Saat ini, akhir Juni 2025
Sudah lama rasanya aku tidak berkeluh kesah dalam sebuah tulisan.
Saat ini rasanya berbeda dengan dulu. Waktu berjalan dan semua sudah berubah, yang tadinya temanku sedikit, sekarang mungkin hampir tidak ada. Dan aku gak bisa kesal dengan apa yang terjadi, karena ya mungkin memang jalannya.
Aku tak banyak berkeluh kesah di sosial media, karena aku pikir untuk apa? Mereka yang membaca tidak akan peduli juga, mungkin hanya jadi bahan cemoohan. Lagi pula aku makin tua, rasanya aku lebih memilah milah mana yang bisa aku keluarkan mana yang tidak.
Akan selalu ada saja orang yang tak suka, sekalipun aku sudah berbuat baik, mereka akan tetap mencari celah untuk menyemooh. Seberapa kerasnya aku bekerja, tetap bukan sesuatu yang membanggakan atau bisa diapresiasi, jika aku tak membumbui dengan 'kedekatan'.
Seberapa besarnya pengeluaran yang aku keluarkan untuk keluarga, pasti akan selalu kurang. Entah mengapa ada saja yang harus aku bayar dan aku tanggung. Tuhan, aku benci sekali menjadi pribadi yang mudah simpatik. Kadang aku sulit membedakan mana yang benar dan berpura-pura. Terpaksa harus bertanggung jawab atas keputusan bodoh dan salah mengambil sikap bocah kosong yang terjebak omongan manis seorang bajingan dan keluarganya yang menjijikan. Keluarga rendahan yang tak punya tanggung jawab, tak tahu bagaimana mendidik anaknya menjadi lelaki sejati.
Ada yang dulunya teman baik, tapi karena prinsipnya terlalu anjing, aku mulai memilih menjaga jarak. Lagipula terkadang dia suka mengadu domba (dan dia menikmati ketika aku tersulut emosi karena aduannya), aku harus pandai-pandai bermain emosi dan bersikap didepanya.
Ada yang tiba-tiba punya anak( meski dulunya dia sempat tidak mau punya anak). Mungkin memang sudah takdir dan jalannya dia diberi kepercayaan oleh Tuhan saat ini. Otomatis kehidupannya berubah 180°. Rencana rencanya yang pernah ia susun mungkin disusun ulang karena kehadiran anaknya. Jangan tanya soal waktu untuk bersosialisasi denganku, tentu saja hampir sulit. Meskipun aku memahami sepenuhnya dengan keadaan tersebut, tapi terkadang aku rindu hal hal gila yang biasa kita lakukan secara mendadak.
Kehidupan belakangan membosankan. Hanya mengulangi rutinitas yang sama setiap harinya, bekerja, mencari uang, membuang uang. Diakhir pekanpun begitu. Kuhabiskan hariku tertidur dan bangun disore hari, ketika perut mulai lapar dan pergi keluar, lalu mengakhiri dengan duduk ditemani segelas kopi sampi toko kopi itu tutup, lalu kembali kerumah dan tertidur lagi. Membosankan.