Oleh: Untari Kartika Yekti NTT Hit Pah Hit Nifu, Hit Pah Alekot NTT Tanah Air Kita, Tempat Kita yang Baik Saat menulis catatan perjalanan ini, tak terasa sudah 1 tahun aku ada di tanah timor, tanah NTT. Tanah yang sebelumnya pernah aku tapaki sewaktu kecil dulu, hanya saja kali ini terasa jauh lebih istimewa. Suatu kebanggaan untukku bisa bergabung menjadi bagian dari keluarga SM3T. Program yang menginspirasi ini membawaku mengenali kembali siapa aku. Mengajakku melewati satu jalan perubahan hingga akhirnya menjadi aku yang baru, yang lebih baik tentunya InsyaAllah. SM3T bagiku seperti gerbang masuk menuju ke salah satu dunia baru, sebuah petualangan dengan begitu banyak keseruannya baik suka maupun duka. SM3T seakan mengucap langsung kepadaku, “Selamat datang pejuang pendidikan, inilah NTT, inilah sisi lain tanah air Indonesia… selamat berpetualang, selamat mendidik, selamat belajar, selamat mengabdi, dan selamat bersenang-senang disini”. My Teach My Adventure Mendapat tambahan 3 huruf di belakang nama kusadari menjadi satu tanggung jawab besar dalam hidupku. S.Pd, hanya 3 huruf namun kusadari perlu di maknai secara benar dan penuh rasa tanggung jawab. Banyak pertanyaan yang muncul saat gelar itu tersemat, “pantaskah aku menjadi seorang guru? Benarkah ini jalan yang akan aku tempuh?”. Demi menjawab semua pertanyaan itu, SM-3T kuharapkan menjadi salah satu sumber yang memberi jawaban dan memberi penguatan kepadaku akan pilihan hidupku sebagai seorang pendidik. SM-3T tidak pernah kutulis dalam lembar catatan hari esokku. Orang tua tidak menyetujuiku ikut program ini. Harus aku bujuk dan memberi pengertian agar orang tuaku mau mengerti. Akhirnya, setelah 3 kali proses pembujukkan itu ku lakukan, ibuku merelakanku untuk ikut dan pergi merantau jauh darinya. Ibu hanya berucap, “semoga kamu dapat di NTT saja”. Alasan ibu berucap seperti itu adalah karena kami sekeluarga pernah tinggal di tanah NTT, satu hal itu mungkin yang bisa membuat ibuku tenang. Maka, doanya pun terjawab. Masih terekam jelas bagaimana perasaanku saat pertama kali menginjakkan kaki di Kupang. Gugup, takut, senang, antusias, semua berbaur menjadi satu. Masih teringat jelas juga ketika air mata mengalir kala tiba di Lelogama, kota kecamatan Amfoang Selatan. Saat itu aku baru tersadar akan kenyataan dimana akan aku habiskan hari-hariku selama 1 tahun di penempatan. Suasana lingkungan yang begitu jauh berbeda dengan tempat tinggalku di Jakarta memberikan kesan pertama yang membuatku berpikir, “bisakah aku menjalani tugasku ini?” Aku ditugaskan untuk mengajar di PAUD Imanuel Oh’aem Kecamatan Amfoang Selatan Kabupaten Kupang NTT. Selama hampir satu tahun ini aku habiskan hari-hariku bersama anak-anak luar biasa yang begitu semangat untuk datang ke sekolah. Awalnya beberapa anak takut dekat denganku karena aku “berbeda” dari orang-orang yang pernah mereka temui. Perbedaan itu ada di jilbab yang aku kenakan. Mereka menangis, bahkan sampai ada yang tidak mau masuk sekolah hingga akhirnya aku harus datang kerumahnya melakukan pendekataan personal dan berkenalan lebih dekat dengannya. Satu harapanku adalah supaya aku dapat diterima oleh murid-muridku. Tapi Alhamdulillah, tidak butuh waktu lama untuk kami bisa saling kenal dan dekat. Pembelajaran yang aku lakukan diusahakan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Hal tersebut dilakukan agar anak-anak tidak bosan dan bisa mendapat pengalaman baru. Kami sering jalan-jalan untuk melihat dan untuk tahu banyak hal. Aku teringat ketika anak-anak belajar tentang profesi Dokter/Bidan. Aku datangkan langsung Bidan ke sekolah. Beragam reaksi anak-anak tunjukkan ketika bertemu langsung dengan Bidan. Ada anak yang menangis karena takut di suntik dan langsung lari pulang, atau hanya menangis di kursinya. Ada yang tersenyum senang bertemu Bidan. Mereka mendapat pengalaman langsung menggunakan alat-alat kedokteran. Anak-anak berperan sebagai dokter dengan menggunakan stetoskop, thermometer, dan sebagainya. Pengalaman itu terus mereka ingat dan mereka jadi tidak takut lagi dengan Dokter/Bidan. Anak-anak jadi tahu tugasnya seorang Bidan dan alasan kenapa Bidan harus memberikan suntikan kepada anak-anak yang sakit. Pengalaman baru lainnya adalah ketika anak-anak setiap hari Jum’at dibiasakan untuk mencuci tangan, sikat gigi, dan potong kuku. Anak-anak yang biasanya tidak pernah melakukan kegiatan kebersihan diri, jadi memiliki kesempatan untuk belajar dan tahu akan pentingnya menjaga kebersihan diri. Aku semakin semangat karena anak-anak juga semangat dan antusias dengan hal-hal baru yang mereka temui. Selama ditugaskan di tempat spesial itu, banyak hal yang aku temukan. Aku menemukan bakat-bakat spesial pada anak-anak kesayanganku itu. Ada yang pintar menyanyi mengikuti irama musik dan cepat mengahafal lirik-lirik lagu walaupun baru dikenalkan. Ada anak yang berbakat di bidang seni tari. Ada yang pandai dalam melipat kertas membentuk berbagai bentuk. Ada anak yang sangat rapih saat kegiatan mewarnai, ada anak yang suka menggambar, ada anak yang cepat memahami bilangan, ada anak yang memiliki jiwa kepemimpinan, ada anak yang cepat mengerti bahasa-bahasa baru yang di dengarnya, ada anak yang sangat lincah saat kegiatan olahraga, ada anak yang sudah bisa menulis dengan rapi, dan ragam bakat lainnya. Orang tua murid dan guru juga sangat bisa bekerja sama dengan baik. Ketika ada kegiatan-kegiatan besar yang dilaksanakan, mereka akan turut serta membantu mensukseskan kegiatan tersebut. Seperti kegiatan Natal PAUD, Hari Kartini, Piknik, dan Parenting serta Pembagian Rapot. Semua kegiatan tersebut baru pertama kali dilaksanakan dan tidak akan bisa berjalan dengan baik jika tidak ada dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya anak-anak yang mendapatkan pengalaman baru tapi aku juga. Untuk pertama kalinya aku belajar bagaimana menerapkan Kurikulum 2013, pertama kalinya mengurusi Dapodik PAUD, pertama kalinya mengurus proposal-proposal untuk pengajuan dana bantuan PAUD, pertama kalinya bisa mengajar langsung dengan alam sebagai media pembelajarannya, pertama kali berinteraksi dengan anak-anak yang berbeda suku dan agama, serta pengalaman-pengalaman seru lainnya. Pengalamanku mendidik selama satu tahun ini begitu kunikmati. Suka duka yang aku lewati membuatku semakin yakin untuk menjalani profesiku sebagai seorang guru PAUD. Anak-anak adalah duniaku. Dimana ada anak-anak berarti disana ada masa depan. Masa depan bangsa ada di tangan mereka nantinya, dan aku merasa bertanggung jawab untuk mendampingi mereka, bocah-bocah penerus bangsa. Pengalaman baru lainnya yang aku dapatkan ketika menjadi guru SM-3T adalah saat diminta untuk membantu mengajar di Sekolah Menengah Agama Kristen (SMAK) Fini Alekot. Sekolah tersebut baru saja diresmikan ketika aku datang. Baru ada 1 angkatan saja. Pertama kali datang, kepala sekolah langsung menawariku untuk mengajar di SMAK. Kebetulan jam belajar SMAK adalah di siang hari sehingga tidak mengganggu tugas utamaku sebagai guru PAUD maka aku pun menerima tawaran itu. Aku mendapat tugas mengajar mata pelajaran sosiologi. Awal mengajar SMA begitu kaku dan serba bingung karena ini adalah kali pertamaku. Tapi, atas dukungan dan masukan-masukan dari berbagai pihak sehingga aku mampu untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan mengajarku. Murid-muridku pernah bilang padaku, “ibu, kalau ibu mengajar kami jangan terlalu lembut. Biasa nanti anak laki-laki anggap remeh ibu”. Awal pertama mengajar di kelas memang aku merasa sering diabaikan oleh murid-muridku terutama yang laki-laki. Aku tidak mengerti ucapan mereka karena mereka bicara menggunakan bahasa daerah, namun beberapa anak ada yang langsung melapor kepadaku bahwa anak laki-laki sedang membicarakanku tentang kelemahanku dalam mengajar. Akhirnya aku mulai mengubah cara mengajarku. Salah satunya adalah mulai belajar untug bersikap tegas terhadap murid-muridku. Aku jarang sekali marah apalagi memukul murid-muridku karena yang biasa menjadi muridku adalah anak-anak usia dini. Ketika menjadi guru SMAK aku jadi belajar bagaimana mendisiplinkan anak-anak remaja yang penuh dengan gejolak. Selama tugasku, aku tidak segan-segan menghukum mereka ketika melanggar tata tertib sekolah. Kalau ini terjadi di tanah jawa mungkin aku sudah dilaporkan ke pihak yang berwajib atas tindakanku itu. Namun perbedaan karakter dan cara didik di tempatku mengabdi tidak menjadikan hukuman fisik sebagai suatu permasalahan. Bahkan ada guru yang memukul dengan rotan. Kalau aku, Push up bagi anak laki-laki dan skotjump bagi anak perempuan menjadi hukuman favoritku ketika omolenku tidak lagi didengar. Aku selalu menjadi “satpam” sekolah. Menyuruh mereka merapikan baju, memakai sepatu sudah menjadi tugas harianku. Aku hanya ingin murid-muridku rapih dan bisa disiplin. Aku bahkan pernah dengan terpaksa mencukur rambut anak laki-laki yang tidak mengikuti aturan. Semua itu aku lakukan bukan sebagai bentuk penyiksaan atau kebencian terhadap murid-muridku, justru aku sangat dekat dengan mereka. Masalah yang mereka hadapi baik di sekolah maupun di rumah akan mereka ceritakan kepadaku. Saat mereka ada masalah atau ketika mereka berbuat salah, aku berusaha untuk tidak langsung menilai dan memutuskan bahwa mereka bersalah, tapi aku akan selalu usahakan untuk mendengar dulu cerita mereka, kemudian memberikan penjelasan agar mereka mengerti apa yang salah dan apa yang benar untuk mereka lakukan. Anak-anak SMAK memang murid-muridku dan aku guru mereka namun status itu hanya pada saat kami berkumpul di ruang kelas. Jika sudah di luar area sekolah, murid-muridku itu adalah adik-adikku. Mereka sering datang menemaniku di kamar karena aku tinggal sendiri. Mereka juga membantuku ketika harus timba air. Mereka sering memberiku oleh-oleh dari kebun mereka berupa makanan pokok ataupun sayur-sayuran. Aku hanya berharap, mereka bisa terus semangat belajar. Aku harap mereka terus bermimpi besar dan mau berusaha dengan keras mewujudkannya, sehingga setiap kali mengajar aku akan bilang ke murid-murid hebatku itu “ibu akan selalu tunggu kabar sukses kalian”. My Trip - SM3T Tidak pernah kubayangkan akan kembali melakukan perjalanan menjelajah tanah air Indonesia. Sebelumnya aku sudah pernah menapakkan kakiku di beberapa daerah di Indonesia. Kesempatan luar biasa itu aku dapatkan karena tugas bapakku yang berpindah-pindah. Seperti yang kesebutkan sebelumnya bahwa ini kali kedua ku di tanah Timor. Masa kecilku pernah kulalui di Ende Flores NTT dan sekarang aku berkesempatan kembali ke NTT walaupun di daerah yang berbeda yaitu di Kupang. SM-3T memberiku kesempatan untuk mengeksplor Indonesia. Tugas utamaku memang mendidik anak-anak di daerah 3T tapi seperti kata pepatah “Sambil Menyelam Minum Air” sambil mendidik sambil jalan-jalan. Indonesia itu kaya sumber daya alamnya dan itu bukan sekedar ucapan. “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman” bukan hanya sebatas lirik lagu. Daerah penempatanku penuh dengan batu-batuan, namun diatas batu itu dapat tumbuh tanaman-tanaman. Tanahnya subur, hasil panen melimpah ruah baik makanan pokok ataupun sayur-sayuran dan buah-buahan. Jauh dari kota tak membuatku khawatir akan masalah pangan, karena di desaku menjadi lumbung yang menenangkan bagi setiap penduduknya termasuk aku. Indonesia itu ramah dan itu bukan sekedar ucapan. Aku membuktikan sendiri bagaimana penerimaan masyarakat terhadapku, mereka menjagaku seperti mereka menjaga anak mereka sendiri. pertama kali datang di Oh’aem, aku langsung dikenalkan oleh Ibu Pendeta dengan satu keluarga yang dekat dengan Ibu Pendeta, yaitu Keluarga Taek. Keluarga Taek sudah seperti keluarga kandungku. Keluarga di Jakarta sering telepon dan berbincang dengan keluargaku di Timor. Hubungan kami sangat dekat. Aku merasa aman dan nyaman ada di tengah-tengah mereka. Selain keluarga asuhku, aku juga banyak berkenalan dan dekat dengan warga desa lainnya. Kedekatan itu terbangun karena setiap libur sekolah, aku biasakan diri untuk mengunjungi rumah-rumah mereka bahkan menginap 1 malam untuk bisa lebih mengenal dekat kehidupan keluarga Timor yang tentu berbeda dengan di Jakarta. Hubungan kekeluargaan yang begitu hangat membuatku sangat nyaman menjalani hari-hariku di tempat pengabdianku. Indonesia itu berbeda beda tapi tetap satu dan itu bukan hanya sekedar slogan. Aku seorang Muslim satu-satunya di penempatan karena semua masyarakat disana beragama Kristen Protestan. Tak pernah aku dihina, dikucilkan, dijauhi, atau dimusuhi. Masyarakatnya memiliki rasa toleransi yang tinggi. Pertama kali diterima disana aku langsung ditanya, “Ibu, tolong kasih tau kami pantangan di ibu punya agama”. Setelah aku jelaskan, mereka menjadi sangat memperhatikan hal itu. Ketika ada acara-acara adat, pesta atau acara desa, mereka biasa makan daging babi namun khusus untukku disediakan ayam hidup yang harus aku sembelih dan aku olah sendiri. Sudah puluhan ayam yang menjadi “korbanku” dan itu menjadi pengalaman yang teramat baru dan seru bagiku. Berbeda bahasa berbeda adat istiadat dan kebiasaan tidak menjadi penghalang bagiku untuk bisa berbaur dengan masyarakat di daerah penempatanku. Mereka berusaha untuk mengerti kebiasaan-kebiasaanku dalam berinteraksi dengan orang lain sehingga itu membuatku juga berusaha untuk dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan mereka sehari-hari. Salah satu tradisi yang akhirnya aku ikuti adalah makan sirih pinang. Hampir setiap siang, malam, atau ketika bertemu dan berkunjung di masyarakat, sirih pinang menjadi suguhan pertama yang aku pun ikut menikmatinya. Kebiasaan yang berbeda ini menjadi pengalaman yang berharga buatku. Hanya dengan sirih, pinang, dan kapur kami bisa menjadi sangat dekat satu sama lain. Perbedaan itu indah jika kita maknai dengan jiwa persatuan dan kesatuan. Orang Timor bilang, “Indonesia itu bukan hanya Jawa dan Bali tapi kami orang Timor, kulit kami hitam, rambut kami keriting, kami juga bagian dari Indonesia.” Indonesia, kaya karena kita bisa menjadi satu dengan segala perbedaan yang ada. Saling menghormati dan menghargai itu aku temukan di Oh’aem, Amfoang Selatan, Kupang, NTT. Bahagia yang begitu sangat atas pertemuan ini. Kini hanya rindu yang tersisa karena masa tugas 1 tahun telah usai. Berharap pendidikan di tanah Timor semakin maju dengan suksesnya pendidikan anak-anak di sekolah walaupun dengan segala keterbatasan yang ada. Semoga aku bisa dipertemukan kembali denganmu, wahai tanah Timor, Tanah Air Indonesia. Tanah kita berpijak tak lagi sama tapi tetap di Tanah Air Indonesia. Kini lautan memisahkan kita. Mata kitapun tak lagi saling memandang. Senyum dan Salam hangatku dari tanah Jawa yang kubiarkan langit menyampaikannya. Terima kasih SM-3T. Aku Indonesia, Kamu Indonesia, Kita Indonesia, ayo Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.