Pagi itu sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Saya melewati panjangnya lorong rumah sakit yang sepi. Seolah semua orang sedang sembunyi. Di balik ketakutan dan harapan yang sedang beradu.
Pagi itu saya bergegas bukan tanpa alasan. Keingintahuan saya pada berapa pasien saya hari ini selalu muncul. Rasa penasaran itu mencuat seperti hari-hari sebelumnya. Mengingatkan saya kembali pada ‘untuk apa saya berada di sini’.
Selama berjalan di lantai lorong rumah sakit yang panjangnya lumayan, saya kerap menoleh ke sekitar. Bersisipan dengan keluarga pasien yang mengantarkan sampel darah ke laboratorium. Dengan seorang anak muda yang menenteng obat-obatan yang baru diambilnya dari apotek. Dengan cleaning service yang di pucuk pagi sudah melaksanakan tugasnya.
Pagi itu, tujuan saya adalah bangsal di lantai atas. Bersembunyi di area paling belakang rumah sakit. Bangsal itu didominasi nafas-nafas renta. Sakit yang seolah tak ada akhirnya. Derita yang hilang timbul tak terkira.
Saya mempercepat langkah. Lorong mulai menyempit dan menanjak. Jantung saya bekerja lebih cepat. Nafas saya berlarian. Saya sebenarnya tidak punya waktu untuk berhenti, tetapi saya berdiam sejenak.
Aroma bangsal yang saya singgahi tiap pagi itu menguar. Mulai meresap ke pori-pori kulit saya. Lantainya yang baru saja dipel seperti menyambut saya. Keheningan yang bertengger di sana, menyekap saya dalam suasana yang tak biasa.
Saya pun mulai memeriksa berkas pasien. Melihat kesakitan-kesakitan mereka. Saya buat catatan kecil dengan jemari saya yang masih kaku. Kemudian saya menghampiri mereka satu demi satu.
‘Tidak banyak pasien hari ini,’ pikir saya.
Dari yang tidak banyak itu, ada satu yang mengganggu pikiran saya.
Seorang lelaki renta dipeluk begitu banyak penyakit. Terbujur lemah di salah satu bed dekat dinding. Di sampingnya, sang istri berada. Perempuan yang pun usianya serupa.
Pasangan kakek dan nenek ini selalu saya temui setiap pagi. Sang nenek terkadang tertidur di atas tikar lusuh yang dihamparkan di lantai. Yang kemudian saya harus membangunkannya, untuk menanyakan beberapa hal. Membuat saya menimbun rasa bersalah.
Barangkali baru sepersekian menit saja ia terlelap. Barangkali sepanjang malam ia berjaga untuk suaminya. Barangkali tulang-tulangnya sudah meronta kesakitan melawan dinginnya lantai rumah sakit yang sepi. Malangnya, saya harus menepikan kelebat pikiran itu.
Pagi pertama saya mendatangi mereka, sang kakek masih bisa berbincang. Bicara sepatah demi sepatah mengutarakan derita. Mana yang sakit. Mana yang mengganggunya. Apa yang buat ia tak bisa terlelap semalaman.
Kaki dan tangan sang kakek membengkak. Kadang-kadang ia sulit bernapas. Seolah belum cukup, ia harus didera nyeri sendi yang berkepanjangan. Kadar asam urat dalam darahnya menyedihkan. Memperburuk penyakit jantung yang memang sudah dideritanya sejak lama.
Sendi lututnya membengkak. Membuatnya tak seberapa bisa bergerak. Kesesakannya mulai dirasakan sang istri. Kedua manusia itu menanggung rasa sakitnya masing-masing.
Pada pagi kedua, sang kakek lebih memilih tidur. Memaksa saya bertanya pada nenek yang baru saja terlelap. Nenek itu bangun, terkesiap, dan menggelontorkan keluhan-keluhan kakek. Nenek tak tersenyum sedikit pun.
Pada pagi ketiga, sang kakek terlihat lebih baik. Ia bisa mengeluhkan semuanya meski masih terbata-bata. Sang nenek sekali-kali membantu memperjelas keluhan kakek. Lagi-lagi tak ada senyum di wajahnya.
Di hari yang baik itu, hanya tersisa sang kakek di ruangan bangsal kelas tiga di sisi yang satu. Sang nenek meminta supaya kakek dipindah ke ruangan kelas tiga yang ada penghuninya. Tim perawat ruangan mengiyakan. Setuju memindahkannya ke ruangan di sebelahnya. Dalam rangka menghalau kesepian yang tergugu seorang diri.
Esok paginya, pagi keempat, saya tidak lagi menemukan senyum di wajah sang nenek. Suaminya mulai mengalami penurunan kesadaran. Sebelah matanya sulit dibuka. Bicara pun tak sejelas kemarin.
Sang kakek yang mulanya datang dengan tekanan darah tinggi itu kini mulai drop. Tekanan darahnya turun tak disangka-sangka. Membuat kami mengeratkan pinggang. Observasi dimulai.
Nenek itu berkata pada saya dengan suara lirih, “Kemarin baik-baik saja, padahal. Kenapa hari ini (buruk) begini? Saya lelah, nak.”
Bulir-bulir itu merembes ke pipi sang nenek. Kelelahannya memuncak tanpa seorang lain pun tahu. Tanpa ada keluarga di samping mereka yang mengerti kelelahannya. Sang nenek terduduk tanpa berkata-kata.
Saya hanya bisa menenangkan sang nenek. Sembari memastikan obat-obatan mulai masuk. Dokter penanggung jawab menginstruksikan pemasangan selang hidung. Saya segera memasangnya. Berharap hari baik terulang kembali.
Namun tak sampai dua jam setelahnya, tekanan darah sang kakek turun lagi. Siang itu, alat pompa infus berisi obat mempertahankan tekanan darah dipasang. Sang kakek mulai gelisah. Tapi juga lemah. Kesesakannya, kesakitannya, rasa nyeri yang dulu ada barangkali sudah menjadi-jadi.
Hari itu saya merasa buruk. Entah apa sebabnya.
Siang hari itu, saya meninggalkan bangsal dengan bayang-bayang pertanyaan besar di kepala.
‘Akankah sang kakek masih memungkinkan untuk besok saya kunjungi di tempat yang sama?’
Malamnya, saya tertidur pulas di rumah. Melupakan sakit kepala. Dan meredam kesesakan, rasa takut kehilangan yang seharusnya tidak boleh saya rasakan.
Pulasnya tidur saya malam itu seolah memberi saya kesempatan istirahat. Mengijinkan saya menepi sejenak. Hingga saya berjumpa kehilangan yang sesungguhnya keesokan paginya.
Pagi itu saya datang dengan rasa penasaran yang membuncah. Dengan ketidaksabaran saya mengetahui kondisi sang kakek. Saya mencari berkas sang kakek namun gagal. Berkas itu ditaruh di tempat yang berbeda.
Saya bertanya pada perawat jaga malam. Katanya, sang kakek telah tiada. Malam itu, ketika saya sedang pulas-pulasnya tertidur di rumah, satu nafas renta meninggalkan raga. Menjadi buih-buih yang akan terus tinggal di hati siapapun yang mengenalnya.
Saya berjalan ke ruangan tempat kakek itu kemarin berada. Kosong. Semua benda mati dan hayati lenyap seketika. Tidak ada lagi saya temukan tikar terhampar di lantai. Dan perempuan renta itu, perempuan yang tak pernah tersenyum pada saya. Semuanya tidak saya temukan pagi itu.
Seketika dada saya terasa sesak. Rasa sesak yang sudah lama tidak saya rasakan.
Dua hari setelah kepergian sang kakek, saya melihat wajah yang tak asing. Seorang perempuan berusia renta yang tak pernah memberi senyum, berjalan ke arah saya. Ia berpakaian lebih baik, membawa tas pundak yang lebih baik, dan berjalan dengan lebih baik. Masih dari kejauhan, ia dan saya bertemu pandang. Sang nenek tersenyum pada saya, bahkan jauh sebelum ia berhadapan dengan saya.
Nenek ingin mengurus surat kematian sang kakek, katanya dengan senyum menghiasi wajahnya yang keriput.
Tidak ada lagi tangis dan sesak di udara. Senyum di wajah nenek membuat saya sadar. Bahwa perpisahan tidak selalu buruk. Bahwa melepaskan terkadang bisa lebih menenangkan. Bahwa kedukaan bukanlah antitesis kebahagiaan.
Senyum yang mengembang di wajahnya saat itu seolah meresap di ingatan. Menjadi pengingat untuk terus berharap tanpa takut kehilangan.
Di suatu tempat yang lebih baik, saya percaya, kakek bisa tidur selama yang ia mau tanpa perlu mengecap rasa sakit yang bertubi-tubi lagi.