Ramadhan sebentar lagi usai. Sebagian orang mulai tergerus keostiqomahan ibadah-ibadahnya untuk memenuhi hajat duniawinya, tapi dilain sisi masih ada sebagian orang yang tetap bertahan dengan amalan-amalan terbaiknya.
Kedua golongan tersebut memiliki persamaan, yaitu sama-sama telah melalui perjalanan ruhiyah selama dua-pertiga Ramadhan di tahun ini. Yang satu, sibuk urusan duniawi, yang satu lagi masih teguh dengan amalan-amalan ukhrawy-nya (akhirat).
Pertanyaannya, siapa yang akan diterima amalan ibadahnya di bulan Ramadhan ini? Sedang dalam sebuah hadist Rasul sampaiakan "Sesungguhnya setiap amal bergantung pada akhirnya." Jawabannya....
Barusan tidak sengaja baca surah Al-Mu'minun ayat 60, yang artinya âDan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.â. Lalu teringat akan sebuah hadist yang pernah saya dengar ketika mengikuti kuliah tarawih yang menjelaskan arti dari ayat itu.
Ketika mendengar bacaan ayat itu, Aisyah bertanya kepada Rasulullah,
âWahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dalam ayat âDan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takutâ, adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khomr?â
Nabi shallallahu âalaihi wa sallam lantas menjawab,
"Wahai putri Ash Shidiq (maksudnya Abu Bakr Ash Shidiq, pen)! Yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang shalat, namun Ia khawatir amalannya tidak diterima.â
Inilah yang kemudian kita takutkan. Jangan-jangan amalan kita selama Ramdahan ini, puasa kita, tilawah kita, sholat-sholat kita tidak diterima Allah.... karena sebab satu dan lain hal.
Ali bin Abi Thalib mengatakan,
âMereka para salaf begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal."
Lihat pula perkataan âUmar bin âAbdul Aziz berikut tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fitri,
âWahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. "
Dikatakan kepada mereka,
âSesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan!â
âKalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.â
Itulah yang dirasakan para sahabat, para ulama, orang terdahulu ketika menyikapi akan berakhirnya Ramadhan. Mereka dirundung ketakutan akan amalan yang tidak diterima satupun. Lantas bagaimana kita? Yang kualitas ketaqwaan kita seperti bumi dan langit terhadap mereka?
Seorang Muaâlla bin Al-Fadhl berkata,Â
"Dulu, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah taâla mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan."
Wallahua'lam. Masih ada 10 hari terakhir kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur atas nikmat dipertemukan Ramadhan tahun ini kepada Allah.
Masih tersisa kesempatan-kesempatan menjelang akhir, untuk menunjukkan ketaqwaan kita kepada Allah. Mari sambut dengan semangat, seraya memohon agar Allah mengampuni dan menerima amalan kita selama Ramdahan ini.