Ini termasuk salah satu pertanyaan yang paling sering kami dengar sepanjang kami mengelola akun ini selain yang tertera pada FAQ kami, umumnya diikuti dengan: “Emang adminnya ganti ya?”
Apabila pertanyaan ini ditanyakan pada tahun 2012, maka jawabannya adalah adminnya masih sama, mungkin kalian yang baru follow kami buat cari berita dan kaget bahwa ternyata adminnya ngetwit candaan garing nggak penting, karena sebenarnya untuk itulah akun ini dibuat.
Namun apabila perubahan kicauan kami dirasakan mulai awal tahun 2013, ya, kami memang sudah berubah.
Kami dulu memang hanya dua mahasiswa biasa yang menikmati kehidupan kampusnya. Banyak jadwal kuliah, sering ke kampus (belum tentu untuk kuliah), rajin iseng-iseng masuk acara kegiatan mahasiswa, dan sebagainya. Perlahan-lahan situasi berubah. Kami mulai jarang ke kampus, bahkan jarang di Bandung. Inspirasi-inspirasi ngetwit pun surut karena kami tidak berada di sekitar sumber inspirasi tersebut. Tidak mengherankan apabila pada kondisi ini konten kicauan kami hanya seputar berita (karena tinggal RT) dan hal-hal luar kampus. Seperti semua mahasiswa ITB lainnya, giliran kami untuk meninggalkan kampus ini tiba.
Sampai akhirnya, kami berpikir untuk mengakhiri semua ketidakjelasan ini. Mati atau regenerasi. Regenerasi yang berarti mencari administrator baru yang sudah pasti memiliki karakter yang berbeda dengan kami berdua, dengan risiko bisa saja ternyata karakter twitnya tidak cocok dengan apa yang dinikmati oleh followers ITWEETB selama ini.
Di kala itu, menutup akun ITWEETB tentu saja terlihat seperti pilihan yang mudah. Alih-alih berhadapan dengan risiko bahwa sang gajah biru akan berubah karakternya, dengan meng-klik delete account, kami pun menjadi kenangan selamanya. Ringkas dan aman. Namun apakah ego kami lagi yang harus kami menangkan? (setelah, yah, following 0). Tega membunuh ikon yang telah kami besarkan sendiri selama 2 tahun lebih pun tidaklah semudah itu.
Kami pun melempar survey ke followers. Dan cukup terkejut dengan antusiasme pengisinya yang bersikeras bahwa akun ini masih dibutuhkan oleh mereka. Teringat kata-kata Uncle Ben: “With great power comes great responsibility”, kami pun berpikir ulang. Tentunya sangat sulit untuk mengelola akun skala kampus apabila orangnya sendiri tidak ada di kampusnya. Kami pun sepakat untuk berregenerasi.
Ada bermacam-macam cara yang terpikirkan untuk mencari admin baru. Tadinya kami berpikir untuk membuat reality show untuk pencarian admin baru dengan polling SMS, namun karena kami mulai sibuk mencari nafkah, kami memilih untuk scouting talent secara manual, dengan segala keterbatasan network kami.
Di kampus, kami bukanlah siapa-siapa tanpa topeng ITWEETB. Kami cuma mahasiswa kuper yang bahkan baru tau kalau banyak acara-acara hebat buatan anak ITB setelah kami jadi admin. Oleh karena itu, kami ingin admin baru ITWEETB haruslah orang-orang yang luar biasa, dengan harapan agar memberikan sudut pandang yang lebih terintegrasi kepada followers. Tidak lagi seperti ITWEETB yang dulu yang memberikan twit-twit asal, nyinyir, subversif, dan kurang penting.
Singkat cerita, mata kami pun akhirnya menemukan orang-orang yang kami cari. Sepasang anak (masih) muda dengan latar belakang potensial yang kami percayai bisa berjalan searah dengan Manifesto ITWEETB. Sepasang? Ya! Kami pun memulai akun ini berdua. Karena kami percaya banyak hal-hal besar dan legendaris yang diawali dua orang, sebut saja Larry Page & Sergey Brin, Soekarno & Hatta, William Hanna & Joseph Barbera, Charles & Keith, Benny & Mice, Beavis & Butthead, Sinta & Jojo, dst.
Yang suka dan tidak suka pasti ada. Perubahan tidak dapat dihindari dan itu nyata. Pada akhirnya, kami di ulang tahun yang ketiga ini hanya bisa berharap apa yang kami awali dengan keisengan dapat memberikan buah manis bagi banyak orang, mahasiswa kampus kami tercinta pada khususnya. Sumpah, kami masih pingin ngadmin lagi, but it’s time for these old farts to go, toh kunci ruang nostalgia selalu ada di kantong kami.
Welcome aboard @erickawww dan @huseinsusilo :)