Makin dewasa, makin banyak hal yang kita sadari ternyata membutuhkan biaya. Dan itu tidak sedikit, sesuatu yang dulu waktu kita kecil bahkan mungkin sampai kuliah, kita nggak kepikiran karena semua hal yang kita butuhkan, diusahakan oleh orang tua. Kita tidak perlu mengusahakannya sendiri, semua tersedia.
Kini, umur kita beranjak, tanggungjawab kita bertumbuh. Kita mulai menyadari bahwa biaya hidup sehari-hari, bahkan untuk diri sendiri, ternyata begitu banyak. Apalagi jika nanti berkeluarga.
Menyadari saat kita perlu bekerja bukan lagi karena kita suka, tapi karena kita butuh. Kita perlu membeli tempat tinggal, membeli pakaian, membayar biaya pendidikan, menjaga kesehatan, dan ternyata kita menyadari bahwa untuk mencapai standar kenyamanan kita, jalannya tidak nyaman.
Namun, di tengah hiruk pikuk manusia yang mengusahakan dunia. Kita adalah hamba Allah Yang Maha Kuasa, yang memiliki dunia dan seisinya. Melalui petunjukNya, kita belajar bahwa kehidupan dunia yang amat sebentar ini hanyalah tempat singgah. Seperti seorang musafir yang melakukan perjalanan dan istirahat sebentar, tempat ini nanti akan kita tinggalkan selamanya.
Kita tidak pernah mendengar orang yang bergelimang harta hidup sampai 200 tahun, bahkan 100 tahun pun belum tentu. Hidup kita mungkin hanya sampai umur 60 atau 70? Bisa lebih dari itu, bisa kurang, kita tidak ada yang tahu. Sementara kita tahu bahwa hidup yang sebentar ini, kita diisyaratkan untuk menyiapkan bekal hari akhir.
Pernah nggak membayangkan? Para orang salih yang dulu mungkin meninggal di tahun 5 hijriah. Hidupnya di dunia mungkin sederhana dan cukup. Bayangkan umurnya kala itu mungkin hanya 60 tahun di dunia dengan hidup yang sederhana tapi bekal akhiratnya luar biasa. Maka, saat ini 1400-an tahun ia hidup di alam kubur dengan kelapangan dan kenikmatan sembari menunggu hari akhir.
Dan kita tidak tahu, kapan hari akhir itu akan terjadi. 60 tahun benar-benar tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan 1400-an tahun, apalagi dibandingkan dengan kekekalan di akhirat nanti.
Makin dewasa, kita juga makin belajar bahwa tidak semua jalan bisa kita pakai untuk mengumpulkan harta. Kita mulai memilah halal haram, tapi kadang kala kita pun tergoda dengan riba. Karena merasa tidak ada jalan lain.
Makin dewasa, selain belajar dan bekerja dengan baik. Untuk menjaga akal sehat dan ketenangan hidup. Kita harus menyeimbangkan cara pandang dan cara hidup kita dengan pandangan yang benar. Pandangan yang menata hidup kita menjadi lebih bijaksana, ditengah pemahaman bahwa takdir seorang manusia itu beda-beda.
Mungkin pekerjaan yang kita tekuni saat ini, tidak menjadikan kita seorang kaya rasa yang bisa membeli segalanya, seperti yang kita lihat di media sosial. Mungkin pekerjaan yang kita pilih, tidak akan menjadikan kita bergelimang harta hingga kita tidak tahu cara menghabiskannya.
Tapi sadarkah kita, bahwa mungkin itu adalah keadaan terbaik yang paling menyelamatkan. Yang membuat hidup kita di akhirat nanti lebih selamat. Sesuatu yang justru meringankan hidup kita nanti.
Kita hanya perlu cukup, bukan berlebih. Kita hanya perlu cukup, bukan segalanya.
(c)kurniawangunadi