Semoga dari cerita ini, ada manfaat yang bisa diambil. Cerita ini tentang sepupu kecil saya, kami dulu pernah serumah ketika dia masih bayi, sampai berumur 2 tahun. Sayapun tidak jarang ikut membantu menjaganya.
Mungkin semua tau, kalau bayi itu suka bangun di malam hari, sedangkan disiang hari, ia bisa tidur sangat lama. Sayapun beberapa kali "menculik" sepupu kecil saya itu dari kamarnya, khawatir jatuh dari kasur, karena melihat mamanya yang ketiduran, sementara dia "ngoceh" sendirian :D
Ketika sampai ke fase toilet training, sekitar umur 1,5-2 tahun, dia sudah belajar dilepas dari diapernya. Setiap akan tidur dia dibiasakan buat pipis di toilet, dan diwaktu-waktu dia suka pipis pun, dia akan cepat-cepat kita bawa ke toilet agar terbiasa pipis ataupun bab disana. Namun di umurnya yang mau 4 tahun, ketika dia main kerumah, saya dapati dia pipis diatas kasur saya waktu itu, bukan saat tidur, tapi saat ia enggan bersegera ke toilet saat terasa pengen pipis, karena keasyikan main sama saya. Jadilah dia pipis, kemudian bersembunyi.
Mendapati dia pipis dan bersembunyi, naluri pertama saya bukan ingin marah, tapi malah merasa kasihan. Sempat bertanya² dalam hati, "kenapa sampai harus sembunyi?"
Kemudian saya malah iseng kagetin dia, waktu kedapatan bersembunyi.
"Nah! Ketahuan sembunyi disini"
Dia tiba-tiba menangis, tentu saya merasa bersalah setelahnya. Kemudian saya peluk, saya tenangkan sambil saya tuntun ke kamar mandi, dan saya bantu bersihkan. Yang buat saya terharu, dia meminta maaf sambil memeluk.
Setelahnya saya bertanya,
"Tadi aku pipis di kasur aa, padahal aku harusnya cepat² ke kamar mandi kalau mau pipis"
"Masya Allah, aa bangga. A** sudah minta maaf sama aa, padahal yang dipipisin kan kasurnya. Dan a** tau, nanti lagi kalau mau pipis, seharusnya cepat-cepat ke kamar mandi, bukan sembunyi. Begitu bukan?"
Diapun mengangguk dan tertawa :D
*Dia sebut dirinya pakai namanya sendiri, bukan "aku", tapi cukup saya samarkan namanya.
Sesudahnya, saya bertanya ke mamanya, namun tentu tidak dihadapan sepupu saya. Apa sepupu saya itu pernah pipis di kasur lalu dimarahi? Kemudian mamanya menjawab,
"Ga, a. Cuma seringnya dia itu nahan pipisnya kalau lagi asyik sama kegiatannya, jadinya pernah pipis waktu dia lari ke kamar mandi, setelah dia nahan-nahan. Anti cuma kasih tau, kalau nahan-nahan pipis itu ga baik, ga sampai anti marahin kok. Kenapa aa tanya begitu? Apa tadi kejadian disini?"
Alhamdulillah, setelah kejadian itu.. saya tidak lagi melihat ataupun mendengar sepupu saya mengulang "kesalahan"nya.
Dari kejadian tersebut membuat saya belajar bagaimana seharusnya bersikap ketika menghadapi anak-anak pada fase-fase seperti itu. Tidak perlu menunggu punya anak dulu untuk memahami hal-hal semacam ini.
Kadang, ketika anak berulang melakukan "kesalahan" yang sama, lalu reaksi setelahnya adalah bersembunyi, padahal orang tuanya tidak sampai memarahinya ataupun memberikan hukuman atas kesalahannya, aksi "sembunyi" nya itu mungkin sebagai bentuk rasa kecewa kepada dirinya sendiri atau malu telah berbuat kesalahan.
Menjadi pengingat bagi orang-orang dewasa disekitarnya, bukan hanya mencukupkan mendidik agar ia bersikap jujur saja, namun reaksi kita ketika ia sudah bersikap jujur dan mengakui kesalahannya pun penting disini.
Karena jika omelan yang terus berulang dan teguran keras yang ia dapatkan, alih-alih membaik, justru bisa menjadi tekanan untuknya. Bahkan bisa saja ia malah menarik diri untuk jujur.
Cara terbaik ketika kita melihat ataupun mendengar mereka melakukan kesalahan, adalah mengajak mereka bicara secara privasi, bukan didepan orang lain atau banyak orang.
Bangun komunikasi dua arah, dengan terlebih dulu bertanya tentang alasannya melakukan demikian. Dengarkan dengan seksama, tanpa sedikitpun memotong apa yang ia sampaikan.
Setelah selesai, baru kita sampaikan bagian mana yang harus kita luruskan tanpa harus diiringi dengan amarah. Berikan apresiasi jika ia telah bersikap jujur.
Beri ia ruang untuk belajar dari kesalahan. Jika perlu, sampaikan konsekuensi terburuk dari kesalahannya itu apa, jika ia tidak memperbaikinya.
"Kita semua tidak ada yang luput dari kesalahan, kebanyakan penghuni surga pun adalah mereka yang berdosa, namun kemudian mereka bertaubat dengan sebenar² taubat. Begitupun ketika melihat kesalahan orang lain, belajarlah dari kesalahannya, agar kita jangan sampai terjerumus kedalamnya. It's okay not to be perfect, sometimes we make mistakes, learns from it, and never makes that mistake again."
https://instagram.com/gsatria