Refleksi 19 Februari 2025
Hai, ini aku 8 tahun kemudian.....
Sudah lama sejak aku masuk di dunia tumblr. Rasanya canggung menulis ini kembali. Oh, aku sudah bekerja sekarang. Hebat bukan? Orang 'aneh' 8 tahun lalu di bangku putih abu-abu kini telah memiliki 4 gelar akademik. Lebih dari 'aneh'. 'Gila'.
Di tengah keterpurukanku di dalam pekerjaan, masalah relationship juga lebih sial. Bayangkan saja, aku sudah 5 tahun menjalin hubungan harus putus sejak akhir 2024. Ya... mau bagaimana lagi? Jarak, keinginan orang tua, usaha, rasanya sia-sia di lanjutkan.
Ketika rasa itu hilang, tiba-tiba aku merasakannya lagi...
Lagi-lagi kebodohanku. Aku menyukainya terlebih dahulu.
Iya. Tidak salah lagi.
Akupun juga bingung kenapa bukan orang lain yang menyukaiku tapi aku dulu yang menyukainya?
Tapi cerita ini agak lucu sih...
Ketika masuk di masa pergumulanku, salah satu adik tingkatku bercerita status salah satu pendidik yang ada di kampus kami masih betah dengan status singlenya. Bahkan iapun menyarankanku untuk mendekatinya. Mungkin karena gelar yang aku punya tidak mungkin didekati oleh orang yang memiliki 1 gelar saja. Tapi pernah juga teman kuliah magisterku bercanda kalau aku harus mendekatinya.
Awalnya aku merasa bodo amat.... Sadar diri juga sama status....
Tapi itu semua berubah 1 minggu lalu....
Mimpi itu menjadi tanda untuk mendekatinya walau dengan hati ragu. Apakah aku bisa? Status awal kami sudah melekat.
Sore lalu aku bertemu dengannya setelah 5 tahun meninggalkan kampus tersebut. Semesta dan Tuhan sepertinya meminta hamba-Nya ini untuk mencoba mendekat. Berawal dari cerita seusai perkuliahan yang belum terungkap, kondisi pekerjaanku, hingga pertanyaan 'bodoh' terucap dari mulutku. Namun yang membuatku kaget kami menutupnya dalam doa bersama. Apa ini? It's my dream for a long time!
Sekarang aku masih dalam dilema. Apakah aku harus lanjut mengejarnya meski sulit menerobos hatinya? Atau tinggalkan saja dengan penyesalan yang sangat sakit? Bahkan aku juga bingung bagaimana mengawali percakapan dengannya karena kami terpisah jarak dan waktu?
Biarlah aku bawa ini dengan Jalur Langit. Biarlah Sang Pencipta yang bekerja dan meluluhkan hatinya.










