Bu, apa kabar?
sebelum menulis banyak hal yang saya bingung harus memulainya dari mana, ijinkan saya sekali lagi untuk memanggilmu dengan sebutan “ibu” setelah sekian lama ini, yang selalu saya sebut diam-diam kepada Tuhan dalam seuntai kalimat bernama doa. Saya sebenernya jenis manusia pemalu, bu. Tapi sepertinya lebih tepat dikatakan bahwa saya ini cengeng, bagaimana tidak cengeng, untuk menuliskan surat ini saja saya menitihkan air mata. Lemah sekali ya bu anak lelakimu ini.
Saya bingung, bu, harus memulai dari mana ketika menulis surat ini. Tapi ada satu hal yang ingin sekali saya katakan kepada ibu, perihal terimakasih saya yang tak ukur jagadnya karena telah memperkenalkan saya ke dunia. Mungkin dulu, suara saya bukanlah suara yang indah untuk engkau dengar bu, betapa tidak. Saya menjerit luar biasa bising ketika engkau melahirkan saya, pertanda saya tumbuh sehat di dalam rahimmu yang hangat oleh cinta dan kasihmu. Kaki dan tangan saya menggeliat tak sabar, merasakan kelegaan dan angin sejuk menerpa tubuh telanjang yang kecil. Lalu seketika saya berhenti menggigil saat lenganmu yang halus dan hangat mendekap dan menyambut saya dengan senyuman terindah, mungkin ditambah dengan satu dua titik airmata.
Bu, saya selalu yakin Allah pasti menjagamu dengan baik (disana). Karena Ibu sudah berhasil menjaga saya, menjaga kami -adik dan bapak- juga dengan sangat baik. Bahkan sampai sekarang saya tau Ibu selalu menjaga kami, entah dengan cara apa dan bagaimana.
Teringat jelas bu, dulu sering kali dari mulut ini membantah setiap perkataanmu, bahkan nada yang tinggi terkadang secara spontan saya lontarkan padamu, padahal setiap nasihat dan perkataan itu semata-mata untuk kebaikan saya. Meski begitu tak pernah henti pula engkau memaafkan, tak pernah letih menasehati, menghawatirkan, dan mempedulikan. Mungkin karena cintamu yang besar ya bu sehingga mampu meredam amarah dan emosi yang kerap kali mendominasi. Maafkan saya ketika emosi ini tak dapat dikendalikan, saya masih terlalu muda bu, saat itu. Emosi saya masih naik turun. Ego saya masih tinggi. Saya masih labil. Tentu untuk menjadi sepertimu saya harus belajar lebih pandai lagi mengendalikan diri.
Ibu, bagaiman caranya untuk bisa meredam amarah dan emosi yang begitu hebatnya? Kau seperti lautan tenang, bahkan tak pernah saya lihat riaknya. Saya malu bu, saya bahkan bisa meledak hebat hanya karna hal kecil. Saya malu jika suatu saat nanti mempunyai anak lalu mereka melihat bagaimana dahsyatnya ledakan emosi saya. Apa yang mereka pikirkan? Saya takut mereka menganggap saya seorang monster, bu.
Ternyata bu, dewasa tak senikmat masakan buatanmu. Bu, rasanya saya ingin berhenti untuk tumbuh setiap hari. Saya kesulitan bernafas rasanya setiap kali saya tak mampu melewati hari dengan baik. Setiap kali saya lihat jarum jam pun, dada saya semakin berat. Pertanyaan saya semakin menggunung. Mampukah saya bertahan setiap hari? Sanggupkah saya lewati? Apa yang harus saya lakukan? Sulit sekali rasanya mengatasi hal secara dewasa. Rasanya saya gagal, bu. Gagal menjadi lelaki dewasa yang tangguh nan elegan di dunia yang semakin hingar bingar ini. Saya juga lelah menggantukan harapan setinggi langit seperti yang engkau ajarkan, bu.
Bu, dalam bola matamu bisa saya lihat ketegaran yang amat hebat. Bagaimana bisa engkau setegar itu, bu? Bagaimana senyum itu dapat begitu mudah terlukis diwajahmu? Dan ketegaran hatimu, bisakah engkau mengajarkan kepada saya? Jujur saja, saya tak setegar itu, bu. Kelak , saya ingin menjadi dewasa dengan ketegaran sehebat milikmu
Aaaahhhh maafkan saya bu jika terlalu banyak mengeluh. Saya jadi malu pada angka dua puluh yang tertera di identitas saya. Tapi ya gimana lagi bu, namanya juga manusia bisa nya cuman ngeluh, ngeluh, dan ngeluh aja. Apalagi engkau adalah bentuk kenyamanan yang sulit saya temukan gantinya, bu. Engkau adalah gambaran dari ketulusan yang tidak akan ada habisnya, perhatian yang tidak pernah berjeda dan terus mengalir bahkan hingga saya sudah berumur dewasa ini. Meski kehidupan dewasa saya tak engkau temani dan hari-hari saya serasa mati, tak sedikitpun saya merasa kehilangan sosok ibu. Saya hanya perlu menyimpan namamu dalam baris-baris doa selepas lima waktu saya, kemudian membawamu dalam setiap planning kehidupan dimasa depan saya. Saya pun mempercayainya bahwa ibu tidak pernah benar-benar pergi, hanya saja berubah bentuk menjadi ‘keyakinan’ dan ‘semangat’ didalam diri saya.
Menjalani hari-hari sendiri tanpa kau disisi ternyata tak mudah untuk saya lalui, bu. Terkadang saya harus bersusah payah mengusir sepi. Tak jarang saya menghabiskan malam dengan membayangkan ibu juga disini. Tak ada lagi ibu tempat saya berkeluh kesah. Tak ada lagi pangkuanmu tempat saya menumpahkan air mata saat ada masalah. Bahkan tak ada lagi pelukan hangat yang bisa saya rasakan yang membuat saya aman dari dunia yang kejam ini. Tapi tak apa kok bu, masih ada ada ayah yang mendampingi saya. Memang si, ayah tidak memberikan kenyamanan dan pelukan hangat seperti ibu. Tapi kau tau bu, hanya dengan melihat punggung ayah saja saya bisa mendapatkan suntikan kekuatan yang luar biasa. Ayah ternyata tak kalah hebatnya dengan ibu. Tak tau kenapa hanya dengan melihat punggunya seolah-olah ada energi ki yang amat begitu besar menyelimuti punggung beliau, lalu energi ki tersebut secara spontan menular ke diri saya sehingga saya mendapat impuls positif yang cukup besar. Apa mungkin ini kekuatan magis-nya ayah, bu?
Ooooya bu, saya minta tolong, nanti jika ibu bertemu atau secara tak sengaja berpapasan dengan Allah tolong sampaikan permohonan maaf saya yang sebesar-besarnya karna hingga saat ini belum bisa menjadi hamba yang baik dan taat. Dengan ibadah sering melalaikan, waktu sering terlenakan. Mengatakan sesuatu kebaikan, tapi tak melakukan. Pintar mengoreksi kesalahan orang lain, tapi lupa dengan kesalahan diri sendiri. Hobi pergi ke Coffee Shop dan membeli secangkir kopi dengan harga berpuluh-puluh ribu, namun berat hati memberi uang kepada anak kecil yang minta-minta. Bahkan tak jarang saya pura-pura tak melihatnya dan mengabaikan anak kecil yang meminta-minta. Tapi saja janji saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki semua itu. Jadi mohon bantu saya bu, tolong sampaikan kepada Allah untuk memberikan kesempatan kepada saya untuk berbenah dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Hampir lupa, saya masih punya satu permintaan lagi, bu. Tolong tanyakan kepada Allah perihal tulang rusuk saya yang hilang. Iya saya tau bu, semenjak kepergianmu sosok ayah menjadi sangat penting bagi kehidupan saya. Beliau mampu memberi kekuatan untuk menjalani kehidupan yang keras ini. Namun tak bisa dipungkiri juga bahwasannya saya sangat butuh ‘sosok’ yang mampu memberikan saya kenyamanan dan kelembutan seperti ibu.. Saya butuh sosok dia, bu. Saya butuh dia yang rasa cinta nya terhadap saya sebesar engkau, bu. Saya butuh dia yang siap memberikan pelukan panjang ketika saya lelah dengan dunia yang hingar bingar ini. Saya butuh dia yang mampu memotivasi saya lewat tutur kata nya yang lembut ketika saya kehilangan semangat. Saya butuh dia yang sanggup memberi kekuatan lewat senyum manisnya ketika saya merasa tak sanggup menghadapi semua ini. Sebenarnya perihal jodoh, saya tidak terlalu terburu-buru kok, bu. Hanya saja saya butuh sedikit clue agar saya lebih muda mencarinya seiring saya memperbaiki dan memantaskan diri. Tapi akan lebih muda lagi jika Allah mau memberitahu secara detail perihal jodoh saya, namanya, nomor Whatsapp-nya, pin BBM-nya, nomor hapenya, alamat rumahnya, ukuran bra-nya. Jadi saya tak perlu repot-repot mencarinya, tapi langsung mendatangi rumahnya, bertemu ayah dan ibunya lalu saya lamar anaknya. Tapi ibu tak perlu khawatir, sebab cintanya dia tak akan sebesar kasih sayang ibu kepada saya. Lalu, dia yang kelak akan jadi ‘jodohku’, ada untuk melengkapi saya bukan untuk menggantikan posisi ibu. Posisi ibu tetap menjadi nomor satu dihati saya, dan entah mengapa tidak ada satupun yang bisa menyamaimu dan menggantikan posisi ibu.
Bu, saya merindukanmu, tak ada cerita paling indah selain menceritakan kerinduan ini. Tetapi jujur, saya mungkin tak sanggup menggoreskannya menjadi untaian aksara indah. Bahkan saya bukan seorang penyair, pun pelantun puisi merdu. Memang sangat berat ketika terlalu merindukan belaian ibu, dengan memandang foto saja mungkin itu tidak cukup bagi saya. Ingin sekali rasanya setiap hari, setiap detik melihat wajah ibu, melihat lengkungan senyum ibu sebagai penawar letih saya seusai seharian kerja. Namun yang saya dapat, ibu tak berada disamping saya, ibu tak seatap lagi dengan saya. Lalu setiap tanggal 22 Desember teman-teman saya selalu berlomba-lomba untuk merayakan hari itu bersama ibunya. Hampir semua postingan socmed teman saya hari itu adalah tentang ibu, berfoto dengan ibunya, memberikan hadiah, dan hal indah lainnya.
Lalu saya apa??? Saya hanya bisa membuka galeri foto lama diponsel saya, saya pandangi foto ibu. Kemudian memilih foto mana yang bisa saya posting. Heii… Bu, saya mulai kesulitan memilihnya, karna ternyata stok foto bersamamu tak sebanyak yang saya kira. Bahkan saya takut karna memori saya mulai pudar menyimpan potret wajah tenangmu, bau aroma tubuhmu, senyum manismu, hangatnya pelukanmu, dan masakan khas buatanmu. Ya Allah salahkah saya iri kepada mereka? Ya Allah salahkah saya menginginkan ibu disini? Salahkan saya cemburu? Cemburu pada mereka yang bisa dengan bebas memeluk ibunya, mencium pipi ibunya, merasakan hangat pelukannya.
Mungkinkah kita bisa bertemu sekali waktu, bu? Banyak hal yang ingin saya ceritakan tentang kehidupan saya saat ini. Menceritakan bagaimana sulitnya menghadapi kejamnya hidup tanpamu. Menyampaikan gumpalan rindu yang menumpuk di relung hati saya. Melakukan hal yang belum sempat saya lakukan untukmu. Memberikan waktu saya untuk menemani dan menjagamu.
Ibu, ada milyaran maaf yang ingin saya utarakan dihadapanmu. Maafkan saya bu, sejengkalpun belum terbalas jasamu. Maaf untuk perilaku yang terkadang mengiris ulu hatimu. Maaf untuk jarak yang tak sengaja tercipta seiring umur saya bertambah. Maaf karna saya belum sempurna menghapus segala penat dan lelahmu. Serta maaf-maaf lain yang mungkin tidak akan cukup saya tulis dalam 1000 lembar kertas sekalipun.
Kini sudah tak dapat saya dengar lagi tawa renyah yang ibu miliki. Sudah tak dapat saya cium lagi aroma rempah-rempah racikan tangan ibu yang tertuang dalam sebuah masakan. Sudah tak dapat saya rasakan lagi perhatian yang tersirat disetiap omelanmu. Sudah tak dapat saya rasakan lagi hangat dan nyamannya pelukanmu. Tapi bu, kasihmu tertanam abadi di hati saya. Ciri khas perilakumu dalam memberi dan menunjukkan cinta dan kasih sayang tidak akan pernah mampu tergantikan. Ibu tetaplah ibu, wanita paling istimewa yang dianugerahkan Allah sebagai seseorang yang cintanya begitu amat besar kepada saya bahkan ketika saya belum dilahirkan kedunia ini.
Doa saya semoga Allah mebalas segala bentuk kasih sayang dan pengabdianmu seperti halnya ibu yang menghabiskan seumur hidup untuk menyayangi saya dan keluarga. Semoga Allah menempatkan ibu di tempat teristimewa. Senantiasa menjaga ibu dan suatu saat semoga Allah berkenan sekali lagi mengumpulkan kita di surga miliknya.
Saya harap ibu tetap mengawasi saya dari kejauhan sana. Merangkul saya dengan kehangatan cinta yang ibu kirim lewat pertanda. Menemui saya untuk berbincang panjang, bercerita dan tertawa lewat sebuah mimpi. Lalu kelak akan saya ceritakan pada cucu-cumumu bahwa malaikat sepertimu memang benar-benar ada. Dan di setiap pertemuan kita selanjutnya, saya pastikan saya tidak akan sungkan untuk bicara dan mengutarakan bahwa, ibu adalah wanita terhebat.
Cc : @catatanpemimpi & @yuvenil