitu penting amat dizaman ini.
Tapi ini sebuah hal yang serius bagi saya, dimana terjadi sebuah disintegrasi oleh para pemuda bangsa, amat jarang kita lihat lagi adanya interaksi diskusi-diskusi ilmiah yang membangun, bagaimana seharusnya peran pemuda dalam ikut serta memberi sebuah solusi atas banyaknya masalah yang sekarang belum terselesaikan. Padahal ya, awal mula membawa gagasan kritis itu memunculkan adanya sebuah titik balik dalam menyiapkan Indonesia berdaulat.
Yang sering kita rasakan hari ini ialah, kita malah ikut memilih terbawa arus ketimbang menjadi seorang pemuda yang siap dan tersiapkan dengan membawa intergitas kedalam konsep pemikiran, yang bersamaan bagaimana penyelesaian permasalahan itu sendiri terjadi. Dan juga nantinya siap ikut menyalakan lagi peran pemuda diseluruh tempat berinteraksi Indonesia kita hari ini.
Ada sebuah kerinduan yang amat besar bagi kita semua, ketika semakin banyaknya masalah yang hadir ditengah keterbatasan sikap yang menimbulkan ketidakpastian dimana-mana. mendekati dewasa ini, kita dihadapkan oleh berbagai macam masalah yang tak terselesaikan, apalagi yang terjadi kali ini ialah, kita lebih memilih untuk berdiam-acuh membiarkan selesainya masalah oleh orang lain. No that’s a big mistakes!
Coba, kita bayangkan kala itu Republik ini merdeka oleh segelintir para golongan tua? Apa bisa kita bayangkan, disaat golongan tua yang dimotori Soekarno tak mendapat desakan dari golongan muda yang didorong Sutan Sjahrir? Lantas, muncul pertanyaan? Apakah saat itu golongan muda yang notabenenya ialah pemuda intelektual, hanya duduk manis dirumah, menunggu Soekarno-Hatta didepan radio, berharap segera membacakan teks proklamasi? Rasanya, tak akan ada yang namanya upacara bendera hari ini.
Jika dulu, perang adalah cara satu-satunya dalam merebut sebuah kemerdekaan, bandingkan dengan zaman sekarang, yang dimana, segala kemudahan fasilitas itu terjamin, tentu berbanding terbalik dengan kondisi saat itu, malah bukan itu seharusnya cita-cita luhur lahirnya bangsa ini. Apabila Sjahrir memilih cara diplomasi dan pengonsepan secara terstruktur, karena ia sadar perang bukanlah jalan satu-satunya merebut kemerdekaan. Kemudian juga, ada sebuah pertanyaan menarik dari apa yang terjadi selama itu.
“ Apakah Republik ini merdeka hanya lewat cara berperang? Apakah senjata
menjadi pilhan satu-satunya saat itu? Ataukah, bambu runcing itu betul
menjadi ujung tombak alat pergerakan melawan kolonial? Yang pasti
pondasi dari seluruh aktivitas gerakan hingga tergelarnya kemerdekaan
itu, ialah sebuah runcingnya cara birfikir! Titik. “
MENJADI PEMUDA YANG GELISAH
Dari sikapnya sebagai pemikir ulung dan seorang diplomat yang menjadi tiang pondasi tergelarnya kemerdekaan, Sahrir juga mencatatkan namanya sebagai Perdana Mentri pertama termuda di Republik ini. Tak main-main, di umur 36 tahun ia menjadi seorang konseptor perundingan yang menjadi titik nadir hadirnya kemerdekaan, dan pengakuan banyak bangsa.
Yang lebih mengagumkannya lagi ialah, ketika partai sosialisnya dulu hanya mendudukan empat orang di kursi Legislatif tapi tak menggoyahkan posisinya sebagai Perdana Mentri kala itu, yang amat berbanding terbalik dengan apa yang kita rasakan har ini, keterwakilan kursi di Legislatif yang menentukan sebuah kekuasan. Ada sebuah nilai Surplus yang mengantarkan ia menjadi seorang Perdana Mentri dan orang amat berpengaruh kala itu, hingga oleh Soekarno lah yang mempercainya, sebagai diplomat agar seluruh dunia mengakui kedaulatan bangsa ini.
Sebenarnya kan, pemain politik intelektual itu adalah sebuah bangsa, berbicara diplomasi, yang menentukan baiknya sebuah diplomasi sebenarnya bukan pemerintah, melainkan sebuah evaluasi dari kecemasan yang timbul akibat adanya sebuah masalah.
Coba kita bayangkan, apakah ketika terjadinya dialog antara golongan tua dan perwakilan golongan muda saat itu melahirkan sebuah konflik baru? nyatanya tidak. Hasil dialog pasca penculikan Soekarno-Hatta yang melahirkan peristiwa Rengasdengklok malah menjadi sebuah awal titik baru dari sebuah ketajaman berfikir, membawa serta gagasan dan ide. Dan kenyataannya, Republik ini lahir dari sebuah gagasan serta ide oleh sebuah ketajaman berfikir para penggagasnya.
Kita tak menyalahkan sebuah perkembangan zaman, tapi dari apa yang mereka contohkan itu bukanlah sebuah cerita sejarah usang, mereka mengajrkan kita akan pentingnya sebuah semangat yang di dorong oleh integritas, dan para aktor-aktor politik kala itu memainkan perannya masing-masing dengan baik, karena itu mereka bawa integritas di dalamnya, ketersadaran dan berani ikut bersikap membawa intelektualitasnyalah, yang menjadi simbol keterwakilan pemuda kala itu. Dan harganya, amat mahal. Tak dapat diuangkan.
Kita tak harus juga mengeyampingkan sebuah budaya, karena budayalah bangsa ini teramat mahal harganya, tapi setidaknya, mari kita hilangkan mental-mental feodal, dari keterbatasan sikap. Keterbatasan sikap yang kita miliki hari ini bukan sebuah jawaban. Bersama kita hilangkan mental-mental keterjajahan oleh kolonial, bukan berarti dulunya kita bangsa terjajah harus sampai detik ini memilih patuh, dan menggemari kebiasaan ikut diam dan mendiamkan sebuah masalah. No! kita menentukan sikap!!
Salah satu masalah terbesar kita hari ini selain mental. Ialah, seringnya kita bermasalah dalam berfikir kritis, mengandalikan sebuah masalah, sebagai bentuk kerangka berfikir sehat. Akibatnya amat nyata, kita masih ikut nyaman dan berharap semua masalah itu dapat terselesaikan dengan baik oleh oranglain. Harus disadari, kita masih kurang stok orang-orang yang berani ikut serta dalam penyelesaian masalah.
Saat ini, kerap terjadi ialah, kita yangt tak berani ikut berdialog dengan orang yang lebih tua dari kita. No! jika bukan kita yang mengevaluasi, kira-kira kesewenang-wenangan akan terjadi berulang-ulang bukan? Yes!. Hari ini ini kita memiliki Devisit dalam kemampuan berargumentasi, serta rendahnya kemampuan berfikir secara Intelektual.
Jika ada orang berdialog menyelesaika masalah, kita lebih memilih ikut pergi. Yang akhirnya malah menimbulkan masalah baru, karena kemampuan mental dalam berargumentasi kita amat minim.
Dulu itu ya, bagaimana tingkat kematangan haji Agus Salim dalam mengendalikan fikiran nya bisa kita ambil contoh:
ketika sedang melakukan khotbah, ternyata didalam ruang itu ada salah seorang musuh politiknya, agus salim ialah seorang yang agamis, maka dari itu ia panjangkan jenggotnya, ketika khotbah berjalan, ada suara ejekan dari tengah-tengah hadirin kala itu, sambil mengejek haji Agus Salim dengan suara kambing, lantas agus salim berkata begini,
“ Para hadirin yang saya muliakan, rasanya kita yang hadir disini adalah manusia semua, tapi kenapa tadi saya dengar ada suara kambing ditengah-tengah kita ”
Coba bayangkan kematangan haji Agus Salim dalam mengendalikan fikirannya. Dan juga ketika Soekarno ditanyakan oleh seorang wartawan yang tak suka dengan dirinya, lalu wartawan tadi berkata,
“Soekarno, kau sudah patah dalam berpolitik oleh Sjahrir, bagi kami ia adalah ujung tombak dalam mencapai sebuah kemerdekaan lewat diplomasi, dan keputusan-keputusanmu sudah dipatahkan oleh Sjahrir”, lalu soekarno berkata begini,
“ Aku ini bukan patah, aku hanya melentur bagaikan sebatang rotan”.
Alangkah eloknya, jika kita bisa rasakan betapa golongan muda dan tua dikala itu saling bertikai, saling menghunuskan pedang dalam sebuah tataran konsep pemikiran yang tak lain dan tak bukan demi kepentingan bersama. Ya, sekali lagi, mereka adalah aktor-aktor politik yang disegani lawan maupun kawan, mereka mungkin tak kuat secara fisik, tapi mereka semua memiliki gagasan dan ide lebih dalam dari dalamnya lautan, dan miliki mental yang lebih kokoh dari pada kokohnya sebuah gunung.
Efeknya, hingga hari ini kita rasakan. Hadirnya kemerdekaan, terciptanya bangsa yang berdaulat, ialah bentuk dari sebuah pemikiran yang tajam oleh mereka para pemikir ulung. Praktis, keterwakilan golongan tua yang dimotori Soekaro-Hatta serta di dorong oleh keterlibatan para pemuda yang memilih keluar dari jalur amannya menuai efek yang amat raya.
Sjahrir ialah potret bagian elite pertama dalam bergagasan intelektual demi kemerdekaan. Tak rela fikirannya dimatikan oleh kapitalsis maupun feodalisme, Semoga dengan menghidupkan lagi semangat berfikir Sjahrir kita dapat menyongsong Indonesia kearah yang lebih baik.
“Kemerdekaan nasional adalah bukan pencapaian akhir, tapi rakyat bebas berkarya adalah pencapaian puncaknya”.
We’re heading to the direction
Sore itu pukul lima petang, jalanan mulai terasa padat merayap, tiap sudut ruas mulai dipadati kendaraan bermotor, terasa sesak. Sesekali melihat kearah luar kaca, memang seharusnya ini adalah waktu dimana volume kendaraan mulai memadati semua ruas jalan. Tak hanya sela ruas jalan yang penuh sesak, tetapi kini mulai terlihat banyaknya berbagai macam alat peraga kampanye. Amat terasa berwarna, seakan berterimakasih kepada pasangan calon karena dapat melipur hati yang bosan disaat macet.
Berbagai macam cara yang dilakukan oleh paslon agar terlihat menarik, dan tentunya agar dapat menarik perhatian pengguna jalan. Coba kita tengok hari ini di jalanan, mulai ramai dihiasi warna-warni ornament alat peraga kampanye, seperti yang terpampang dibillboard pinggir jalan, baleho-baleho berukuran besar, dan bendera yang tersusun rapih ditrotoar-trotoar jalan protokol, yang lebih menariknya lagi, pohon pun tak ketinggalan momentum untuk mengisi eforia tahunan tersebut. Lantas, saya menarik sebuah kesimpulan, “akan hadir sebuah harapan baru, bagi daerah yang serentak melaksanakan pilkada nantinya”. Lalukan, muncul sebuah perasaann positif, positifnya ketika para pemimpin terpilih nantinya dapat menjadi amanah bagi masyarakatnya.
Butuh sebuah persepektif berbeda memang. Ketika kita melihat semuanya, agar tampak objektif, dan jelas. Yes! We are heading to the diraction. Namunkan, kalanya sebagai masyarakat yang peduli demokrasi itu bukan menjadi sebuah hal baru. Yang menjadi masalahnya ialah, bagi sebagian besar mereka yang acuh dengan demokrasi, anti dengan politik, dan merasa risih. Lalu timbul ketidaknyamanan, dan selalu berburuk sangka diawal.
Bagi saya, itu awal dari sebuah kesalahan besar, dimana mereka yang terjebak dalam sebuah kesalahan besar itu , ia yang tak mau terusik apalagi mendengarkan dengan janji-janji kampanye tiap-tiap paslon, bahkan untuk melihat pun mereka enggan, apakah kita senaif itu dalam bernegara? Saya rasa tidak. Tapi-kan disini, masalahnya mereka telah ikut diam dan mendiamkan sebuah masalah. Ini yang selama ini menjadi masalah yang tak terselesaikan?..
Harusnya ya, hak dan kewajiban itu kan sejalan. Coba bayangkan, Hak kita untuk dapat perlindungan hukum, pekerjaan yang layak, serta hak untuk dapat pendidikan, kesehatan, serta air bersih, seluruhnya telah diberikan Negara jauh sebelumnya. Tentu, disana kita juga memiliki kewajiban untuk negara, salah satunya taat pajak, tentu digunakan untuk berlangsungnya kehidupan bernegara yang dicita-citakan oleh amanat konstitusi.
Lantas disaat momentum pilkada tak dimanfaatkan sebaik mungkin apakah yakin nantinya kebaharuan itu akan muncul? kesalahan fundamental itu pun berlanjut, ketika hak memilih tak dipergunakan dengan baik, dan lebih memilih untuk golput, sedangkan golput itu sendiri bagian dari sebuah akar permasalahan yang besar efeknya. Akan terasa ketika nanti, disaat kita sibuk melulu menyalahkan kebijakan-kebijakan yang di buat pemerintah, dan akan timbul kata-kata penyesalan diakhir, “lah! Wong ketika dikasih hak memilih malah ikut mengabaikan, malah menyerahkan hak kepada orang lain yang belum tentu benar treck recordnya, dan yang lebih lucunya lagi menyerahkan semua itu ke Tuhan. Tentu itu bukan solusi dan jawaban tho”.
“ yang namanya pendaftaran itu di depan, kalau dibelakang penyesalan namanya ”.
BELAJAR MEMILIH DARI BAGIAN TERKECIL.
Hiruk pikuk tahun politik semakin terlihat nyata, terasa amat dekat dan membuat rumit. Seakaan semua pasangan calon menasbihkan ialah yang layak menjadi pemimpin untuk lima tahun kedepan. Semua bergegas, hanya tersisa beberapa bulan lagi pesta demokrasi itu akan tiba dibeberapa daerah.
Tetapi, jauh sebelum itu sebenarnya kita dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitar kita berinteraksi. Saya ingin meninggalkan dulu bahasan tentang politik tadi, ingin bercerita bagaimana kita bisa menjadi pemilih yang baik, agar jangan salah dalam memilih dan ikut mengabaikan.
Sebelum itu, tentunya kita semua akan ikut berbenah dari skop lingkungan terkecil. Beberapa hari kedepan pemilihan ketua mesjid tempat saya tinggal akan digelar, ada sebuah harapan dan juga sebuah beban. Harapan nya ialah akan hadir ketua yang bisa memberikan angin segar dalam pembenahan sistem ditatanan mesjid, kemudian yang menjadi beban nya adalah, siapa yang akan layak menjadi ketuanya? Tentu itu memerlukan kerjasama dari seluruh element msyarakat yang ingin melihat kebaharuan itu muncul di wilayah mesjid.
Lalu saya teringat, kata-kata Ali Bin Abi Thalib, katanya “Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik.” Bagi saya, kembali lagi ke atas, dibangsa ini masih banyak kok stock orang baik, tetapi masalahnya mereka yang baik ketika tau itu salah, malah mendiamkan sebuah kesalahan tersebut. Selanjutnya apa yang terjadi “Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.”
Menyikapi hal seperti itu, dibutuhkan seluruh usaha bersama dari kita semua, yang ikut ambil bagian dalam terlaksananya pemilihan ketua mesjid tersebut. Mesjid itu bukan identik karena orangtuanya, ataupun ibuk-ibuknya, mesjid itu adalah seluruh element yang siap mewarisi syiar-syiar agama Allah. Mesjid itu lambang dari sebuah kemuliaan, cerminan kemurahan Allah kepada hambanya. Harusnya, kita sebagai pemuda ikut terlibat aktiv berperan didalamnya, karena pemuda akan tawarkan sebuah harapan, ditangan kitalah nantinya kemaslahatan umat akan ditentukan.
Kemudian, ada yang berfikiran juga bahwa dalam pemilihan ini tak boleh ada unsur politiknya. Bagi saya, ya benar, tak ada yang salah. Tetapi dari perspektif mana kita akan lihat, masalahnya, kepentingan akan ikut serta terbawa kedalamnya. Kepentingan yang bagaimana, tentu kepentingan seluruh jamah yang lainnya, bukan hanya melihat kepentingan sebuah jabatan agar terhormat dimata masyarakat. Apakah salah, apabila orang baik ikut ambil bagian kedalam sistem tersebut? Apakah selama ini kita ikut membenarkan, apabila orang-orang yang jelek treck recordnya mengakusisi seluruh kegiatan keagamaan dengan embel-embel agama dibelakangnya? No! that a big no!. ketersediaan orang cakap dan kompetibel lebih banyak ketimbang ia yang hanya mencari sebuah kekuasaan.
Lalu juga ada yang bilang tentu dalam pencalonan tersebut ada lobi-lobi politiknya, loh masalahnya Republik ini merdeka berkat lobi-lobi toh? Bagaimana bisa Afghanistan dan mesir mau mengakui kemerdekaan Indonesia jika bukan lewat lobi-lobi? ..
Semua itu tergantung bagaimana kita bisa melihat masalah secara utuh, dan menurut saya, kita semua harus belajar bagaimana menyikapi keadaan dalam berbeda sudut pandang, bagaimana ingin menyelesaikan masalah bangsa dan Negara apabila mesjid saja masih mudahnya kita abaikan?
Semoga dalam terlibatnya kita dalam masalah terkecil, kita dapat membantu untuk merapihkan apa yang berantakan, membersihkan apa yang kotor, dan merajut apa yang telah koyak. Ini bukan masalah satu-dua orang, tetapi ini masalah semua orang, jika kita abai bersiaplah selamanya kita akan terabaikan.
Maka dari itu, sudah saatnya kita sadar akan hal-hal seperti ini, dan semoga bagi daerah yang menggelar pesta demokrasi tahunan tak salah dalam memilih pemimpinnya lima tahun kedepan, dan bagi mesjid saya, masih ada beberapa hari lagi untuk mencari solusi dan jalan keluar yang terbaik, bagi kepentingan seluruh jamaah.
Wajah Indonesia ada di Shaf belakang Shalat berjamaah
“Ash-shalaatu khairum minan-nauum”, “Ash-shalaatu khairum minan-nauum” sayup-sayup dari kejauhan panggilan Allah kepada hambanya untuk segera menuju mesjid mulai terdengar. Dari dinginnya udara subuh, ketika itu banyak kita yang mempalingkan tubuh untuk sekedar menarik diri kembali ketempat tidur. Shalat yang pertama kali dilakukan oleh Adam alaihisalam ini, memang amat sukar dikerjakan, apalagi dimesjid. Udara yang sejuk, air yang terasa amat dingin sembilu menusuk kedalam tulang. Butuh sebuah perjuangan memang, agar dapat berjalan sampai kesebuah Shaff pertama. Tapi bukan ini yang ingin kita bahas, biarlah malaikat menyaksikan mereka yang datang menuju panggilan Allah ketika subuh menjemput.
Sesampainya dimesjid, jamaah mulai melaksanakan shalat dua rakaat, yang dimana kebaikannya lebih besar dari dunia dan seisinya. Lantas yang menjadi perhatian kala itu ialah, seorang anak yang selalu tepat waktu hadir mendatangi mesjid, tak terlihat hadirnya di Shaff terdepan mengalahkan selesainya kumandang Adzan.
Yang menariknya disini ialah, ia berbeda dengan kebanyakaan anak-anak se-uisa nya. Memiliki keterbelangan mental dan fisik, yang mengidap Downsyndrom. Tetapi yang selalu saya amati ialah, kekurangan yang ia miliki, membedakan ia dan kebanyakan manusia normal lainnya, adalah tak menyurut kemauan keras dari dirinya untuk selalu hadir tepat waktu setiap sebelum Adzan fardhu berkumandang. Terasa amat dalam, hati bergetar, akal tak lagi bisa memfungsikan logika yang saat itu saya fikirkan. Tatapan kosong mulai menjangkit, tak tau lagi apa yang harusnya saya fikirkan kala itu, membayangkan ia yang terlihat kurang tapi amat istimewa dihadapan sang pencipta, dibandingkan dengan diri sendiri yang berjuang mati-matian untuk sekedar melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk segera berwudhu. Malu, terpukul, dan terasa tak ingin menatap wajah polosnya.
Esoknya, saat sholat isya berjamaah. Ada sebuah kejadian yang sempat menarik perhatian para jamaah mesjid, ketika Iqamah berkumandang, hiruk-pikuk jamaah mulai mengatur Shaff untuk menyempurnakan rukun shalat. Lantas kemudian terdengar suara keras seorang jamaah bapak-bapak menegur para anak-anak kecil yang Shaffnya paling belakang, dengan menarik tangan serta menghardik mereka agar Shaff anak-anak itu berada dibelakang. Saya pun mulai berfikir, apa salah adik-adik itu ?? apa yang dilakukan mereka ??..
BIARKAN MEREKA MENGENAL TUHANNYA.
adalah Sahabat Nabi yang bernama Syaddad ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah datang – ke masjid- mau shalat Isya atau Zuhur atau Asar sambil membawa -salah satu cucunya- Hasan atau Husein, lalu Nabi maju kedepan untuk mengimami shalat dan meletakkan cucunya di sampingnya, kemudian nabi mengangkat takbiratul ihram memukai shalat. Pada saat sujud, Nabi sujudnya sangat lama dan tidak biasanya, maka saya diam-diam mengangkat kepala saya untuk melihat apa gerangan yang terjadi, dan benar saja, saya melihat cucu nabi sedang menunggangi belakang nabi yang sedang bersujud, setelah melihat kejadian itu saya kembali sujud bersama makmum lainnya. Ketika selesai shalat, orang-orang sibuk bertanya, “wahai Rasulullah, baginda sujud sangat lama sekali tadi, sehingga kami sempat mengira telah terjadi apa-apa atau baginda sedang menerima wahyu”. Rasulullah menjawab, “tidak, tidak, tidak terjadi apa-apa, cuma tadi cucuku mengendaraiku, dan saya tidak mau memburu-burunya sampai dia menyelesaikan mainnya dengan sendirinya.” (HR: Nasa’i dan Hakim)
pada hadis lain diriwayatkan bahwa Nabi memendekkan bacaannya pada saat shalat Subuh (dimana biasanya selalu panjang), lalu sahabat bertanya: “Ya Raslullah kenapa shalatnya singkat, enggak biasanya? Rasulullah menjawab, “saya mendengar suara tangis bayi, saya kira ibunya ikutan shalat bersama kita, saya kasihan dengan ibunya.” (HR: Ahmad)
Menarik disini, saya menarik asumsi dari permasalahan yang kerap terjadi ketika hendak melakukan Shalat Fardhu berjamaah dimesjid. Mungkin kejadian ini tak hanya terjadi dimesjid tempat saya shalat, masih banyak lagi yang memiliki kemiripan hal serupa, disetiap mesjid-mesjid tempat kita berada. Yang hanya saya tak terima ialah, bukankah islam sangat peduli dengan anak-anak, coba kita bayangkan bersama, islam mengajarkan Shalat kepada anak dari umur 7 tahun. Itu diluar mengejarkan sholat wajib yang hukumnya bagi laki-laki untuk berjamaah dimesjid.
Bayangkan, usia mereka yang amat belia, belum sampai sepenuhnya berumur 7 tahun, apa yang mereka fikirkan ketika melihat bapak dan ibunya berdiri, rukuk serta sujud bersamaan?, apa reaksi mereka melihat bapaknya yang serentak mengatakan “Amiiiin”ketika Imam membacakan surah Al-fatiha disetiap rakat pertama dan kedua berlangsung. Apa yang seharusnya mereka temukan dengan hadirnya mereka ikut meramaikan berjamaah dimesjid?, apakah mereka berakal ketika teriakan, tawa dan lari-larian mereka kesana kemari itu mengganggu bacaan sholat jamaah lainnya?..
saya fikir tidak. Lalu menurut hemat saya, inilah kesalahan kita sebagai orangtua dan orang yang telah berakal memandang permasalahan ini dari sebuah sudut yang sempit. Saya termasuk orang yang keras dalam melihat sudut pandang seperti ini, coba kita lihat di zaman Milenial sekarang, bayangkan Negara maju dan menjadi sebuah peradaban dunia khususnya Islam seperti Turki. Bayangkan dinegara peradaban Islam tersebut, sekarang hampir disetiap Mesjid disudut kota Konstatinopel itu diberikan sebuah fasilitas taman bermaina anak!!, dan apa yang terjadi, presidennya pun mengapresiasikan langkah maju tersebut. Bayangkan apa yang terjadi di Shaff Mesjid kita paling belakang??..
AKIBATNYA AKAN FATAL
Hanya mengingatkan untuk kita semua, orangtua yang memiliki tanggung jawab moral bersama, melihat Republik ini Dua-puluh hingga Empat-puluh tahun yang akan datang, jika ingin melihat wajah Republik ini kedepan, mereka semua berada di Shaff Sholat Fardhu berjamaah dimesjid. Tak usah jauh-jauh mencari ketempat pendidikan Agama ataupun sekelas pendidikan International, lihat saja dibelakang kita semua, mereka dengan gagahnya memandang tuhannya, mereka tegapkan bahu dan dada, mereka kekarkan kedua kaki mereka untuk tak mudah goyang dalam menjadi seorang pemuda Muslim yang memiliki integritas untuk nantinya dapat diharapkan dalam menyelesaikan seluruh permasalahan umat dan dunia, mereka tak ragu menjadi keras dalam bertindak, mereka tak gentar melawan tentara-tentara kaum zionis.
Merekalah yang akan meneruskan semua perjuangan yang hari ini, tak terselesaikan dengan baik oleh kita semua. Apalagi untuk mereka para orang-orangtua. Coba lihat, anak yang memiliki kekurangan fisik dan mental saja sanggup hadirkan sebuah pembaharuan, ia seakan ditakdirkan untuk menjadi sebuah contoh yang amat nyata yang berada di depan mata kita, ia terkesan ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa, ia yang seperti itu saja tak lupa dengan tuhan. Yang kerap kali kadang tindakan-tindakan yang nyelenehnya mengganggu khusyuk kita saat sholat. Lihat, adik-adik kita yang berusia balita yang setiap Maghrib selalu menghiasi riuh-pikuknya Mesjid, biarkan mereka belajar mengenal Tuhannya, biarkan mereka yang mengerti tentang cara bersyukur kepada Tuhannya, dan biarkan mereka menjadi pemuda yang tersiapkan nantinya.
Kadang, malah yang terjadi adalah, ketika mereka yang setiap ikut hadir menunaikan Shalat Fardhu berjamaah dimesjid itu sering dimarahi, coba perhatikan sebenarnya kita yang menjerumuskan mereka seperti itu, coba kita perhatikan, ketika mereka tak memiliki lagi rasa nyaman dalam beragama, maka bayaran nya amat mahal!! Tentu kemudian berdampak fatal. Ketika mereka menginjak usia remaja dengan tak memiliki pondasi agama yang diajarkan sejak kecil, mereka akan kehilangan arah, kemudian sebuah kondisi yang amat membahayakan akan mengintai mereka semua. Akibatnya, terjadi sebuah penyimpangan-penyimpangan remaja, lantas ketika mereka makin jauh, kita sebagai orang yang bertanggung jawab menyalahkan mereka, ada yang bilang tak bermoral, tak berahlak, tak memiliki pendidikan agama yang kuat, maka dari itu disini saya ingin menyorot kasus semacam ini.
Bagi saya kenakalan remaja dan penyimpangan lain nya berawal dari Shaff paling belakang. Ketika kita bisa lebih bijak menghadapi masalah seperti ini dimesjid, tentu dia akan bisa menjaga dirinya sendiri walaupun disekelilingnya siap menjerumuskan mereka, dan juga sebaliknya, ketika mereka dari kecil suda tak disambut dengan ramah oleh orangtuanya dimesjid tentu lingkarangan luar sana siap menyeret mereka. Tentu ada cara-cara yang lebih baik dalam menegur mereka, bukan dengan cara menghardik ataupun memukul mereka, jangan sampai mereka tak nyaman untuk belajar beragama, belajar bersyukur dari kecil, jangan biarkan contoh teladan Rasulullah mudah kita abaikan. Rasull saja memiliki cara pendekatan yang baik untuk mereka, mengapa kita tak bisa berfikiran jauh dan mencari cara yang baik untuk menertibkan mereka. Ingat, merekalah wajah Indonesia yang akan datang, mau jadi apa bangsa ini kedepan tergantung kita mendidik dengan cara bagaimana.
Tawar menawar adalah yang ditakuti oleh Eropa
Konon tradisi tawar menawar di pasar tradisional sebaya dengan usia nusantara. Aksi ini sangat ditakuti bangsa Eropa karena mereka memang tidak dibekali ilmu ‘negosiasi’ harga ketika sedang bertransaksi membeli rempah-rempah dari pedagang pribumi. Menjadi kelaziman dimana pembeli akan berjuang habis-habisan menawar harga semurah mungkin, dan pedagang akan bertahan di angka tertentu untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya. Teknik 'negosiasi’ semacam ini, dahulu, tak pernah diajarkan di sekolah-sekolah Belanda. Sebuah tradisi turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya. Tidak seperti pasar modern, di pasar tradisional bakat seorang pribumi terlatih untuk mempraktikkan seni tawar menawar ini secara terbuka. Melalui perdebatan yang cukup panjang, transaksi pun diakhiri dengan kesepakatan bersama. Keduabelah pihak pun akur. Biasanya mereka akan menjadi pelanggan setia. Seni semacam ini membuka ruang silaturahmi dan tegur sapa diantara mereka.
Dimana ada pasar tradisional disitulah bersemi bakat-bakat negosiasi yang tak terbayangkan sebelumnya. Seni tawar menawar yang membuat bangsa Eropa 'kalah’ transaksi. Pasar Beringharjo mulai menjadi pusat ekonomi sejak berdirinya Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1758. Pasar Senen Jakarta Pusat yang dibangun oleh Yustinus Vinck, seorang tuan tanah dan arsitek, sejak 30 Agustus 1735. Pasar Tanah Abang juga dibangun dalam tempo yang tak jauh berbeda. Pasar Klewer di Solo, dulu bernama Pasar Slompretan, mulai berkembang sejak tahun 1942. Berabad-abad lamanya seni tawar menawar tumbuh berkembang di bumi nusantara. Memperkuat silaturahmi, tegur sapa, solidaritas, egalitarianisme dan persaudaraan.
'Bangsa Eropa sering kali jengkel menghadapi permainan ini, karena mereka tidak dibekali keterampilan itu dan seringkali mereka menjadi korban. Secara umum, mereka menolak cara penilaian ‘menurut pandangan klien’, yang mereka anggap barbar dan menakutkan,’ tulis seorang sejarawan bernama Denys Lombard dalam bukunya yang berjudul Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia Jilid 2. Dalam nada satir, dia menggambarkan kejengkelan bangsa Eropa yang menyebut aksi tawar menawar ini sebagai 'ciri kekunoan yang ada di mana-mana.’
Berdasarkan catatan sejumlah orang Eropa yang sempat singgah di nusantara, diketahui kalau perempuan paling berperan dalam melakukan transaksi keuangan dan perniagaan.
Antonio Galvao, seorang panglima armada Portugis yang menjadi gubernur ketujuh Portugis di Maluku [1536-1540], mencatat peran perempuan Maluku dalam perniagaan. 'Wanitalah yang melakukan tawar-menawar, membuka usaha, membeli dan menjual,’ tulis Galvao, dikutip sejarawan Anthony Reid dalam buku 'Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680.’
Di Sumatera, menurut Anthony Reid, sebuah puisi Minangkabau terkenal yang ditulis pada 1820-an, menganjurkan agar kaum ibu mengajarkan anak-anak gadisnya mengamati turun-naiknya harga. Ini menjadi bekal bagi si gadis ketika berbelanja ke pasar.
Seperti halnya perempuan Maluku dan Sumatra, perempuan Jawa juga berperan penting di pasar. Menurut Thomas Stanford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda [1811-1816], sudah lazim bagi suami mempercayakan seluruh urusan keuangan kepada istrinya.
'Hanya perempuan yang pergi ke pasar dan melakukan seluruh urusan jual-beli. Sudah umum diketahui bahwa kaum lelaki Jawa sangat bodoh dalam mengurus uang,’ tulis Raffles dalam The History of Java.
Bagaimana, berani lawan emak-emak?
Mahalnya harga sebuah keritikan..
Terdapatlah sebuah kisah, dalam suatu kesempatan, seorang sahabat, Khudzaifah bin Al Yaman mendatangi Khalifah, Ia mendapati Umar dengan raut muka yang muram, penuh kesedihan. Ia bertanya, “Apa yang sedang engkau pikirkan wahai Amirul Mukminin?” jawaban Umar sama sekali tak terduga oleh Khudzaifah. Kesedihan dan kegalauan hatinya, bukan karena banyaknya masalah rakyat yang sudah pasti membuatnya letih.
Kali ini Umar justru tengah khawatir memikirkan kondisi dirinya sendiri. “Aku sedang dihinggapi ketakutan, jika sekiranya aku melakukan kemungkaran, lalu tidak ada orang yang mengingatkan dan melarangku melakukanya, karena segan dan rasa hormatnya padaku,” ujar Umar pelan. Sahabat Khudzaifah segera menjawab, “Demi Allah, jika aku melihatmu keluar dari kebenaran, aku pasti akan mencegahmu.” Seketika itu, Wajah Umar bin Khattab langsung berubah ceria.
Alangkah indahnya sebuah kepedulian yang di dapat Umar. Kita tahu, seorang Umar bin khattab yang amat disegani baik lawan maupun teman, hingga seytan pun apabila bertemu ia sekejap melarikan diri tak berani. Siapa yang tak mengenal sosoknya, singa padang pasir, prisai Rasulullah dan seorang Khalifa yang amat dicintai umatnya.
Bayangkan, seorang Umar ketika di baiat menjadi pemimpin memiliki rasa ketakutan yang amat dahsyat, bukan sebuah kebanggan baginya ketika dihadapkan oleh umat muslim kala itu. Ia tahu bahwa nanti ketika ia menjabat setiap tindak-laku yang ia berikan kepada umat muslim pada saat itu pastinya akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh Allah. Umar pun tak kuasa, diantara sahabat sehabis meninggalnya khalifa Abu bakar dialah yang ditujnuk oleh umat sebagai pengganti yang pantas. Tetapi disatu sisi, ia amat memikirkan bagaimana nanti jika ia tak bisa berlaku adil kepada rakyatnya, tetapi disatu siasi umat islam kala itu harus memperluas dakwah islam keseluruh semenanjung arab. Dan akhirnya mau tak mau, ia mengaminkan pembaiatan dirinya menggantikan Abu bakar yang telah wafat.
Hari ini, kalau kita perhatikan semakin banyak orang yang ingin menjadi pemilik amanah tersebut, juga islam telah mengajarkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawabanya. Dari semua sektor kerap menjadi sebuah arena untuk dijadikan tempat mencari sebuah kekuasaan. Yang lebih menariknya lagi apabila ia telah mendapati posisi tersebut, ia tak ingin diberi sebuah masukan, seakan-akan kebal akan keritik
Dalam konteks bernegara, amat kita sayangi jika seandainya ada pemerintah yang anti akan kertikian tersebut, bila sebuah kebijakan dirasa tak mewakili oleh rakyat, tentu rakyat berhak meberikan sebuah keritikan atas dasar sebuah permasalahan yang tak dilihat oleh pemerintah. Namun, juga tak elok rasanya apabila pemerintah kebal dengan sebuah keritikan rasanya harus menerima saran ataupun sebuah masukan yang akan membuat sebuah input yang nantinya juga akan meringankan beban para pemerintah, kita juga tahu baik pemimpin dan pemerintah pasti memiliki seorang penasehat, tetapi kita sadari tak ada manusia yang sempurna. Memang, secara konstitusi para legislatif kita memiliki fungsi pengawas kinerja pemerintah, tetapi apakah semua itu dapat terakomodir dengan baik? Bayangkan, jika peran legislative tak berjalan dengan baik, tentu peran itu kembali harus diamantkan kepada masyarakat. Pada masayarakatlah kembalinya, fungsi itu diamantkan, masyarakat yang harus memiliki sebuah peran yang dapat memberikan masukan dan mengawasi kinerja pemerintah itu sendiri, tetapi apakah hari ini Indonesia tak boleh mengkeritik pemerintah ??, Tidak. Tetapikan, dalam segala sesuatu itu kita diajarkan melakukannya dengan baik dan adab.
Bila kita berbicara tentang adab memberi keritikan kepada pemerintah bagaikan dua belah sisi mata uang, disatu sisi dalam agama, Rasulullah dengan sabdanya juga menyampaikan bahwa, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 186)
Sebuah keritikan yang baik tentu akan memberi sebuah masukan yang baik pula, tak jarang rakyat dengan segala cara menyampaikan sebuah masukan dengan bermacam cara pula, kalau kita berangkat dari jalanan Mahasiswalah penggeraknya, tempatnya ialah jalanan. Apalagi bangsa ini lahir dari sebuah sistym demokrasi, tetapi yang menjadi masalah disini bukan bagaimana penyampaian pesan tersebut, kan yang menjadi macetnya itu, ketika pemerintah, mau apa tidak untuk mendengarkannya. Memang, tak semua pemimpin yang dapat mendengarkan berbagai kertikan, harusnya pemerintah lebih berani dalam menampung semua masukan dan keritikan, toh juga pemimpin itu berasal dari rakyat. Kenapa disaat berkuasa malah anti terhadap sebuah keritikan.
Kadang ya, kalau kita tengok, kenapa ya jika ada pemimpin yang tak ingin mendengarkan
Kemudian, ada hadis yang mengatakan “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).”
Nah, yang terjadi pada bangsa ini ialah, semakin kebablasanya kita dalam menyampaikan keritikan tersebut, kita seakan lupa jika pemerintah juga manusia biasa, kita tak menyadari jika diberikan sebuah kebaikan, tentu ia juga membalas dengan sebuah kebaikan pula. Memang tak baik juga seorang pemimpin yang anti akan sebuah masukan, apalagi diberikan sebuah masukan yang baik. Tetapi Islam juga mengajarkan kita dalam beradab menghadapi seorang pemimpin. Kita tahu, tak akan ada pemimpin yang sempurna didunia ini, begitu juga kita. Tetapi kan, yang harus sama-sama kita jaga ialah adab dan bahasa yang harusnya disampaikan. Ketika pemerintah yang anti keritikan dipandang sebagai pemimpin yang otoriter tetapi dibalik itu, kita lupa dalam tata cara mengoreksi, dan bertindak seharusnya serta tentang bagaimanaya adab dalam menyampaikan masukan ataupun melayangkan sebuah keritikan kepada pemerintah itu sendiri.
KITA ADALAH BANGSA YANG BERADAB
Coba kita perhatikan ya, bung Karno itu. Bayangkan ketika zaman kolonial, hampir dari kita semua kita buta huruf. Tapi ia munculkan sleng yang positif, bayangkan ketika pidato itu ia berkata, kalian semua rakyat Indonesia hampir dari kalian semua buta huruf. Yaudah tak akan jadi itu kemerdekaan, pulang semua, loyo. Tapi kan bung karno itu tak menularkan sleng yang negatife, ia lebih mendorong Indonesi lewat alamnya, coba kita cek lagu-lagu kebangsaan kita, lagu-lagu lawas tahun tujuh-puluhan, bung karno lebih memilih membicarakan alamnya, ketibang ketidak pandaian rakyat ketika itu membaca, padahal, pemberontakan itu dimana-mana.
Kemudian, kita sekarang dihadapkan dengan sebuah zaman yang serba canggih, zaman milenial menuntut kita untuk melek teknologi, tetapi semakin berkembangnya zaman pasti memiliki positif dan negatifnya, jika positifnya kita dapat mengakses semua kebutuhan kita hanya lewat layar gadget, tetapi tidak dengan negatifnya, kita lihat banyak sekarang mereka yang salah mengartikan dalam memaknai sebuah peradaban zaman lewat teknologinya. Media semua dibuat sebagai tempat yang bisa merubah pola pemikiran manusia, jangankan di tingkat global, dibangsa ini saja semakin banyak media yang senang memuat berita-berita mainstream, uajaran kebencian, dan mamuat banyak berita Hoax. Gunanya, untuk sebuah kepentingan segelintir kelompok dan tentunya untuk kepentingan pribadi, yang nantinya jarang untuk bise dipertanggungjawabkan.
Banyak media-media semacam Twitter, Facebook dan website yang menjadi sebuah tempat dalam hal ini meberikan sebuah keritikan-keritikan dan sebuah kecaman-kecaman terhadap pemerintah. Sekali lagi, itu tak menunjukan sebuah adab yang baik. Maka dari itu, harusnya kita harus mendorong agar munculnya sikap-sikap yang positif, sikap positif itu penting sekali. Sekarang sudah banyak dari kita semua yang telah melek huruf, tak terbelakang lagi, jauh dari kata-kata kebodohan. Apalagi hari ini kita ditunjang oleh majunya sebuah tekhnologi yang semakin mendekatkan kita dalam peradaban yang baru.
Seharusnya, hari ini kita lebih bijak dalam beradab ketika ingin menyampaikan sebuah masukan ataupun melayangkan sebuah keritikan kepada pemerintah. Jelas, di Hadist diatas juga disampaikan, bagaimana Rasulullah melarang keras kita untuk membuat malu pemimpin diranah publik, tak seharusnya bangsa yang beradab seperti kita harus rusak moral dan akhlaknya dengan sebuah cara yang dapat membikin seorang pemimpin malu. Kemudian sejalan dengan itu semua, sebaiknya pemerintah harus lebih kooperatif dengan sebuah cara bagaimana menampung semua koreksi tadi. Mengajak mereka berdialog di istana, mungkin. Atau membuat sebuah wadah yang khusus dalam menampung dan mengelola semua masukan dan keritikan tentunya dengan terbukanya tangan pemerintah dalam menyambut hal-hal seperti itu.
Analoginya ialah, ketika semut it terus terhimpit, walaupun memiliki tubuh yang kecil, pasti suatu saat ia akan menggigit. Dan jujur saja, Republik ini tak akan pernah dewasa jika tak memiliki sebuah masalah, tanpa harus menghadapi sebuah masalah tentu kinerja pemimpin dan pemerintah juga pasti tak akan berjalan. Wong fungsi pemerintah itu untuk menyelesaikan masalah kok.
Semoga kedepannya, kita harapkan pemerintah menerima setiap masukan dan semua masukan yang diberikan. Karena pada dasarnya tak ada pemimpin yang sempurna, dan tak akan berhasil seorang bangsa ketika tak meiliki suatu masalah. Dan juga yang tak kalah pentingnya, bagi kita semua, dapat cermat dalam memaknai sebuah keritikan untuk pemerintah dan pemimpin. Karena kita tahu semua itu memiliki aturan dan adab, jika hanya untuk membuat gaduh seisi Negara dengan sebuah masukan dan pemberitaan-pemberitaan Hoax ya saya fikir lebih baik diurungkan, karena efek yang akan ditimbulkan itu amat besar bagi berjalannya etalasi pemerintahan, dan juga bagaimapun, pemimpin ialah manusia, mahluk yang juga memiliki hati nurani, tak harus dengan cara mengkeritik kita dapat merubahnya, tetapi selalu hadirkan dengan sebuah solusi, jika ingin semua berjalan dengan sinergi.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Indonesia kita dalam bingkai emas
” Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam berpolitik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga dia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa, dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.” Bertolt Brecht (Penyair Jerman)
Apa jadinya, bila sebuah Negara tak memiliki system politik ? apa yang terjadi bila sebuah Negara tak memiliki anggaran cukup untuk membuat gedung sekolah ? dan apakah terjadi kemudian apabila semua orang menutup mata dengan politik ?..
Memang, implimentasi bernegara hari ini tak lepas dari adanya keterlibatan politik, karenanya ia memegang sebuah peran yang amat komplit, bisa membuat yang kurang jadi lebih, dan membuat hitam menjadi putih. Pun sebaliknya, ketika pemerintah mencanangkan pendidikan Sembilan yahun disabang, hingga hulu bagian marauke akan mendapat pendidikan Sembilan tahun juga, semua berasal dari sebuah kebijakan, yang kebijakan itu lahir dari sebuah politik yang baik.
pengertian politik itu sendiri sangat mulia, ia adalah sebuah alat yang digunakan untuk mecapai sebuah tujuan. Tetapi hari ini, kita didominasi oleh perasangka yang negative tentang wujud politik itu sendiri, seakan politik menjelma menjadi sebuah kubangan yang kotor, tak menarik, tempat yang berlumur dosa apabila terlibat di dalamnya. Tetapikan, jika kita tengok lagi, bagaimana peran politik itu sendiri amat besar efeknya, ketika semua kebijakan umat berada digenggamannya, Pendidikan, Ekonomi, Perumahan, hingga Kesejahteraan Umum, semua itu adalah rangka bagian dari system politik. Bayangkan, jika sebuah rangka itu tak kokoh, loyo dan lunglai, bagaimana jika ia harus menopang beban yang berat?, apakah semua yang bertumpu padanya dapat bertahan dengan baik? Tidak!
Semua yang mengatur kemaslahatan berbangsa dan bernegara itu pun bagian dari politik, bagaimana mungkin hari ini kita menganggap politik itu kotor, politik itu sebuah tempat yang jahat dan hal yang tak menarik..
Di Republik ini, Indonesia yang amat kita cintai, dengan warna macam sejarahnya, memulai sebuah proses hingga menentukan awal dari sebuah peradaban. Walaupun jalan yang harus ditempuh itu rumit. Tapi dari itu semua, ia tak pernah mengajarkan pada kita bahwa, Indonesia kita hari ini, berawal dari sebuah jalan bypass yang mudah, tak ada hambatan, dan tak berkelok ? tidak!, Indonesia kita hari ini berangkat dari sebuah perjuangan yang amat panjang, iuran darah, tetesan keringat yang melelahkan dan tentunya tak ditebus dengan sebuah kost yang murah, lantas apa yang hari ini bisa kita tawarkan untuk melunasi pengrobanan itu semua ?
Jika undang-undang saja mengatur tentang, terselenggaranya kemerdekan berbangsa dan bernegara, yaitu dengan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Menurut saya tak elok lagi kita untuk mengatakan kotornya politik, baginya disanalah semua akan ditentukan, coba bayangkan, bagian dari pemuda dizaman kemerdekaan, Sutan Syjahrir. Bagaimana disaat masa mudanya tak ia lewatkan sedikitpun sekedar duduk, ikut untuk berdiskusi dalam memikirkan sebuah konsep kemerdekaan yang menjadi sebuah cita-cita, yang pada saat itu sulit rasanya untuk terwujud. Tapi yang hanya ia punya adalah sebuah gagasan, sebuah ide, pola fikir dan sebuah keyakinan bahwa yang tak mungkin dapat terwujud.
Dengan berbekal itu semua ia menjadi seorang tokoh muda yang disegani, buah fikir serta gagasan-gagasan yang membuat kolonial saat itu kocar-kacir dan di cap sebagai penghalang, pada akhirnya berserikat dan berdiskusi menjadi barang mahal harganya. Karena kolonial tau hanya lewat berdiskusi, bertukar gagasan serta berpolitiklah kemerdekan menjadi mungkin terwujud. Ia juga kita kenal dalam hal melobi, sebagai orang yang ahli dalam lobi berpolitik, maka Suoekarno pun meletakan nya menjadi perdana mentri pada saat itu, dan cara berpolitik lewat lobi-lah ia sampai ketitik sebagai seorang tokoh muda yang memimpin sebuah partai sosialis terbesar di Indonesia. Siapa bilang politik lobi itu dilarang? Loh, bangsa ini merdeka berkat lobi-lobi toh!
Saatnya Pemuda Berperan Dalam Bingkai Politik
72 tahun, bukan lagi sebuah usia yang muda. Bukan lagi berada disebuah fase yang harus menentukan apa ideologi Negara, bagaimana harusnya RUU itu tersusun, bagaimana lambang Negara serta wujudnya, dan menentukan warna bendera nasional. Itu semua telah berlalu, biarlah hari ini kita diwariskan dengan semua kesempurnaan dalam bernegara lewat Pancasila dan ketatanan bernegara, walaupun kita tahu masih banyak kurang disana-sini.
Namun kan, yang harus kita hadirkan dewasa ini ialah sebuah pembaharuan, mulai ikut serta dalam menyelesaikan masalah, sudah saatnya hari ini kita bisa menentukan pijakan kaki kesebuah peradaban yang akan diperhitungkan oleh dunia nantinya, kasih tunjuk kepada mereka semua, bahwa yang menentukan itu ialah kita, sebagai Pemuda yang ikut serta dalam tahap proses berserikat dan bernegara serta ikut serta dalam berpolitik-demokrasi yang baik. Dan hari ini, 20-40 tahun yang akan datang, kitalah yang akan memberikan warna Indonesia kita kedepannya.
Seperti syair dari Bertolt Brecht diatas. Dan apa jadinya jika Negara tak diorong oleh sebuah praktik-praktik politik yang sehat ?, tak di layani oleh ide serta gagasan-gagasan yang baru, karena juga selama ini, kita selalu berfikiran bahwa “Politik itu jahat” atau kita sebagai generasi muda dalam frame berfikir “Politik itu urusan orangtua”. Tidak!
Apakah kita rela jika praktik politik di wakili oleh mereka yang notabene memiliki maslah? .. dan apakah tak bosan melihat mereka-mereka saja, yang cukup kita tahu dengan track record yang suram. Sudah saatnya hari ini kita ikut terlibat dalam mendorong sebuah harapan baru, dan meringankan, setidaknya ikut serta dalam melunasi janji kemerdekan itu sendiri.
Coba kita tengok kembali, perkataan dari Ali bin Abi Thalib, yang isinya itu “Ketika ahlul haq diam terhadap kebathilan, maka ahlul batil akan mengira mereka berada dalam kebenaran” dan kemudian yang dipopulerkan oleh Luther King jr, bahwa kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik. Ini bukan sebuah anekdot belaka, bukan sebuah pemikiran yang lucu. Tetapi itu semua amatlah benar adanya, berpolitik bukan sebuah kemunduran, berpolitik adalah cara kita menyelamatkan Indonesia. Maka dari itu, mulai hari kita ciptakan tune yang positif, tune positif itu penting sekali.
Ikut terlibat dalam politik bukanlah sebuah hal yang susah, dewasa ini berbagai macam organisasi yang memiliki nilai sejarah yang banyak membawa sebuah kebaharuan oleh Republik ini, bukan berarti juga kita sebagai anak muda tak boleh ikut ambil bagian di dalamnya. Bagaimana keterwakilan generasi muda juga telah banyak kita lihat, berangkat dari sebuah keinginan yang mulia, memberikan berbagai macam warna dalam kebijakan-kebijakan yang menyangkut semua keperluan masyarakat.
Coba ya, yang menjadikan permasalahn kita hari ini kan, sering kali kalau ada orang bermasalah masuk politik, tak dipermasalahkan. Kalau ada orang tak bermasalah masuk politik malah dipermasalahkan. Dan juga kalau semua orang taat membayar pajak, siapa yang mengurusi uang pajaknya. Kalau orang baik hanya mau jadi pengusaha, siapa yang mau jadi pembuat kebijakan. Seharusnya jika ada anak muda hadir dalam bingkai politik harus didorong, jangan selalu dianggap jadi kompetitor.
Maka dari itu, teman-teman semua, di depan kita kini ada peluang besar untuk meraih masa depan yang lebih baik untuk rencana kedepanya. Saatnya pasang layar besar, cari angin yang kuat lalu arungi samudra dengan keyakinan dan keberanian. Di sana kita akan temui gelombang besar, badai yang menggentarkan. Hadapi itu dengan keyakinan bahwa kita akan besar, akan kuat, dan kelak setiap kehadiran kita akan punya efek yang besar dan dahsyat. Lautan yang tenang tak akan menghadirkan nahkoda yang tangguh.
Mempersiapkan diri dengan baik, jangan pernah takut dengan benturan. Jangan pernah takut salah. Jangan takut dunia politik, jangan takut dengan dunia kepartaian, jangan takut dunia pemerintahan, dan jangan pernah takut dengan dunia global. Harusnya kita masuki semua itu. Di semua sektor, bangsa ini perlu lebih banyak orang yang bisa menjaga kehormatan dan marwahnya sebagai Negara terhormat. Republik ini perlu lebih banyak anak muda yang tak terbang bila dipuji dan tak tumbang kalau patah.
Akan jadi sebuah muara harapan nantinya, dengan apa yang hari ini kita kerjakan, yang menikmatinya siapa? Tentu kita dan anak-cucu kita nantinya . dan juga kita telah banyak rasakan bagaimana rasanya dicintai dan dihadiahi dengan sebuah ketulusan. Dan akhirnya itu semua akan kita bawa kedalam gelanggang. Gelanggang yang akan menentukan sebuah kebijakan baik dari pemuda yang memiliki integritas tinggi.
Dan kita juga harus ingat, negara tak bisa mengatur bagaimana warganya harus berpikir dan ikut serta dalam politik-bernegara. Yang bisa diatur bagaimana mengekspresikan pikiran dan pratktik itu di ruang publik. Tak masalah jika ada orang yang sangat meyakini bahwa bumi itu datar. Kita tetap bisa berkomunikasi dengannya. Itu baru menjadi masalah, jika ia memaksa kita atau orang lain untuk percaya bumi itu datar. Apalagi memaksa dengan kekerasan.
Ketak-karuan akan menyibak sebuah persoalan, jika saja saat itu tak meminta mentari hadir terlalu awal, biarkan saja hangatnya perlahan menyinari tulangku, dengan gagahnya sekarang ku telah menjadi batu karang yang air pun tak menggoyahkannya.