Kehilangan Yang Tak Biasa
Aku bingung bagaimana lagi menyampaikannya, hingga disinilah akhirnya aku menceritakan semuanya. Untukku dan untukmu di masa depan. Kalau suatu hari nanti kita bersatu dalam suatu ikatan, aku akan menceritakan semua ini untukmu, dek.
Aku tak menyangka akan menjadi seperti ini. Aku tak menyangka ceritamu banyak ku sampaikan dalam diary setelah sekian lama buku itu kosong karena tidak ada kisah manis yang ku ceritakan. Aku tak menyangka aku dapat jatuh kepadamu. Dan aku tak menyangka, kehilanganmu menjadi sesakit ini.
Aku ingat, ketika pertama kali aku hanya tau namamu saat kau memasuki lingkungan baru yaitu kampus kita sekarang, tanpa kita pernah saling tau wujud nyata satu sama lain. Hingga suatu hari, hmm setelah 2,5 bulan ku pikir, tanpa sengaja aku mengetahui wujudmu.Β βOh itu dia adek asuhkuβ, gumamku. Lalu aku sangat ingat saat kita pertama kali berbicara, tapi tak seperti orang yang saling kenal. Di suatu kepanitiaan, saat akan mengambil sebuah video dan dengan bodohnya aku seperti heboh sendiri. Saat mengetik ini pun aku mencoba mengingat apa yang telah kau katakan. Yang aku ingat hanyaΒ βKakak yang ituβ, keluar dari mulut canggungmu. Sekejap aku berpikir dan merasa bahwa kau tidak mengenaliku sebagai kakak asuhmu.
Ketika pertama kali kita benar-benar saling mengenal. Kita ada di divisi yang sama. Tau apa yang kupikirkan saat kamu berpindah ke divisi yang aku pimpin? Aku berpikir akan sangat canggung ketika kita kau benar-benar tahu bahwa aku adalah kakak asuhmu, aku takut tak sesuai ekspektasimu. Dari sinilah kita mulai mengenal, ditambah satu lagi adek asuhku yang lain yang memang sudah ku kenal akrab sejak pertama bertemu. Aku merasa kamu itu orang yang asik, walau kadang aku jengkel karena betapa sulitnya menghubungimu dan jarangnya kita berada ditempat yang sama.
Setelah acara itu selesai, ya sudahlah, seperti teman biasa, benar-benar teman biasa. Saling tegur kalau bertemu, tidak ada chat kecuali benar-benar perlu, tidak ada percakapan dalam.
Semester genap datang, aku senang karena yang satunya menghubungiku, tapi ternyata kamu meminjam buku ku. Dan dari diriku yang sekarang, aku hanya ingin menyampaikan, jaga buku ku, aku tak butuh dikembalikan, aku hanya ingin kau ingat aku ketika kau melihat buku itu kembali.
Hahaha, aku bingung memulai, akan sangat panjang jika menceritakan bagaimana rasa ini datang dengan tiba-tiba. Tapi sungguh, aku benar-benar tak mengharapkannya.Β
Kamu membuatku merasa ada, kamu membuatku merasa dicintai. Kamu datang disaat aku sakit hati melihat dia bersama yang lain, kamu datang ketika aku ditinggalkan oleh orang terdekatku, dan kamu ada disaat aku ingin bercerita. Kamu selalu dengan kata-kata itu, kata-kata yang membuat aku luluh dan merasa didampingi. Aku suka bercerita dan membahas suatu topik denganmu, selalu nyambung. Kamu yang buatku berani untuk jalan berdua dengan lawan jenis pada malam itu, dan seketika membuatku nyaman dengan semua obrolan hingga aku lupa waktu.
Kehilanganmu bukan kehilangan yang biasa, kehilanganmu bukan hanya kehilangan cinta. Kehilangamu seperti kehilangan teman cerita, teman berdiskusi, teman sepi, teman makan, partner, teman belajar, adek asuh, dan banyak hal yang tidak dapat ku sebutkan.
Setiap kali aku merasa ingin menyerah, entah kenapa aku masih ingin berjuang sekali lagi. Entah sampai kapan siklus itu akan terus berputar. Aku masih belum bosan menantimu. Aku masih ingin menjadi temanmu dan sahabatmu yang akan selalu membuatmu nyaman, sama seperti yang kau bilang akhir Mei 2018 itu. Aku masih menanti chatmu yang sudah hampir 3 minggu tak terlihat di layar handphoneku, aku masih menanti teleponmu yang tiba-tiba dan membahas semuanya hingga tak terasa sampai sejam lebih. Aku masih menanti saat aku dan kau saling berbicara lagi di telepon hingga aku merasa ngantuk. Aku masih ingin mendengar suaramu, suara tawamu.
Dan aku berharap, jangan berakhir menyedihkan seperti ini. Diam seperti orang asing, tiba-tiba seperti orang tak saling kenal, hingga aku selalu kepikiranΒ βdimana salahku?β hingga menjadi seperti ini.
Aku yakin perkenalan kita bukan suatu kebetulan. Sejak aku belum menaruh rasa pun, aku bingung dengan kesamaan kita yang banyak. Mulai laptop, kemampuan, rumah yang berdekatan, kau yang menjadi adek asuhku, selalu satu divisi dan satu bidang.
Aku masih menantimu, sekarang dan nanti. Semoga kita menjadi dekat lagi dan dipersatukan lagi. Aaamiin.
Dari aku, yang berusaha ikhlas dengan keadaan dan terlanjur mencintaimu begitu dalam.
21-11-2018
















