Pernah kamu merasa jadi beban bagi orang yang kamu sayang? Merasa hidupmu pelan-pelan menginfeksi hidupnya?


ellievsbear
d e v o n
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
we're not kids anymore.
Jules of Nature
taylor price
NASA
ojovivo
Lint Roller? I Barely Know Her

PR's Tumblrdome
official daine visual archive

tannertan36
macklin celebrini has autism

pixel skylines
will byers stan first human second

roma★

gracie abrams
sheepfilms
seen from United States
seen from United States
seen from Egypt

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Hungary

seen from Türkiye
seen from Dominican Republic
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Hong Kong SAR China

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Pakistan

seen from Thailand
seen from United States
@misantropis
Pernah kamu merasa jadi beban bagi orang yang kamu sayang? Merasa hidupmu pelan-pelan menginfeksi hidupnya?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Monyet dan Papua: Perihal Stereotipe
Stereotipe ialah cap. Ia bekerja pukul rata, meringkas yang sebagian jadi general, meringkus yang kompleks jadi sederhana. Setereotipe menghitam-putihkan spektrum warna yang sebenarnya beraneka. Begitu stereotipe bekerja, tak ada “persona”, pribadi raib. Individu diluruhkan ke dalam: puak, kelompok, grup – entah etnik, ras, agama, bahkan fans sepakbola.
Cap “dasar Papua”, misalnya, dengan gampang bekerja tiap kali anak-anak Papua di berbagai kota muncul menyatakan sikapnya. Tidak akan ada yang peduli apakah ybs orang Biak, Nabire, Sorong atau Paniai. Kalau hitam, ya sudah: “Papua”.
Padahal yang bikin onar di kos-kosan bisa dari mana saja. Orang Jawa pun ya kadang bikin onar di kos-kosan. Namun paling banter yang muncul ungkapan spesifik: orang Pati atau Demak, Tegal, Tuban, Cilacap, dll. Cap “dasar Jawa” tentu tidak laku.
Belakangan, tiap kali terjadi pengepungan asrama mahasiswa Papua, muncul keluhan tentang prilaku miring orang Papua. Dari mabuk-mabukan, nyirih pinang dan ludahnya berserakan, tidak mau pakai helm, sampai minta “jatah preman” (gratis main futsal, dll). Saya, sih, tidak akan menutup mata soal kasus-kasus seperti itu. Pertanyaannya: benarkah prilaku miring itu melekat secara inheren kepada sesuatu yang primordial, katakanlah etnik?
Saya kira gampang saja menjawabnya: TIDAK. Mabuk-mabukan, tidak patuh berlalu lintas sampai minta “jatah preman” itu bisa, dan memang telah, dilakukan oleh banyak orang dari berbagai etnis dan suku. Segenap prilaku miring di atas, juga prilaku onar dan rusuh-rusuhan, bisa dan terbukti telah dilakukan oleh kelompok mana pun: kelompok suporter, ormas, geng motor.
Situasinya agak pelik bagi teman-teman dari Papua karena secara fisik mereka memang begitu berbeda dari, katakanlah, orang Jawa. Perbedaan fisik yang mencolok memudahkan stereotipe bekerja. Walau, sepengalaman saya, sangat biasa kekeliruan juga terjadi: orang Flores atau Sumba pun ya dianggap Papua juga.
Hanya saja, kawan, bukan hanya Papua – atau keturunan Cina– saja yang dilekati stereotipe. hampir semua kelompok etnik di Indonesia punya stereotipe-nya sendiri-sendiri. “Dasar Sunda”, “dasar Ambon”, “dasar Padang” atau “dasar Batak”, dll., dengan rentetan penjelasannya sendiri-sendiri, memang eksis di berbagai tempat, dalam ragam situasi. Kita semua, boleh jadi, pernah mengalami betapa tidak enaknya tiba-tiba dihardik dengan sebuah cap. Tahu-tahu jidat kita dicap.
Keep reading
"Aku suka rambutmu hari ini"
Aku berkali-kali memimpikan dirimu
Baru saja kulihat dirimu lagi setelah sekian lama. Di galeri foto laptopku. Entah, wajahmu tiba-tiba saja muncul tepat sebelum kumatikan. Aku juga lupa kenapa kusimpan segala.
Masih wajah yang sama, menopang senyum yang sama cantiknya dengan waktu kita masih rutin bertemu tahun lalu.
Senyum yang seakan bertanya;
"Hai, bagaimana kabarmu hari ini?"
Dan aku akan menjawab;
"Baik. Aku juga yakin kamu akan baik."
Sebuah percakapan yang tidak pernah terjadi.
Aku jadi ingat, dulu aku pernah mengajakmu berkeliling dan belanja buku bersama. Kamu setuju. Tapi itu juga tidak pernah terjadi.
Sama halnya ketika kita diundang ke kota yang sama dan kamu berjanji untuk bertemu denganku di sana. Aku setuju. Tapi, akhirnya kamu tidak bisa datang. Kupikir, ada banyak sekali hal-hal yang tidak pernah terjadi di antara kita.
Kamu bilang, mimpi adalah tempat ketika semua yang tidak pernah terjadi akan terjadi
Lalu, apakah aku ada di mimpimu?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
John Maus: It's good for money. That's what pop's good for; it's good for -
Gary Leeds: Pop means money. Pop backwards spells money.
John Maus: Pop backwards spells pop.
Di antara seledri dan kuah kaldu, kulihat pantulan wajahmu muram.
"Hari ini rasanya asin, persis airmataku".
Sebelum kau berhenti makan, kuoleskan sisa sambal ke atas bibirmu dengan bibirku. Kau tersenyum pedas.
Hanya aku, kamu, dan ayam jago di mangkuk bakso yang tahu.
I still cry a lot because life keeps being very hard
Sewaktu kecil, kita diberitahu kalau seseorang yang baik -apalagi yang sangat kaucintai- bakal meninggalkanmu lebih cepat dari yang kaubayangkan. Katanya, alam semesta memang berjalan seperti itu.
Tidak ada yang menyangka kau harus mengalaminya hari ini.
Aku berharap bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk meredam kesedihanmu. Tapi aku tidak bisa. Karena itu, aku berdoa supaya kau baik-baik saja. Semoga kau tidak menangis di bahu seseorang yang tidak kau kenal di perjalanan, apalagi menyayat tubuhmu saat sendirian. Tetaplah kuat.
Jangan lupa untuk berhati-hati, dan segeralah kembali ke sini. Biar kita bisa berjalan kaki berdua untuk berbagi cerita, atau airmata.
LELAKI YANG MEMULAI HARINYA SETIAP PUKUL 23
Yang pertama adalah membuka pintu, lalu melepas kaus kaki serta sepatu
Kau mulai bersahabat dengan terang lampu neon, kadang saling sapa
Begitupun kursi nyaman yang gemar buat gusar, rutin saling sentuh
Dan waktu-waktu yang makin pendek
Transaksi tumpah ruah di meja ruang tengah
Nota belanja, faktur listrik, berkas pajak, tagihan air, dan rincian biaya sekolah adik-adikmu
Serasi dengan brosur-brosur universitas yang mulai menumpuk
Mengubur mimpi-mimpi untuk sekolah lagi
Mimpi-mimpi dalam tidurmu yang pukul 8
Di dalam gerbong kereta
Sambil berdiri, digelandang ribuan orang
Ke Jakarta
Bogor, 23/1/2018

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
lirik/syair oleh Gunawan Maryanto,musik by Erwin Zubiyan Dimainkan bersama Keroncong Irama Tongkol Teduh bersama Diwa Hutomo Lyrics / poems by Gunawan Maryanto, music by Erwin Zubiyan and Keroncong I
Di malam tahun baru, kau berjanji akan menangis. Tangis untuk dirimu sendiri. Duka yang kautabung setahun penuh perlu untuk ditumpahkan semua. Satu malam saja cukup, katamu. Lewat airmata yang deras. Sampai bisa ciptakan sungai Gangga dan Yamuna versimu. Tapi malam itu tidak jadi menangis, kau hanya berkaca-kaca. Sebab perih di mata karena potongan bawang merah dan asap arang: Kau habiskan malam bersama teman-temanmu. Menjaga sebuah perayaan atas waktu penting yang diyakini banyak orang. Kau tidak jadi menangis sendiri. Di tengah pergantian hari dan kembang api, kau berjanji kembali. Semoga kau bisa menangis di malam akhir tahun berikutnya. Agar bisa kau tumpahkan airmata yang kautabung dua tahun lamanya. Biar tuntas, biar lepas. Tapi kau hanya sanggup mengulangi doa tadi di tahun berikutnya, dan berikutnya.
Peri gigi datang ke kamarmu malam ini. Ia ingin menjadi mimpi baik. Tapi enggan berakhir di pagi hari, apalagi mati. Ia ingin menetap di kepalamu seterusnya. Menikmati ingatan dan harapan tentang seseorang yang tengah mencarimu sebisanya. Berdoa supaya lekas bertemu. Tapi ia hanya datang ke kamarmu malam ini.
sepertinya aku sedang butuh ditemani.
Larasati (ii)
Namamu Larasati, perempuan yang rentan sakit.
Sempat kuceritakan padamu kalau Szymborska pernah menulis bahwa tubuh adalah tempat penampungan duka: Kau tidak percaya hal itu. Bagimu, duka hanya bernaung di kepala; menciptakan jutaan kerut di kening dan rontok di rambut.
“Ia hanya akan hidup jika kau terus mengenangnya”
Inilah mengapa kau lebih suka menghabiskan harimu menyaksikan film-film Ghibli; berusaha menghapus mozaik-mozaik tentang duka dan mengusir hitam atau biru tua dari penutup kepalamu. Memenuhi ruangan 4x3 dengan nuansa bahagia kapan pun kamu bisa. Hingga kau benar-benar melupakan duka.
Tetapi duka tidak pernah meninggalkanmu yang masih menunggu. Seseorang di luar sana masih mencarimu sebisanya; menyisakan harapan tentang cerita-cerita bahagia yang tak kunjung terjadi di dalam tubuhmu. Karena itu kau sering terkena flu, atau demam kecil yang membuatmu tidak ingin beranjak dari kasur selama-lamanya. Ia juga bertanggungjawab atas seluruh luka di tubuh yang kau sembunyikan di balik baju panjangmu.
Kau benar-benar butuh ditemani.
Di antara duka, kau rela tubuhmu berlari. Kau biarkan ia membeli krayon, lalu mulai menggambar di buku catatan atau dinding putih kamarmu. Kau biarkan ia rebahan di lantai kamar, sambil mendengarkan lagu favorit atau semua yang dilakukan penghuni kamar sebelah. Bahkan, ketika ia memaksamu menghabiskan uang jajanmu untuk pindah ke tempat lain yang kaupikir lebih menyenangkan. Apa saja asal jauh dari duka. Dengan jutaan kerut di kening, rontok di rambut, flu, demam kecil, atau luka di tubuh.
Kudoakan semoga sehat selalu.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Akhirnya ada waktu untuk berkumpul lagi. Sayang, kurang satu.
Now, she just somebody that we used to know.