Apakah Ismail Adalah Korban, atau Pemenang?
Kemudian, setelah saya menulis tentang bagaimana Ibrahim dan paradoks manusianya. Jujur, saya belum puas dengan hanya membahas dari aspek bahasa dan psikologi modernnya.
Izinkan saya sekali lagi menuangkan kegelisahan saya dari kisah Ibrahim dan Ismail ini. Yang ingin saya sampaikan kali ini adalah aspek kehidupan paripurna seorang anak yang bernama Ismail.
Seorang anak yang lahir dari penantian panjang oleh nabi Allah Ibrahim. Anak yang kelak melahirkan keturunan-keturunan pembawa peradaban besar, sehingga dari itu pula merubah seluruh tatanan dunia hingga sosial, lewat garis ini juga lahirnya keturunan yang mewarisi tekad untuk menghapus kebodohan dari dunia kegelapan, hingga puncaknya ke dunia seterang hari ini, ia lahir bukan tanpa alasan, Allah ingin memastikan kemurnian darah dan tekad untuk junjungan semesta alam baginda Rasulullah Muhammad SAW.
Bukan karena takut atau karena lemah, tetapi karena ia percaya penuh pada karakter seorang ayah. Ismail tidak sedang mengikuti ayah yang otoriter; ia mengikuti ayah yang sepanjang hidupnya terbukti jujur, bersih, dan memiliki integritas.
Coba bayangkan saat akan disembelih oleh Ibrahim, yang dilihat Ismail adalah seorang sosok yang korup, khianat, tak dapat diandalkan, dan memiliki rekam jejak yang buruk.
Apakah dari itu lantas Ismail memberikan dirinya secara cuma-cuma dan menyerahkan lehernya untuk disembelih? Saya rasa tidak.
Ismail rela menyerahkan dirinya bukan karena ia lemah, tetapi karena ia mengenal siapa ayahnya.
Ia tahu betul tangan yang memegang pisau itu adalah tangan yang sepanjang hidup tidak pernah khianat pada Tuhan, tidak khianat pada kebenaran, dan tidak khianat pada amanah.
Karena itu, yang membuat Ismail tenang bukan situasinya, tetapi integritas orang yang berdiri di hadapannya. Dan mungkin krisis terbesar dunia modern hari ini bukan hilangnya kecerdasan, tetapi hilangnya figur yang layak dipercaya.
KEPERCAYAAN ISMAIL PADA IBRAHIM SOSOK AYAH YANG MEMILIKI INTEGRITAS
Ketika seorang anak melihat ayahnya tidak korup terhadap harta, kekuasaan, ego, ataupun moral, maka lahirlah kepercayaan yang sangat dalam.
Jika kita ingat lagi tentang kalimat ismail dalam al-quran yang amat revolusioner itu:
âWahai ayahku, lakukalah apa yang diperintahkan kepadamu. InshaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.â
Ini bukan mental seorang budak; ini mental sadar, tenang, matang dan jelas ini adalah mentalitas seorang revolusioner. Bahwa integritas Ibrahim melahirkan sebuah kepercayaan mutlak bagi Ismail.
Anak-anak tidak mendengar nasihat. Mereka membaca karakter, dan Ismail percaya pada ayahnya, Ibrahim, karena Ibrahim dikenal jujur, tidak cinta dunia, tidak memiliki sifat manipulatif, tidak menggunakan agama untuk kepentingan pribadi, dan tidak korup terhadap amanah.
Maka ketika ujian terbesar itu datang, Ismail tidak melihat pisau, tetapi ia melihat siapa yang memegang pisau tersebut.
âKepercayaan ismail lahir dari integritas soerang ibrhaimâ
Dan ini amat relevan dengan krisis yang hadir di tengah kita hari ini: anak kehilangan kepercayaan pada orang tua, masyarakat kehilangan kepercayaan pada pemimpin, dan generasi muda skeptis terhadap otoritas. Banyak otoritas hari ini meminta pengorbanan, tetapi mereka sendiri hidup penuh dengan kompromi.
Kata Albert Bandura, dalam bukunya Social Learning Theory, anak belajar melalui observasi model. Ismail tidak menjadi kuat karena ceramah. Ia melihat langsung kehidupan Ibrahim. Bandura menambahkan, teladan lebih kuat daripada intruksi verbal.
Ini sangat relevan dengan krisis parenting modern ketika orangtua meminta disiplin tetapi dirinya sendiri abai pada kedisiplinan, atau meminta kejujuran tetapi hidup penuh dengan kompromi.
Ismail belajar dari kehidupan Ibrahim, bukan sekadar dari perkataannya.
Ismail Mematahkan Semua Mental Hari Ini
Ini bagian yang amat relevan jika kita berbicara tentang generasi hari ini, bukan untuk menghina generasi saat ini, tetapi untuk menunjukkan perubahan budaya ke arah pemerosotan standar dan mentalitas.
Jika kita ambil Ismail sebagai role model, tentu yang terlihat oleh kita adalah rasa tahan sakitnya pada sebuah kehilangan, mampu menunda kenyamanan, taat pada nilai, tidak dikendalikan emosi sesaat, memiliki makna hidup yang besar hingga tidak menjadikan diri sebagai pusat dunia.
Sedangkan yang bias dan menjadi hype hari ini adalah budaya modern yang sering membentuk sifat instant gratification, ketergantungan validasi, mudah rapuh, takut gagal, takut tidak nyaman, dan yang paling konyolnya adalah anxiety karena kehilangan control.
Menurut Walter Mischel dalam bukunya Delayed Gratification, tentang kemampuan menahan keinginan sesaat demi tujuan lebih besar.
Dalam eksperimen marshmallow-nya, anak yang mampu menunda kesenangan cenderung lebih sukses dan stabil secara mental di masa depan.
Ismail adalah bentuk dari level tertinggi delayed gratification, karena ia rela kehilangan kenyamanan bahkan nyawa demi makna spiritual yang lebih besar.
Bukan sekedar menunda kenyamanan, tetapi ia memilih untuk menunda rasa takut, keinginan mempertahankan hidup, dan ego pribadi. Demi sesuatu yang lebih besar seperti ketaatan, makna spiritual, kepercayaan pada Allah dan penghormatan kepada ayahnya.
Kita masuk ke analisis sosial dan mental bahwa Ismail tidak dikuasai oleh impuls. Dalam psikologi modern, kebanyakan manusia digerakkan oleh rasa takut, emosi spontan, kenyamanan, dan survival instinct. Tetapi di lain sisi, Ismalil menunjukkan kontrol diri luar biasa.
Ia tidak bereaksi dengan rasa panik, marah, ataupun pemberontakan. Justru, kata-kata revolusionernya lahir dari sebuah kontrol diri tingkat tinggi.
âWahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu". Ini menunjukkan adanya emotional regulation, self-control serta mental endurance yang luar biasa.
Dalam bahasa modernnya, Ismail mampu mengendalikan impuls demi nilai yang lebih tinggi.
Sebelum Ismail Belajar Menghadapi Pisau, Ia Lebih Dulu Belajar Melihat Keteguhan Ayahnya
Dalam delayed gratification, Mischel juga menjelaskan bahwa orang yang mampu menunda kesenangan biasanya memiliki jangka panjang, tujuan hidup, dan kemampuan melihat sesuatu yang lebih besar dari kondisi saat ini.
Ismail memiliki semua itu. Ia tidak melihat âaku akan matiâ, melainkan ia melihat âada makna besar di balik ujian iniâ. Kontras dengan budaya modern hari ini.
Budaya modern banyak membentuk instant gratification serba cepat, dan ketersediaan secara instan. Ditambah dengan adanya dopamine addiction yang menginginkan hasil tanpa proses.
Sedangkan Ismail adalah simbol tertinggi karena ia memiliki kesabaran, pengendalian diri, ketahanan mental, dan keberanian menghadapi rasa tidak nyaman.
Ismail tidak dibentuk oleh budaya yang selalu berkata âikuti perasaanmuâ, tetapi oleh nilai yang mengajarkan âkuasai dirimuâ.
Delayed gratification tidak lahir tiba-tiba. Ia dibentuk oleh lingkungan dan keteladanan. Ibrahim mendidik Ismail dengan kesederhanaan spiritualitas, disiplin akan makna hidup dan pengorbanan. Akibatnya, Ismail tumbuh menjadi pemuda yang tidak diperbudak oleh kenyamanan.
Generasi Kuat Lahir Bukan Dari Banyaknya Motivasi, Tetapi Dari Hadirnya Figur Yang Layak Diteladani
Ismail adalah gambaran besar manusia yang mampu menunda kenyamanan demi kebenaran. Di saat dunia modern mengajarkan manusia mengejar kepuasan secepat mungkin, Ismail mengajarkan bahwa karakter besar lahir dari kemampuan menahan diri.
Mungkin ujian terbesar manusia modern bukan kurangnya kecerdasan, tetapi ketidakmampuan menahan diri. Kita hidup di zaman ketika semua ingin didapat sekarang, uang sekarang, cinta sekarang, sukses sekarang, dan pengakuan sekarang.
Ismail tidak lahir dari generasi yang dimanjakan oleh kenyamanan. Tetapi dari rumah yang dibangun di atas integritas, makna dan keteladanan.
Krisis terbesar generasi modern bukan kurangnya teknologi, tetapi hilangnya figur yang layak dipercaya. Ismail percaya pada Ibrahim karena Ibrahim telah lebih dulu mengorbankan ego, dunia, dan kepalsuan dalam hidupnya.
Tetapi Ismail mengajarkan bahwa manusia besar lahir dari kemampuan menunda ego serta menahan rasa takut dan tetap teguh pada nilai meski harus kehilangan kenyamanan.
Karena itu, Ismail bukan hanya symbol pengorbanan tetapi symbol kedewasaan mental manusia.
Social learning theory dari Albert Bandura juga mengatakan bagaimana karakter seorang anak dibentuk oleh keteladanan ayahnya. Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar bukan hanya lewat nasihat atau hukuman, melainkan melalui observasi, imitasi dan model perilaku.
Anak melihat, anak meniru dan anak menyerap cara hidup orangtuanya. Dalam teori ini, figur teladan disebut model, dan Ibrahim adalah model utama bagi Ismail.
Ismail tidak tumbuh dari ceramah, tetapi dari ketauladanan.
Ismail tidak lahir sebagai pemuda tangguh secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari keteladanan Ibrahim yang hidupnya terlebih dahulu ditempa oleh pengorbanan.
Anak tidak tumbuh dari apa yang didengar, tetapi dari apa yang setiap hari mereka lihat. Ketika seorang ayah hidup dengan integritas, ia sedang mendidik anak bahkan saat tidak berbicara.
Dunia modern dipenuhi nasihat, tetapi kekurangan teladan. Banyak orang ingin anaknya kuat, tetapi dirinya sendiri tidak tahan ujian. Banyak yang ingin dihormati, tetapi tidak mau hidup jujur.
Ibrahim tidak mendidik Ismail hanya dengan kata-kata; ia mendidiknya dengan kehidupan. Dan dari rumah seperti itulah lahir seorang pemuda yang mampu menghadapi ujian tanpa kehilangan keteguhan jiwa.
Sampailah kita pada sintesis dari kedua teori di atas yang menunjukkan bahwa kisah Ibrahim dan Ismail ini merupakan sebuah rantai pembentukan peradaban. Ibrahim dengan memberikan teladan (Social Learning), Ismail menyerap dan menginternalisasi sebuah nilai (Observational Learning). Lalu Ismail mengimplementasikannya dan mampu menunda kepentingan diri (Delayed Gratification).
Artinya, keteladanan melahirkan disiplin batin, dan disiplin batin melahirkan generasi Tangguh.
Dapat ditarik relevansi untuk sebuah entitas modern jika diterapkan pada keluarga: ayah bukan sekedar pencari nafkah, melainkan ayah adalah âkurikulum hidupâ yang menjadi model bagi anak setiap hari.
Serta kisah ini mengajarkan bahwa, keteladanan menciptakan sebuah kepercayaan, lalu dari kepercayaan melahirkan kepatuhan sadar, dari kepatuhan sadar melahirkan pengorbanan yang bersifat sukarela, dan dari seluruh kumulatif itu semua melahirkan sebuah peradaban besar bagi dunia.