Under the Surface: The Elephant in the Room
David Benatar - 1966
Buku: Better Never To Have Been: The Harm of Coming into Existence.
Ide pemikiran: Kelahiran merupakan tindakan yang bermasalah secara etis.
Catchphrase: The absence of pain is good even if that good is not enjoyed by anyone, whereas the absence of pleasure is not bad unless there is somebody for whom this absence is a deprivation.
Paul Graham - 1964
Esai: Keep Your Identity Small.
Ide pemikiran: Pembicaraan tentang kebenaran dengan membawa identitas seringkali tidak produktif dan malah menimbulkan konflik, karena yang terjadi bukanlah diskusi tentang kebenaran melainkan perang identitas.
Catchphrase: Every words are inherently imprecise. But you can always make them break if you push them far enough.
Thomas Ligotti - 1953
Buku: The Conspiracy Against the Human Race.
Ide pemikiran: Baik optimisme ataupun pesimisme sama-sama menggambarkan bias psikologis manusia dibandingkan realitas ultima yang selamanya menjadi misteri.
Thomas Ligotti adalah tokoh filasafat yang paling mencuri atensi saya baru-baru ini. Saya terpukau dengan caranya memandang spekulasi konyol Mainländer. Dibanding menyepelekan, Ligotti memaknai spekulasi Mainländer sebagai absurditas seluruh usaha pemaknaan manusia tentang eksistensi.
Sebelum menemukan Ligotti, saya berpikir filsuf yang paling pesimis itu Schopenhauer, tapi saya kemudian menemukan Ligotti yang lebih berani lagi. Saya tahu Ligotti dari bahan bacaan tentang Mainländer. Setelah saya cari tahu lebih dalam, ternyata Ligotti jauh lebih relevan dari yang saya kira. Terutama setelah saya membaca ide pemikiran dia berikut:
Inilah pelajaran besar yang dipelajari oleh penderita depresi: Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang secara inheren menarik. Apa pun yang benar-benar ada di luar sana, tidak dapat memproyeksikan dirinya sebagai pengalaman afektif. Semuanya hanyalah urusan hampa dengan prestise kimiawi semata. Tidak ada yang baik atau buruk, diinginkan atau tidak diinginkan, atau apa pun kecuali bahwa itu dibuat demikian oleh laboratorium di dalam diri kita yang menghasilkan emosi yang menjadi dasar kehidupan kita. Dan hidup berdasarkan emosi berarti hidup secara sembarangan, tidak akurat, memberikan makna pada sesuatu yang tidak memiliki maknanya sendiri. Namun, cara hidup apa lagi yang ada? Tanpa mesin emosi yang selalu berderak, semuanya akan berhenti. Tidak akan ada yang bisa dilakukan, tidak ada tempat untuk pergi, tidak ada keberadaan, dan tidak ada orang untuk dikenal. Alternatifnya jelas: hidup secara keliru sebagai pion emosi, atau hidup secara faktual sebagai penderita depresi, atau sebagai individu yang mengetahui apa yang diketahui oleh penderita depresi. Betapa menguntungkannya bahwa kita tidak dipaksa untuk memilih salah satu atau yang lain, karena tidak ada pilihan yang benar-benar baik.
Saya tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan Ligotti, dia benar-benar menyampaikan pengetahuan intuitif saya tentang dunia dengan sangat tajam dan berani.
Another catchphrases:
Sebagai spesies yang sangat mementingkan kelangsungan hidup, keberhasilan kita diukur dari jumlah tahun yang telah kita perpanjang untuk hidup, dengan pengurangan penderitaan hanya bersifat insidental terhadap tujuan ini. Bertahan hidup dalam hampir semua keadaan adalah penyakit bagi kita. Tidak ada yang lebih tidak sehat daripada menjaga kesehatan sebagai cara untuk menunda kematian. Sejauh mana kita akan menunda napas terakhir hanya menunjukkan ketakutan yang mengerikan terhadap peristiwa kematian itu sendiri.
Kredo kaum pesimis adalah, bahwa ketiadaan tidak pernah menyakiti siapa pun dan keberadaan menyakiti semua orang.
Sebanyak apa omong kosong yang kita tanggung dalam hidup ini? Dan apakah ada cara untuk menghindarinya? Tidak ada. Kita ditakdirkan untuk menghadapi segala macam omong kosong: omong kosong penderitaan, omong kosong mimpi buruk, omong kosong kerja keras dan perbudakan, dan banyak bentuk serta ukuran omong kosong tak tertahankan lainnya. Semua itu disajikan kepada kita di atas piring, dan kita harus memakannya atau menghadapi omong kosong kematian.
We are gene-copying bio-robots, living out here on a lonely planet in a cold and empty physical universe.
Dia bener-bener muak sih.
Slavoj Žižek - 1949
Buku: The Sublime Object of Ideology. Less Than Nothing.
Ide pemikiran: Bagi Žižek, apitalisme bukan hanya tentang uang, tetapi cara manusia berpikir, berperilaku, dan memahami dunia, yang sering membuat manusia terjebak ilusi kebebasan.
Selain itu, Žižek juga memiliki pemikiran yang unik tentang cinta: sebuah tema yang ia bahas tidak sebagai perasaan romantis konvensional, melainkan sebagai pengalaman eksistensial yang kompleks, paradoksal, dan kadang provokatif. Ia menekankan bahwa cinta sejati sering melibatkan ketegangan, konflik, dan ketidaksempurnaan, sehingga berbeda dari pandangan populer yang idealistis.
Catchphrases: We feel free because we lack the very language to articulate our unfreedom.
Mencintai yang terduga berarti tidak mencintai sama sekali, karena kita sudah menebak, dan mengkalkulasi dirinya. Mencintai baru bisa dianggap sungguh mencintai, ketika kita mencintai orang-orang yang tak terduga, yang tak dapat kita terka, yang tak dapat kita bungkus dalam kesempitan konsep pikiran maupun keinginan kita. Orang lain, sejatinya, selalu berbeda, dan selalu mengancam cara hidup dan gaya berpikir kita dengan keberbedaannya. Orang lain dengan segala kelemahan, kerapuhan, keanehan, dan kesalahan yang sifatnya traumatik.
Jean-Paul Sartre - 1905
Buku: No Exit. Being and Nothingness.
Ide pemikiran: Sartre mengatakan bahwa pertemuan setiap manusia selalu menemui bentuknya sebagai konflik. Bagi Sartre, konflik bukanlah kecelakaan dalam hubungan sosial, melainkan struktur dasar eksistensi. Dalam Being and Nothingness, Sartre menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya: being-for-itself. Kesadaran ini selalu terbuka, tidak pernah selesai, dan terus-menerus membentuk dirinya melalui pilihan. Masalah muncul ketika kesadaran ini bertemu dengan kesadaran lain.
Catchphrase: Hell is other people.
Buat apa besi tajam yang merah menyala? Tidak perlu sama sekali. Neraka adalah orang lain.
Aku bebas, tapi kebebasanku terus-menerus terancam oleh tatapan orang lain.
Erich Fromm - 1900
Buku: The Art of Loving. Escape from Freedom.
Ide pemikiran: Fromm tertarik pada satu pertanyaan besar: Mengapa manusia modern, yang semakin bebas, justru semakin merasa kosong dan terasing? Dalam buku Escape from Freedom, Fromm berargumen bahwa kebebasan sering memicu kecemasan. Terlalu banyak kebebasan, manusia akan dilumpuhkan pilihan. Seseorang yang menerima kebebasan lebih dari yang mampu ia tanggung akan kewalahan dan rindu akan hadirnya familiaritas. Bagi Fromm, cinta adalah jawaban paling sehat atas keterasingan manusia.
Catchphrase: Love is not primarily a relationship to a specific person; it is an attitude, an orientation of character which determines the relatedness of a person to the world as a whole, not toward one 'object”'of love. If a person loves only one other person and is indifferent to the rest of his fellow men, his love is not love but a symbiotic attachment, or an enlarged egotism. Yet, most people believe that love is constituted by the object, not by the faculty.
Love is an act of faith, and whoever is of little faith is also of little love.
Martin Heidegger - 1889
Buku: Being and Time. Letter on Humanism. Poetry, Language, Thought.
Ide pemikiran: Why is there something rather than nothing? Kenapa pertanyaan sefundamental ini justru terasa asing dan tak penting?
Inilah yang menjadi kegelisahan awal Heidegger. Ia menyebut bahwa filsafat Barat, sejak Plato hingga para rasionalis dan ilmuwan modern, telah terlalu sibuk mengurusi entitas; objek-objek, substansi, sistem, dan melupakan dasar yang menopang semuanya: ada itu sendiri. Ia menyebut krisis ini sebagai kelupaan terhadap keberadaan. Heidegger merasa bahwa filsafat harus diselamatkan dari kelupaan ini.
Hanya makhluk yang sadar bahwa ia akan mati, yang bisa benar-benar merasa hidup. Karena hanya ketika kita sadar bahwa waktu kita terbatas, kita bisa berhenti hidup dalam kepalsuan dan mulai memilih hidup dengan sungguh-sungguh.
Catchphrases: Language is the house of being.
If I take death into my life, acknowledge it, and face it squarely, I will free myself from the anxiety of death and the pettiness of life.
Ludwig Wittgenstein - 1889
Buku: Tractatus Logico-Philosophicus.
Setelah Tractatus Logico-Philosophicus terbit, Wittgenstein merasa filsafat sudah selesai. Ia berpendapat bahwa bahasa terbatas, dan semua yang paling penting justru berada di luar batas itu. Ia berhenti mengajar, membagikan warisan keluarganya, dan menjadi guru sekolah dasar di desa terpencil.
Melalui pengalaman dan refleksi bertahun-tahun, ia menyadari pandangannya dalam Tractatus terlalu menyederhanakan cara kerja bahasa. Bahasa tidak bekerja sebagai sistem logis tunggal. Makna kata tidak ditentukan oleh korespondensi logis dengan dunia, melainkan oleh penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Catchphrases: Whereof one cannot speak, thereof one must be silent.
The problems are solved not by giving new information, but by arranging what we have known since long.
Rainer Maria Rilke - 1875
Buku: Sonnets to Orpheus. Letters to a Young Poet. No feeling is final.
Ide pemikiran: Dalam Letters to a Young Poet, Rilke menuliskan bahwa seorang manusia harus belajar 'berdiri sendiri dan menyelami batin' sebelum mampu mencintai atau memahami dunia. Manusia, ungkap Rilke, adalah makhluk yang terluka oleh kesadaran. Hidup bukan tentang menemukan makna secepat mungkin, tetapi belajar bertahan dalam ketidakpastian.
Catchphrases: There is only one thing you should do. Go into yourself. Find out the reason that commands you to write; see whether it has spread its roots into the very depths of your heart; confess to yourself whether you would have to die if you were forbidden to write. This most of all: ask yourself in the most silent hour of your night: must I write? Dig into yourself for a deep answer. And if this answer rings out in assent, if you meet this solemn question with a strong, simple 'I must', then build your life in accordance with this necessity; your whole life, even into its humblest and most indifferent hour, must become a sign and witness to this impulse.
Once the realization is accepted that even between the closest human beings infinite distances continue, a wonderful living side by side can grow, if they succeed in loving the distance between them which makes it possible for each to see the other whole against the sky.
Carl Jung - 1875
Bacaan: Shadow
Ide pemikiran: Shadow berisi sisi gelap yang merupakan kumpulan insting, naluri atau dorongan-dorongan negatif dalam jiwa manusia. Jung meyakini elemen mental manusia terdiri dari lapisan-lapisan. Lapisan pertama yakni persona, sisi terluar yang ditampilkan kepada orang lain. Di bawahnya ada anima, elemen maskulin dan feminim untuk memahami sifat lawan jenis dan bertahan hidup. Makin dalam terdapat shadow, sisi tergelap yang mengandung hasrat yang bertentangan dengan moral, sisi yang memungkinkan kita untuk menyukai hal-hal aneh.
Catchphrases: The shoe that fits one person pinches another, there is no recipe for living that suits all cases.
Words and paper, however, did not seem real enough to me, something more was needed. I had to achieve a kind of representation in stone of my innermost thoughts and of the knowledge I had acquired.
If a man knows more than others, he becomes lonely.
Philipp Mainländer - 1841
Buku: Die Philosophie der Erlösung. Suicide of God.
Ide pemikiran: Mainländer memodifikasi gagasan Schopenhauer. Di saat Schopenhauer berkata bahwa kehendak untuk hidup adalah sumber penderitaan, Mainländer berpendapat bahwa kehendak alam semesta sesungguhnya adalah kehendak untuk mati. Menurutnya, semesta lahir dari proses kematian Tuhan yang belum selesai.
Mainländer berspekulasi, begitu Tuhan sadar akan dirinya sendiri, Tuhan mengalami teror, ia kemudian menyadari ketiadaan lebih baik dibandingkan keberadaan. Tuhan pun menghendaki kehancuran dirinya sendiri. Melalui perspektif Mainländer, kematian bukan tragedi, tapi realisasi tujuan alam semesta, yakni kembali pada ketiadaan.
Menariknya, spekulasi konyol Mainländer tampak selaras dengan konsep ilmiah entropi kosmik. Berdasarkan hukum termodinamika II, entropi kosmik akan selalu meningkat seiring waktu, dan banyak fisikawan percaya bahwa ini menyiratkan alam semesta akan berakhir dalam 'kematian panas', suatu keadaan yang oleh para fisikawan disebut sebagai entropi maksimum.
Catchphrases: Pengetahuan bahwa hidup tidak berharga adalah bunga dari semua kebijaksanaan. Hidup adalah neraka, dan malam yang sunyi dan manis dari kematian mutlak adalah kehancuran neraka.
Dostoevsky Fyodor - 1821
Buku: Crime and Punishment. Notes from Underground.
Ide pemikiran: Dostoevsky percaya manusia tidak jahat sejak lahir, tapi memiliki potensi kejahatan yang sangat dalam dan cukup rapuh untuk memilih kejahatan paling ekstrem.
Catchphrase: The best way to keep a prisoner from escaping is to make sure he never knows he is in prison.
Pt. 2.
















