Semenjak saya mengerjakan Tugas Akhir, saya semakin tertarik dengan ilmu ekonomi. Pastas saja, Tugas Akhir saya membahas pembiayaan sebuah proyek kapal yang memaksa saya belajar banyak tentang ekonomi mikro, akuntasi, dan ilmu-ilmu perbankan. Ternyata asik! Haha, kenapa dulu tidak kuliah ekonomi saja. Padahal dulu waktu SMA saya sangat benci pelajaran ekonomi. Tapi sejujurnya, saya sudah mulai tertarik dengan persoalan-persoalan ekonomi mulai dari awal saya kuliah. Lebih tepatnya, mungkin bukan persoalan ekonomi secara menyeluruh, tetapi lebih menyempit ke arah investasi. Lebih menyempit lagi masalah investasi di pasar saham. Dari beberapa tahun lalu saya sudah sering menbaca tentang investasi di pasar saham tapi saya belum pernah berinvestasi, haha, sampai saat ini. Entahlah, saya masih saja takut dan ragu, disamping saya belum berpenghasilan sendiri. Dari bermacam pola analisa saham yang saya pelajari, saya sangat tertarik pada fundamental analysis. Bagi saya ini seperti analisa-analisa pada kasus teknik (engineering) yang saya pelajari di kampus. Bermain dengan angka-angka, asumsi-asumsi, engineering judgment, dll. Tapi ini lebih seru, lebih menantang, dan lebih keren! Haha. Semenjak saya mengenal investasi saham, saya mulai tidak begitu tertarik dengan permasalahan engineering. Entahlah, saya merasa bodoh saja. Apa yang saya pelajari selama ini hanya digunakan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan para pemilik modal. Kenapa kita tidak jadi pemilik modalnya saja? Yah, inilah paradoks yang saya sadari saat ini sebagai seorang mahasiswa teknik. Kita belajar bersungguh-sungguh untuk menjadi pekerja yang handal yang bekerja pada pemilik modal (bagi yang berorientasi bekerja). Apapun pekerjaannya dan dimanapun bekerja. Mau kerja di oil and gas yang gajinya sampai tumpeh-tumpeh. Tetap saja statusnya adalah pekerja, yang menjalankan bisnisnya orang-orang yang punya modal. Yah, walaupun dapat diakui lowongan pekerjaan jurusan teknik memang lebih banyak, tapi… Ok, cukup membahas masalah paradoks ini.
Kemudian doktrin-doktrin untuk menjadi pengusaha bertebaran di muka bumi kampus manapun akhir-akhir ini. Saya masih saja kurang sreg dengan anjuran itu. Saya masih sering bertanya, kenapa tidak langsung bergabung dengan perusahaan yang sudah matang saja daripada merintis dari bawah? Yah, bagus sih. Tapi… ok, sepertinya ini hanya alasan yang saya buat-buat untuk menutupi ketidak-minatan saya dalam berjualan, berwirausaha, atau apalah lainnya. Bagi saya, kenapa memilih menjadi bos para pekerja? Kenapa tidak menjadi modal para bos-bos itu dan biarkan mereka bekerja? Begitu saja pikir saya. Jadi, jika banyak diantara teman-teman saya bercita-cita menjadi CEO sebuah perusahaan, saya ingin menjadi Dewan Komisaris atau owner! Mungkin suatu saat nanti. Aamiin. Hehe.
Minggu ini, saya meminjam buku tentang investasi, ada empat buku, ada ”Kiat Bermain Saham” (Subekti, 2002), kemudian “125 Kata-Kata Bijak Warren Buffet” (Buffet & Clark, 2011), “Investasi Syariah di Pasar Modal” (Achsien, 2003), dan Soros Sang Raja Investor Dunia” (Slater, 2008). Dari ke empat buku itu baru satu yang selesai saya baca, yaitu “Kiat Bermain Saham”. Jadi di tulisan ini saya bercerita tentang buku itu dulu ya. Saya kira buku ini membahas tentang technical analysis karena ada kata-kata “bermain”. Tetapi didalamnya yang dibahas adalah fundamental analysis. Wah, cocok ini! yah, saya lebih menyukai fundamental analysis, alasan utama saya adalah saya yakin berinvestasi di pasar saham itu halah, sedangkan trading masih meragukan, setidaknya menurut saya. Meskipun MUI sudah mengelurakan fatwa tentang halalnya trading dengan catatat tidak ada unsur gharah dan maysir di dalamnya. Apa itu gharar dan maysir? Nanti akan saya bahas di resume buku “Investasi Syariah di Psar Modal”, kalau ada waktu, hehe. Yah, hanya berbagi pikiran dari seorang mahasiswa teknik yang sedang belajar investasi, hehe. Dari pada ilmu diem aja di otak. Siapa tahu dapat mentor yang jago.wkwk
Nah, singkat cerita buku ini bercerita tentang fundamental analysis yang dirumuskan sendiri menurut sang penulis. Ada yang berbeda dengan fundamental analysis yang diangkat penulis disini dengan fundamental analysis konvensional. Penekenannya adalah pada ratio-ratio keuangan yang digunakan. Jika pada fundamental analysis konvensiobal banyak berputar sekitar Operating Profit per Share (OPS), Earnig per Share (EPS), Book Value per Share (BVS), Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), Return on Equity (ROE), dan Dept Equity Ratio (DER), nah, di buku ini penulis menghadirkan ratio-ratio baru yaitu Rasio Aktiva Lancar dibagi Penjualan (ANPN), Laba Usaha dibagi Penjualan (LUPN), Laba Usaha dibagi Aktiva Lancar Net (LUAN), Rasio Laba Usaha dibagi Aktiva Usaha (LUAH), dan Kewajiban dibagi Laba Usaha (KWLU). Sebenarnya mungkin ini bukan hal baru, karena buku ini juga sudah terbit sejak tahun 1999. Saya saja ini mah yang masih cupu belum banyak baca, haha. Mengapa ada tambahan rasio-rasio tersebut? Baik, mari kita bahas.
Penulis menyebutkan metode yang digunakan bernama Onorus. Seperti apa sebenarnya sejarah Onorus masih perlu saya telusuri lebih jauh lagi. Penulis berpendapat bahwa dengan metode konvensional rentan terhadap rekayasa laporan keuangan perusahaan. Sebagai contoh: Peraturan BAPEPAM yang mengijinkan perusahaan yang terkena dampak krisi moneter untuk merekayasa laporan keuangannya, mengajkibatkan analisa rasio dengan metode konvensional, yang masih digunakan dalam Jakarta Stock Exchange Monthly Statistic (diterbitkan oleh Bursa Efek Jakarta), memberi gambaran yang lebih baik disbanding sebelum rekayasa, sehingga dapat menyesatkan pembacanya (Subekti, 2002). Untuk lebih jelas tentang rasio-rasio yang digunakan, beikut penjelasan rasio-rasio tersebut:
EPS: Laba Usaha dibagi jumlah saham. Semakin besar semakin baik.
EPS: Laba Bersih dibagi jumlah saham. Semakin besar semakin baik.
BVS: Total Ekuitas dibagi jumlah saham. Semakin besar semakin baik.
PER: Harga saham dibagi EPS. Semakin kecil semakin baik.
PBV: Harga saham dibagi BVS. Semakin kecil semakin baik.
ROE: Laba Bersih dibagi Ekuitas. Semakin besar semakin baik.
DER: Kewajiban dibagi Ekuitas. Semakin kecil semakin baik.
Kemudian untuk tambahan-tambahan rasionya adalah sebagai berikut:
ANPN: Aktiva Lancar dibagi Penjualan. Ini menujukkan perputaran atau tingkat efisiensi penggunaan Aktiva Lancar. Semakin kecil semakin baik.
LUPN: Laba Usaha dibagi Penjualan. Umunya, smekain besar presentasenta semakin baik, karena menunjukkan kemampuan dan daya tahan yang lebih baik untuk menghasilkan laba.
LUAN: Laba Usaha dibagi Aktiva Lancar Net. Ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Semakin besar rasio ini semakin baik. Jika lebih kecil dari bunga bank, itu berarti bahwa kemampuan perusahaan menghasilkan laba lebih rendah dari bunga bank.
LUAH: Laba Usaha dibagi Aktiva Usaha. Seperti LUAN, rasio LUAH menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Jika rasio LUAN lebih besar daripada bunga bank, dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan volume penjualan asalkan kapasitas berlebih. Tetapi bila kapasitas telah penuh, diperlukan tambahan investasi untuk Aktiva Tetap. Karena itu diperlukan rasio LUAH. Rasio LUAH yang lebih tinggi daripada bunga pinjaman merupakan petunjuk bahwa kemungkikan layak untuk memperbesar usaha. Jika rasio LUAH 22%, lebih kecil dari bunga bank yang 45% misalnya, kemungkinan besar menambah investasi pada Aktiva Tetap bukan pilihan bijaksana.
KWLU: Kewajiban dibagi Laba Usaha. Ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya dalam satuan tahun.
Beberapa alasan yang dikemukakan penulis mengenai tambahan rasio tersebut dikarenakan untuk mengurangi kesalahan dalam menganalisa perusahaan. Mengingat buku ini terbit pada tahun 1999, hal ini tepat sekali karena pada tahun 1998 seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia sedang mengalami krisis. Harga dollar yang semakin tinggi menyebabkan beberapa perusahaan pailit. Namun ada juga perusahaan-perusahaan yang mengalami kenaikan keuntungan karena produknya dipasaran ekspor. Dengan rasio-rasio tersebut, kesalahan analisa dapat diminimalisir, terutama karena permasalahan perbedaan kurs dollar. Meskipun sekarang rupiah tidak sefluktiatif pada tahun 1998, tetapi ada baiknya Metode Onorus ini dibelajari untuk menambah kemampuan kita dalam melakukan fundamental analysis.
Satu hal lagi yang sangat menarik dalam buku ini adalah pembahasan tentang Investor Club, yaitu kelompok-kelompok investor yang bersama-sama melakukan analisa terhadap pasar saham untuk kemudian disepakati mereka memilih berinvestasi pada saham apa. Prinsipnya adalah banyak kepala akan jauh kebih cerdas dari satu kepala. Nah, yang sangat menarik adalah diadakannya Investor Club Games di beberapa kampus khususnya Fakultas Ekonomi. Jadi pada games tersebut beberapa kelompok investor berlomba untuk menganalisa pasar saham dan melalukan investasi pada saham tertentu, walaupun tidak menggunakan uang sungguhan, kemudian siapa yang memilikk prosentasi keuntungan terbesar maka kelompok itulah yang menang. Sayangnya saya hidup di kampus Teknologi yang sangat jarang orang tertarik dengan investasi dan tentunya tidak ada Fakultas Ekonomi. Yah, mungkin ada orang yang tertarik, Cuma tidak ketemu aja, haha. Coba jika di ITS ada Investor Club Games pasti akan sangat seru!
Bibliografi: Subekti, S. (2002). Kiat Bermain Saham. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama