3 ANAK ITU.
Ini cerita tentang 3 anak yang sering bermain di depan rumahku. Anak yang penuh dengan hinaan hanya karena banyak kekurangan. Mereka tidak sekolah dan tidak bisa membaca, ketidak pedulian Ayah nya dan kepergian sang ibu bersama selingkuhannya, mereka tak diajari mengaji, solat, bahkan wudhu. Awal dua anak tertua memasuki langgar kecil tempatku mengajar, bismillah yang terucap juga salah.
Berkali-kali kulihat ketidakadilan terhadap mereka,namun aku tak bisa berbuat apa-apa selain menerjemahkan ke bahasa yang lebih ramah. Setelah satu tahun aku kembali kemari, perlakuan orang-orang tetap sama terhadap mereka. Entah iba atau kesal, mereka memaki tanpa tahu jikalau mereka anak-anak. Biar ku ceritakan singkat hari ini.
Seperti biasa mereka bermain ke rumahku. Di teras aku dan mbak iparku sedang rujakan bersama mereka bertiga. Lalu kami panggil orang di gubuk samping rumah untuk ikut bergabung. Satunya sepupuku, dia langsung menghampiri kami untuk ikut bersama kami. Dan ada pula tanteku, beliau hanya ikut duduk di kursi yang ada di atas anak-anak itu.
"ikut te?" tanya ku.
"Nggak gigi nya 'si anak pertama' ga pernah disikat" jawabnya. Semua diam karena anak-anak itu 'terbiasa' mendapat perlakuan seperti itu. Aku hanya bisa menatap mangga yang aku iris dengan perasaan iba.
Detik itu mereka menerima kritik pedas dari tanteku, sedangkan aku hanya bisa terdiam dan menerjemahkan bahasa orang dewasa ke bahasa anak-anak. Bahkan kakak sekaligus suami mbak iparku, hanya bisa menyuruh mereka menuruti nasihat-nasihat itu dengan bahasa yang halus.
"eh 'anak ke tiga' kamu kan ga bisa makan pedes, nanti cepirit gimana?" celutuk tanteku. Bahkan tante bilang nanti kakak ipar yang bersihin. Dengan berat hati kakak menyuruh mereka berhenti.
Siang ini pun, aku mendengar suara nenekku meninggi karena dua anak tertua itu tidak bisa membaca. Entahlah, pendidikan itu seperti apa? Akhlak yang baik atau membaca dengan lancar.
#truestory














