Currently in this era💧
almost home
Show & Tell
TVSTRANGERTHINGS
ojovivo
One Nice Bug Per Day
RMH
taylor price
Cosmic Funnies
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
🪼

Origami Around
YOU ARE THE REASON
d e v o n

@theartofmadeline
will byers stan first human second

⁂

oozey mess
Three Goblin Art
Sade Olutola
seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from Greece
seen from United Kingdom
seen from Brunei

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Türkiye

seen from Indonesia

seen from United Kingdom

seen from Singapore

seen from United States

seen from France

seen from Brunei

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Indonesia
@littlethingsaround
Currently in this era💧

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
tadinya mau tidur siang, tapi kata kata ini mangkal di kepala :") Ya Allah emang akutuh suka nulis ya?
Mungkin menulis sudah jadi salah satu coping mechanism atau merawat sisi feminin dengan mengalirkan apa apa yang perlu dialirkan
Desember gimana? Dar der dor, perhaps? :")
Masih cukup menempel pada rasa dalam sukma bagaimana adik ku rayakan dalam dua bulan, lalu kulepaskan selang kabar waktu satu hari. Sebuah pemberian dari Allah yang dititipkan, yang ternyata bukan milikku sama sekali.
Masih sedih ketika hanif berkali kali bilang kalau kita jalan jalan berempat sama adik, lupa kalau sehari sebelumnya umma sudah jelaskan panjang lebar kalau rumah adik sudah dikeluarkan sama dokter dari perutnya umma..
Ternyata sekarang akulah ibu itu. Ibu yang pernah kehilangan. Kehilangan sesuatu yang sebenarnya bukan milikku, tapi rasanya masih ingin ku sediakan satu sudut untukku bersedih dan menangis. (Ya Allah berilah keturunan bagi para ibu yang menunggu. Aku yang menunggu barang berapa bulan saja masih sedih mengingat adik :"" Ya Allah kuatkan mereka, para ibu yang menunggu. Para ibu yang berduka..
--
Alhamdulillah perjalanan ke Jawa yang membuka mata hati :") menyadari dalam keluarga seperti apa Allah tempatkan diriku, dan sebaiknya menjadi seperti apa diriku ini agar keluarga ini dapat memaksimalkan peran kekhalifahannya di muka bumi. Alhamdulillah Allah beri hanif kelegaan dan kegembiraan setelah seminggu sakit. Setelah lunglai karena banjir yang tak surut sedangkan anak dan suami demam
Desember ini tak mudah, namun kata ustadz, pertolongan datang saat kau hampir menyerah :") hattaa yaquularrasuulu walladziina samamu ma'ahuu mataa nashrullah? Alaa inna nashrullah qariib.
Terimakasih untuk pertolongannya, terimakasih untuk segala nikmatnya di tahun ini. Maaf ya Allah tahun ini nikmatMu membuatku lalai, membuat empatiku meredup. NikmatMu belum mampu kumakna sebagai tantangan untukku naik level lagi. Kemarin kemarin banyak berleha.. Semoga tahun 2026 ini lebih Mindful, Merciful, Purposeful, dan Progresif 🥺🤍
--
Masih kudu packing untuk pindah rumah.
Diri yang baru (krn udh 2 bulan ga olahraga jadi perlu reset lagi), lingkungan yang baru. Allah emang ingin aku memperbaharui banyak hal, bukan?
Look in, look up. Ya Allah perbaiki diri ini🥺
Ya Allah berilah keberkahan pada keluarga kami, masih di pulau ini artinya masih ada banyak kebaikan yang perlu di genapkan, dan manfaat yang perlu dipanjangkan.
Perwira itu memang perlu tangguh, tapi kemenangan selalu bergantung pada kedekatan kita kepada Allah🥺🤍 (mampukan kamiii)
In frame : aku berusaha mengejar ketertinggalan ku di 2025, wish me luck! May Allah permit, 🌷✨😌
Pada malam yang sunyi, mamak menjulurkan kakinya sembari bersandar pada dinding. Hobi mamak memang, duduk diatas lantai yang kian mendingin. Tidak ada mamak rematik selama ini, memang begitu salah satu cara meditasi mamak memberi sejuk sejenak diantara lalu lalang hidup yang gersang.
Mamak mengelus punggung tanganku. Tertutup mata mamak, dilepasnya kacamatanya dibiarkan asal tergeletak di lantai.
Nak, bertumbuhlah. Setiap harinya.“
Aku diam. Akhir akhir ini mamak banyak sekali gejolaknya. Ndak berani berkata ini itu, apalah aku yang hanya debu dibanding perjuangan mamak. Biarkan mamak bercurah cerita malam ini.
“Surga itu sungguh mahal. Dulu mamak memintanya pada Allah, agar masuk salah satu pintunya lewat birul walidain. Ternyata seabadi itu surga nak, sampai belum setengah perjalanan sudah seterjal ini. Kalau mamak ndak pegangan sama Allah, sudah jatuh mamak menggelinding dari jurang ujianNya. Ndak lulus, merosot pasti mamak. Jauh, jauh kedasar yang gelap. Memilih menyerah pada logika.”
Mamak melanjutkan
“Nak, jalanmu masih jauh. Yang kau lalui juga sudah bermacam jumlahnya. Nanti kau akan mendaki, makin lama makin terjal, makin licin. Jalanilah hari ini dari belajar dari kemarin. Belajarlah hari ini untuk bekal esok hari. Pelajarilah terus, nak. Agar kau kian bertumbuh. Agar kuat jiwamu, kokoh ragamu untuk mendaki.”
Aku menunduk, tanganku memintil bulu halus pada kaki kaki mak yang kasar.
“Jauh lebih baik dan matang dari pendakian mak sekarang ini..”
—
Mak terkadang memelukku sampai gegulingan. Menciumku bertubi tubi di pasar saat membeli kolang kaling, membanggakanku didepan bapak penjual cincau di seberang. Yang diteriakannya bukan capaian capaian, sederhana sekali kalimatnya. “Dia anakku, mang. Dia temani aku memilah milih kolang kaling sebegini malamnya. Hebat nian anakku ini.”
Setelah bincang dengan kawan yang anaknya sekolah diluar negri, yang gajinya tinggi, yang menang sayembara internasional, yang punya calon suami mapan dan berpangkat tinggi. Mak hanya tersenyum simpel. “Kerja kau berdampak bagi banyak orang, nak. Mak bangga sekali, senang sekali lihat kau bahagia bantu bantu orang.” tanpa mak singgung singgung pendapatanku yang ndak pasti ini.
Mak tidur jam 1 malam. Setelah kolang kaling yang dua puluh kilo, dicucinya sampai tujuh kali. Ia bangun jam 4 pagi, setelah air yang direbus dipakai merendam kolang kaling. Mak lakukan itu bertahun tahun, demi anaknya lancar hari harinya dengan kantung cukup untuk ini itu. Hingga kalau sedang balasin chat penting di WA setelah dhuha seringkali mak tertidur dan terlambat ikut pengajian.
Mak juga memiliki sambilan memandikan jenazah secara cuma cuma. Dari yang meninggal di dalam komplek, sampai warga diluar komplek. Mak ingin itu menjadi amal jariyahnya, disamping kesedihan mak atas pengetahuan orang awam yg kurang saat memperlakukan jenazah. Sehingga mak turun tangan menawarkan diri. Banyak sekali, yang saat anggota keluarganya yg sudah almarhum dimandikan mak, lalu membisiki mak. “En, kalau suatu hari aku mati, kau mandikan aku ya.” Beberapa kali kudengar tetangga meminta mak memandikan mereka jika tiba saatnya mereka meninggal. Seringkali kami menemani mak membeli kain kafan, setelah belanja kolang kaling.
“Kalau mak meninggal, mak mau kalian berempat yang mandikan mak. Mak mau anak anak mak sendiri membersihkan tubuh mak. Membersihkan tempat hidup mereka sembilan bulan dulu, sebelum lahir di dunia..” Mak berkata waktu itu, dan kami menangis.
Ah aku jadi cerita kemana mana. (meminta maaf)
Mak, doakan aku agar bertumbuh terus. Agar bisa membuat mak bangga. Agar bisa masuk surga bersama sama mak. Aku sayang nian sama kau, mak. Terimakasih telah terlahir dan melahirkanku ke dunia. Anakmu ini kucrut mak, kecil. Ndak berarti apa apa tanpa pelajaran yang mak wejangkan setiap duduk melantai saban malam. Terimakasih mak, banyak jumlahnya.
Menurut fitrahnya, laki laki adalah sumber penghidupan. sedangkan perempuan adalah sumber kehidupan.
Laki laki yang mengikhtiarkan rumah tersedia bagi keluarganya, as a house. Perempuan yang membuatnya terasa seperti 'rumah', as a home.
Laki laki menjadi sumber penghidupan bagi istri dan anak anaknya, sehingga seringkali lupa untuk menghidupi dirinya sendiri. Bajunya banyak baju bola dan organisasi dan jarang beli, makan sekadarnya di luar yang penting dapur di rumah selalu ngebul.
Perempuan menjadi sumber kehidupan bagi suami dan anak anaknya, sehingga seringkali kehilangan kehidupannya sendiri. Semua perhatian, waktu, energi, cinta ia beri untuk keluarganya. Tak peduli bagaimana bentuk rupa dirinya diluar dan di dalam, yang penting semuanya merasa nyaman, terawat dan dicintai.
alangkah indah dan mulianya, pengorbanan tersebut di mata Allah :")
Seminggu seusai acara yang berkesan di hati itu, tubuhku terasa lelah dan hampa. Sabtu kemarin, entah apa yang menggerakkanku untuk hadir di kelas tahfidz lagi.
Saat pertamakali menyetor, rasanya tidak menghayati seperti biasa. Aku melihat ke mana mana, tidak fokus pada layar HP. Tetiba setelah usai, aku menatap tatapan teduh kakak guru. Maasyaa Allah
Sebuah tatapan yang kukenali sebelumnya. Dari seorang guru yang gigih mengajariku yang keras kepala kala itu-- selama 6 tahun. Ia, yang hadir di mimpiku dan memarahiku karena belum cukup siap untuk setoran sedangkan esok sudah ujian. Tak kurang dari 7 kali ia hadir di mimpiku, memarahiku. Sejak aku lulus pesantren hingga hari ini.
Ketulusan seorang guru yang dibahas Ustadz di kelas kemarin cukup membuat hatiku babak belur. Betapa ketulusan adalah hal yang tak sirna oleh ruang dan waktu. Bahkan mimpi mimpi itu, emosi yang kurasakan setelahnya-- hingga hari ini masih berusaha (meski berat, amat berat) untuk kembali lagi ke Al-Qur'an adalah buah dari ketulusannya, kejujurannya menjadi guru ngaji yang dibayar tak seberapa. Guru yang dahulu aku kabur kaburan, kesal, takut, ngedumel, dan lain lain dibelakangnya. Kini menjadi sosok yang amat sangat ingin aku buat bangga di hari akhir.
Tatapan teduh kakak guru yang mengkoreksi bacaanku yang hambar itu, kembali mengingatkanku pada beliau. Kalau ditarik tarik, aku bisa baca Al Fathihah hingga kini itu, tidak lepas dari banyaknya orang tulus yang bersedia menjadi guruku, atau bersedia aku setorkan hafalanku padanya.
Saat sedang lancar, saat terbata bata. Saat kecepatan, atau sedang tartil. Saat sekadarnya, atau bersama dengan hati. Saat aku melengos, atau bahkan terisak isak. Saat aku berupa aku yang dulu itu, atau aku yang saat ini-- dan diantara keduanya.
Setidaknya, jalan pulang itu selalu terbuka. Jaraknya hanya beberapa langkah dari meja kerja. Ada di atas rak, menunggu untukku pulang
Ya Allah berilah guru guruku surga Firdaus tertinggi.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"I'll start with making the noodle soup. We need kelp and bonito flakes, I think. We put in the kelp. Then, we wait for 30 minutes. At the end, we'll take the kelp and the bonito flakes, which we'll use later, out of the pot. They will not remain in the noodle soup that we finished making. But their tastes will linger. They exist." — Saionji-san wa Kaji wo Shinai, Episode 9
Dulu, waktu banyak banyaknya ibadah karena ada hajat yang belum tercapai, atau ada masalah yang belum selesai.. Rasanya terwujudnya doa tersebut adalah bagian paling berharga.
Sekarang baru sadar, hal paling berharga adalah *menguatnya keimanan" dalam tiap laku demi laku ibadah dan ikhtiar, bahkan lebih berharga ketimbang doa yang diijabah tersebut.
"Iman, iman. Tak pernah lelah saya sampaikan : Iman, iman... " -Ustadz Rahimahullah
Makasih yah, Allah
Makasih yah, hidup
Makasih yah, bumi
Makasih yah, suami
Makasih yah, nakku
:)
Pendidikan rendah hati, yang tadinya amat dibenci ego dalam diri, sekarang mulai disyukuri. Emang diri ini siapa sih merasa berhak di ini dan di itu? Ingin di ini dan di itu? Harus begini dan begitu?
Kita bukan yang pegang kuasa. Bahkan sama hati kita sendiri. Bahkan sama anak dan suami kita sendiri. Apalagi tanggapan orang orang. Allah punya kurikulumNya--- rendah hatilah.. Semoga hidayahNya masuk :) air hanya mengalir ke tempat yang rendah, dan mengalir. Jika rendah tapi tak mengalir, bisa jadi keruh :"
Penuhi hak hak fitrah, sambil sadar kita hamba Allah yang ditundukkanNya bumi untuk memudahkan jalan jalan kita pulang.
Ciao.
Tadi siang saat main ke rumah nenek, abi menggenggam tanganku erat. Sebelum menikah, abi pas tidur siang atau lagi tidur tiduran memang senang menggenggam tanganku, meletakkan punggung tanganku di janggut panjangnya-- seperti aku anak kecil saja (tapi aku suka menghabiskan waktu dengan abi seperti itu :))
Tadi, aku bertanya pada abi
"Bi, di umur abi yang segini (mendekati akhir 50an), apa sih hal yang paling penting bagi abi?"
Abi diam sebentar.. "Yang paling penting ya... "
"Ngga punya hutang, kak. Kalau punya hutang ya lunas kan semampu kita. Itu yang pertama.. Terus, selesaikan urusan hati dan segala konflik yang masih mengganjal ke setiap orang yg kita masih belum ridha. Mungkin dulu pernah bertengkar, pernah berkonflik dan belum diselesaikan, belum sama sama dilapangkan. Ya, hubungi orangnya.. Diselesaikan. Sama sama ridha dan minta keridhaan. Kalau bisa bawa hadiah atau bahagiakan orangnya jadi hubungan malah jadi lebih baik. Yang ketiga, kalau ternyata di umur segini kita Allah kasih harta berlebih yang jatuh wajib zakat, atau masih perlu mengeluarkan zakat penghasilan-- bayarkan hutang sanak saudara, keluarga, kerabat dan sahabat kita. Daripada kita bantuin orang yg jauh jauh dengan zakat kita.. Kita bisa bantu keluarga atau teman kita yang punya hutang. Karena umur segini, teman abi banyak yang udah ga ada. Kalau hutangnya dilunasi kan, jadi plong menjalani hidup dan mempersiapkan yg perlu dipersiapkan di usia senja.. "
🥺💗
The world broke my heart, but God broke my heart open
The difference between these two heartbreaks is greater than infinite universes of ink could grasp
When God breaks the seed open.. it blossoms with flowers
When God breaks a cloud open.. it rains
When God breaks an egg open.. life emerges
When God breaks a cocoon open.. caterpillar is given wings
Not all breaking is the same. when we turn to God with our broken hearts, He opens us to realities beyond our greatest imaginations
(poet by A.Helwa)
Trust Him.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
I found myself busy taking care of my mess.. And forget to be here and now. And forget to be there for each other
These days had been tough. Things were popped out so sudden and I still need some more time to savour the message He gave.
Today is day 4 my son got sick, 2nd in this month. With morning tantrum where we cried one another, and endless evaluation running inside my sleepless brain-- blaming things on that mother side, creating one dark circle nobody wants to step in.
All of sudden, someone knocked my door. Giving me a cold drink and a warm food. "A booster.. " She said, "It's so tough, isn't it? Well, get well soon then.. " I stood still, started to get teary. It is, i said to myself.
We're not that close, but I can feel the care.. I can feel Him sending her to my door for some reasons-- and after I cried a little, I grasp air slowly and look at the sky through the kitchen ceiling. "Thankyou Allah, you remind me how important it is to be there for each other. Oh especially for mothers! Thankyou Allah, you taught me one simple thing that I forgot for a long time :)
"You are in this world to build a place for you in heaven, do not forget that"
faith unshaken.
"A Palestinian family in Tal al-Sultan camp, west of Rafah, decorates its tent in preparation for the month of Ramadan in order to preserve Ramadan customs and bring joy and happiness to the children to alleviate the effects of war." from Belal Khaled, 02/Mar/2024:

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Baru semalam lebih beberapa jam mengungsi karena rumah banjir, diri ini sudah lelah dan anakku sudah minta pulang berkali kali.
Tidak tahu lelah oleh apa..
Teringat kata ust Aad bahwa senyaman nyamannya hotel, semewah mewahnya villa-- paling nyaman ya beristirahat di rumah sendiri, di kamar sendiri, di kasur dan bantal sendiri :"
Jalan kembali, seringkali menjadi pilihan paling menenangkan. Dan rumah, adalah tempat diri kita beristirahat dari ekspektasi diluar diri maupun di dalam diri.
Jalan pulang adalah Jalan yang sepi. Karena rumah bukanlah tempat yang riuh tepuk tangan, yang penuh apresiasi sosial. Rumah adalah tempat kita menjadi apa adanya. Namun disana terletak ketenangan. Makin kesini, ketenangan terasa makin mahal, makin mewah bukan?
Maka fitrah adalah sebuah jalan pulang yang luar biasa sepi peminat. Dan luar biasa jauh dari apa yang selama ini diajarkan oleh dunia.
Menjadi wanita, mendidik dengan ketulusan dan kasih sayang, mencari stok cinta setiap saat ke sumbernya langsung yaitu Allah. Menjadi pemalu, menjadi penuh pengorbanan atas hal hal yang dituju dengan sungguh sungguh. Menjadi wanita. Mengedepankan rasa dan intuisi dibanding logika. Intelektualitasnya terletak di hati. Ketajamannya bukan pada pikir namun firasat. Menjadi wanita, menjadi mau berproses dan menghargai hal yang bersifat perlahan. Meresapi pertumbuhan yang berarti, yang jauh dari kompetisi. Hidup dengan kesadaran dan memancarkan daya tular yang alami dalam mendidik dengan kesabaran. Tidak bertransaksi dalam memberi, semua tentang kewajiban dan pemenuhan hak yang dicinta.. Yang dilakukan sebagai persembahan seorang hamba yang bersyukur.
Jauh, jauh sekali dari cepatnya arus maskulinitas yang menuntut perempuan perlahan terkikis sifat asli nya. Berkurang ke hawaannya. Semua apresiasi yang datang, hanya datang pada hasil hasil instan. Pada hasil dari logika dan kerja tanpa jiwa. Pada ketepatan nalar dan bukan keabsahan rasa.
Terburu, tergesa. Misuh misuh ingin bisa seperti laki laki. Ingin ini itu serba cepat melahirkan hasil yang didamba.
Lalu jika tercapai.. Apa lagi selanjutnya? Pasti ada. Akan ada lagi selanjutnya. Satu, dua bertumpuk. Perempuan bisa mengemban semuanya..
#nafas
Yang nulis lagi nulis tentang dirinya sendiri, dulu. Perempuan baik dalam multitasking, tapi overwhelm denganmulti tanggungjawab. Laki laki baik dalam multi tanggungjawab, namun malfunction saat multitasking. Masing masing punya instalan bawaan. Dan fitrah itu tidak pernah berubah :")
Sekarang berusaha jadi perempuan. Masih jauh, masih sering misuh misuh, tapi selalu didoakan, diupayakan. Sambil berserah, sambil melemaskan sendi sendi kelaki lakiannya. Agar sendi sendi wanitanya yang sudah lama tidur kembali aktif. Agar perannya bisa menyempurna dan melengkapi peran pemimpinnya. Agar anaknya mendapat ciprat ciprat cahaya nurani yang berpendar karena iman.
Ya Allah, jauh sekali jalan pulang ini. Berbeda sekali sikap dan respon yang digunakan, tidak bisa seperti dulu. Ya Allah aku butuh cahaya, bimbingan, ilmu, dan pertolonganMu
Semoga Allah mampukan aku menjadi istri, menjadi ibu, menjadi seorang hamba wanita sejati. Yang memaksimalkan fitrah yang Allah sudah beri. Yang mendayagunakan potensi yang sudah dipilihkan. Yang melakukan segala berlandaskan cinta, yang geraknya adalah gerak ketulusan, yang kesungguhan dan pengorbanannya menjadi wasilah cahaya yang datang dengan akrab dan penuh welas asih.
Ya Allah tolong :"
Ya Allah, tolong beri pula suamiku setiap barakah dan kebaikan atas segala yang diusahakan. Sempurnakanlah balasan atas tiap peluh, tiap pikir, tiap emosi yang dirasakannya dengan balasan terbaik di dunia dan akhirat. Ya Allah mampukan kami memaksimalkan peran kami untuk menjadi rahmat bagi satu sama lain, bagi anak keturunan kami, keluarga kami, lingkungan tempat kami hidup serta seluruh alam raya
Dan...
Terima kasih ya Allah sudah menyayangi kami, terimakasih sudah senang hati menggugurkan dosa demi dosa kami, terimakasih sudah selalu percaya bahwa kami akan menang dalam setiap fase kehidupan. Terimakasih sudah menerangi hati dan jalan kami, memfasilitasi dengan yang terbaik dan penuh cinta, membersamai pada tiap lembar demi lembar waktu. Terimakasih sudah tersenyum pada kami, sabar atas kami, dan mensyukuri hal terkecil yang baik yang ada pada kami. Terimakasih sudah sebegitunya🥺 semoga kami termasuk hamba yang mampu mewujudkan rasa syukur ini seoptimal mungkin. Aamiin yaa rabb🫶
"By loving Him, He changes our lives"
Pas bgt lagi baca buku femininitas : jalan pulang fitrah bunda di bab : mendidik cinta dan kasih sayang
By loving Allah, you reunite with your loving nature inside. A fitrah that Allah entombed in your ruh ever since you weren't born.
And He has purpose why He put it in you. Yes He has a crystal clear noble purposes of why He put it in you🥺