Perjalanan
Sore hari selalu punya cara yang aneh untuk membuat Jakarta terlihat lebih manusiawi.
Langit perlahan berubah jingga. Cahaya matahari memantul di dinding-dinding kaca gedung sepanjang Rasuna Said, membuat semuanya tampak hangat, meski udara masih menyimpan sisa-sisa panas sejak siang. Orang-orang berjalan cepat di pedestrian, sebagian dengan langkah tergesa mengejar bus, sebagian lagi memilih berjalan pelan sambil menatap layar ponsel.
Aku ada di antara mereka.
Tas masih menggantung di bahu. Langkah kaki mengikuti arus manusia yang sama-sama ingin pulang. Anehnya, di tengah keramaian itu, justru terasa begitu sunyi.
Aku sering berpikir, berapa banyak orang yang sedang tersenyum hanya karena memang harus begitu?
Dari halte, perjalanan berlanjut dengan LRT.
Kereta melaju di atas kota. Dari balik jendela, Jakarta terlihat begitu megah. Gedung-gedung menjulang, jalanan dipenuhi kendaraan yang bergerak seperti aliran darah, lampu-lampu mulai menyala satu per satu seiring matahari yang perlahan menghilang.
Pemandangan seperti ini selalu membuatku diam lebih lama.
Bukan karena indahnya.
Melainkan karena selalu ada sesuatu yang terasa mengganjal setiap kali melihat kota dari ketinggian. Rasanya seperti sedang menyaksikan hidup orang lain berjalan begitu cepat, sementara aku masih sibuk mencari tahu sebenarnya sedang menuju ke mana.
Sesampainya di KRL, suasananya berbeda.
Gerbong sore hampir selalu penuh. Orang-orang berdiri saling berdekatan, memegang handgrip dengan wajah yang tampak lelah. Sebagian memejamkan mata. Sebagian lagi menatap kosong ke luar jendela yang hanya memantulkan bayangan diri mereka sendiri.
Aku ikut berdiri di sana.
Sesekali memperhatikan wajah-wajah yang asing itu.
Lalu muncul pikiran kecil, mungkin kami semua sedang membawa beban yang sama-sama tidak terlihat. Hanya bentuknya saja yang berbeda.
Hari-hari belakangan ini terasa berjalan begitu otomatis.
Pagi datang.
Sore pulang.
Malam tidur.
Lalu semuanya kembali diulang tanpa banyak jeda.
Tidak ada yang benar-benar buruk.
Namun juga tidak banyak hal yang membuatku menunggu hari esok dengan antusias.
Dulu, waktu kecil aku termasuk anak yang sering sakit. Aku begitu akrab dengan dokter di klinik dekat rumah. Bahkan pernah ada masa ketika biaya berobatku digratiskan karena terlalu sering datang.
Lucu kalau diingat sekarang.
Dulu tubuhku yang sering meminta perhatian.
Sekarang, justru ada bagian lain dari diriku yang lebih sering diam. Tidak benar-benar mengeluh, tetapi juga tidak benar-benar baik-baik saja.
Mungkin itu sebabnya perjalanan pulang selalu terasa lebih panjang daripada perjalanan berangkat.
Bukan karena jaraknya.
Melainkan karena setiap langkah menuju rumah memberi ruang bagi isi kepala untuk berbicara lebih keras daripada bisingnya kota.
Dan di antara lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala satu per satu, aku sadar…
ternyata tidak semua orang yang sedang pulang, benar-benar merasa sudah menemukan tempat untuk kembali.















