و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah 216)
Di Instagram beberapa waktu lalu, kami melihat ada mbak mbak memposting video senyuman manisnya dengan latar belakang lahan yang sudah dibabat habis untuk tambang batu bara di daerah Lahat, Sumatera Selatan. Betapa bangganya si mbak sebagai salah satu orang-orang yang berhasil “meningkatkan perekonomian” di wilayah Lahat.
Tidak lama, banyak kehebohan terjadi karena harimau (nenek puyang) mulai turun gunung dan menyerang manusia. Tapi karena yang diserang manusia, maka manusia lain pasti membela, jadi seorang pejabat tinggi mengatakan, tangkap saja harimau-harimau itu, hidup atau mati. Jumlah harimau Sumatera yang tinggal 300 an ekor boleh di tangkap mati? Hebat juga sih bapak ini, berani ngomong gitu di depan media. Tunggu saja sampai di protes oleh NGO lingkungan. Tapi kami tunggu sepak terjang para penggiat lingkungan... Kok sepi-sepi aja ya? Kenapa gak ada yang protes ketika seorang pejabat mengatakan boleh membunuh harimau, hewan yang hampir punah? Apakah hal itu benar untuk dilakukan?
Lalu kemarin kami melihat video longsor dan banjir bandang di wilayah Lahat-Pagaralam. Di wilayah gunung, ada air bah seperti itu? Kok seram ya? Memangnya tidak ada lagi tanah resapan di atas sana?
Mbak2 bahagia maupun pejabat tadi, pasti mempunyai hat nurani, Bisa jadi mereka sebanarnya tidak suka membabat hutan, tidak suka membunuh satwa liar, itu tidak benar. Namun tiba-tiba menjadi benar karena ada pembenaran. Seperti mbak-mbak yang merasa sudah meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat disana, dengan membuka lapangan pekerjaan, dan mbak tersebut juga menikmati hasil dari penggundulan lahan.
Atau pak pejabat, yang selalu memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan tambang untuk terus mengeksploitasi lahan, mungkin awalnya itu tidak benar, tapi dengan alasan, wah, ini meningkatkan perekonomian, kita semua bisa jadi makmur, maka harimau Sumatera yang langka itu menjadi hal yang tidak penting. Karena manusia lebih penting.
Masuk ke kamar mandi bau, pertama kita teriak-teriak, “bauuuu bauuukkk!” tapi lama-lama terbiasa dengan bauknya, apalagi kalau di WC dikasi mainan aipon 11 pro dikasi gratis dan toiletnya deket colokan. Siapa yang bisa menolak?
Dahulu salah satu kawan penggiat kopi kami, anti-antiii banget pakai kopi Robusta, pahit lah, kafein terlalu tinggi lah, tidak berkelas lah. Tapi apakah bisa beliau menolak Robusta? Mau bikin kopi susu pakai arabika tok? ya masam donk, kecuali arabikanya di sangrai gelap, tapi untuk apa digelapin kalau untuk mengurangi masam? Alhamdulillah, kawan penggiat ini sekarang sudah mulai sadar, dan berada di kubu sadar robusta. Sesuatu yang dia benci adalah sesuatu yang baik baginya. Ya karena kopi susu kekinian memang lebih pas pake robusta, dan laku keras tentunya. Kalau sudah tau menghasilkan duit banyak, susah kan untuk menolak kehadiran robusta? Hehehe...
Di sisi lain, ada yang mati-matian membela Arabika Sumsel dan merasa tersakiti ketika kubu sadar Robusta mengakui salah satu Arabika dengan proses tertentu.
Semua berebut pengakuan, siapa yang lebih dahulu mengakui kopi itu. Terus gimana mau maju kalau hal seperti itu aja harus berebut? Semua ingin tampil tapi gak ada yang mau dibilang banci tampil. Semua gila hormat tapi semua ingin terlihat humble. Semua pengen masuk surga tapi gak ada yang mau mati duluan.