Sehabis wisuda, adalah hari-hari yang rasanya seperti ujian, maksudnya banyak pertanyaan yang jawabnya pun bingung karena ga dapet kisi-kisi (apasih Pi, haha). Pertanyaan kapan kerja? udah ngelamar kerja belum? sampai ke pertanyaan fenomenal se alam dunia pun selalu menjadi “most favorite question” yaitu, kapan nikah? hehe, akhirnya hanya bisa saya jawab sebisa saya, yaitu dengan senyum.
Sebagai alumni jurusan yang baik, saya pernah coba melamar ke bank. Tapi alhamdulillah, mungkin memang bukan jodoh dan saya pun kurang minat, tidak ada panggilan apapun setelahnya. Sampai akhirnya saya coba lamar ke sebuah Sekolah Dasar. Saya melamar sebagai guru mata pelajaran, walaupun amat sangat jauh kalau dilihat dari jurusan yang saya ambil. Saya pun mengikuti tes-tes seleksi yang harus dilalui di SD tersebut. Saingan saya pun cukup berat, Sarjana Pendidikan dan mahir bahasa sunda pula(mulai menciut). Kenapa bahasa sunda? karena saya baru tau ketika tes microteaching ternyata guru mata pelajaran yang sedang dicari adalah Guru PAI dan Bahasa Sunda (rangkap 1 guru, alamaaak). Dengan hanya berbekal kemampuan ngajar TPA tiap ba’da maghrib dan ngementor di Salman, akhirnya saya paksa diri harus maju! masalah hasil saya serahkan ke Allah.
Di sebuah sore di hari sabtu, hp saya berdering dan Alhamdulillah ternyata saya diterima sebagai guru mata pelajaran di SD yang kemarin saya lamar. Jadi guru PAI dan bahasa Sunda? siapa takut? hehe. Semua berjalan amat sangat menyenangkan selama 2 tahun saya menjadi guru mata pelajaran lalu kemudian dilajutkan sebagai guru wali kelas selama setahun. Dan tidak ada yang bisa menebak arah jalan hidup seseorang, akhirnya saya disarankan tes kembali untuk mengisi posisi di kantor pusat, agar saya bisa lebih terjamin kedepannya, kata kepala sekolah. Alhamdulillah, Allah Maha Baik mengizinkan saya lolos di tes tersebut untuk pindah ke kantor pusat. Lalu dimulailah kehidupan saya sebagai perempuan kantoran (tsaaahh). Senang? Betah? Alhamdulillah, semua itu menambah pengalaman hidup saya. Hanya saja saya pribadi ternyata masih belum bisa ‘move on’ dari kehidupan sekolah, hehe. Akhirnya saya berdoa, minta kepada Yang Maha Baik agar saya bisa kembali ke sekolah (tapi setelah saya sadari ternyata harus lengkap ya kalau berdoa, haha). Beberapa bulan kemudian, saya dihubungi dan ditanya tentang keinginan saya untuk kembali ke sekolah. Allah memang Maha Baik, amat baik. :)
Setelah melalaui diskusi yg cukup lama antara para atasan dan Kepala Sekolah, akhirnya diputuskan saya kembali ke Sekolah, walaupun bukan kembali mengajar, tetapi jadi TU, hehe. Insya Allah cita-cita mengajar itu sedang saya pertimbangkan, saya usahakan. mohon doa restunya, hehe.