SEMUA KARENA AKU . . .
“Mengapa kamu bisa begitu tenang dan senang dalam menjalani segala hal? Bukankah orang-orang di sekitarmu melakukan hal buruk padamu?” Tanya ia dengan penasaran.
“Kamu tahu kenapa aku bisa begitu tenang? Karena satu hal. Karena aku memaafkan orang-orang yang buruk padaku” Jawabku
“Bagaimana bisa kamu memaafkan mereka? Bukankah perkataan mereka menyakitimu? Bukankah ucapan mereka membuatmu sakit? Bukankah perilaku mereka membuatmu terluka?” Ia mengernyitkan dahinya, tanda bertanya sambil emosi.
“Betul, tapi aku tak pernah merasakan itu.” Jawabku
“Bagaimana caranya?” Ia makin penasaran
“Apakah kau menganggap serius, perkataan anak kecil yang menjelek-jelekkan kita? Apakah kau dendam pada anak kecil tersebut?”
“Tidak” jawabnya cepat
“Kenapa kau tidak dendam dan tidak marah?”
“Tentu tidak” ia menjawab cepat
“Kenapa?” tanyaku
“Karena kan mereka anak-anak, mereka asal bicara, mereka kan tidak tahu apa-apa tentang kita.” Ia menjawab dengan semangat
“Lalu, apa bedanya dengan orang dewasa yang juga berkata buruk tentang kita? Bukankah mereka juga tidak tahu apa-apa tentang kita? Bukankah mereka tidak mengenal diri kita? Lalu kenapa aku harus marah? Kenapa aku pula harus dendam pada mereka?” Jawabku dengan tenang
“Tentu beda! Mereka kan sudah dewasa, mereka seharusnya bisa menjaga mulut mereka, mereka harusnya tidak berbicara seperti itu pada orang lain” Ia membalas perkataanku
“Siapa yang bilang mereka dewasa? Mereka hanya lebih tua saja, tapi bisa jadi jiwa mereka masih anak-anak. Asal bicara, tanpa tahu apa-apa” Jawabku tenang.
“Tapi kan, mereka itu …” belum selesi, aku potong permbicaraannya.
“Kamu tau, kenapa aku bisa tenang? Karena aku memaafkan mereka. Aku memaafkan orang yang berbicara buruk padaku, aku memaafkan orang yang menyakiti perasaanku. Karena itu, aku tak pernah punya dendam.”
“Bukankah itu berat?” Tanyanya heran
“Tidak. Di mataku, mereka hanyalah jiwa anak-anak yang tidak tahu cara berbicara yang baik. Sayangnya, jiwa ini terus ada hingga mereka menua. Maka dari itu, aku tidak dendam pada orang yang jiwanya kekanak-kanakan, karena sesungguhnya, merekalah yang perlu dibantu untuk didewasakan. Bukankah begitu?”
“. . . “ Ia terdiam
“Bagaimana?”
“Iya sih, betul juga. Kini aku memahami, kenapa kamu bisa begitu tenang menghadapi orang-orang seperti itu.”
“Ya, kini kamu paham. Mudah bagiku untuk memaafkan orang yang kekanak-kanakan, tapi sulit bagiku untuk memaafkan diriku sendiri jika aku yang kekanak-kanakan. Karena itu, aku selalu berusaha tenang, seperti orang dewasa seharusnya.”
“Aku tak pernah menyangka kamu bisa berpikir seperti itu”
“Ah, kamu kurang lama mengenalku” Aku memukul bahunya
“Hahaha, ternyata, banyak hal menarik yang selalu aku bisa pelajari darimu” Ia tersenyum balik
Di hari itu, seseorang belajar hal baru, tentang cara bagaimana hidup lebih tenang, tentang cara bagaimana menjadi seorang dewasa, bagaimana memaafkan orang-orang di sekitar kita.
___ SEMUA KARENA AKU … Bandung, 15 Juli 2020 @choqi-isyraqi














