Cerita LPDP 2019 - Tahap 1
(lanjutan Tahap 0)
Setelah masa pendaftaran LPDP 2019 dibuka sekitar pertengahan Juli, saya secara bertahap mengumpulkan berbagai berkas yang dibutuhkan untuk pemenuhan syarat administrasi. Berkas-berkas seperti Scan Ijazah, Transkrip, dan IELTS tentu sudah saya miliki karena berkas-berkas tersebut merupakan berkas mendasar yang harus diunggah pada setiap pendaftaran beasiswa dan kampus. Jadi, tinggal melengkapi berkas lainnya yang dibutuhkan.
Berkas pertama yang saya siapkan adalah surat keterangan sehat, surat bebas narkoba, dan surat bebas TBC karena prosesnya bisa memakan waktu berhari-hari. Ketiga surat tersebut bisa didapatkan di Puskesmas/Rumah Sakit yang menyediakan fasilitas pemeriksaan untuk tiap tes tersebut. Berhubung tes narkoba dan tes TBC tidak ada di semua rumah sakit, jadi kita harus mencari tahu dahulu di rumah sakit mana saja yang menyediakan fasilitas tersebut dan, tentunya, mengenakan biaya yang lebih terjangkau.
Saya survei mandiri beberapa rumah sakit yang menyediakan tes-tes tersebut. Salah satunya adalah Rumah Sakit Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan. Namun, karena biaya ketiga tes tersebut hampir mencapai 700 ribu rupiah, saya tidak jadi melakukan tes dan batal mengisi form pendaftaran. Kemudian, saya mendapati RSUD Jatipadang di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menjadi salah satu rumah sakit yang menyediakan tes narkoba relatif lebih murah dibandingkan kebanyakan rumah sakit lainnya. Bersama dengan tes kesehatan, kedua tes ini hanya dikenakan biaya tidak sampai 200 ribu rupiah. Masa tunggu mendapatkan kedua surat tersebut, berdasarkan pengalaman saya, adalah selama sekitar 4 jam. Tetapi, berhubung saya masih membutuhkan satu tes lagi, yakni tes TBC, maka saya harus mencari rumah sakit lainnya. Akhirnya, melakukan tes TBC di Rumah Sakit Budi Asih, Cawang, Jakarta Timur. Biaya yang dikenakan untuk tes TBC dan tes kesehatan berkisar 400 ribu rupiah. Jeda antara tes dengan hasil, kalau tidak salah, adalah 2-3 hari kerja. Jadi secara total kocek yang keluar dari kantong pribadi untuk melakukan tes tidak sampai 600 ribu rupiah.
Selanjutnya, memikirkan narasi yang ingin dibawa dalam proses pendaftaran LPDP. Narasi, menurut saya, merupakan hal yang sangat penting dipikirkan untuk mengisi CV dan mengerjakan esai Motivation Letter/Statement of Purpose serta Study Plan. Gini, narasi yang dibawa harus merupakan hasil kontemplasi atas kejadian di masa lalu, rencana studi, dan rencana setelah pulang studi. Ketiga titik tersebut harus menjadi cerita utuh yang unik dan harmonis sehingga mampu meyakinkan pemberi beasiswa bahwa saya memang layak mendapatkan beasiswa LPDP ini. Penentuan narasi bisa juga dikatikan dengan tema besar hidup kita sehingga pemberi beasiswa mengenal kita dengan tema unik tersebut.
Pijakan utama dalam memikirkan narasi ini, bagi saya, adalah profil diri yang ingin kita tampilkan serta profil jurusan-kampus yang dituju. Pada dasarnya, saya sebagai manusia yang telah hidup lebih dari 20 tahun, telah melalui berbagai pengalaman dalam hidup. Saya harus mengingat kembali berbagai kepingan mozaik tersebut dan mencari kepingan mana yang relevan dan penting untuk diangkat ke dalam narasi yang dibawa. Kontemplasi juga diperlukan untuk menetapkan titik akhir tujuan perjalanan hidup sehingga titik awal dan titik akhir sudah ditemukan. Dalam konteks LPDP, kedua titik ini harus berhubungan dengan misi LPDP soal berkontribusi untuk bangsa dan negara Indonesia. Artinya, pastikan semua narasi yang dipikirkan juga relevan dengan pembangunan negara ini kedepan.
Kemudian, dengan profil jurusan-kampus pilihan yang pastinya unik dibandingkan jurusan-kampus serupa lainnya, saya harus memastikan bahwa saya memahami mahasiwa seperti apa yang diharapkan masuk dan keluar dari jurusan-kampus tersebut. Setelah lulus dari jurusan-kampus tersebut, sangat wajib menentukan kemana penantian hidup serta tahap demi tahap yang akan dituju demi mencapai titik akhir. Tahap ini merupakan jembatan yang menhubungkan titik awal dan titik akhir yang telah disampaikan pada paragraf sebelumnya. Dengan demikian, kisah hidup menjadi utuh dan pemberi beasiswa mendapatkan keyakinan bahwa calon penerima beasiswa ini merupakan seorang yang sesuai dengan visi dan misi LPDP.
Pengerjaan CV dan esai membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebab, khusunya bagi pengerjaan esai, bisa membutuhkan waktu hitungan pekan bahkan bulan karena juga membutuhkan koreksi dari senior atau kawan yang lebih berpengalaman dalam pembuatan esai sejenis. Oleh karena itu, pengerjaan esai tidak boleh dilakukan dalam tempo yang singkat karena hasilnya dipastikan tidak akan maksimal.
Video ini sangat bagus untuk penulisan esai personal statement!
https://www.youtube.com/watch?time_continue=315&v=YCuaq-a7dKc&feature=emb_logo
Dalam hal pengerjaan CV, saya juga tidak memasukkan semua jenis prestasi, aktivitas, pengalaman, dll. Saya hanya memasukkan konten isian yang relevan dengan narasi yang sudah saya tentukan di awal sehingga pemberi beasiswa melihat bahwa saya memang sudah fokus sejak lama dalam meniti impian yang telah ditetapkan dalam narasi awal.
Saya mengerjakan ketiga berkas tersebut sejak awal Agustus dan meminta pendapat kepada beberapa orang yang saya percaya bisa menilai dan memberikan masukan untuk esai yang lebih baik. Pada akhirnya, sekitar setengah jam sebelum deadline, akhirnya saya klik SUBMIT!
Bismillah!
(bersambung ke tahap 2)















