Ketika mendapat nasihat yang isinya ajakan, sering terbersit dalam hati: “Ah, beliau mah levelnya beda, tentu aku belum bisa sampai situ.”
Ketika melihat pencapaian seseorang, kadang muncul lagi bisikan: “Ah, dia mah privilegenya banyak, jalannya lebih mudah.” dan lalala blablabla lainnya.
Mungkin itu semua hanyalah pembelaan diri agar tidak merasa ciut. Agar bagian diri yang “takut mencoba” dan inginnya merasa “nyaman” itu punya alasan yang sah untuk berdiam.
Ah bukankah aku tidak bersyukur? Lagi-lagi aku harus belajar lagi. Bahwa syukur tidak harus menunggu “nikmat” yang begitu besar. Tidak harus menunggu keinginan-keinginan kita tercapai.
Bisa jadi ketika semua keinginan tercapai, manusia biasa ini justru akan berjalan menentang langit, “sombong” begitulah kata yang tepat.
Belum lama ini aku belajar tentang hakikat “Rezeki”. Bahwa meski rezeki sudah pasti datangnya dari Allah, seperti tersurat pada ayat-ayat berikut:
“Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu” TQS al-An’aam [6]:142
“Benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki” TQS al-Ankabut [29]: 60
“Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah” TQS al-Ankabut [29]: 17
Manusia bukan berarti tidak perlu bersusah-payah mencari rezeki karena sudah dapat “jatahnya” masing-masing. Justru usaha itu adalah bagian dari rasa syukur, atas apa-apa yang telah Allah berikan pada kita.
Jadi syukur itu, bukankah bukan tentang siapa yang lebih beruntung? Bukankah bukan tentang siapa yang mendapat apa atau siapa duluan yang mencapai level mana?
Syukur justru hadir tanpa harus menakar sebab. Ia lahir di ruang sederhana, dari jantung yang masih berdetak tanpa diminta, dari sel-sel leukosit yang bekerja keras menjaga sehat tanpa diminta, dari rezeki yang kadang datang lewat pintu yang tak disangka-sangka.
Jadi, kenapa tidak berfokus pada apa yang ada pada diri?
Syukurku hari ini harus bisa menambah semangat lagi.
Syukur Tanpa Menakar Sebab















