Hai. Buku kumpulan puisi pertamaku yang berjudul Surat-surat dari Jalan Wilhelmina akan segera terbit. Yuk, segera pesan sebelum kehabisan. Periode pre-order 20 Juni sampai 15 Juli 2026.... 🤗

Kiana Khansmith
macklin celebrini has autism
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
🪼

blake kathryn

titsay
Lint Roller? I Barely Know Her
Monterey Bay Aquarium
occasionally subtle

#extradirty
wallacepolsom
YOU ARE THE REASON
Cosmic Funnies
Cosimo Galluzzi
Noah Kahan
Stranger Things
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

gracie abrams

shark vs the universe

izzy's playlists!
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Russia

seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Australia

seen from Germany

seen from Spain
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from Russia

seen from United States

seen from Bangladesh

seen from Germany
seen from Bolivia

seen from Türkiye
seen from United States
@mejakerani
Hai. Buku kumpulan puisi pertamaku yang berjudul Surat-surat dari Jalan Wilhelmina akan segera terbit. Yuk, segera pesan sebelum kehabisan. Periode pre-order 20 Juni sampai 15 Juli 2026.... 🤗

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
After months of not drawing anything at all, well I'm back. Thanks to Rama Duwaji whose illustrations inspired me to be more serious with my pursuits in artistic illustrations.
KITAB TUA
buku itu kitab tua
dan wanita yang menulisnya adalah santa,
menabur duri dan kelopak mawar.
potongan ilusi dari angin yang tawar
geming dalam doaku.
kau gambar apa pada segulung tata nasib?
ingatan atau raung batin tak menemui bingkai
atau gelombang penyesuai. surat dalam botol
tak sampai. pecah menabrak getir karang.
kabarnya tenggelam menuju palung
sebagai pesan rontok tergagu, diterangi cahaya
biota laut paling asing—kegelapan yang lain.
tapi, buku itu kitab tua. aksara pedih
yang membaca sakitku. ayat-ayat menerawang
riwayat pada retakan wajah; nubuat-nubuat singkat
tentang daftar panjang nama pengembara
yang menandai bermacam kota berkabut,
pada peta buta di tubuhku.
buku itu kitab tua.
wanita yang menulisnya
santa penuntun jalan di pertigaan.
menulis derita dan birahi berlarat-larat
pada aroma kecut hari di ceking dadaku.
ia menulis dalam sajak-sajakku.
Banjar, 2023
Catatan:
Puisi ini telah diterbitkan dalam buku antologi puisi "Pesiar Tanpa Berlayar" sebagai salah satu puisi terpilih untuk acara Forum Penyair Muda Kalsel Dialektika Sastra Menara Pandang 2025.
#quoteofjune
POTRET-POTRET DI RUANG TAMU
Karya: Muhammad Irwan Aprialdy
Aku pulang hanya untuk singgah. Di kota ini, tak kutemukan apa pun yang dapat melengkapiku. Tidak lampu-lampu jalan. Tidak pepohonan. Pun tidak hiperbola tentang julukan seribu sungainya, yang keruh.
Sebenarnya tak ada yang memintaku kembali. Hanya, sesuatu seakan melenting-lenting keras di kepala dan dada. Meminta dimengerti. Orang-orang kerap menyebutnya insting. Tapi, ribuan poundsterling yang kupakai untuk dua kali penerbangan-internasional dan domestik-tanpa alasan, membuatku berpikir aku sudah sinting.
Taksiku terjebak macet oleh demonstrasi kaum berjubah. Halaman buku catatanku masih kosong. Tombol kepala pena kupencet-pencet seirama detak jantung.
Aku jadi rindu Sungai Thames. Kota ini berpengaruh buruk bagiku. Sejak menginjakkan kaki di bandara, selera menulisku lumpuh. Padahal, kerumunan massa yang kuyup oleh hujan, sungai di sebelah siring, Masjid Sabilal Muhtadin, serta derik wiper di kaca taksi dapat jadi apa pun dalam puisi.
"Anda tahu apa yang akan saya lakukan bila terjebak seperti ini?" Supir taksi itu mendelik padaku dari kaca spion.
"Apa?"
Tiit!
Bunyi ganas klakson menyingkirkan kerumunan demonstrasi seketika. Seorang wanita jatuh ke genangan air karena terkejut. Roknya yang lebar tersangkut.
Dengan jalan yang sudah dibersihkannya, Dito, nama supir itu di kartu ID, menarik ulur gas. Menggertak siapa pun dengan klakson. Seorang lelaki bersorban memukul-mukul kaca depan taksi, lalu pergi lagi dengan wajah kereng.
"Orang-orang ini luar biasa. Berkoar-koar tentang perang di seberang lautan, pasang badan di bawah hujan. Sementara, kenyamanan warga kota tidak dihiraukan.” Geleng Dito.
“Barangkali, sekarang mereka berwudhukan hujan,” responku.
Dari spion dalam dapat kulihat dahi Dito mengernyit. Aku tak peduli. Ingin kutuliskan kalimat barusan. Tapi, penaku menggantung pada satu titik. Memutuskannya tak menarik.
*
Kampung halaman tak banyak berubah. Rumah-rumah masih berbanjar di pinggir sungai. Jalan-jalan masih sempit dan berlubang. Truk-truk berlalu-lalang, mewakili hidup yang berat dan berkarat. Dan rumah itu masih sama. Sunyi masih dipaku pada papan-papan ulinnya.
Taksiku berhenti. Kuserahkan uang ratusan ribu. Dito berkata terlalu banyak, ingin memberi uang kembalian tapi kutolak. la ingin mengambilkan barangku di bagasi, kembali kutolak. Bawaanku tak banyak.
“Saya pulang hanya untuk singgah," terangku.
Dahi Dito kembali mengernyit, tapi tetap ia tersenyum. Setelah taksinya pergi, kuhadapi toleransi terbesarku dalam perjalanan ini: mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam, yang setelah bertahun-tahun terasa begitu kaku diucapkan. Hujan meredam keduanya. Kuperkeras.
Pintu rumahku terbuka, “Kukira siapa. Masuk.”
Abahku pribadi batu. Di ruang tamu, tanpa kata dan gestur penyambutan, aku dan abah tugur pada kursi masing-masing. Jarak antara kami melebar oleh meja kecil yang harusnya jadi tempat menyembelih kerinduan untuk disantap bersama. Tapi kami memilih diam, seperti wajah-wajah si Mati yang dipaku pada dinding ruang tamu: Salmah (adikku), nenek, kakek, dan datu.
"Potret-potret ini adalah pengingat, bahwa yang mati pernah hidup, dan yang hidup akan merasai mati.” Terang abah di satu waktu yang jauh.
Abahku menyulut sebatang rokok kretek. la menawarkan tapi aku mengeluarkan kotak rokokku. Marlboro. Kami saling menyapa lewat asap.
“Mana uma?” Tanyaku.
Abah memainkan asap rokok di mulutnya. la terhenyak, “Katakanlah dia sudah mati.”
Sekeping lagi kematian ditempatkan dalam diriku. Aku terkesiap, menahan diri untuk tidak batuk tersedak asap.
Saat rokok abah tersulut di garis batas, ia mematikannya ke asbak. Aku mematikan juga rokokku yang tersisa filter. Kami kembali menyapa, lewat abu. Ketika ia berdiri, aku berdiri. la beranjak dari kursi, aku memanggul tas perjalanan lagi. Inilah alasan itu: uma akan digantung potretnya di dinding sebagai si Mati.
Sudah. Aku akan pergi, tak ingin pulang lagi.
"Kau bisa bermalam di sini," kata abah, memutus langkahku. "Uma dulu kerap membersihkan kamarmu.”
Lelaki itu pergi, entah ke kamar atau dapur. Tapi kudengar pintu menutup. Dikunci.
*
Salmah dan aku duduk di buritan klotok, mendengarkan gledek mesin penggerak agar tak mengantuk. Uma merapi-rapikan bunga rampai di keranjang tentengnya, sementara Abah mengemudi dengan sebatang rokok di bibir. Lampu petromaks yang digantung di langit-langit klotok bergoyang-goyang karena gelombang, tak mampu memecah gelap subuh. Alih-alih mempertegasnya.
Aku menggigil karena dingin. Salmah beringsut dalam jaketnya yang kebesaran karena takut.
“Bah, bulik...” pinta Salmah dengan suara dijepit kalut.
Abah tak menjawab. la pribadi batu. Sementara uma hanya lumut yang tumbuh di atasnya. Lembab. Sesekali pula bermata sembab.
Klotok merapat ke hilir daratan yang dipertuan leluhur kami. Abah turun lebih dulu, mengikat klotok pada batang-batang ulin yang sengaja dipancangkan sebagai tiang penambat. Dengan sigap abah menyambut tubuh kecilku dan Salmah, lalu meletakkan kami di tanah berlumpur.
Uma turun tanpa dibantu, hanya menyerahkan lampu petromaks dan keranjang bunga pada abah. Kami lalu berjalan dalam satu barisan. Abah di depan, memecah gelap dengan lampu petromaks di tangan. Uma paling belakang menenteng keranjang. Aku dan Salmah di tengah-tengah, sama-sama terpaku dengan pepohonan tinggi yang disepuh cahaya petromaks dalam kelam.
Lewat setengah jam berjalan beriringan, kami lalu memasuki tanah pekuburan. Salmah merapatkan diri padaku. Kupeluk dia. Kami berempat duduk melingkar di sebuah makam yang silam. Makam itu dinaungi selembar kain kuning yang diikatkan pada dua batang pohon kariwaya yang tumbuh di dekatnya.
Uma menyerahkan buku yang kemudian ayah lafalkan bagai mantera. Saat dewasa aku baru tahu itu doa. Tak pernah mengerti, yang kutahu, di setiap jeda kami harus mengucapkan amin. Ketika amin terakhir diucapkan panjang dan mafhum, uma bangkit dan menaburkan bunga hingga tersisa setengah di keranjang. Kenapa tidak ditabur habis sekalian? Abah bangkit.
“Sekarang,” suaranya bergetar, "bantu aku menguburkan adikmu, Rahman."
Salmah yang duduk di sebelahku tiba-tiba rebah bagai daun ranggas dihempas angin. Pipinya yang kemerahan dijalari warna biru yang tak biasa. Mata dan mulutnya mengatup. Jaketnya seketika memudar warna birunya, jadi putih yang teramat terang, menyelubung tubuh kecilnya bagai kepompong. Terdengar suara-suara malam, lalu tubuh itu terikat kuat dengan tali pocong yang seolah muncul dari udara.
Prosesi penguburan berlangsung sunyi antara aku dan abah, tapi lirih oleh tangis uma. Ketika selesai membuka seluruh tali kafan Salmah, dari dalam liang kudelikkan mata ke uma. Wanita itu menutupi muka dengan kerudung, bersujud pada tanah dengan duka yang mengguncang tubuhnya.
Setelah tanah terakhir digunduk ke kubur Salmah, kami kembali ke klotok. Padahal sudah berjam-jam berlalu tapi subuh seakan tak mau mengalah dengan pagi. Di klotok, abah tak mengucapkan apapun. Hanya uma yang terus-menerus mengutuk dirinya sendiri. Kupeluk wanita itu dengan rasa duka dan canggung.
Sesampai di rumah, abah membingkai potret Salmah saat masih bayi dan menggantungnya di ruang tamu. Di dapur, uma meraung dan memecah-mecahkan piring atau gelas kaca.
“Harusnya kada unda suruh ikam manapas baju sorangan di batang!” Tangisannya yang lirih merayap ke tiap sudut rumah.
Aku berdiri di koridor. Menengahi abah yang menatap kosong potret Salmah di ruang tamu dan uma yang masih menghempaskan apa pun di dapur. Ketika kulihat tangan uma berdarah terkena beling, kucoba memeluknya erat. "Ma, sudah!"
Uma memberontak. Diambilnya piring dan dipukulkannya ke wajahku.
Prang!
Tenggorokanku kering. Entah karena nikotin atau peringai mimpi. Beranjak dari tempat tidur, kusempatkan melihat refleksi wajah di cermin. Luka yang membujur di keningku sudah lama mengering. Tapi suara beling pecah itu masih bergaung. Terdengar begitu nyata sekian menit lalu.
Ketika keluar dari kamar, kudengar suara yang lain. lsakan. Kuintip celah yang terbuka di pintu kamar abah. Lelaki tua itu menadah udara lewat doa.
Kini kutahu ia stalaktit. Meneteskan air mata agar wajahnya dibekukan waktu, jadi batu. Kutinggalkan celah itu untuk meneguk segelas air dingin di dapur.
Hari masih subuh. Di langit, mendung telah labuh. Angin menggesek-gesek atap seng berkarat rumah abah hingga berbunyi riuh.
Aku jadi sangat ingin merokok. Ketika hendak kembali ke kamar, aku berpapasan dengan abah.
"Kau boleh pergi kapan pun yang kau mau.” Kulihat sembab mata tercetak di wajahnya yang keras.
Kukatakan, "Ya."
Ya. Air mata menjadikannya batu.
Kutinggalkan ia untuk merokok dan duduk di ruang tamu. Kurencanakan kepergian besok hari. Asap kukepulkan bulat dan pekat dari hati yang berat. Firasatku, masih ada yang belum terjawab.
Kuedarkan pandangan ke potret-potret di dinding ruang tamu. Ada yang lain. Potret uma ternyata sudah digantungkan, entah kapan. Sementara di lantai, sebingkai potret tergeletak pecah, seperti sengaja dibiarkan terbengkalai. Kupungut potret itu dengan hati-hati. Kuamati. Dari pecahan beling, kudapati wajah masa kecilku, menatap kosong tanpa luka membujur di kening.
Deru klotok terdengar dari batang rumah. Sesuatu seketika melenting-lenting, di dada juga kepala.
Kugantung potret retak itu pada paku, yang nampaknya sudah dipersiapkan untuk menggantungnya. Bergegas kutuju batang. Klotok abah sudah jauh, membelah sungai dan senyap pagi.
Kudengar deru klotok lain dari arah berlawanan. Segera kutuju kamar, mengambil uang ratusan ribu, lalu kembali lagi ke batang. Kulambai tangan tinggi-tinggi, memanggil pengemudi klotok itu untuk menepi. Lelaki paruh baya itu mematuhi. Kuserahkan uang, kusewa klotok-nya. Kunaiki, bahkan aku yang mengemudi. Kuikuti riak air yang ditinggalkan klotok abah pada permukaan sungai.
Puluhan menit berlalu, tak kutemu klotok abah di mana pun. Langit kian mendung dan gerimis jatuh tanpa paksaan.
Aku mencari tanpa alasan. Tapi alasan harus kutemukan. Tidak untuk ditulis jadi puisi yang dimuat di kolom seni, tapi untuk bisa pergi lagi. Seperti bertahun lalu, kala kumenangkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di sebuah negeri yang jauh.
Ya. Alasan harus ditemukan untuk memutus tambang tak kasat yang mengikat kelahiranku pada tanah dan sungai di kota ini. Persetan bila harus berakhir jadi potret yang menggantung di ruang tamu rumah abah.
Gerimis sudah jadi hujan. Akhirnya kutemukan klotok abah menghilir pada daratan yang leluhur wariskan padanya. Aku tak menepi. Kusuruh pemilik klotok untuk mematikan mesin.
“Pergilah!” kataku.
Lantas kuceburkan diri ke sungai, mencoba berenang tanpa menimbulkan suara berkecipak. Kucapai hilir dengan napas putus-putus. Badanku kuyup dan menggigil. Kumasuki semak dan deretan pepohonan. Kucari abah, tapi jejaknya tak dipetakan hujan.
Aku terus mencari. Gigiku bergemeletuk. Tinggi pepohonan. Rambatan tanaman tak bernama. Tanah basah. Segalanya mengerdilkan kebingungan di tiap langkah. Aku mencari, terus mencari. Tanah lapang. Hingga kemudian, puluhan makam masa silam.
Di tanah pekuburan, kutemukan abah duduk di depan sebuah gubuk, memegang nasi bungkus dan botol air 1,5 liter sambil menatap ke kubur Salmah yang ditimpa hujan. Aku sembunyi di balik pohon kariwaya, mengamati abah dengan jantung yang berdegup kencang.
Lelaki tua itu berwajah kosong. Lama ia tugur di situ, sampai akhirnya masuk ke dalam, menutup pintu gubuk karena hujan makin kumat.
Kutunggu ia. Namun, tak jua abah kunjung keluar. Sementara, tubuhku sudah larat oleh rinai hujan. Tanpa komando, kakiku berjalan mantap menuju gubuk. Sesuatu masih belum terjawab. Dengan tiba-tiba kubuka pintu gubuk.
Abah terkesiap. Tapi dalam hujan, aku terperanjat oleh sebuah jawab:
Abahku batu. umaku lumut bermata sembab,
tumbuh di atasnya. Karena lembab lumut,
batu melapuk. Jadi serpihan kutuk
yang belum menggunduk,
tapi merunduk.
Abah berpaling, tak lagi sudi menatapku. Dan aku díbekukan hujan jadi dua mata yang melihat bagaimana abah menyuapi uma yang kusut, berbau pesing, dan kaki yang dirantai pada sebuah balok ulin.
Banjarmasin, 2015

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
URANG BABUSSALAM
Lamun bubuhan pian batakun ka ulun,“Ikam urang mana?”
Tagas ulun sahuti, “Ulun urang Banjar lak ai, mang ai.
Maraha muha kada malawanakan.
Tagal darah kada kawa didusta’akan.”
Wayah halus suah jua ulun
diguringakan paninian
baayunan wan basyair,
Bamain ungga-ungga apung,
Tulak sakulah disangui kuitan
Wadai untuk, buras, pundut nasi
Atawa katupat Kandangan
Nginumnya teh panas
Nah! Pas banar!
Sudahnya kapidaraan
Ditandai tukang urut dahi
sampai ka batis-batis lawan janar kuning
Suah jua mandangani malabuh nasi kuning
hintalu masak habang wan pisang sasisir
basanjaan ari di batang
Malamnya guring bapasang kalambu
Imbah dibacakan nini doa
“Biar kada diigut hantu.” ujar sidin
Han…
Urang Banjar jua ulun ni kalu?
Tagal kayapa gerang urang Banjar ni?
Kayapa gerang juriat nini-datu tanah babussalam?
Juriat nini-datu di gerbang kemaslahatan kah jar?
Urang nang barajah di dada wan kapala
“Dalas hangit waja sampai ka puting” kah?
Nang harat mahalabiu, bapantun, bakayuh jukung,
bamadihinan, batatamba, balaung di kepala
atawa nang saban Kamis babaju sasirangan haja kah?
Atawa nang setahun sekali mahaul guru Sekumpul kah?
Atawa urang nang…
Kayapa?
“Nang “asli urang Banua” sabujurnya sutil haja
Warga Bumi Antasari saalaman
Kesugihan tanah banyu padatuan
Sagan kemaslahatan sabarataan”*
Jar almarhum Ka Agus, penyair Datu Tadung Mura
Lamun damintu ulun urang tanah babussalam jua, ka ai
Maraha muha kada malawanakan
Tagal hati handak jua manulusakan
Jadi juriat nang menjaga
wan maantarakan kemaslahatan
Sagan urang-urang nang menyambung berkat
wan menjaga parigal di banua
Nang kada bakalakuan
mamburahai tanah nini-datu
Sagan hidup nang nyaman di Banjar
Dimapa sakira hidup sampuraka
Di gerbang kemaslahatan ni pulang?
“Syukuri nang ada-sasadangnya
Pangkat wan jabatan satumat haja
Kada baumuran kada
Harta, pangkat, wan jabatan kada dibawa mati jua
Di alam bumi lamah, ujar paribasa
“Allahu wahdah:
Allah mambari'i kada bawadah
Allah maambil kada bepadah”**
Papadah almarhum pulang…
Ayuha ka ai…
Al-Fatihah ampat sagan aruah pian
Doa selamat sagan kami nang ditinggalkan
Mudah-mudahan tanah babussalam kami
Bamaslahat sampai ka pacucuan
Mudah-mudahan tanah babussalam kami
Tabuka luas kada babuncuan
Wayah awak dibulikakan
Ka Nang Baisi Alam…
Banjarmasin, September 2024
*kutipan puisi “Asli Urang Banua” karya Y.S. Agus Suseno
**kutipan puisi “Sakira Hidup Sampuraka” karya Y.S. Agus Suseno
Feminisme dan Otentisitas Lokal dalam Gadis Kretek
Oleh: Muh. Irwan Aprialdy
Judul: Gadis Kretek
Pengarang: Ratih Kumala
Ilustrator: Iksaka Banu
Perancang sampul: Iksaka Banu
Bahasa: Indonesia
Genre: Novel sejarah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2012
Halaman: 274
ISBN: ISBN 978-979-22-8141-5
Saat mengangkat Gadis Kretek menjadi serial Netflix, Kamila Andini, selaku sutradara, berujar, "Gadis Kretek is a love story." Tak bisa dipungkiri, novel besutan Ratih Kumala ini memang banyak berbicara tentang cinta. Namun, apabila serialnya fokus pada hubungan Jeng Yah dan Soeraja, novel ini fokus pula pada percintaan Idroes Moeria dan Roemaisa, orang tua dari Jeng Yah, yang memulai kisah kasih mereka sejak pendudukan Belanda. Apabila ditarik lebih jauh hubungannya dengan sejarah negara Indonesia, Gadis Kretek, sebagaimana karya-karya sastra lain yang mengambil fakta-fakta dan dampak pendudukan Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, hingga pembantaian simpatisan PKI, Ratih Kumala sebagai penulis mengais narasi dari imajinasi tentang suasana masyarakat dan keluarga dalam peristiwa-peristiwa besar yang membekas pada jejak historis bangsa Indonesia. Secara khusus, Ratih Kumala menempatkan mata penanya pada latar materi yang tepat: kemuskilan cinta di tengah konflik dan industri rokok kretek. Bahkan, sebelum menyelami halaman-halaman pertamanya, pembaca mungkin akan terlebih dulu dibuat tergiur dengan otentisitas tema dan latar industri kretek, yang kemungkinan jarang digarap dalam kesusastraan Indonesia.
Dengan alur maju-mundur, Ratih menggulirkan tiap peristiwa secara bebas, sempat terasa terhentak, namun kemudian tetap terbaca mengalir. Hal ini tentunya dimobilisasi dengan pilihan gaya penulisan yang renyah dengan penggunaan gaya tutur modern pada bagian cerita pencarian Lebas dan dua saudaranya, lalu gaya tutur Indonesia dan Jawa tempo dulu pada bagian cerita Idroes hingga Jeng Yah.
Sempat muncul kekhawatiran ketika bagian-bagian awal novel ini menyiratkan kesan cerita yang sangat pop dari gaya bahasa maupun bangunan intrinsik lainnya. Namun, transisi zaman yang terjadi sesudahnya, meski terasa sedikit meloncat di bagian awal, mulai menunjukkan kualitas cerita yang dicari ketika menceritakan babak kisah Idroes Moeria dan Roemaisa.
Selanjutnya, dalam narasi ruang dan waktu yang tumpang tindih tersebut, Ratih membuka tiap-tiap lipatan waktu dengan rapi dan membuat novelnya menjadi lebih dinamis dalam menyiasati problematika lompatan ruang dan waktu tersebut. Sehingga, narasi Lebas, Idroes, hingga Jeng Yah terjalin akur. Itu belum termasuk dengan kompleksitas zaman yang ditandai (atau disiasati) dengan simbolisasi perubahan tren merokok pada masyarakat masa itu.
Riset buku ini nampaknya bukan riset yang dilakukan sekadar bermodal laptop dan jaringan internet saja, melainkan penggalian dari warisan budaya merokok kretek yang mendalam (mengingat keluarga penulisnya memang pernah memiliki usaha rokok kretek di masa lalu). Lebih jauh, novel ini juga menarasikan dampak-dampak yang ditinggalkan pada masyarakat Indonesia yang berulang kali jatuh bangun memaknai kemerdekaan negara dan kemerdekaan hidup mereka masing-masing.
Secara halus, Gadis Kretek, meski dibungkus dengan cerita cinta lintas peristiwa dan generasi, menampar wajah para feminis modern yang selalu menuntut-nuntut kesetaraan antara pria dan wanita. Melalui sosok stoik Roemaisa dan Jeng Yah, anak dan ibu ini bagai berbagi suka dan ketegaran yang sama, baik dalam prinsip hidup hingga kenahasan dalam percintaan. Sebagai induk mereka menghidupi napas kehidupan para lelaki dan diri mereka sendiri dengan bermodalkan logika dan perasaan yang kerap kali diporakporanda konflik negara dan batin. Dua wanita ini menghadirkan sosok feminis tanpa perlu lebih dulu tahu feminisme itu apa dan wanita seharusnya bagaimana dalam masyarakat yang tengah kelimpungan diterjang penjajah atau keganasan pemerintah negara mereka sendiri. Keduanya mendobrak pakem atau pola pikir tradisional dengan insting kewanitaan yang secara naluriah merespons keadaan, bangkit dari depresi, dan berkeras menghidupkan bisnis suami atau keluarga dalam industri usaha yang identik dengan kaum lelaki: rokok kretek.
Keputusan-keputusan yang terilhami dari tekanan luar dan batin itu tentunya lebih menggugah dan mengharukan ketimbang teori pergerakan wanita yang banyak diinisiasi wanita Barat dan sebagian terasa menyimpang dari kesetaraan yang dijunjung atas dasar moral dan hak asasi manusia. Mengingat wanita lokal di masa lalu memang sudah banyak menunjukkan peran-peran wanita, yang lebih dari sekadar rahim dan pendamping bagi kaum pria. Meski, tentu saja, perjuangan Ratih dalam memahat penokohan Roemaisa dan Jeng Yah belum melampaui Pram dalam membentuk Nyai Ontosoroh yang tersohor itu. Namun, usaha Ratih dalam membicarakan sejarah dan tragedi di Indonesia dalam gaya tutur dan narasi yang cerdas tetap patut diapresiasi. Gadis Kretek satu dari sedikit novel yang mampu menyeimbangkan kebutuhan bernapas dan kebutuhan untuk mengerutkan kening dalam membaca. Humor ringan dan konflik serius yang tersebar sepanjang cerita secara bertahap mengingatkan pada karya-karya Dewi Lestari pula.
Berbicara amanat, selain menegaskan pula tentang betapa nihilnya efek kimiawi otak yang kita sebut cinta dan betapa tak berharganya sejarah pembangunan sebuah jenama (merk) dihadapkan dengan realitas zaman yang mudah limbung, Gadis Kretek menutup manis novelnya dengan pesan yang barangkali bisa diimplikasikan secara universal, bahwa sejarah tidak perlu lagi ditulis sepihak oleh para pemenang karena kebenaran dari mulut yang kalah akan selalu menemukan jalan keluar untuk bergaung. Bahwa cara terbaik untuk menerima catatan kelam masa lalu bukan dengan cara bungkam dan lantas menguburnya. Tapi, berdamai dengan kenyataan bahwa semua itu sudah berlalu. Dan peran kita hari ini adalah mengupayakan solusi agar masa lalu memang tak pernah perlu jadi hantu.
25 Sen
Karya: Muh. Irwan Aprialdy
Ia bukan pemuda yang biasa kau temukan di kota ini. Mata tajam, bibir tipis, dagu runcing, dan pipi tirus. Belum lagi badannya yang kecil dan langsing. Ketika ia memakai setelan serba hitam, tidak mungkin tidak kau akan teringat Audrey Hepburn. Bila ia seorang aktor, Ingmar Bergman pasti menginginkannya sebagai bintang utama.
Aku mengenalnya dari kelas mata kuliah umum Bahasa Inggris yang kuajar. Tidak seperti mahasiswa-mahasiswi lain, Darma tidak akan memanggilku dengan sebutan “Pak” atau “Sir”. Alih-alih ia akan langsung menyebut namaku: Angger.
Dari penuturan seorang mahasiswi, Darma memang terhitung dalam klasifikasi yang lain, the other. Beruntung otaknya encer sehingga ia mampu menempuh pendidikan dengan jalur beasiswa. Ia tidak akan berkawan dengan siapa pun yang tidak memahami film, sastra, dan lagu-lagu Bon Iver. Cukup selektif memang. Karena itu, ia tak banyak berkawan. Tapi kurasa aku bisa berteman dengannya.
Sore itu, perkuliahan usai di angka lima. Matahari sejingga warna mata telur itik di ufuk Barat. Jalan-jalan di sekitar universitas sudah dijejali kendaraan mahasiswa yang pulang mencari suaka. Agak terlambat, aku mengekor di belakang kemacetan yang biasa terjadi. Tapi di situlah kulihat Darma berjalan sendirian di atas trotoar. Matanya menatap lurus ke depan, langkahnya seringan angin, mulutnya menyesap sebatang rokok kretek filter. Ia tampak tak terganggu oleh kemacetan yang terjadi. Kuteriakkan namanya beberapa kali sampai ia akhirnya menengok.
“Ingin sekalian kuantar?” tawarku.
Matanya membulat bingung. “Saya lebih suka jalan kaki.”
“Tidak setiap hari, lho, seorang dosen berniat mengantar mahasiswanya pulang.”
Selesai menimbang perkataanku, ia akhirnya naik. “Rokoknya mesti kumatikan?” tanyanya kikuk. Aku menggeleng.
Kuakui, itu sore yang ganjil. Tapi aku merasa tak sepi. Seolah berpapasan dengan karib lama sekaligus euforia kadar kecil ketika melakukan sesuatu yang baru. Dan memang hanya Darma yang bisa memicu efek seperti itu. Ketika kutawarkan untuk singgah makan di warung pinggir jalan, ia sama sekali tak menolak. “Setidaknya makan malamku tidak terlambat.” tuturnya.
Adzan Maghrib lepas mengudara. Kami makan dalam kecanggungan. Atau aku yang memang terlalu kaku? Di hadapanku duduk seorang mahasiswa yang barangkali jauh lebih cerdas dari diriku. Bisa jadi pula ia tak menyukai caraku mengajar selama ini.
“Kau suka Bon Iver?” aku berusaha memecah keheningan.
“Dari mana Anda tahu?”
“Tugasmu tempo hari memuat terjemahan lirik lagu “Holocene”.”
Ia tersenyum kecut dan bersenandung. “At once I knew, I was not magnificent…”
“Kenapa kau menyukainya?”
“Ya… kenapa bapak menyukainya?”
Ada sedikit kekakuan ketika ia menyebut kata bapak. Barangkali, ia menyebutkan kata itu untuk menghargai perbuatan baikku hari ini.
“Panggil aku Angger seperti biasa.”
“Jadi?”
“Alienasi.” tukasku.
Bagai putri malu, Darma menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi dan menatap ke luar jendela warung. Ke langit yang makin gelap semaput.
“Seperti kabin dalam hutan dan penghuninya yang kesepian. Berlindung dari hujan salju.” katanya seperti nyaris berbisik.
Darma kini tak lebih dari adik kecil yang kesepian. Ia menuturkan interpretasinya terhadap lagu-lagu Bon Iver dan atmosfer yang ia rasakan setiap kali mendengarnya. Hipnotik dan menyakitkan, tuturnya. “Persis seperti nostalgia tentang masa kanak yang jauh.”
Bagiku, lagu-lagu tersebut alternatif murni bagi telinga kaum urban yang pekak oleh lagu Rock atau muak dengan lirik-lirik Pop. Ia setuju. Tapi lebih dalam, kulihat ada alasan lain yang membuatnya sering terdiam saat menjabarkan beberapa hal tentang Bon Iver. Persis seperti kenapa aku menyukai “Innocent Son” dari Fleet Foxes.
“Karena sahabatku bunuh diri.” tuturku.
Darma menatapku lama. Aku tak menghiraukan dan terus membersihkan tangan dalam mangkok air. Ia berjanji akan mulai mendengar Fleet Foxes.
Malam beranjak pekat. Jalanan Banjarmasin mulai ramai dengan muda-mudi yang berkeliaran. Seingatku, dulu jalanan lebih lengang dari sekarang. Aku dan Galih beserta teman-teman satu almamaterku lebih suka berjalan kaki. Menyintas satu jalan ke jalan lain. Menyambangi satu warnet ke warnet yang lain. Entah untuk mengerjakan tugas, bermain gim daring, atau sekedar mempergunakan uang saku berlebih. Galih yang dulu sering menjemputku ke kos.
“Siapa Galih?” tanya Darma.
“Yang telah mangkat.” kuyakin ia pemuda yang lekas mengerti.
Sebelum ia memasuki pagar indekos, kukatakan bahwa Galih pernah mendapat beasiswa ke Wisconsin selama dua semester. Ia memberiku uang koin dolar 25 sen sebagai oleh-oleh.
“Sekarang uang ini milikmu.” kuletakkan koin 25 sen tersebut ke tangannya.
“Tak lama setelah ia menyerahkan uang ini ia bunuh diri, bukan?”
“Benar.”
Aku memacu motorku setelah mengucap selamat malam.
*
Galih pernah berkata bahwa waktu terbaik untuk menikmati matahari pagi adalah di bawah pukul delapan. Saat itu, vitamin D dan vitamin E yang terkandung dalam sinar matahari belum tercampur dengan ultraviolet. Jam di kamarku baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Seluruh kelengkapanku mengajar telah siap. Kuputuskan untuk berjalan menuju kampus. Barangkali, hanya memakan waktu setengah jam untuk mencapainya.
“Tapi di tanah ini kau akan lebih cepat merasa lelah. Udara terlalu panas. Di Wisconsin, ketika matahari cerah, udara bahkan masih sesegar saat subuh. Ditambah kau tidak perlu berjibaku dengan polusi udara.” Ucapan Galih terngiang ketika aku setengah jalan menuju kampus.
Ya. Matahari sepagi ini memang cukupan membuat seseorang berkeringat dengan ransel besar di pundak. Belum lagi jalanan macet yang merusak cengkerama burung-burung di ranting pohon. Aku mengutuk keputusanku untuk berjalan kaki. Tak terbayangkan bagaimana harus pulang dengan tubuh lelah sore nanti.
Memasuki gerbang universitas, trotoarnya terlihat makin lengang. Hanya mahasiswa kurang kerjaan atau tanpa transportasi yang memilih berjalan di situ. Seperti Darma. Kulihat ia berjalan menenteng tas selempang di satu bahu dengan langkah masih seringan angin. Kemejanya biru langit, memberi kesan segar bagi siapa pun yang melihat.
Ia agak takjub melihatku berjalan dengan tubuh berlinang keringat. Ketika ia bertanya, kujawab lemak di tubuhku sudah terlalu brengsek. Ia tertawa dengan lantang, namun anehnya, sopan.
“Aku sudah mendengarkan seluruh lagu Fleet Foxes tadi malam.” tuturnya. “Mereka sejenis dengan Bon Iver. Berasal dari barikade musim dingin.”
“Seperti kita. Seperti Galih juga.”
Bingung harus mengatakan apa, Darma pun tersenyum. Aku pun begitu. Kami lalu berjalan menuju gedung fakultas tanpa banyak bicara. “Kadang kau sangat mirip dengannya.” Tuturku memecah kebisuan di antara kami.
Alisnya berkerut. Wajahnya tertunduk. “Sebab itu kamu berikan koin itu?”
“Barangkali.”
“Sebagai jimat?”
“Bukan. Sebagai pengingat, sekosong apapun rupiah di dompetmu, 25 sen itu tetap takkan bisa kau tukar dengan makanan. Kau akan kelaparan tapi dompetmu tak pernah kosong.”
“Terisi oleh sekeping ingatan atau impian menuju tanah jauh yang muskil dicapai?” potongnya langsung.
Aku tersenyum. “Tak ada tanah yang terlalu jauh untuk kau capai. Aku yakin.”
“Anda sendiri?”
“Aku sudah tak lagi muda. Dan lagi, aku terikat di sini.” Tak percaya kukatakan hal itu padanya.
“29 belum terlalu terlambat. Kejar atau mati menyesal di sini.”
Darma lantas meninggalkanku dengan langkah kilat menuju ruang kelas yang tak kuajar. Tapi, jelas ia bermaksud sungguh-sungguh mengatakan itu. Dan kini, yang berat bukan lagi ranselku, melainkan lungkrah yang membesar di dada.
*
“Tak ada yang bisa ditawarkan lebih dari tanah ini. Kecuali kalau jiwamu ingin diperah sampai mampus oleh rutinitas dan fasilitas yang buruk. Cuma itu cara terbaik untuk bertahan di sini. Sisanya kau akan nelangsa. Jiwa-jiwa seperti kita terlalu baik untuk bertahan di tempat yang sama.” ucap Galih suatu waktu.
Kala itu kami bergantian menyesap asap dari rokok yang sama. Kuingat angin Sungai Martapura berhembus segar di siring kota pada tengah malam buta. Aku dan Galih baru seminggu lulus dan sedang gencar mencari pekerjaan. Itulah saat ketika ia memberiku koin 25 sen.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.
“Aku sedang mengurus kepindahan. Orang tua angkatku di Wisconsin berjanji bersedia menampungku bila perihal visa dan berkas keberangkatan sudah terpenuhi.”
Tapi Galih pada akhirnya harus bekerja di perusahaan atas desakan ayahnya. Impiannya untuk melanjutkan hidup di luar negeri pupus. Sementara aku diminta untuk melanjutkan studi ke pulau Jawa oleh ibuku. Setahun di sana, kabar kematian Galih tersiar.
“Keluarganya menutupi perihal kasus gantung dirinya. Mereka mengatakan pada orang-orang ia mengalami pendarahan otak saat terpeleset di kamar mandi. Tapi kakaknya tak pernah berdusta padaku.” terangku pada Darma.
Kami sekarang berada di siring yang sama. Menghadapi sungai yang sama. Seperti aku dan Galih bertahun-tahun lalu.
“Andaikata kamu tidak pergi menempuh S2, ia pasti masih hidup sekarang.” Kata Darma. Bara rokoknya memercik. “Galih dan kamu sama-sama anak yang kehilangan rumah. Tuna wisma di tanah sendiri. Butuh teman sepenanggungan untuk berbagi mimpi, kalau tidak kalian bakal tersesat pada pikiran sendiri.”
“Begitukah?”
Darma tersenyum. “Akui saja, kamu sendiri sudah tersesat. Kamu pasti menyesal tidak mengambil kesempatan lebih banyak. Dan kamu bertanya-tanya, bagaimana mungkin masih bisa bertahan sejauh ini dan bersahabat dengan seorang mahasiswa penyendiri?”
Anak ini mungkin kurang ajar. Tapi, ia benar. Dan aku hanya lelaki matang yang membuang muka akibat tertampar kenyataan.
Darma membuang rokoknya ke sungai. Ia tahu betapa bencinya aku pada tindakan ceroboh macam begitu. Tapi ia tentu sudah tak lagi peduli dan berdiri meregangkan tubuh. Tasnya kembali diletakkan di bahu.
“Hadapilah: kita tidak istimewa. Kamu berpikir bahwa kita harusnya mendapat banyak kemudahan akibat luka-luka di masa lalu. Tapi, siapa yang tidak pernah terluka?”
Demi Tuhan, ingin kutonjok mulutnya agar diam. Tapi sosoknya teramat kecil. Langsing seperti pulpen yang selalu mengutarakan kejujuran.
“At once I knew, I was not magnificent. Strayed above the highway aisle. Jagged vacance as thick as ice. But I could see from miles, miles, miles…”
Kembali dikutipnya lagu “Holocene” seolah mengingatkan saat pertama kali kami memutuskan berteman. Tapi aku sudah terlalu lelah menanggapi apa pun.
“Mari pulang.” kataku.
*
Darma lulus dari universitas dengan masa kuliah lima setengah tahun. Agak terlambat dari teman-teman angkatannya. Tapi ia tak menyesal. Ketika melihatnya mengenakan baju toga dan memeluk karangan bunga dari para sahabat, aku terkenang kekhawatiranku dulu. Sudah enam tahun berlalu. Empat tahun setelah kematian Galih. Aku khawatir hidup tak seperti yang diangankan Darma selama ini. Tapi sepertinya, adik kecilku ini sudah jauh memahami.
Ketika berpapasan di luar gedung wisuda. Aku menyalaminya. Kami kurang berkomunikasi semenjak percakapan di siring itu.
“Ada yang ingin kukembalikan.” Katanya.
“Apa?”
“Kamu akan tahu.”
Aku berlalu seolah tak peduli. Tapi jujur, aku menunggu.
*
Datang lagi panggilan itu. Peringatan untuk menetapkan posisi pekerjaan sebagai pegawai resmi pemerintahan. Lagi-lagi ibuku yang kembali mengingatkannya. “Sebab, apapun yang terjadi, selama kau tak banyak tingkah, tak ada yang akan menggeser posisimu atau bahkan mengganggu keuanganmu.” tuturnya di sela-sela makan malam. Setelahnya, ceramah tentang hidup berkeluarga akan jadi uraian yang lebih panjang dari masalah pekerjaan.
“Tak pernah ada yang salah dengan terikat, Angger.” tutupnya ketika tahu aku sama sekali tak peduli dan terus melanjutkan makanku.
Bagaimana bisa ia berkata tak ada yang salah dengan terikat? Ia sampai sekarang bahkan bersusah payah bertahan dalam perkawinan dengan ayahku yang brengsek. Belum lagi pekerjaan yang tampak semakin mengisap energinya yang makin menua.
Dan bayangkanlah: pekerjaan tetap dan keluarga. Dua institusi yang mengikat. Bekerja dari pagi sampai sore saja kerap membuat dadaku sesak seperti asma. Bagaimana harus menghadapi ketololan dalam seni berkompromi di sebuah keluarga baru lagi?
Aku jadi iri pada Galih yang bunuh diri. Aku jadi iri pada kebebasan Darma. Sebentar lagi ia akan pindah ke pulau Jawa. Persis seperti aku dulu, ia mengejar S2.
Hari-hari jauh terasa lebih mendung di musim hujan. Kerap aku mendapati diri terbangun di atas meja kerja di kamar sambil menghadapi jendela yang basah dan daftar lagu yang tak henti-henti memutar lagu dari First Aid Kit. Darma yang menyarankanku untuk mendengarkannya. “Asupan bergizi di hari dingin. Anak rohani dari Fleet Foxes” tuturnya.
Saat itu kami sedang duduk di bangku taman sambil beristirahat setelah menyelesaikan tujuh putaran lari. Setelah mempromosikan musik First Aid Kit, ia berkata tiba-tiba: “Kamu sedang berlari.”
“Aku sedang mengambil jeda setelah berlari.” ralatku sambil meneguk air mineral botol.
“Ini kukembalikan. Kamu lebih membutuhkannya daripadaku.” Darma menyerahkan koin dolar 25 sen ke tanganku. “Jimat agar kamu selamat dari krisis perempat baya.”
Aku tertawa lebih kencang dari kapanpun. Ia tidak bergurau. Aku sendiri tidak merasa dihibur. Tapi aku tertawa. Lebih lepas dan nyaring dari siapa pun yang pernah kukenal. Setelahnya aku menarik napas dan menenangkan diri. Lalu, seperti mendengar kabar duka, air mataku mengalir tanpa desakan.
“Ada jarak satu milimeter antara bagian kepala dan belakang pada koin ini. Setipis itulah jarak antara bahagia dan sedih. Barangkali, Galih gagal memahaminya atau menolak sama sekali.” Darma menerangkan. “Tapi bagaimanapun, ia tetaplah koin yang sama. Dan apapun yang orang lain miliki di sini, bersyukurlah: kamu punya 25 sen yang tak akan pernah kau habiskan.”
Aku tersenyum. Kami memandang matahari sore yang kembali terlihat seperti mata telur itik. Begitu bulat dan jingga.
“Kita akan menemukan rumah?” tanyaku.
“Percayalah, bahkan bila kamu melangkah jauh, jarak rumah sebenarnya hanya berjarak satu millimeter.”
“Seperti koin ini?”
“Seperti koin itu.”
Aku menimbang-nimbang koin itu. Merasakan beratnya di telapak tangan. “Kau ingin bertaruh?”
Kali ini Darma yang tersenyum. “Bukankah kita selalu bertaruh? Dan percayalah, apapun hasilnya, kita tetap tidak istimewa.”
Setelahnya kami bertahan diam di bangku itu sambil menyaksikan matahari tenggelam. Sebelum matahari hilang sama sekali, aku dapat melihat Galih di ujung sana. Ia menatapku. Wajahnya tak berubah. Ketika ingin melambai, ia sudah berpaling. Kemudian, hari masuk malam.
Seperti Galih, sekarang Darma yang meninggalkanku. Ia tak pernah pasti apakah akan kembali. Tapi, seperti koin 25 sen yang ia kembalikan, kenangan hanya berjarak satu milimeter. Setiap saat aku dapat kembali. Menyambut Galih lagi. Menyambut Darma lagi. Memutar lagi lagu-lagu kami. Saling berbagi mimpi dan merasa ditemani. Meskipun pada akhirnya, kami berjalan sendiri-sendiri.
Banjarmasin, 2019
PUISI EKOLOGIS DAN POPULIS ATAS PENCARIAN KEBARUAN DALAM ANTOLOGI PUISI PERCAKAPAN DI DASAR SUNGAI
Oleh: Muhammad Irwan Aprialdy
Lahirnya buku antologi Percakapan di Dasar Sungai sejatinya memang tidak lepas dari tradisi penyelenggaraan tahunan Aruh Sastra Kalimantan Selatan yang tahun ini berumur 20 tahun. Tahun ini, penyelenggaraan diadakan di Kota Banjarmasin, setelah sebelumnya diadakan di kota yang sama pada tahun 2012 lalu. Lokalitas masih menjadi tema sentral penyelenggaraan acara dari tahun ke tahun. Dalam Aruh Sastra Kalimantan Selatan tahun ini, sungai yang menjadi trademark Kota Banjarmasin diangkat sebagai tema besar acara. Dapat ditebak karya-karya sastra, baik karya peserta lomba maupun puisi-puisi dalam antologi ini, banyak membicarakan wacana ekologis yang menyaran pada keberadaan hati nurani penduduknya di tengah duka tangis bukit, gunung, hutan, laut, sungai atau penduduk lokal yang kehilangan tempat di tanah lahirnya sendiri oleh oknum-oknum tertentu. Selain subtema lokalitas yang telah disebutkan, mistisisme masyarakat Banjar, baik di kota maupun di pedalaman, serta puisi-puisi bernapas islami atau sufisme kerap menjadi alternatif.
Sebelum dilakukan pembedahan atas puisi-puisi yang terhimpun dalam antologi puisi Percakapan di Dasar Sungai, pembedah merasa perlu untuk menegaskan pengertian puisi dari sudut pandangnya sebagai pengamat dan tujuan dikumpulkannya 200 sekian puisi dalam antologi bersangkutan. Namun puisi, sebelum ditegaskan makna atau ditinjau-tinjau isinya, perlu dirujuk pula pengertian dari kerja seorang penyair itu sendiri: seseorang yang menulis puisi atau sajak, begitu sederhananya. Puisi atau sajak itu sendiri merupakan jenis sastra tertua yang terikat baris, bait, rima, irama, matra, dan unsur-unsur fisik atau batin lainnya. Namun, pada praktiknya dewasa ini, puisi atau sajak ditemukan dalam bentuk-bentuk yang beragam: terlampau panjang atau pendek; tipografi yang ikut menegaskan unsur batin/fisik puisi dengan beragam pola; penggunaan slang, penggunaan istilah asing, penggunaan bahasa lokal atau bahkan penggunaan bahasa denotatif di seluruh baris puisinya. Penggunaan bahasa-bahasa kasar atau umpatan juga sesuatu yang kian hari kian lumrah digunakan dalam puisi sebagai penanda pada dunia yang jungkir balik. Lalu, apa kerja penyair memang mengotak-atik piranti bahasa dan kemungkinan estetika yang segar dan baru dalam puisi?
Fakta tentang tren puisi hari ini yang sudah berani menanggalkan perangkat bahasa estetik untuk berusaha mencapai level kebaruan seperti halnya Chairil Anwar di era Pujangga Baru semakin menciptakan kesenjangan pada pengertian konkret puisi (yang secara awam dianggap sebagai bentuk penulisan yang indah dengan segala teka-teki artinya). Hal ini tidak lantas menyebabkan pengukuran kualitas antara puisi baik dan buruk sulit untuk dikejar ketika sekian juta penyair telah menawarkan beragam tema dan bentuk dalam tubuh kekaryaan masing-masing, teori puisi diperbaharui, dan selera terhadap suatu karya selamanya subjektivitas yang dipersenjatai pengalaman membaca.
Apabila ada tulisan serupa percakapan daring dan penulisnya menyatakan itu adalah puisi, maka jadilah ia puisi. Hal itu sah, seperti yang diterangkan Sapardi Djoko Damono dalam pengantar buku puisi Melihat Api Bekerja karya M. Aan Mansyur. Licentia poetica menjadi dalih yang membebaskan penyair melakukan bermacam eksperimen sastrawi di laboratorium puitikanya. Pertanyaannya, sejauh mana licentia poetica mampu mengakomodir kebebasan penyair atas bahasa, bila bahasa adalah piranti yang digunakan untuk mengkomunikasikan sesuatu, bahkan dalam puisi?
Apabila dipahami pengertian bahwa penyair adalah man speaks to men, menurut William Wordsworth, penyair era Romantik Inggris, atau, pembakar utama menulis puisi adalah keputusasaan, merujuk pada penjabaran penyair dan esais peraih Nobel 2020, Louise Glück, maka, apa para penyair dalam antologi Percakapan di Dasar Sungai telah berhasil membicarakan apa yang ingin dibicarakan lewat puisi atas dasar keputusasaan? Apabila digugat balik pertanyaan tersebut, apakah puisi harus selalu berhasil membicarakan sesuatu? Dan betapa kusamnya puisi apabila dasar penulisannya selalu berawal dari keputusasaan atau perasaan-perasaan nelangsa yang tak diangkat atau dibicarakan dalam konvensi komunikasi sehari-hari? Atau jangan-jangan topik wicara puisi diutarakan karena keharusan atau rasa penasaran untuk mengejar kebaruan? Seolah suatu topik bicara tidak dapat dikomunikasikan dalam bentuk-bentuk lain dan penyair mengidap sindrom Fear of Missing Out atas tema-tema segar dan bentuk baru sebagai respons atas hidup modern dalam tren berpuisi hari ini?
Berdasarkan keresahan pada wacana kebaruan dan kesegaran pada variasi tema, bentuk, dan jenis puisi yang semakin beragam pilihannya sekarang ini, dengan segala keterbatasan, pembedah melakukan pembacaannya atas Percakapan di Dasar Sungai dengan harapan menemukan kesegaran pada tema lokalitas yang pasti dominan dalam antologi ini.
Seperti yang telah diungkapkan, dari tahun ke tahun, penulisan antologi puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan awet dengan tema-tema lokalitas. Apabila ini dipandang sebagai upaya pemertahanan budaya dan menumbuhkan semangat lokalitas dalam diri penyair, maka, upaya yang dilakukan dianggap lebih dari cukup. Upaya tersebut juga memiliki efek samping yang menimbulkan kemandekan dalam menggarap tema-tema lain dan pemberontakan dalam memandang dominasi tema lokalitas sebagai penyirat identitas kelahiran para penyair. Apa bedanya penyair sebagai agen promotor kebudayaan dan lingkungan hidup?
Mudah ditemukan nama-nama penyair yang akrab bertutur dengan tema dan istilah lokal dalam antologi ini. Mudah pula ditemukan nama-nama penyair yang menolak sama sekali konsep lokalitas dan membicarakan perihal lain, yang bisa dipandang remeh atau bentuk karya romantisasi atas kontemplasi berkehidupan sehari-hari. Bisa juga puisi-puisi dipaksakan menyaran pada tema agar ikut termaktub dalam antologi ini. Man speaks to men. Apa penyair bicara lewat sastra atau atas nama sastra atau karena acara Aruh Sastra ia bicara (menulis)?
Penghayatan atas sungai, alam atau kota sebagai bagian tak terpisah dari ruang hidup masyarakat di Kalimantan Selatan sebagian besar memang hanya dilukiskan. Apakah dalam pelukisannya yang purna dan keluar-masuk antara lanskap alam atau kota yang jadi bermacam analogi memang dibarengi penghayatan hidup serupa yang dilukiskan dalam puisi?
Saya membayangkan para penyair yang karya-karya masuk dalam antologi ini sebagai seorang flaneur yang melakukan plesiran ke berbagai tempat di tanah lahirnya dan membaca banyak wujud konkret yang ditandai sebagai kata atau frasa yang keluar masuk dalam sensor puitikanya untuk dimodifikasi lalu memberi tawaran perspektif atau dimensi baru dalam memandang kota atau alam. Dalam arti lain, tidak menjadikan lanskap semata objek lukisan atau topik dalam wacana populis atau ekologis, yang hanya dijejali fakta dan berita mentah tanpa diolah lewat puisi yang sejatinya mampu menawarkan dimensi yang mencerahkan pembaca dalam memandang kenyataan, pun dalam konteks lokalitas. Kalimantan Selatan sendiri dalam perkembangannya telah menjadi melting pot beragam kultur, sistem, dan warna hidup yang berbeda-beda. Percakapan di Dasar Sungai harusnya mampu memuat puisi-puisi yang memberi warna yang berbeda-beda atas ekspektasi untuk menemukan kesegaran dalam penulisan puisi di tahun 2023, di provinsi ini.
“Kapan Sungaiku Benar-benar Merdeka” karya A. Rahman Al-Hakim menjadi puisi pembuka. Puisi ini tak hanya mengembuskan suara yang terus terang dari seorang penduduk Banjarmasin yang kecewa sungai-sungai di kotanya digusur oleh jalan-jalan aspal, bangunan beton, dan bentuk pembangunan infrastruktur lainnya. Puisi ini menampilkan suara yang menuntut pengembalian citra kotanya yang dikenal sebagai kota seribu sungai. Penjejeran nama-nama sungai di Banjarmasin yang sepertinya dikumpulkan dengan cukup cermat dan tekun cukup menambah wawasan indeks nama-nama sungai di Banjarmasin. Namun, daya tarik pengumpulan nama-nama sungai itu menggusur pula ciri utama puisi sebagai medium sastra berdaya ungkap tak langsung.
Setelah puisi “Kapan Sungaiku Benar-benar Merdeka”, seperti biasa ditemukan puisi-puisi lain yang sebagian besar menyiratkan keprihatinan penduduk pada ekosistem sungai dan alam lainnya. Bolak-balik satu penyair ke penyair lainnya menjadikan objek alam tersebut sebagai modal personifikasi dan depersonifikasi dalam puisi mereka.
Pengulangan tema ekologis dan populis tadi menyebabkan kegembiraaan ketika akhirnya ditemukan dua puisi yang menandakan jejak lintas kultur dalam ranah media atau seni yang memengaruhi suasana batin dalam puisi “Hujan, Sihir, Malam, dan Trompet Armstrong” karya Dewi Alfianti dan “Bulan Larut di Sungai Kerokan yang Kusebut Zafri Zamzam” karya Munir Shadikin.
Hujan lesap di daun jendela, sementara aku membayangkan tawamu yang serupa/ denting piano di kafe yang sepi pengunjung, begitu enggan, begitu acuh./ Namun, tak ada yang lebih menawan daripada ritme suaramu yang menghentak/ mengalahkan improvisasi Amstrong./ Bagiku kau lebih memukau dari alunan jazz di antara hujan/ yang menaklukkan sepi. Demikian Dewi menampilkan ruang puitika yang tidak berkelindan sama sekali dengan sungai, seperti yang diharapkan. Puisi “Hujan, Sihir, Malam, dan Trompet Armstrong” ini menyatakan selera referensi musik yang tak harus sejalan dengan laku tradisi. Puisi ini juga menyiratkan suara bahwa di 2023 sangat mungkin nama Ella Fitzgerald dan Neil Armstrong dipuja-puja di daerah buncu Pulau Kalimantan.
Atau perhatikan bagaimana Munir menuliskan: Bulan tersenyum mendengarku, Angelina/ kami beranjak menjadi Jesse & Julie/ Entah bulan sedang apa/ dan aku kembali larut dalam pasang sungai/ “Before Sunrise” dengan diriku sendiri. Seperti Dewi, Munir menyiratkan generasi yang terpapar oleh pengaruh globalisasi pada distribusi industri hiburan Barat ke tanah Banjar. Apa itu salah? Indeks Fitzgerald, Armstrong, Jesse dan Julie, Jazz, Before Sunrise memunculkan kesan bahwa kota ini memang tidak setertinggal itu. Masih ada oknum-oknum yang mengejar pemaknaan estetika dengan referensi-referensi luar, tidak menjadikannya sekadar catatan kaki belaka, namun substansi yang akrab dengan imajinasi dan penghayatan hidup yang terasa remeh-temeh namun terjadi sehari-hari. Meski, penggunaan piranti bahasa dalam dua puisi tersebut belum diramu dengan matang. Atau, jangan-jangan upaya melawan konvensi terhadap bunga kata-kata puisi warisan Pujangga Baru?
Kejutan muncul dari puisi Maria Roeslie yang memberi suara yang jarang diangkat dalam gelanggang puisi Kalimantan Selatan, yaitu perspektif warga peranakan Tionghoa tentang sungai:
Sesuatu meronta-ronta dalam jiwa mengumandangkan rindu
Rindu mentari pagi yang menghidupi cermin anak sungai tepekong
Bertalu-talu rinduku mengiang menggelitik dada
Tak mampu lagi mengukur dalamnya riak gelombang jukung tiung
Walau kuteropong dari ketinggian jembatan ulin yang semampai
Sirna
Tiang-tiang rumah bahari yang berbaris rapi
Oleh sang empunya si taci si engkoh si encim dan si encek
Perlahan sirna
Akar pohon jingah yang menggurita di tepian
Dan tali-temali akar gantung beringin yang menggelayut
Serta manis getir buah kasturi yang mewarnai subuh
Telah pula sirna
Mungkinkah suatu saat nanti kita akan bertemu kembali
Tuk menguraikan isak tangis air dan udara di seputaran jalan veteran
Semoga angin terus bertiup
Dan bumi mengijinkan
Entahlah
Banjarmasin, 24 Agustus 2023
(Puisi “Sungai Tepekong” karya Maria Roeslie)
Kehadiran puisi “Sungai Tepekong” memberi suara pada the other yang akrab kita beri label chindo, mengesampingkan fakta bahwa mereka telah hidup berdampingan dengan penduduk lokal selama ratusan tahun dan memiliki suara asli mereka sebagian dari populasi; bahwa suara mereka ada dan valid untuk berbicara tentang rindu dan juga sungai.
Cara Diang Anggrek mengambil Pantai Jodoh yang bukan pantai, melainkan tepian sungai dalam puisi “Pantai Jodoh Tak Jodoh” juga menarik. Kehadiran puisi ini menjadikan buku antologi ini tak terasa baku. Tema yang bisa jatuh dikritisi sebagai karya picisan ini memberi kelenturan dan contoh bagaimana fragmen kehidupan sehari-hari digubah menjadi puisi. Ia memberi sorotan pada latar tempat nongkrong yang dijadikan titik kencan muda-mudi Kota Banjarmasin. Terkesan remeh untuk diangkat jadi puisi? Pembedah memandang Diang memberi gambaran yang abai tentang potongan kehidupan kota ini. Diang juga menambahkan deskripsi kehidupan sehari-hari lewat baris-baris: motor biru kita dorong/ lorong kampus hingga kayu tangi ujung/ duhai pujaan hati yang tak rendah hati. Puisi Diang tak hanya jujur, ia juga dekat.
Selain pendekatan pada sesuatu yang jarang diliput lampu spot puisi lokal, pengenalan lanskap kota dan alam sebagai sosok ibu juga muncul pada antologi ini, seperti Micky menulis dalam puisi “Banjarmasin”: Banjarmasin,/ kehilanganmu sebagai ibu/ tak lagi kusesali// juga mesti berulang kutangisi/ kutulis sajak ini untukmu/ sebagai isyarat aku makin menyayangimu/ tersebab kau adalah surga bagi cintaku.
Pengandaian alam sebagai ibu juga muncul dalam puisi “Sungai Adalah Rahim Ibu” karya Rahmat Akbar: Sungai ialah rahim Ibu, mengalirkan doa leluhur/ Sesekali batu bertafakur/ Menyimpan sakit bercampur/ Bahwa gemercik air yang melebur kini telah kabur.
Kekerabatan intelektual pada sosok alam atau kota yang diumpamakan ibu sebenarnya kerap terjadi, seperti pada cerpen pemenang Aruh Sastra terdahulu “Rahasia Sedih Tak Bersebab” karya Harie Insani Putra atau yang paling anyar buku puisi Kekasih Teluk karya Saras Dewi. Tak jemu-jemu konsep Ibu Bumi atau Ibu Pertiwi muncul dalam karya sastra, menganalogikan tiap kerusakan alam sebagai aksi durhaka yang melukai suwung nurani ibu, yang tanpa pamrih melahirkan dan membesarkan jiwa-jiwa yang melukainya.
Kerusakan alam yang kerap menjadi tema favorit para penyair yang karyanya tampil dalam buku-buku puisi bertema lokalitas menyaran pada fakta bahwa kondisi alam Kalimantan yang kaya dan tak henti-henti dibulangkir isinya. Di sini peran sastra sebagai media aktivisme para penyair mengambil tempat untuk menyuarakan atau setidaknya mencatat masalah hari ini yang tak kunjung menemu jalan tengah atau solusi. Selain itu, tradisi yang mulai kikis dan adab yang tumpang tindih dengan suara-suara sinis dan individualis juga mengisi halaman demi halaman di buku antologi ini. Namun, bukan berarti puisi-puisi berisi harapan dan doa redup digusur puisi bernada sinis. Simak puisi “Sungai Purba” karya Ratih Ayuningrum berikut ini:
Sungai di mataku
Mengalir purba
Sungai-sungai yang kujaga sejak lama
Hingga mata berkerut nyata
Tak tercemar, mengalir ke cabang-cabang kehidupan
Udara memanas
Sesekali deru pickup berhenti di sungai utama
Membawa ke kota-kota, ke rumah-rumah
Kini tak hanya sesekali
Puluhan kali deru pickup menggema
Membawa sungai-sungai hilir mudik masuk ke rumah-rumah
“Semua mulai tak lagi mengalir”
Sungai di mataku tetap setia
Tak tercemar
Meski banyak deru pickup bertamu dan membawa serta
alirannya pergi
Ke kota-kota, memasuki rumah-rumah
Kotabaru, 30 Agustus 2023
Sungai yang dibawa mobil pick up. Sungai yang memasuki rumah-rumah. Sungai yang menolak dikira tercemar. Puisi Ratih ini bisa menandakan kedigdayaan sungai sebagai subjek yang mampu memilih aksinya sendiri di tengah ancaman deru mobil pick up, yang entah membawa tanah untuk menimbun dan membawa sungai sebagai sisa dongeng rumahan. Atau menghadirkan sungai sebagai banjir bah yang masuk rumah atas hasil dari hilir mudik mobil pick up yang datang membawa substansi-substansi penting si Sungai yang telah defect fungsinya dalam ekosistem sebagai penampung air serapan. Dalam ambiguitas yang terjaga hingga akhir, Ratih berbicara tentang harapan yang cenderung gelap.
Tema mistik khas Banjar tentang hantu banyu juga tak luput tercatat, dihadirkan dalam puisi “Nyanyian Hantu Banyu” karya Aluh Srikandi. Selain menggambarkan dengan deskripsi suasana muram tentang mitos masyarakat Banjar pada hantu banyu, “Nyanyian Hantu Banyu” cukup menghentak dengan bait penutupnya yang berbunyi:
…
Ah,
Aku si Hantu Banyu sang penunggu tumbukan banyu
Kini hanya bisa bernyanyi pilu
Mendendangkan lagu-lagu rindu
Akan indahnya masa dahulu
Sembari menunggu waktu
Kembali ke hadapan Tuhanku
(“Nyanyian Hantu Banyu”)
Hantu yang bertuhan. Religiusitas yang jadi subtema yang khas dalam gubahan penyair lokal tampil tanpa untaian doa yang ditulis indah berbunga kata-kata. Dengan sederhana, Aluh menyandingkan hantu banyu dengan Tuhan, seperti kerap puisi religius ditulis penyair lokal. Bait terakhir ini efektif memberi tawaran tentang asumsi lain yang mampu digarap dan dibicarakan dalam puisi: gelap yang menjunjung Tuhan.
Cukup banyak sebenarnya yang dapat dibahas mengenai Percakapan di Dasar Sungai sebagai sebuah produk pencatatan para penyair Kalimantan Selatan tentang masyarakat, hidup mereka masing-masing, dan ekosistem yang melingkupinya. Meski pengulangan tema adalah siklus yang pasti terjadi dan kesegaran dalam segi bentuk dan tema masih menjadi pekerjaan rumah yang tak pernah selesai di ranah puisi Kalimantan Selatan maupun nasional, namun, yang dapat disyukuri: puisi masih ditulis; penyair-penyair baru lahir kembali.
Sebagaimana saya membaca keluguan dalam pemilihan diksi para penyair muda yang karyanya tampil dalam buku antologi ini, muncul harapan bahwa puisi dari penyair-penyair Kalimantan Selatan mampu berbicara banyak di kancah nasional atau internasional, mewakili dirinya sendiri atau khalayak sastra sekalian. Tentunya harapan itu disematkan pula pada para sepuh penyair yang puisinya terbaca sebagai kematangan tutur puitik, yang tentunya dicapai dari usia sepak terjang pembacaan mereka atas sastra dan jejak kepenyairan mereka.
Berbicara mengenai pembacaan, tentunya penulisan puisi dalam Percakapan di Dasar Sungai merefleksikan seberapa dalam para penyair menyelam ke sungai sastra untuk muncul ke permukaan, menulis tentang sastra sungai di buku ini. Muncul pertanyaan: apa sungai itu selamanya berwarna kecoklatan saja?
Puisi-puisi yang judulnya disebut pada penjabaran di atas barangkali adalah riak-riak lain, di samping banyak juga puisi-puisi yang tak disebutkan dan menjadi gelembung-gelembung yang muncul dari dasar pembacaan yang cukup dalam. Kapan sungai itu berwarna bening? Barangkali ketika kita memutuskan untuk menyisihkan sampah-sampah yang tak perlu dan membiarkan sungai pembacaan mengalir dan surut sebagaimana mestinya cuaca tak selamanya menyaran pada hujan atau panas semata.
Puisi adalah media dengan berbagai kemungkinan daya ungkapnya untuk berbicara tentang sesuatu. Apa sesuatu itu? Saya teringat alasan mengapa Jon Fosse dihadiahi Nobel Sastra tahun ini: untuk upayanya memberi suara pada hal-hal yang tak terucapkan. Bagaimana hal itu mungkin? Mari sama-sama mengingat bagaimana kita dulu mengumpulkan patahan fonologi sebagai produk suara di sudut-sudut mulut untuk membentuk kata, kata jadi susunan kalimat, kumpulan kalimat membentuk wacana merujuk pada bermacam tema dan stilistika. Penemuan pada hal-hal tak terkatakan itu tentunya dilakukan bertahap, tanpa paksaan, dan terus dilakukan. Seperti dulu kita belajar bicara, penyair sebaiknya memang terus belajar agar puisinya mampu terus berbicara pada sesama.
Sejatinya membaca dan menulis puisi adalah siklus yang berulang, namun juga tak pasti. Melalui Percakapan di Dasar Sungai dan penghelatan Aruh Sastra Kalimantan Selatan yang sudah menginjak usia dua puluh, ia menjadi bukti puisi masih terus digeluti dan ditulis lagi, pekerjaan rumah literasi dan meja kerja puitika yang tak pernah selesai dan selalu beregenerasi. Tentang kebaruan yang dicari-cari dalam antologi ini? Menurut hemat saya, hal itu akan terjadi ketika membaca dan menulis puisi mencapai kulminasi titik jemu, namun tak redup atau memutuskan mati.
Catatan Sebagai Narasumber Bedah Antologi Puisi ASKS XX Percakapan di Dasar Sungai
Ketika Bu Dewi Alfianti menghubungi saya via pesan langsung Instagram, yang saya harapkan adalah tanggapan beliau atas manuskrip puisi saya Kotak Memorabilia Seekor Hantu yang sudah saya otak-atik sedikit. Namun, kali itu beliau membawa pesan lain: "Wan, kamu bisa jadi narasumber untuk bedah antologi puisi ASKS?"
Ya, tentu saja bisa. Meski muncul pertanyaan juga, "Kenapa tidak yang lain saja, ya?"
"Ya, karena kamu penyair. Ada baiknya bedah bukunya juga dilakukan penyair."
Meski cukup lama menulis puisi, tapi puisi saya berapa tahun belakangan jarang tampil di media massa atau antologi bersama. Alih-alih merasa jago, saya merasa mengalami dekadensi dalam proses menulis kreatif. Kali ini diminta sebagai pembedah yang merupakan laku seorang kritikus. Ingin menolak, tapi juga sayang. Ya sudah, saya terima saja sambil membuka-buka lagi referensi yang bisa dijadikan 'pisau bedah'.
Ketika nama-nama narasumber akhirnya final, bukannya girang saya malah kena mental. Saya akan semeja dengan Putu Fajar Arcana (Redaktur Sastra Kompas) dan Arif Bagus Prasetyo (Kritikus Sastra Peraih Penghargaan Kemdikbud). Saya semakin merasa kecil dengan berbagai keterbatasan saya dalam memahami puisi. Kendati puisi memang menjadi 'hantu pengganggu' pikiran saya setahun belakangan ini.
Korespondensi dengan Daffa, 'esai-esaian' yang saya buat atas hasil pembacaan saya pada manuskripnya, dan beberapa buku bacaan yang dapat dijadikan acuan, fokus pembedahan saya berada di titik tema lokalitas dan urgensi menemukan kebaruan dalam puisi. Seperti apakah? Saya juga belum tahu. Tapi, saya menemukan beberapa puisi yang 'menyegarkan' pada antologi Percakapan di Dasar Sungai.
Selesai merampungkan pembacaan, saya langsung menyusun esai atas hasil pertanggungjawaban saya sebagai narasumber untuk dibacakan pada para peserta bedah buku dalam diskusi panel. Draf pertama esai rampung di teras Alfamart jam dua belas malam. Draf kedua rampung jam empat pagi. Setelahnya, saya lanjut menilai puluhan cerpen karena juga ditunjuk sebagai juri lomba menulis cerpen PBSI.
Besoknya, Sabtu, 28 Oktober 2023, bertempat di Ruang Katingan Hotel Aria Barito, ketika diskusi akan dimulai, saya bertemu langsung dengan sosok Pak Arif dan Pak Putu. Duh, betapa saya merasa begitu cilik.
Pak Arif menyampaikan materinya dengan begitu bernas. Beliau menyampaikan teori tentang ekokritik dan kecenderungan puisi hijau pada buku antologi puisi bertajuk Percakapan di Dasar Sungai tersebut. Saya kemudian angkat bicara mengenai beberapa kesegaran yang saya temui di dalam buku antologi yang dipenuhi puisi-puisi bertema lokalitas, seperti sebagian besar antologi puisi ASKS pada tahun-tahun sebelumnya. Jujur, banyak hal yang ingin saya selaraskan, antara yang saya tulis di esai dan apa yang saya ucapkan. Namun, entah kerasukan hantu banyu subalah mana, saya gugup. Gugup sekali. Padahal, kalau mengajar mulut saya wasweswos macam uap kereta api.
Setelahnya, Pak Putu menampilkan salindia PPT yang memberi penjelasan mengenai tipe-tipe penyair di dalam antologi dan kemungkinan bahwa puisi akan selalu kalah dengan seni fotografi apabila hasil dari sebuah puisi hanya berupa penggambaran alam dan lingkungan.
Setelah semua menyampaikan maksud dan tujuan ‘mata pisau’ masing-masing, sesi-tanya jawab dibuka oleh Bu Nailiya. Pertanyaan-pernyataan saling dilontarkan peserta. Karena durasi penyampaian materi lumayan panjang dan sesi akhir diskusi meluber dari jadwal yang telah ditentukan, diskusi yang sudah lewat sejam dari jam berakhirnya harus diakhiri. Saya bisa bernapas sedikit lega. Semuanya sudah selesai setelah ini. Segala sesi kena mental saya dan rasa grogi. Mengenai kena mental, saya juga tak paham. Padahal Pak Arif dan Pak Putu begitu baiknya menyambut saya sebagai sesama narasumber, membersamai mereka.
Tak lama, saya melihat seorang wanita yang biasa hanya saya lihat di foto memasuki ruang diskusi: Bu Oka Rusmini! Beliau baru selesai menjadi narasumber diskusi di ruang sebelah. Saya langsung mengalami kilas balik ketika dulu saya membaca puisi “Patiwangi” pada Edisi Khusus Horison Puisi Internasional-Indonesia 2002 di perpustakaan SMA Negeri 2 Banjarmasin. Dari puisi itulah saya tergerak untuk menulis dan mencari tahu puisi-puisi beliau yang lain. Persis, “Patiwangi” adalah salah satu puisi awal yang jadi bara menulis. Setelah “Patiwangi” saya membaca Pandora, Saiban, dan Tarian Bumi.
Setelah sesi-tanya jawab berakhir, saya segera menghampiri Bu Oka, yang sebenarnya sedang menunggu suami beliau: tak lain dan tak bukan, Pak Arif sendiri. Saya minta izin dengan suara halus. Wajah beliau yang terlihat tegas langsung mengendur dengan senyum ramah.
“Bu Oka, maaf, boleh minta foto?”
“Oh, boleh.” kata beliau dengan rendah hati.
Untung ada Siti Adijah, kawan yang ikut hadir karena tugas jurnalistik. Dia yang mengabadikan foto saya dengan Bu Oka.
Sebelum saya undur diri dan saya mengatakan bahwa saya belajar menulis puisi mencontoh dulu dari karya beliau. Beliau tersenyum mendengarnya. Selanjutnya saya undur diri untuk foto bersama para narasumber dan beberapa peserta lain.
Sebenarnya dengan masing-masing narasumber, saya juga memiliki cerita latar yang berbeda-beda.
Sebelum diminta jadi narasumber, saya mencoba mempelajari lagi pengaruh puisi-puisi Chairil pada sastra modern Indonesia dari tengara.id, yang memuat salah satu esai Pak Arif. Saya juga pernah membuat manuskrip berjudul Memento dan membagi-bagikannya dalam format PDF di story Close Friends Instagram, tanpa pernah tahu Pak Arif memiliki buku puisi berjudul sama dan beliau bagikan dalam format sama di blog pribadi beliau. Tentu saja Memento-nya Pak Arif dan Memento saya memiliki perbedaan kualitas yang jauh berbeda, ya.
Lalu, saya pernah menjadi kru dadakan pada pentas monolog “Pidato” yang ditulis Pak Putu. Pentas tersebut merupakan penampilan pada lomba tangkai seni monolog PEKSIMINAS 2016 di Kendari, Sulteng. Saat itu Ahmad Hafiz, sang Aktor, sebelum (atau sesudah?) pentas melihat Pak Putu dan mengajak beliau ngobrol sambil minta izin mementaskan naskahnya. Saya kemudian, dari kru dadakan jadi juru foto amatir pula untuk mereka berdua. Di 2020, saya dan teman-teman dari KS3B pernah hampir mementaskan “Pidato”. Saya ditunjuk jadi sutradara dan Rizder jadi aktornya. Sudah sempat berlatih sampai melompat-lompati trap panggung, pandemi datang. Rencana pentas dan latihan bubar, jadi wacana belaka.
Ya hidup memang sebaik ini pada saya, mempertemukan langsung saya dengan mereka yang secara tidak langsung memengaruhi pembacaan dan penulisan saya melalui karya-karyanya. Ketika semua sudah surut dan Siti Adijah menarik saya untuk melakukan sesi wawancara singkat terkait tugas jurnalistiknya, saya ditanya: “Apa rasanya jadi narasumber termuda di ASKS XX?”
Duapuluh delapan tahun bukan muda lagi, menurut hemat saya. Tapi, yang termuda, faktanya memang demikian rupanya. Pertanyaannya saya jawab, “Saya kena mental.”
Tapi, di samping kena mental dan diberi kesempatan bicara sastra dengan grogi, dengan segala ‘kehijauan’ diri ini, saya sungguh bersyukur diberi kesempatan yang (mungkin) tak semua penulis Kalsel dapatkan sampai bertahun-tahun ke depan.
Saat hari penutupan dan narasumber luar daerah bersiap kembali ke daerah masing-masing, saya berpapasan lagi dengan Pak Putu, Bu Oka, dan Pak Arif di pintu masuk hotel. Mereka bertiga sedang menunggu mobil yang akan membawa mereka ke bandara untuk pulang ke Bali. Kami bersalaman lagi. Ingin rasanya saya ajak foto, tapi sudahlah. Takut mengganggu. Pak Putu dan Bu Oka menyarankan untuk tidak berhenti menulis. Sementara Pak Putu menyarankan saya berhenti menulis kreatif dan fokus jadi kritikus: “Susah itu, Pak.” jawab saya sambil tergelak. Lalu, Bu Atin dan Riza Rahim menjelas-jelaskan sepak terjang saya sebagai si Ini dan si Itu sebagai upaya promosi atau bentuk solidaritas colongan sesama penyair.
ASKS XX berakhir, dan semua telah pulang ke daerah asal masing-masing. Saya sendiri tidak langsung pulang ke rumah. Menuju ke acara pernikahan Dhika dan Poe yang sudah bubar, saya membawa seabrek buku titipan dan pinjaman, serta memakai sweater marun yang sudah saya pakai berhari-hari. Saya dan Dhika kemudian membicarakan berbagai kejadian dan kemungkinan di balkon yang menyaru sebagai taman rahasia di lantai dua rumah orang tuanya, yang sebentar lagi akan ia ditinggalkan. Tak lupa, kami membicarakan nasib sebagai manusia bergolongan darah B, penyakit kulit, dan sensitivitas kulit masing-masing.
Hari ini saya menulis catatan ini dalam fase pemulihan karena cacar api atau cacar ular. Apalah sebutannya. Saya enggan menyebut nama medisnya, karena nama depannya membuat saya bisa dikira pezina ulung. Padahal cacar ini murni karena imun saya turun.
Menutup catatan yang semacam ingatan ini agar tak berpanjanglebar lagi, saya bagikan esai hasil pembedahan saya atas Percakapan di Dasar Sungai pada catatan berikutnya.
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Carpe diem semuanya!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Perihal Gagal Memotret Senja
lampu-lampu kota dinyalakan
merayakan keabsenan matahari.
kita lompati saja narasi
tentang waktu senja.
sebab kata mereka,
senja adalah tanah makam sesak
seribu kunang-kunang mati;
simpul-simpul cahaya yang berlepasan
dan mengambang sedang; semak belukar takarir
pada unggahan foto bangku taman
yang belum menuliskan pertemuan
atau perpisahan sepasang kekasih
yang maju-mundur membuka-tutup
seamplop harapan.
di atas siluet gedung-gedung
ada cahaya kabur menyala.
tapi bukan bulan,
juga bukan bintang.
bukan tujuan atau ingatan.
bukan sudah habis titik juang?
mana? mana jalan pulang?
Banjar, Juli 2023
Kadaver
bung, di obralan buku matahari tak sungkan menyapu debu atas judul-judul transkripsi malam saru.
“kapan puisi akan ditulis lagi?” tanyamu.
tak kuraut pensil kayu.
sebelum perkamen digelar dan Laut Mati memendam rahasia perawi bisu, puisi harus mengisi tinta botol sebelum pena mencatat lengkung dua tangkai palma yang kelempai di ujung sampul, tapi tak saling buhul.
kapan puisi ditulis lagi setelah senja menjelma panorama klise, hujan hanya disonansi, ibu menyapih mulut penyair dengan gula batu, tanah lahir dibuka sebagai rumah dengan tambahan kata singgah?
tak ada E=MC2 pada licentia poetica. puisi Wislawa gumpal ke tong wahyu. bunga-bunga di taman Glück pernah layu. foto Chairil disangka iklan rokok. Sapardi menjelma lagu-lagu. tak perlu ada Neruda KW dua. tak ada Sutardji tanpa mantra.
kata Barthes, “puisi mesti berjudul, bukan bernama.”
dan bung, di dalam toko, judul-judul baru menunggu dipamerkan perempat harga ke meja depan. siapa peduli ia punya nama? derita adalah pangkal puisi yang sok tahu.
seperti penulis diguguri kerja wahyu, pembaca dipilih sendiri oleh buku: satu kepala dari seribu. puisi, kata Wislawa, cukup beruntung: dua dari seribu
membaca, mencatat, belajar menulis puisi,
mencoba mengisi laman minggu atau kolom sejarah untuk dibaca diri atau anak-cucu sendiri.
barangkali, nama penyair tak harus dibaca, seperti puisi tak harus bahagia. seperti dua lengkung tangkai palma jarang mampu menjaga harga.
dan bung, masih kau akan berlagu? di obralan buku kita melayat organ mimpi siapakah? ditumpuk-tumpuk sebagai ajaran guru besar yang pemurah.
menghitung harga, kasir tak bertanya, “kapan puisi ditulis lagi?”
pada puisi seorang penyair tua akan bertanya, “kapan penyair dilahirkan lagi?”
kemudian dirautnya pensil kayu. entah kelak diusung dua tangkai palma atau menggelandang dan mati jadi unsur fisik puisi besar yang pemurah, padamu sekalian kuhujah:
carpe diem! carpe diem! carpe diem!
Kertak Hanyar, Oktober 2023
Mata yang Lain
1. remang tirai jendela buatku mengenal paras kantukmu. apa yang kita lakukan adalah apa yang takkan kita ceritakan: penyakit yang ‘kan membunuhku.
sehadapan, kutatap parasmu. kutemukan dua bola mata. kutatap lekat, teramat lekat. hingga kutemukan mata yang lain. menyalak padaku dari liang yang sama.
bukan matamu. kutiupkan doa-doa agamaku pada ubun dan masai rambutmu.
kenanglah, kasih betapa purba. tak terjabar sejak kita mengenal bahasa. aku memberikan sepotong hati padamu: aku ‘kan menderita?
lalu, kita tidur dalam senyap yang diselimutkan pada cerita yang sudah dibagi satu sama. hujan tengah malam meninabobokan tiap keluh kesah.
2. aku terbangun seorang diri di kamarku. sisi lain ranjang kosong. itu yang mampu kulihat. memoriku bendungan bocor dan aku tak mampu menangis.
dini hari. lampu kamar belum ingin kunyalakan. duduk di sisi ranjang, kulihat dua mata yang menyalak padaku tempo itu. ia menggenggam sepotong kasih yang kubalur ke ubun-ubunmu. pelan ia mengangsurkan padaku. dalam pedih, kujahit kasih itu kembali ke hati.
ia menyaksikan dengan mata masih menyalak. begitulah tatapan apabila dikutuk tak mampu mati, pikirku.
kutatap matanya. anehnya, kutemukan dua bola matamu di situ.
3. dalam malam-malam lain, aku masih merasa ia duduk di sudut kamarku, di atas tumpukan buku catatan dari tahun-tahun yang belum sempat kuceritakan.
kurasa, ketika ia tak ada, ia menceritakan rahasia buku harianku kepadamu. sebab itu, kau tak kembali padaku. belum.
belum.
Banjar, Januari 2023
Phoebe Bridgers
1. lilin mencipta siluet-siluet ganjil di dinding kamar. aku yakin, kau tak mendengarkan Phoebe Bridgers. menguatkan sunyi, kuputar beberapa puisi gelapnya. anggap ini Halloween dan aku algojo, mengeksekusi keingkaran darah beliamu. kini, kita tak lebih dua tokoh yang dibicarakan dalam getir lirik.
apa ini adiksi pada temaram yang berpendar bagai citra kematian? kita saling mengutuk dalam bisu dan aku menyiksa kerumpangan yang asimetris di rupa kesendirianmu. barangkali benar, sebelum bertemu, kita sempat jadi dua hati. menggelandang dari pintu ke pintu rumah: tubuh-tubuh asing.
dari balik bantal, diselubungi gelap, kutarik pisau musim dingin dari puisi masa remaja yang kutulis ‘tuk mempersenjatai kesesatanku. kuhujam tepat ke ulu jantungmu: lenguh panjang menggetar wadah tinta seekor malaikat. aku ragu, ia benar-benar mencatat kita sebagai kesia-siaan.
2. bertahun terentang dari pembunuhan pertama itu, apa kau kini mati? dari dulu aku sudah jadi hantu dengan jisim yang belum dikuburkan. sebab itu, kuundang kau dalam upacara-upacara gelap di bawah temaram lilin.
baby, it's Halloween and we can be anything oh, come on, man we can be anything
baby, it's Halloween there's a time for everything oh, come on, man we can be anything*
dan pabila lagu itu tak sengaja terdengar, jangan lupa: seseorang pernah pura-pura membunuh dan membaptismu sebagai tokoh rahasia yang beredar sebagai sabak kabut di malam paling gigil.
Banjar, Januari 2023
Phoebe Bridgers: Penyanyi wanita dan penulis lagu asal Amerika dengan genre musik alternatif. Merilis album berjudul Punisher--album yang paling banyak diulas pada tahun 2020.
*) lirik lagu “Halloween” karya Phoebe Bridgers
Kelahiran Seorang Pembunuh
angin berkumpul. ini langit hanya menambah pekik kegetiran.
suara batang tubuh luruh ke lantai ubin. siapa harus terbangun, sebelum sempat jatuh tertidur?
kematian dalam kerumun arus. semuanya dicabik kebisuan pisau batu. salam perpisahan tak sempat diajarkan.
kau bertanya, “berapa harga sebongkah nama?”
di epitaf, yang terpahat kemudian hanya baris-baris dendam.
hujan, dan kau tak bertanya ketika mendung tampias melapis segenggam pribadi. kau berharap kilat mengabadikan doa yang bergema dari retakan ingatan di telapak kaki.
tangan menggapai keluar dari dalam kubur; kaki menggapai-gapai ke dasar lumpur; wajah tugur bersedih di muka danau; tubrukan bintang-bintang jatuh: ledakan cahaya.
alea iacta est, carpe diem* …
ada alasan mengapa pembunuh harus memelihara ketenangan. di lorong-lorong panjang, para hantu menyamarkan tawa sebagai gema langkah kaki. dan ketika ia berjalan sepanjang malam menuju arah matahari pagi, angin lucuti teriakan-teriakan yang ia panen dengan mata puisi.
seorang pembunuh harus pandai-pandai memelihara ketenangan. geram dari lebam di jantung memental ke kerongkongan para korban sebelum datang rupa kematian.
wajah tugur menyembul di muka danau, dengan mata yang aten membaca gelagat dersik pohon-pohon dari arah hutan. duh, ini hati menggenggam daftar nama.
utang nyawa siapakah yang harus dituntaskan puisi terlebih dulu?
Banjar, Juli 2022
*) Latin: dadu sudah digulirkan, hiduplah ….

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Anjing
aku ingin kau mengabdi pada seekor tuan hingga aku hanya perlu mengencingi haus primordial dan menyantap sisa tulang dari mulut penuh dustamu.
Banjarmasin, Oktober 2022
Kapsul Waktu
bukankah kebosanan harus dirawat sebagai alamat datang jawaban? apa yang disingkap hujan malam saat kau pulang dari tualang di blok-blok berbedak kuning lampu merkuri? rembang
senyum menyambut kabar baik hari depan yang sebentar 'kan merapatkan kemungkinan demi kemungkinan di pelabuhan
yang menerima kedatangan matahari dan gedung-gedung tinggi yang tak menghibur rindu tanpa dasar di jantung lemahmu. siapa 'kan berakhir
mati muda di atas tumpukan rencana tak terbaca? dirudapaksa takdir yang tak pernah kalah memenangkan nasib buruk di segala pertaruhan tak imbang?
mereka diam saja. mencatatkan apa-apa yang tak diperlukan kapsul waktu 'tuk disimpan. berkutat menafsir bentuk sayatan waktu dan mengais arti dari kamus yang tak pernah menerjemahkan nama lahir dari seluruh pemulia luka yang kau sadap keteguhan nyalang di matanya.
Banjarmasin, November 2020