Under the Surface: The Elephant in the Room Pt. 2
Arthur Schopenhauer, 1788.
Keyphrase: Pesimism. Kehendak buta. The World as Will and Representation.
Thought, Concepts & Theories: Schopenhauer melihat bahwa manusia pada dasarnya digerakkan oleh apa yang ia sebut kehendak untuk hidup. Sebuag dorongan buta dan tak henti untuk bertahan hidup, mencari kesenangan, hiburan, dan reproduksi. Sebagian besar aktivitas sosial, menurut Schopenhauer, berputar di sekitar pemenuhan naluri-naluri ini tanpa mempertanyakannya.
Tapi orang yang sadar tidak hidup dalam kebutaan. Mereka merenung, berpikir ulang, dan memberontak. Mereka tidak puas hanya dengan ada, mereka ingin memahami mengapa mereka ada dan bagaimana hidup terhubung dengan kebenaran yang lebih dalam.
Bagi Schopenhauer, pergaulan yang melampaui batas akan mengikis self yang otentik. Terlalu banyak kebersamaan akan menarik kita menjauh dari jiwa kita, mengelabuhi kita dengan gangguan berupa pikiran, pandangan, dan keinginan orang lain.
Catchphrase: Life is short, and truth works far and lives long. Let us speak the truth.
Gottfried Wilhelm Leibniz, 1646.
Keyphrase: On the Ultimate Origination of Things.
Thought, Concepts & Theories: Why is there something, rather than nothing? Gottfried Wilhelm Leibniz adalah seorang filsuf dan matematikawan yang terkenal karena kontribusinya dalam bidang kalkulus dan penemuan sistem biner, serta gagasan filosofisnya tentang keberadaan alam semesta. Banyak pemikir sebelumnya telah bertanya mengapa alam semesta kita seperti ini, sementara Leibniz melangkah lebih jauh, mempertanyakan mengapa ada alam semesta sama sekali.
Bukankah alam semesta yang lebih sederhana adalah alam semesta yang tidak ada?
Menurut Leibniz, dunia tempat kita hidup diatur oleh Tuhan dan hukum-hukum yang memastikan dunia adalah versi terbaik yang paling mungkin. Salah satu cara untuk memahami implikasi pandangan Leibniz dengan lebih luas adalah dengan pertimbangan terhadap konsep determinisme. Determinisme adalah paham filosofis yang mengatakan bahwa semua peristiwa telah ditentukan sepenuhnya oleh kondisi awal dan hukum alam yang tak terelakkan.
Saya tidak sejalan dengan klaim Leibniz yang mengatakan bahwa alam semesta yang ini adalah yang terbaik dari semua alam semesta yang mungkin karena pandangan tersebut kurang memperhitungkan masalah penderitaan dan ketidakadilan, dan juga bergantung pada konsepsi Tuhan yang terlalu spesifik untuk dipadankan dengan kebenaran universal. Tapi saya bisa melihat pandangan Leibniz sebagai mekanisme pertahanan manusia untuk tetap waras di dunia yang penuh dengan pesimisme. Meskipun Leibniz tampak berlawanan dengan intuisi saya pada awalnya, saya melihat pandangan Leibniz sebenarnya tidak sedangkal itu.
Catchphrase:
Baruch Spinoza a.k.a Benedict de Spinoza, 1632.
Keyphrase: Etics. Pantheism. Amor Dei Intellectualis.
Thought, Concepts & Theories: Baruch Spinoza hidup sebagai pengrajin lensa optik dan mikroskop, ia menolak karier akademik dan dukungan finansial demi mempertahankan kebebasan berpikir. Karena pandangannya yang dianggap berbahaya, ia diasingkan oleh komunitas Yahudi pada usia 23 tahun. Namun justru setelah itu, pemikirannya menjadi jauh lebih matang.
Spinoza memulai dari keraguan sederhana: Mengapa manusia membayangkan Tuhan seperti manusia, berkehendak, murka, memberi hadiah, dan menghukum? Menurutnya itu bukan pengetahuan tentang Tuhan, tapi cermin ketakutan manusia itu sendiri.
Kemudian Spinoza mengambil langkah radikal. Ia berpikir bahwa jika Tuhan benar-benar sempurna dan tak terbatas, maka Tuhan tidak mungkin terpisah dari alam. Sesuatu yang menciptakan lalu berdiri di luar ciptaannya masih memiliki batas. Maka Spinoza berhipotesis bahwa Tuhan bukan sesuatu yang berada di luar dunia, Tuhan adalah dunia itu sendiri (Deus sive Natura).
Ketika ada dua substansi, mereka haruslah berbeda secara esensial. Tapi perbedaan esensial memunculkan batas. Maka hanya mungkin ada satu substansi.
Aksioma 1: Segala sesuatu berasal dari Tuhan.
Aksioma 2: Tuhan itu baik.
Teorema 1: Oleh sebab itu, segala sesuatu yang berasal dari Tuhan adalah baik.
Dengan menggunakan metode ini, Spinoza berupaya membangun sistem logis yang tak terbantahkan yang akan menjelaskan hakikat realitas, penderitaan, emosi, dan kebebasan. Idenya adalah bahwa melalui akal murni, seseorang dapat mencapai pemahaman lengkap tentang alam semesta. Spinoza berpendapat bahwa kebenaran filsafat seharusnya setegas kebenaran geometri.
René Descartes a.k.a Renatus Cartesius, 1596.
Search terms: Cogito, ergo sum.
Thought, Concepts & Theories: René Descartes menjadi pelopor rasionalisme, yaitu posisi filosofis yang menyatakan bahwa akal atau rasio merupakan sumber utama untuk menghasilkan pengetahuan. Ia berpandangan bahwa langkah awal menuju kebenaran adalah dengan meragukan segalanya.
Zhuangzi dan Descartes sama-sama mempertanyakan bagaimana kita tahu bahwa apa yang kita alami itu benar-benar nyata dan bukan mimpi?
Jiwoon Hwang, 1995.
Search terms: Promortalisme. Why it is always better to cease to exist.
Thought, Concepts & Theories: Jiwoon Hwang adalah satu dari sedikit sekali orang yang menjalankan pandangannya dengan serius. Hwang mengakhiri hidupnya sendiri pada usia 23 tahun.
Albert Casmus, 1913.
Search terms: The Stranger. One must imagine Sisyphus happy.
Thought, Concepts & Theories: Albert Camus adalah filsuf, penulis, dan jurnalis Prancis yang terkenal sebagai tokoh eksistensialis-pragmatis. Karya-karyanya menekankan pengalaman manusia dalam menghadapi absurditas hidup, situasi di mana dunia tidak memberikan makna inheren, namun manusia tetap harus hidup dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Dalam The Plague, Camus menyuguhkan refleksi yang mendalam tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup. Yang penting bukan Tuhan, bukan ideologi, tapi dokter yang tetap merawat orang sakit meski tahu mungkin itu sia-sia. Camus menekankan pemberdayaan melalui tindakan moral konkret, meskipun tanpa jaminan kosmik.
Catchphrases:
Bahwa saat ini Ibu telah dikuburkan, dan bahwa aku akan melanjutkan pekerjaanku.
Hari ini Ibu meninggal. Atau mungkin kemarin, aku tidak tahu.
Friedrich Nietzsche, 1844.
Search terms: The Gay Science. Eternal Recurrence.
Thought, Concepts & Theories: Andai hidupmu harus kau jalani lagi persis sama, selamanya, apakah kau akan mengutuknya atau merayakannya?
Saya dan Nietzsche punya semacam love-hate relationship, agak merinding emang. Saya paling tidak suka idenya yang Will to Power, tapi saya suka mengutip idenya yang lain. Salah satunya adalah tentang aphorisme, yakni teknik melepaskan keyakinan-keyakinan lama yang melulu didasarkan dari kebiasaan. Setelah saya menemukan pemikiran Nietzsche yang lain, saya pikir saya telah menyalahpahami Nietzsche. Saya akhirnya bisa melihat Nietzsche lebih dalam lagi.
Dalam Eternal Recurrence, Nietzsche memperlihatkan bagaimana suatu kondisi yang tidak menawarkan pilihan bisa memunculkan reaksi yang tragis bahkan kontradiktif dengan rasionalitas. Kemudian dalam Ecce Homo, Nietzsche menulis bahwa kekuatan manusia memiliki akar yang sama dengan kelemahannya. Dengan kata lain, kekuatan yang membuat manusia bahagia adalah kekuatan yang sama dengan yang membuatnya menderita. That's sound about right. Sangat menarik.
Catchphrases: And those who were seen dancing were thought to be insane by those who could not hear the music.
Anak panah adalah hidup, namun kerja dari panah adalah kematian.
Alan Watts, 1915.
Search terms: The Eternal Now. The Book: On the Taboo Against Knowing Who You Are.
Thought, Concepts & Theories: Alan Watts adalah seorang filsuf, penulis, dan pembicara asal Inggris. Ia lahir di dunia yang kaku dan penuh aturan. Sejak kecil ia sudah merasa ada yang tidak beres dengan cara orang dewasa memandang hidup. Di usia belasan, ia menemukan buku tentang Zen Buddhism. Di sana ia menemukan sesuatu yang tidak menggurui dan tidak menjanjikan apa-apa.
Catchphrase: You are the universe experiencing itself.
Remember too, that in almost all the stories you enjoy there have to be bad people as well as good people, for the thrill of the tale is to find out how the good people will get the better of the bad.
David Whyte, 1955.
The ultimate touchstone of friendship is not improvement, neither of the other nor of the self, the ultimate touchstone is witness, the privilege of having been seen by someone and the equal privilege of being granted the sight of the essence of another, to have walked with them and to have believed in them, and sometimes just to have accompanied them for however brief a span, on a journey impossible to accomplish alone.
Thomas Hobbes - 1588
Buku: Homo homini lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya.
Ide pemikiran: Hobbes menganggap manusia secara naluriah adalah mahluk amoral. Maka dari itu diperlukan aturan-aturan yang bersifat memaksa agar mereka tidak saling berbuat jahat dan merugikan kehidupan bermasyarakat.
Anton Chekhov - 1860
Buku: Gooseberries.
Catchphrase: Obviously the happy man feels good only because the unhappy bear their burden silently, and without that silence happiness would be impossible.
(n). Dan masih akan terus gue update.












