Tengkorak: Oase Alat Peraga dan Semangat Anak Muda
Menonton “Tengkorak” bagi saya adalah sebuah pengalaman warna-warni dan agak manis-pahit. “Tengkorak” mengingatkan saya pada pengalaman membuat beberapa film pendek sewaktu berkuliah, yang meski belum berkesempatan menjadi penulis naskah utama (karena kurang berbakat dan ide saya seperti Leonardo da Vinci pada masanya) namun dapat memberikan gambaran “DIY” (do it yourself, bukan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana latar film terjadi) pada proses pembuatan film dan bagaimana saya menulis esai.  Seseorang pernah bilang, ketika saya menulis esai resmi, seringkali saya melontarkan ide atau satu kalimat yang terkesan penting tapi kemudian tidak dibahas lagi. Lalu buat apa ditulis dari awal? Namun untungnya saya merasa sering mengakhiri esai dengan cukup spektakuler hingga pembaca lupa keporak-porandaan tulisan yang baru saja mereka baca.
“Tengkorak” adalah satu dari sedikit sekali film Indonesia yang berhasil membuat saya penasaran dan benar-benar gelisah karena takut kelewatan. Bahkan satu-satunya dalam kurang lebih satu tahun ke belakang. Terakhir adalah “Marlina” pada November 2017 yang mana saya sudah mengantisipasi film tersebut sejak lama sekali. Dan kebetulan, lagi-lagi seseorang yang sama, juga merasakan semangat yang sama. Film itu sekaligus jadi film pertama yang kami tonton sama-sama di bioskop. Disertakan dengan diskusi yang mengesankan dan mengenyangkan setelah nonton.Â
Kali ini, “Tengkorak” berhasil membawa saya ke Jatinangor malam-malam sendirian, karena hanya di kota mahasiswa itu lah “Tengkorak” ditayangkan. Saya berpikir kalau mahasiswa memang target utama dari film ini. Menaruh film Indonesia yang tidak terlalu populer di bioskop kota besar tidak akan menarik jumlah penonton sebesar film Bruce Willis dan Crossbones. Meski karena sendiri, saya hanya bisa memperhatikan segerombolan mahasiswa yang kebetulan nonton tengah malam bersama saya keluar dari bioskop.
Saya takjub dengan atmosfer dan visual yang dimunculkan sejak opening shot menggunakan drone. Dihias dengan tata huruf yang menarik, film ini menggunakan teknik malas bercerita menggunakan gambar, dan menjelaskan kepada penonton latar cerita yang akan kita nikmati menggunakan teks dan teks dan teks yang mungkin dinilai dramatis dan documenter-like sementara ada pihak yang menganggap itu haram. Film dilanjutkan dengan fake footage dan synthesized interview (istilah mengada-ngada). Agak terlalu lama. Saya sampai sempat berpikir kenapa tidak sekalian saja dibuat dokumenter pura-pura. Sekalian terobosan.
Beberapa adegan tampak mengganggu dan tidak masuk akal. Dan tentu ditemui juga ragam dialog Bahasa tulisan menjadi lisan yang lagi-lagi menjadi masalah film Indonesia. Saya tentu keji karena mengkritik film lokal dengan pengetahuan sekedarnya, boro-boro bisa bikin film seperti ini. Tapi orang aneh mana yang mau ikut dengan lelaki yang membunuh seseorang depan kamarnya lalu senang-senang saja sepertinya motor-motoran keliling Jogja. Masih untung dikasih waktu untuk cuci muka. Ditambah lagi komponen cerita yang berlubang. Pada umumnya disebut “plot holes”, namun bagi saya hanya sebuah produk akibat menihilkan nongkrong. Andai kata skenario tersebut dioper ke teman-teman (yang kritis) sambil nongkrong lalu diobrolkan niscaya hal-hal ini tidak terjadi. Seperti ketika saya membaca tentang writer’s room “Breaking Bad”, “Better Call Saul”, atau “Game of Thrones” dan seantero MCU, niscaya sebanyak mungkin permutasi cerita akan dibahas dan tingkah karakter yang tidak masuk akal akan ketahuan oleh tim penulis yang ramai. Writer’s roomnya “The Walking Dead” mungkin kebakaran. Tapi orang-orangnya masih di dalam.
Di luar dialog canggung para kaukasian berlogat agak Jawa, aktor baru, dan sutradara keren yang saya pahami hasratnya untuk ingin jadi aktor juga, aktingnya tidak lah sebermasalah dialog dan skenario yang kurang nongkrong itu. Meski belum setingkat Fachri Albar di akhir “Pengabdi Setan” yang membuat saya paham bahwa akting seharusnya seperti apa.
Saya sangat suka dengan detail-detail produksi “Tengkorak”. Juga warna, tata kamera, dan gimmick. Maka dari itu mungkin banyak yang bilang kalau sebaiknya sekalian jadi film dokumenter saja, karena jika memang dikemas seperti “Blair Witch Project”, niscaya ada saja oknum penyebar hoaks yang bilang kalau film ini dokumentasi kejadian nyata di era SBY-Pakde Jokowi-Kang Emil. Jika saya harus memberi nilai 1 dari 10 untuk semangat film-making Yusron Fuadi dan teman-temannya, maka saya akan memberikan nilai A+. Daripada si Sableng bulan lalu yang cuma jualan gambar dan aktor ganteng.
Terima kasih sudah membuat film ini dan memberikan saya banyak perspektif dan renungan baru. Sungguh testimoni “Make believenya dapet” dan “Mindblowing ending” dari orang-orang tentang film ini adalah benar adanya. Meski memang segitu saja. Nanti bikin lagi yang lebih kokoh dan rapi. Saya pasti dukung dan memberi kritik yang membangun. Semoga saya juga lebih kaya jadi saya borong tiketnya. Kalau lebih kaya lagi saya produseri semuanya. Saya senang nonton ini.












