Menyebalkan sekali ketemu orang bodoh dan rese.

@theartofmadeline
Cosmic Funnies
Peter Solarz
art blog(derogatory)
Show & Tell
Sade Olutola
Acquired Stardust

roma★
Keni
Misplaced Lens Cap

Kiana Khansmith
occasionally subtle
ojovivo
cherry valley forever
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Andulka
Jules of Nature

oozey mess
hello vonnie
Lint Roller? I Barely Know Her
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Australia

seen from United States

seen from Mexico
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
@lookslikethisaa
Menyebalkan sekali ketemu orang bodoh dan rese.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hari ini aku belli Pizza
Bukan sesuatu hal yang spesial sih, hanya saja sepertinya perlu diarsipkan ditumblr wkw
Tiga hari yang lalu pengen sekali makan pizza, tapi ga langsung beli karena sebenarnya ga terlalu suka dan mikir mending uangnya dipake beli yg lain aja. Tpi tiba" pengen bangett, karena tadi sore liat teman kantor order pizza. Malamnya memutuskan beli juga, 5 varian sekaligus:) menurutku worth it kok jika kita ikuti keinginan sendiri. Meski yang aku makan hanya satu slice setiap varian dan besok nya aku bawa ke kantor dan tawarkan ke teman jika ada yang mau (walau rasanya ga enakan kasih pizza yg sudah dingin).
Pengen kalian semua tau kalo rasanya senang sekali bisa penuhi keinginan sendiri, tapi sedih juga karena makanan yang seharusnya jauh lebih nikmat jika dinikmati bareng keluarga tidak dapat ku bagi ke mereka karena berada diperantauan hmm.
Allhamdulillah, semoga rizkiku dan rezki kita semua berlimpah ruah. Aaamiin
Yang bikin duniamu terasa sangat berantakan itu bukan karena saking banyaknya masalah yang berdatangan, tapi karena jarak yang kau ciptakan dengan-Nya sudah sangat berjauhan
Jangan jahat-jahat ya jadi orang, siapa tau yang kamu sakiti itu laki-laki/perempuan tulang punggung keluarga yang tak punya pilihan lain selain bertahan di kantormu dengan penuh tekanan. Tak peduli kesehatan mentalnya sudah berapa kali remuk, dia bertahan agar keluarganya tetap hidup layak.
Jangan jahat-jahat ya jadi orang, siapa tau yang kamu lukai hatinya setiap kali marah adalah laki-laki/perempuan yang baru saja mengenal dunia kerja dan kini dia bisa saja berpikir untuk membalas dendam saat mereka mendapatkan posisi puncak nantinya.
Jangan jahat-jahat ya jadi orang, siapa tau yang kamu tak hargai kerja kerasnya adalah laki-laki/perempuan yang rela lembur tanpa gaji tambahan dengan mengesampingkan nyeri badan seharian duduk di depan meja kerja dan tak pernah mendapatkan apresiasi atas pekerjaannya. Malah kamu yang mengakui dengan bangga bahwa pencapaian atas kerja kerasmu.
Jangan jahat-jahat ya jadi orang, kita ga tau doa laki-laki atau perempuan sambil meneteskan air mata yang kelak jadi kenyataan. Bersyukurlah jika doa baik yang dia lontarkan. Jika buruk, tak ada yang tahu, hanya dia dan pencipta yang begitu menyayangiNya.
Selepas mendengar cerita kawan, 27 Mei 2025
Rajuami
Doaku ketika merasa khawatir
Ya Allah, aku menitipkan rasa khawatir ini kepadamu sebagaimana Engkau memberiku rasa bahagia.
Aku percaya atas segala ketidakpastian di hadapanku ini, Engkau menjaganya.
Bahkan di dalam perasaan yang tersesat ini, yang tak tau arah dan tidak mengerti harus bagaimana.
Engkaulah yang sebetulnya membolak-balikan keraguanku.
Yang kemudian membuat kakiku berani melangkah, mulutku berani mengutarakan sepakat.
Hanya Engkaulah mata angin yang menunjukan arah di dalam hati dan sanubari.
Lantas mengapa aku harus meragukanmu? Untuk apalagi aku mempertanyakan hidup yang telah Engkau anugerahi.
Jika semua yang aku jalani ini, adalah juga ketetapanMu.
Terima kasih telah menitipkan rasa khawatir, sebagaimana Engkau menegurku untuk kembali mengingatMu.
—ibnufir

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sedang menyadari bahwa; yang dahulu jadi teman dimasa lalu belum tentu akan jadi teman dimasa depan nanti.
Tiap orang punya garis hubung dan titik selesainya masing². Ada yang berhenti disatu fase, ada yang bahkan terus berlanjut garisnya hingga berjalan beriringan meski dilajur yang berbeda.
Tidak bisa kita paksa untuk garisnya senantiasa terhubung dengan kita. Sekeras apapun kita 'paksa', hubungan seperti punya usianya masing².
Tidak bertemu lagi dimasa depan bukan pertanda rusaknya hubungan, hanya saja terpisah secara alami sebab nilai hidup dan prinsip yang dipegang teguh.
Ruh-ruh kita akan mengenali yang sejenis, yang mirip dan serupa.
Jika ternyata sama, kita pasti akan bertemu lagi. Jika berbeda, kita hanya akan melihat dari kejauhan dan... mengenal sekadarnya saja.
Tangerang, 21 November 2024 | 21.24 WIB
Selesai dengan Diri Sendiri (II)
Disclaimer: part 2 ini agak berat, kalau mau skip langsung ke kesimpulan monggo. Jangan lupa baca part 1 yang lebih ringan di sini: Selesai dengan Diri Sendiri (I)
Menindaklanjuti ketidakpuasan pada pembahasan awal dengan temanku, aku terdorong mengulik lebih lanjut konsep framework dalam konteks selesai dengan diri sendiri yang juga berangkat dari pertanyaan lanjutan temanku.
Prinsip selesai (1) tuh poinnya ada di seberapa selesai kita dengan:
interaksi dengan Allah
interaksi dengan keluarga
interaksi dengan tongkrongan/ring 1/apapun istilahnya
interaksi dengan lawan jenis
interaksi dengan sistem
(Selesai tuh maksudnya bukan end yak, tapi clear, jelas, paham, mengenal)
Dan seberapa siap ego kita di learn-unlearn-relearn untuk terus mawas diri/aware saat ada bug/error/kerangka kerja yang rusak/ga relevan. Tau pemetaannya, di mana yang rusaknya.
Oh, ukuran selesaiku nggak 100% juga sebenarnya. Tapi dapat berarti kondisi keseluruhan sudah dipetakan dan dapat diganti "puzzle/block"-nya kalau udah ketemu yang lebih fit/baik/relevan/haq.
Beda kan ya, dengan orang yang pemetaan dirinya kurang dan nggak siap "unlearn" sesuatu karena gatau "learn" barunya harus ditaruh/diterapkan di mana. Atau masih betah sama learn (prinsip/pengetahuan/value) yang lama yang kurang relevan.
Kenapa tolok ukurnya 5 poin tadi?
Karena faktor yang paling mungkin mengubah framework (berperan paling besar) adalah interaksi dengan Allah, keluarga, tongkrongan/ring 1/apapun istilahnya, lawan jenis, dan sistem. Aku merasa, prinsip dan kerangka kerjaku sudah diatur ulang kembali di lima hal tersebut dan itulah yang kuanggap selesai versi (1).
Emang framework tuh apa sih?
Framework adalah kerangka kerja atau struktur dasar yang memberikan pedoman dan alat untuk membangun, mengembangkan, atau mengorganisasikan sesuatu secara efisien. Contoh framework dalam pengembangan aplikasi web adalah Django (untuk Python). Yang pernah belajar bahasa pemrograman kayanya bakal mudah kebayangnya.
Ada unsur-unsur pembentuk framework, di antaranya:
Struktur: tata letak dasar yang mengatur bagaimana komponen atau bagian-bagian saling berinteraksi. Misalnya berupa aturan untuk pengelompokan kode, pola desain, dan pengaturan modul.
Fungsi dan Komponen yang Siap Pakai: membantu mempercepat proses pengembangan. Misalnya, framework web biasanya memiliki pustaka atau modul untuk menangani otentikasi, routing, atau manajemen basis data.
Konvensi dan Aturan: mencakup cara penamaan variabel, tata cara pengelolaan file, atau standar alur kerja yang membuat kode lebih terorganisir dan mudah dipahami.
Workflow: proses kerja yang sistematis, di mana dokumen atau informasi dialirkan dari satu pihak ke pihak lain untuk tindakan lanjutan.
Modularitas: prinsip development yang memecah suatu sistem besar menjadi bagian-bagian lebih kecil, yang disebut modul, yang masing-masing dapat berfungsi secara independen tetapi tetap bisa diintegrasikan untuk bekerja bersama. Dengan ini, sistem mudah dikelola, dikembangkan, diubah, dirawat, digunakan kembali, dan diperbaiki tanpa harus mempengaruhi keseluruhan sistem.
Antarmuka (API): memungkinkan pengembang untuk berinteraksi dengan fitur-fitur framework tanpa harus memahami detail implementasi di baliknya.
Template atau Blueprint: membantu memandu proses pembuatan dan pengembangan, seperti skema dasar atau pola desain yang sudah siap pakai.
Libraries atau Pustaka: berisi fungsi-fungsi penting untuk menangani tugas-tugas umum, seperti validasi input, pengelolaan data, atau integrasi dengan layanan eksternal.
Alat Pengembangan (Tools): alat bantu seperti debugger, compiler, atau alat manajemen dependensi yang mempermudah dan mempercepat proses pengembangan.
Dokumentasi: bagian integral dari framework yang membantu developer memahami cara menggunakan komponen framework, aturan, dan contoh implementasi.
Bagaimana analoginya dalam kehidupan?
Struktur: ritme harian, peran dan tanggung jawab sosial, hierarki atau prioritas value
Fungsi dan Komponen Siap Pakai: skill atau keterampilan praktis (misalnya bersosialisasi, public speaking, memasak, mencuci, menyetir, dll.)
Workflow: alur pendidikan, pencarian identitas, karier atau pekerjaan, pernikahan, dsb.
Modularitas: hubungan sosial, hobi dan komunitas, karier, studi, dsb.
Konvensi dan Aturan: Al-Qur'an, syari'at, norma, adat istiadat, moral, dsb.
Antarmuka (API): pembawaan, bahasa, tata krama, ekspresi, lisan, tulisan
Template atau Blueprint: grand design kehidupan (life plan), target pendidikan dan karier, peta spiritual
Library atau Pustaka: preferensi bacaan, pemahaman, pengalaman hidup, skill/keterampilan, value/prinsip hidup, dsb.
Tools: input (mata, telinga), proses (akal, hati, fitrah, syakilah), output (lisan, tulisan, tindakan)
Sekarang masuk ke Algoritma
Algoritma adalah serangkaian instruksi atau langkah-langkah yang jelas dan terdefinisi dengan baik untuk menyelesaikan suatu masalah atau melakukan tugas tertentu. Maka sifatnya kontekstual yakni sering kali disesuaikan dengan kebutuhan atau masalah yang dihadapi pada saat itu. Contohnya dapat digunakan untuk pengolahan data, perhitungan, atau tugas-tugas otomatis lainnya.
Algoritma berfungsi menentukan bagaimana suatu tugas spesifik diselesaikan. Seperti resep atau prosedur yang harus diikuti untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Jadi apa yang membedakan framework dan algoritma?
Struktur vs. Instruksi: Framework lebih fokus pada struktur dan kerangka kerja yang memungkinkan pengembangan yang lebih mudah dan terorganisir, sementara algoritma lebih fokus pada instruksi spesifik untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Penggunaan Kembali vs. Penyelesaian Tugas: Framework sering kali dirancang untuk digunakan kembali dalam berbagai proyek, sedangkan algoritma biasanya digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas spesifik dalam konteks tertentu. Framework memberikan struktur dan alat, sementara algoritma menyediakan solusi spesifik untuk masalah yang dihadapi dalam konteks framework tersebut.
Dan aku menghubungkan kedua konsep ini dengan frasa "selesai dengan diri sendiri"
Menurutku, itu artinya kita udah punya framework yang ajeg yang akan dipakai berulang-ulang dalam setiap problem solving dan decision making.
Tapi katanya, selesai dengan diri sendiri adalah perjalanan seumur hidup?
Menurutku, di konteks kedua ini justru lebih kepada algoritmanya akan jalan terus sepanjang hidup. Ya namanya hidup kan pasti dihadapkan terus dengan masalah dan pilihan yang harus di-solve dan di-decide.
So..
Penutup:
Aku paling merasa aman dengan mereka yang frameworknya udah ajeg, yang tentunya mencakup nilai-nilai yang dipegang (selaras/nggak jauh beda). Ini tahapnya udah bukan "values attract values" tapi "framework attract framework" alias mereka yang "struktur/bangunan" pemikirannya sama, maka mereka akan "bertetangga" secara pemikiran dan sikap.
Bukan merasa paling benar, cuma setidaknya mengusahakan terus mencari "bug system" dan coba memetakan itu (lizzakaati faailuun). Pemetaan itu butuh self awareness dan empati juga + kemampuan baca realita, supaya gambaran besarnya bener, jalan yang dipilihnya nggak kontraproduktif dengan tujuan/ideal yang pengen dicapai.
Btw, analogi di atas pun kayaknya perlu direvisi kembali sebab aku hanya belajar pemrograman tipis-tipis. Bisa saja ada analogi yang keliru. Jadi, akan kurevisi jika ada masukan. CMIIW!
— Giza, buat next-nya, berarti pakem untuk istilah "sekufu" adalah "sekufu framework", kan?
Memilih Pasangan Hidup
Setiap orang jelas memiliki valuenya masing-masing. Dan ketika kita bicara value, ini bisa bertentangan satu sama lain. Hanya saja, tulisan ini tidak ingin mempertentangkan itu. Penulis akan menggunakan sudut pandang orang pertama yang bersumber pada pengamatan, karena ini hal yang dirasa berlaku secara universal. Ada tiga hal yang mau kutulis, di luar soal bagaimana hubungan ia dengan Tuhannya. Aku mau nambahin beberapa aspek yang menurutku sangat krusial untuk dipertimbangkan secara mendalam.
Pertama, cara bicara dan apa yang dibicarakan. Karena dua hal tersebut mencerminkan isi kepalanya. Kalau kamu mendapati orang yang suka bergunjing, sindir menyindir, memfitnah, berkeluh kesah, berkata kasar, dan berbagai macam pembicaraan buruk. Pikirkan ulang untuk memilihnya sebagai pasangan hidup. Mungkin ia bisa jadi fit sama kamu, tapi apakah itu yang kamu harapkan saat kalian menjadi orang tua dan mendidik anak? Sampai sekarang, dalam berbagai kesempatan dan pengamatan. Kenapa anak-anak yang kutemui bisa sekasar itu, bisa senegatif itu, salah satunya dampak dari bagaimana bahasa dan cara bicara sehari-hari orang tuanya. Apalagi saat di level orang tua menganggap pembicaraan itu sebagai hal yang biasa, bukan hal buruk.
Bagiku, lebih penting mengajarkan anak bisa berbahasa yang baik alih-alih bisa banyak bahasa. Karena kalau ia bisa menggunakan bahasa yang baik, tahu tata bahasa, tahu kapan penggunaan dan cara menggunakannya dalam beragam situasi. Itu jauh lebih penting daripada ngajarin dia bisa bahasa macem-macem. Nanti kalau sudah besar, ia bisa belajar bahasa-bahasa yang lain. Kedua, hubungannya sama harta. Ini sebuah hal yang mungkin tidak bisa secara kasat mata dilihat, tapi bisa diamati jika sudah mengenal. Bagaimana cara pandangnya terhadap uang. Apakah segala sesuatu diukur dari uangnya. Apakah uang jadi tujuan hidupnya. Apakah pengambilan keputusannya sangat bergantung dengan ada tidaknya uang. Dan berbagai percakapan yang bisa kamu simpulkan sendiri, ini orang dikit-dikit nyingung duit. Mulai pertimbangkan lagi. Uang (harta) penting, tapi bukan segalanya. Tidak semua hal didunia ini diukur dengan uang. Nanti kita lupa untuk bisa belajar ikhlas, bisa belajar tulus. Mengira semua hal pasti ada maksud dan tujuannya. Melakukan sesuatu karena ada maunya. Karena nanti anak-anak pun akan belajar cara hidup dan cara berpikir kita sebagai orang tuanya. Dan saat itu, saat kita mulai berhitung. Semuanya akan jadi transaksional. Ketiga, bagaimana ia ngehargai dirinya sendiri dan ngenal dirinya sendiri. Orang-orang yang pandai menghargai dirinya sendiri akan mudah respect sama orang lain. Bisa membuat keputusan-keputusan penting untuk dirinya dengan lebih mudah. Nanti, saat kita jadi orang tua. Ada banyak sekali keputusan yang bakal diambil, aku nemu banyak sekali orang tua yang membuat keputusan yang bagiku aneh, bahkan cenderung tidak masuk akal untuk hal-hal yang amat sederhana. Penilaian ini memang subjetif, tapi jika mau dilihat secara objektif pun tetap aneh.
Kemampuan untuk membuat keputusan yang baik adalah bekal yang krusial saat jadi orang tua. Karena waktu anak-anak kita masih kecil, kitalah yang akan membuatkan keputusan untuk mereka. Menemukan orang yang mengenal dirinya dan menghargai dirinya sendiri jadi sesuatu yang menurutku perlu untuk diupayakan. Selain kita juga berusaha untuk jadi seperti itu. Seseorang yang tak bisa membuat keputusan justru akan merugikan dan merepotkan orang lain, entah anaknya sendiri, pasangannya, atau bahkan orang-orang di sekitarnya. Semoga membantu :) (c)kurniawangunadi
Aku kadang menghilang. It's my thing. Tak ada yang memperhatikan, tapi ada hari di mana aku memilih untuk menutup pintu hati, dan fokus mencoba melewati hujan dan pikiran sedih yang selalu menemukan jalannya ke permukaan.
Ada saat-saat ketika orang-orang mungkin membutuhkanku namun aku tidak dapat dijangkau. Ketika telepon berbunyi, aku hanya akan menatap penelepon dan menunggu untuk berhenti karena aku tidak ingin berbicara. Kuharap mereka tidak keberatan. Aku tidak pernah bagus dalam hal membuka diri kepada orang lain, atau dengan berbagi beban duniaku, dan kupikir itu seharusnya tidak apa-apa. Kita semua berjuang dalam pertempuran yang tidak kita ceritakan kepada siapapun.
Jangan salah sangka, hidupku banyak momen bahagia. Tapi kadang-kadang aku menghilang untuk menyelamatkan diriku, dan aku berharap itu bukan hal yang egois untuk dilakukan. Aku hanya ingin memenangkan pertempuranku juga.
— Jun Mark Patilan
Veronika Memutuskan Mati, Paulo Coelho
Veronika memutuskan mati diusianya yang ke 24 setelah menyimpulkan bahwa hidupnya tidak lagi bermakna. Apa yang bisa ia harapkan kepada hidup yang berlangsung secara berulang tanpa hal baru. Hidup kedepannya pasti lebih sulit, pikirnya. Lebih baik mengakhirinya lebih cepat. Veronika memutuskan mati.
Kadang ia berpikir; Bila saja aku punya pilihan, bila saja aku tahu sejak awal bahwa penyebab hari-hariku terlihat sama adalah karena aku memang membuatnya demikian, barangkali.... Namun jawabannya selalu sama: Tidak ada barangkali, karena pilihan itu tidak ada.
Ia benci tidak bisa melakukan hal gila yang dianggap tidak normal oleh orang. Ia cantik, muda dan berpendirian serta memiliki keluarga yang menyayanginya. Ia seakan ingin membuktikan pada dirinya betapa kuat dan teguhnya dia, padahal ia sebenarnya adalah perempuan rapuh.
Ia berusaha terlihat mandiri, padahal sebenarnya perlu orang lain.
Ia memberikan kesan kepada teman-temannya sebagai perempuan yang patut dicemburui, dan seluruh tenaganya dicurahkan untuk menjaga citra yang dibentuknya sendiri;|
Veronika tak peduli lagi, tak membiarkan orang masuk mengenali dirinya, ia berpura-pura kaku dan menutup diri. Namun ia punya alasan. Ia begitu takut, takut dengan sikap manusia yang tidak terduga dan orang lain sulit dimengerti. Kadang mereka bersikap manis kemudian mereka seolah tidak peduli terhadap apapun. Dan ketika Veronika bersifat lebih terbuka, tiba" orang lain menolak kehadirannya atau membuatnya menderita. Veronika takut.
Setelah percobaan bunuh diri dengan menenggak pill tidur namun tidak berhasil. Ia memiliki waktu bertahan hidup 5 hari kata dokter setelah gagal mati di tempat. Menyadari hidupnya tidak lama lagi, Ia memilih menjadi gila hanya sebagai alasan untuk bisa melakukan apapun yang tak bisa ia lakukan jika menjadi Veronika yang normal.Tidak akan ada yang menghakimi kegilaan yang akan dilakukan. Tidak ada yang peduli dan Veronika lebih tidak peduli.
Ia biarkan perasaan itu menyeruak, tidak peduli apakah itu baik atau buruk; Ia lelah dengan apa yang disebut pengendalian diri, topeng, sikap baik. Ia tidak mau lagi bersikap manis dan berbicara dengan orang lain ketika ingin sendiri, sekarang ia bebas merasakan kebencian.
Saat itu Ia benci segalanya: Dirinya, dunia, orang-orang baik, penjahat. Veronika benci segalanya, terutama caranya menjalani hidup selama ini, yang tidak pernah berusaha menemukan ratusan Veronika lain dalam dirinya yang menarik, gila, penuh rasa ingin tau, berani dan tegas.
Itulah yang harus dilakukan; tetap dalam keadaan gila, tetapi bersikap seperti orang normal. Namun bersiap menanggung risiko karena berbeda dengan orang yg disebut normal.
Anw, saat baca buku ini, saya sempat berpikir untuk bertindak gila jga dlm hidup, namun sya belum bisa menjadi Veronika yang memutuskan mati.
Tetapi saya membaik, mari tertawa. Sekarang berani menulis tanpa takut dinilai. Sekian.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Your Istighfar Need Istighfar."
Begitulah yang sahabat Ali bin Abi Thalib katakan kepada seseorang yang beristighfar tanpa disertai kesadaran. "Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah," kalimat itu keluar dengan sangat mudahnya.
Ini berkaitan dengan ekspektasi, soalnya sebagian orang, jauh di dalam pikirannya, sudah menginternalisasi asumsi bahwa:
"Aku sudah banyak melakukan hal buruk. Aku tau Allah nggak mau aku melakukan hal ini, tapi aku tetap melakukannya dan aku ulangi lagi berkali-kali. Doaku tidak berarti. Apakah taubatku yang sekarang benar-benar dapat menghentikan semuanya secara total?"
Kamu tau nggak? Saat kita berasumsi tentang seseorang, akan muncul kecanggungan atau suasana nggak betah saat berlama-lama berhadapan dengan orang tersebut.
Oalah, makes sense. Ternyata pengen cepet-cepet beres saat shalat, dan beristighfar tanpa melibatkan kesadaran yang lebih dalam, adalah indikator bahwa kita sedang canggung kepada Allah sebab berasumsi tentang Dia yang tidak sesuai dengan sifat-Nya.
Bahkan ya, di momen canggung ke Allah kaya gini, aku sampai di titik seneng/berharap didoain orang lain karena nggak pede dengan doaku sendiri. Karena kupikir orang lain punya hubungan yang jauh lebih baik dengan Allah daripada aku. Pikirku:
"Apakah doa yang datang dari hamba yang kotor ini punya kesempatan untuk di-notice Allah? Masih banyak doa lain dari hamba yang lebih saleh yang perlu diprioritaskan deh kayanya? Aku kurang pantes untuk dapat perhatian itu."
*sebelum lanjut, disclaimer bahwa tulisan ini mungkin tidak bisa diselesaikan dengan 100% consciousness terutama bagi yang memiliki kemalasan emosional untuk berhadapan dengan dirinya sendiri
Tapi surat Nuh (71) memberiku keyakinan yang ingin terus menerus aku re-learn sepanjang hidupku. Omong-omong surat ini punya hubungan paling personal dalam hidupku, surat yang pernah paling jauh mencapai kedalaman hatiku dan punya tempat tersendiri secara emosional di hatiku, seperti kisah Nabi Yunus di urutan kedua.
Bayangkan, untuk ukuran kaum yang dikasih umur panjang dan kesempatan bertaubat lebih banyak, namun terus menerus melakukan kesombongan yang sulit digambarkan (wastakbarustikbaro), Allah saja beri keoptimisan. Apalagi untuk kita yang (mudah-mudahan) tidak sesombong kaum Nabi Nuh.
Bahkan istighfarmu perlu diistighfari.
Emang istighfar itu seharusnya gimana? Kata "istighfar" punya tiga arti:
Meminta ampunan (ask)
Menginginkan ampunan (want)
Mencari ampunan (try to, looking for)
Orang-orang yang punya kemalasan emosional hanya stuck di tahap satu. Kadang-kadang kita meminta ampunan, tapi dari sikap, perhatian, dan kesadaran, keliatan jelas kalau kita ga pengen-pengen amat.
Sama kaya anak kecil yang bertengkar lalu disuruh minta maaf. Ya udah, mereka lakukan sambil memalingkan wajah dan tidak menghadirkan perasaan bersalah. Tidak benar-benar menginginkan pemaafan itu sendiri.
Aku pernah menyuruh seseorang berhenti meminta maaf saking kesalnya karena dia cuma meminta maaf berulang kali tanpa realize seberapa fatal kesalahannya. Kata orang sunda mah haha-hehe dengan watados (wajah tanpa dosa).
Maka kita tidak seharusnya beristighfar sampai kita sadar (notice-realize-aware) akan hal-hal buruk yang kita lakukan serta menyadari tingkat kefatalannya.
Konyolnya kita suka berpura-pura tidak terjadi apa-apa antara kita dengan Allah. Merasa tidak berutang apapun terhadap Dia yang memberi kesempatan hidup. Duh, paling tidak, milikilah rasa bersalah (feeling bad) dan cobalah ubah diri!
Kita harus menginginkan ampunan. Meminta itu perkara lisan, tapi menginginkan itu perkara hati. Dan istighfar menggabungkan kedua perkara ini. Kemudian, mencari ampunan artinya kita mencoba melakukan usaha agar diampuni. Lidahnya terlibat, hatinya terlibat, serta orangnya, waktunya, tindakannya juga terlibat.
Selain mengingat seberapa fatal hal buruk yang kita lakukan, bagian dari mencari ampunan Allah juga adalah membenahi hal-hal yang seharusnya bisa kita lakukan dengan lebih baik serta memperhatikan hal-hal yang selama ini kita sepelekan. Untuk pembahasan fatal dan sepele, bisa merujuk ke tulisanku tentang Sense of Urgency and Severity.
"Innahuu kaana Ghaffaraan."
Dialah yang sudah, masih, akan, terus menerus, mengampuni. Dengan kata lain, bahkan jika kamu tidak meminta ampunan, sudah banyak hal yang Dia ampuni atas perilakumu. Sudah banyak hal-hal yang sebenarnya kamu layak dihukum secara langsung, tapi Allah memberikanmu kesempatan.
Di lain surat, Allah mengatakan, "jika Allah menghukum manusia karena dosa yang diperbuatnya, maka tidak ada satupun manusia yang tersisa."
Artinya, bahkan ketika kita tidak meminta ampunan atas banyak hal, sesungguhnya Allah sudah mengampuni kita. Tapi terlepas itu, ampunan akan berhenti saat kita wafat dan kita akan dihakimi di akhirat jika tidak bertaubat.
Jika Allah sudah selalu mengampuni, lantas untuk apa kita meminta ampun?
Meminta, menginginkan, dan mencari ampunan bukan jaminan akan memperoleh ampunan. Maka fungsi beristighfar di hadapan Allah adalah untuk memposisikan diri kita serendah-rendahnya sebagai makhluk dan hamba yang tidak sempurna, lemah, dan rentan berbuat salah. Untuk melatih ego agar jadi biasa patuh pada perintah Allah. Serta untuk menunjukkan bahwa Allah—tidak diragukan lagi— selalu jadi tempat kembali seburuk apapun kita keadaannya.
Know ur place, human! Jangan karena Allah Maha Pengampun, kita jadi seenaknya berbuat.
Semoga kita punya kesediaan dan energi untuk menyelami dan berhadapan dengan pekatnya lumpur dosa diri sendiri, serta Dia berikan kemampuan untuk "lizzakaati faailuun" alias "proaktif dalam membersihkan diri."
— Giza, re-learn makna istighfar sambil terus unlearn asumsi yang keliru tentang Allah (nangis dikit ga ngaruh)
Sumber rujukan:
Ust. Nouman Ali Khan
Tafsir Abul A'la al-Maududi
Kamu masih percaya kan? Takdir terbaik itu datang, saat kamu membutuhkannya.
Sing tenang ya..
Kun faya kun, At the end all our words, all our decisions need Allah’s kun. Everything happens for a purpose. It is Allah’s will for us to meet or be away from anyone. Everything is for our betterment. All you have to remember is nothing is impossible for Allah. When Allah commands something to be done then it always happens no matter how hard that may in your eyes. His one single order is heavy on all your decisions. He is capable of anything, everything. He can change your fate in the blink of an eye. Allah will show you the way He has planned a beautiful miracle for you. He has promised you ease after hardship. just keep trusting Him. Allah delayed something in your life, only to have this sincere state of heart from you, so that He can open up the doors for you. And there’s no door that Allah can’t open. When decisions come from heaven, the world does not stop them. So just believe in your prayers and keep asking Allah what you want and watch Him do wonders.
Pray about it. Your mood swings, your temper, your ego, your insecurities, your mindset, your emotional state, your environment, your relationships, your lack of motivation, your lack of execution, ur attraction to bad people. Give Allah every piece of you. Pray about it all.
Tidak ada yg bisa menjatuhkan wanita yang tidak takut makan sendiri diluar, kehilangan teman, tidak peduli di tolak, gak tolerate kepada mereka yg tidak bisa respect

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kesalahan Sebelumnya
Mungkin, ada orang-orang yang tidak pernah memaafkanmu atas kesalahan-kesalahanmu di masa lalu. Saat dirimu masih naif, keras kepala, mudah tersinggung, tidak peka, kurang sabar, dan segala hal reaktif yang pernah terjadi di masa itu, membuatmu mungkin pernah salah bertindak atau berucap. Hingga orang lain pun menjadi marah kepadamu dan kemarahan itu masih hinggap hingga hari ini.
Meski kamu telah berubah, telah memahami bahwa kamu salah, telah meminta maaf. Mungkin itu tidak akan membuatnya memaafkanmu. Jika sudah sampai di situ, ya sudah. Selama kamu sudah meminta maaf, sudah selesai. Karena selebihnya tidak ada dalam kendalimu.
Dari situ, mungkin kita akan sama-sama belajar bahwa sangat mungkin orang itu berubah. Hati seseorang sangat mungkin untuk berubah. Memang semua itu bukan dalam kendali kita, tapi mari kita sama-sama belajar untuk menempatkan diri sebagai orang yang mungkin tersakiti.
Jika suatu hari nanti orang yang telah menyakiti kita di masa lalu telah berubah, apakah kita cukup luas hatinya untuk memaafkan?
Kita pun kadang salah menilai orang, terlalu cepat menyimpulkan. Terlalu liar perkataan kita hingga tak sadar bahwa sebenarnya kitalah yang menciptakan masalah. Mungkin ketidaksukaan dan kebencian membuat pikiran kita tidak cukup adil saat itu. Tidak adil untuk melihat bahwa begitu banyak kebaikan yang sebenarnya ada di antara masalah-masalah yang sedang terjadi. Tapi, hati yang keras tentu akan susah diajak bicara.
Saat kita semakin tumbuh dewasa. Saat kita melihat dunia ini tidak hanya berkaca pada kebenaran dari persepsi sendiri, kita mungkin akan melihat bahwa ada banyak hal baik, ada banyak sekali niat baik di sekitar kita, ada banyak yang peduli, ada banyak sekali yang tidak memiliki niat buruk. Tapi karena hati kita yang sudah terlanjur keras, terlanjut sempit menilai, semua kebaikan itu menguap tak bersisa, menyisakan pandangan mata yang picik. Hingga merasa diri ini menjadi korban dari segala kejadian, alih-alih menyadari bahwa kesempitan hidup berasal dari sempitnya hati menerima perbedaan.
(c)kurniawangunadi
Bercerita
Setiap kisah pasti ada bagian terbaiknya, yang terkadang itu adalah bagian tersedih dalam kisahnya, atau bagian paling bahagianya.
Bukan, bukan soal kisah seseorang, tapi soal kisah hidup kita masing-masing. Andai hari ini gemuruh dan hujan lebat sedang datang padamu, tak apa, pertanda langit akan segera cerah dan itu bisa menjadi bagian terindah dari kisah yang akan kamu kenang.
Pastikan saja, bahwa setiap langkah kaki dan potongan perjalanan kita ini adalah untuk mencari keberkahannya. Bukankah hidup tanpa keberkahan itu layaknya mayat yang berjalan? Raganya hidup tapi hatinya mati.
Aku tahu dan aku pun pernah melakukannya, sekadar menyendiri sesaat untuk menangis, sebab hidup ada saatnya harus menangis, ada saatnya pula hidup harus tertawa bahagia.
Aku hanya punya 1 doa yang biasa aku panjatkan dan sampaikan pada-Nya, pada pemilik dunia dan masa depan.
"Yaa Allah, muliakan hidupku, bimbing langkahku, ingatkan dengan lembut setiap khilafku, jangan engkau ambil nikmat yang kau berikan, ajari aku sacar bersabar dan bersyukur dengan kenikmatanmu, dan matikan aku dalam kebaikan"
Doa yang begitu singkat, tapi itu menenangkan untukku, barangkali juga menenangkan untukmu.
Selamat menulis kisah :')
@jndmmsyhd