Hari ini, Tuhan sepertinya mengarahkanku untuk belajar hal baru. Engga disangka, yang awalnya engga niat buat WFO (sekarang aku kalau WFO artinya kerja di luar yaa, bukan di rumah, LOL), jadi WFO, yang awalnya engga niat cari cafe di Jakal (Jalan Kaliurang), jadi malah cari di Pogung pulak, yang awalnya planning x, y, z, berubah seketika jadi a, b, c. Singkat cerita, pagi tadi, 20 Oktober 2020, aku dan temanku buru-buru cari cafe untuk segera meeting conference, masing-masing punya agenda meeting satu-sama-lain btw, karena waktu menunjukan pukul 10 am dan cafe-cafe jarang banget ada yg buka di jam segitu. Berlabuhlah petunjuk Google di salah satu cafe di bilangan Pandega Marta. Kayaknya itu cafe emang baru buka sih sewaktu kami datang. Saat menuju tempat parkir, aku sempat lihat baristanya sedang struggling memegang sesuatu yang bergerak-gerak di dekat pintu masuk. Kufikir ular ya, atau apalah entah. Saat masuk, aku tanya-lah sama si Barista, dia bilang buruk terluka, dan dia menyimpannya di pot pepohonan di pojokan cafe itu, biar adem katanya. Engga banyak basa-basi sih, selepas memesan Matcha Latte kesukaanku dan menyimpan laptop serta tas di sudut ruangan yang tak seluas lapangan sepak bola itu, aku segera menuju tempat si burung itu disimpan. Kepalang kaget sih, sayapnya patah sebelah, eh maaf, bukan patah saja, patah dan lepas :") Hati siapa coba yang gak sedih lihatnya. Sewaktu aku coba angkat, tanganku justru bersimbah darah yang engga sedikit (untuk ukuran hewan sekecil itu). Engga lama fikir juga, setelah berhasil kutanggap, segera ku bawa ke klinik hewan langgananku yang Puji Tuhan, lokasinya engga terlalu jauh dari cafe tempat kami singgah. Sungguh, di sini aku sadar, Tuhan punya rencana. Klinik hewan memang ditujukan untuk hewan-hewan hobi/peliharaan, agak sedih sih karena burung sekecil dan seliar itu memang bukan concern-nya untuk dirawat. Tapi ya semaksimal mungkin dokternya periksa, setidaknya aku tahu harus aku apakah makhluk Tuhan ini. Sedih sih, setelah dikabari engga ada harapan dia kembali ke alam, karena kakinya satu engga berfungsi, dan sayapnya patah dan engga bisa lagi tumbuh dan terpakai untuk terbang. Aku tahu hidupku saja sudah berat, tapi lebih berat lagi hidup si burung ini kalau sampai harus hidup kesakitan menjelang ajalnya. Komitmenku membawa dia pulang dan merawat sebisanya akhirnya terwujud, walau agak sedikit direwelin sih. But, it's okay. Aku rawat sebisa-ku, ko. Setidaknya sampai dia benar-benar sembuh dan bisa makan sendiri (di kandang) hehehe Dari kecil aku belajar untuk bisa menghargai setiap yang bernyawa, belajar bagaimana komitmen itu dipertahankan. Keputusan untuk membawanya pulang dan merawat serta memeliharanya ya karena aku tahu, dia tak mungkin selamat kalau dibiarkan tergeletak di pot bunga di sana, atau setelah aku bawa ke klinik yang justru hanya di bersihkan saja, lalu aku kembalikan dia lepas, sudah pasti dia segera pergi dari dunia dengan kondisi sesakit-sakitnya. Setidaknya, ada hal yang selalu aku bawa hingga mati. Apabila kita tidak bisa merubah ajal, setidaknya kita bisa merubah proses yang bahagia menuju kesana. Setidaknya, semua makhluk hidup yang bersamaku, akan punya masa-masa indah sebelum mereka pergi dari dunia. Bahagia dan tidak sedikit-pun mengutuk atas ketidak-adilannya dunia. Setidaknya, walaupun burung ini sudah tidak seperti burung-burung lainnya yang terbang bebas di langit atas, tapi dia bisa merasakan hidup dengan cinta dan kasih sayang. Harapanku, semoga banyak nasib-nasib makhluk hidup Tuhan lainnya yang punya masa-masa indah ketika mereka sakit hingga akhir hayatnya, ya. Aamiin. Yogyakarta, 2.06 am 21 Oktober 2020 Ditulis setelah aku ketiduran malam tadi, dan terbangun kaget karena lupa beli bubur bayi buat nyuapin si burung malang.