Tentang sebuah kerinduan
64.
Sekitar pukul setengah tiga dini hari raga ini tiba-tiba terbangun dari sebuah mimpi. Mimpi yang pada akhirnya menjadi sebuah kerinduan yang menjalar.
Dalam mimpi itu anak kecil berambut ikal terlihat sangat bahagia duduk dibonceng sambil memeluk pria paruh baya yang ia panggil Bapak. Mereka berkeliling menyusuri Kota Bogor sambil sesekali bersenda gurau.
Lalu setelahnya mereka menepi disebuah kedai bakso, memesan dua porsi bakso dan es teh tawar. Mereka pun membicarakan banyak hal, panjang dan hangat sekali. Tentang sekolah, tentang cita-cita, tentang teman-teman yang kadang membuatnya kesal. Pria itu mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk dan tertawa. Seolah di dunia ini tidak ada tempat yang lebih penting selain kursi plastik sederhana tempat mereka duduk malam itu.
Anak perempuan itu terus bercerita tanpa takut diabaikan. Sebab ia tahu, di hadapannya ada seseorang yang selalu ingin mendengar. Seseorang yang dulu membuatnya merasa aman hanya dengan keberadaannya.
Ketika mata ini benar-benar terbuka, yang tersisa hanyalah langit-langit kamar dan dada yang terasa sesak. Ternyata hangat yang tadi dirasakan hanyalah singgah sesaat dalam tidur.
Namun aku kemudian tersadar, yang paling kurindukan bukanlah sekedar perjalanan keliling kota maupun semangkuk bakso yang kami makan bersama, lebih dari itu.
Perasaan yang dulu begitu sederhana. Ada dalam jemputan sepulang sekolah, dalam pertanyaan "sudah makan?", dalam genggaman tangan saat menyeberang jalan, dan dalam keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, ia akan selalu ada dipihakku.
Kita masih berada di bumi yang sama, tetapi entah mengapa rasanya seperti dipisahkan oleh jarak yang tak mampu dijelaskan. Percakapan yang dulu panjang berubah menjadi seperlunya. Kehangatan yang dulu mudah ditemukan kini harus kucari-cari dalam ingatan.
Senyum khas mata segaris, gigi yang berjajar rapi, hingga acungan jempol yang tak luput dari gayamu saat menghadap kamera. Ah, ternyata masanya sudah habis ya?
Katanya tidak boleh berandai-andai, jadi aku hanya bisa merecall apa pun, semaksimal yang aku bisa, karena aku tak ingin melupakan tentangmu. Semoga dengan cara ini kenanganmu di kepalaku tak pernah habis.
Krw, 5 Juni 2026.











