TERTIPU OLEH WAKTU
Kita hidup pada zaman di mana waktu dianggap tidak begitu penting, tidak ada yang memerdulikan, menghargai, dan bahkan memanfaatkannya dengan baik. Aduhai betapa banyak anak adam yang tertipu. Tidakkah engkau melihat betapa banyak orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk hal-hal yang sia-sia? Bahkan sia-sia untuk dunianya. Shadaqa Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari). Wahai saudaraku berapa banyak waktu yang kita habiskan hanya untuk gawai kita, sering kali kita terlena dengannya.
Apakah kita mau menjadi manusia yang merugi? Padahal Allah telah menetapkan masa bagi setiap hambanya. Tidak akan ada lagi waktu tambahan bagi kita semua
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَٰلِحًا غَيْرَ ٱلَّذِى كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا۟ فَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ
Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (Qs. Fatir [35]: 37)
Allah telah memberikan masa yang cukup untuk setiap hambanya tapi kebanyakan dari kita terlena oleh waktu yang Allah berikan. Sungguh sebenarnya begitu banyak waktu yang telah Allah berikan. Tidakkah kau pernah mengamati jarum jam yang bergerak setiap detiknya. Tidakkah kau merasa begitu lambat? Akan tetapi, saat waktu tidak dipedulikan, tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang memanfaatkannya maka waktu berlalu begitu cepat tanpa kita sadari. Cobalah bacalah Al-qur’an 1 jam saja, mungkin diantara kita ada yang bisa sampai 1-2 juz kita baca. Begitu banyak pahala yang kita dapatkan dari 1 jam saja untuk membaca Al-qur’an. Namun, berbeda saat kita dihadapkan dengan gawai kita, 1 jam atau 2 jam atau 3 jam berlalu begitu cepat tak terasa.
Sadarilah bahwa waktu tidak akan terhenti. Kita layaknya penumpang yang sedang berada pada gerbong kereta yang terus berjalan menuju kematian. Maka manfaatkanlah waktu yang ada selagi gerbong itu masih berjalan. Rasulullah ﷺ bersabda,
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Gunakan 5 perkara sebelum 5; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum kematianmu.” (HR. Hakim dan Al-Hakim menyatakan shahih dan disetujui Imam Adz-Dzahabi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Sungguh merugi diri ini. berpa banyak waktu yang kita habiskan hanya untuk gawai kita perharinya? Berapa banyak waktu yang kita sia-sia kan? Tidakkah kita mau mencontoh kisah-kisah ulama kita terdahulu yang benar-benar memaksimalkan waktu hingga tidak ada yang tersia-siakan sedikitpun. Mari kita berkaca pada kisah-kisah ulama terdahulu dalam memanfaatkan waktu.
1. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Adz-Dza`il ‘Ala Thabaqat al-Hanabilah menyebutkan biografi Ibnu ‘Aqil al-Hanbali dari Ibnu Jauzi rahimahullah,
“Ibnu Aqil selalu menyibukkan diri dengan ilmu. Sampai-sampai aku pernah melihat tulisannya yang berbunyi, ‘Tidak selayaknya aku menyia-nyiakan usiaku meski sesaat. Oleh karena itu, apabila telah lelah lisanku dari mengulang-ulang hafalan atau berdiskusi dan kedua mataku dari membaca, maka aku memaksimalkan fungsi otakku ketika beristirahat. Aku tidak akan pergi dari tempatku sampai mengetahui sebuah masalah yang akan kutulis. Sungguh, pada usia 80 tahun ambisiku terhadap ilmu lebih tinggi daripada saat usia 20 tahun’.”
2. Amir bin Abdul Qais rahimahullah melewati orang-orang pemalas dan senang menganggur. Mereka duduk berbincang-bincang tanpa arah, lalu menyapa Amir dengan mengatakan, “Kemarilah, duduklah bersama kami.” Amir menjawab, “Tahanlah matahari agar ia tidak bergerak, baru saya akan bergabung duduk-duduk dan berkelakar bersama kalian.” (Shaidul Khatir).
3. Ibrahim bin al-Jarrah berkata, “Imam Abu Yusuf al-qadhi rahimahullah sedang sakit. Saya pun menjenguknya. Saat itu dia tidak sadarkan diri. Ketika terjaga (terbangun pen.), beliau lalu bersandar dan mengatakan, “Hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?” Saya menjawab, “Dalam kondisi seperti ini?” Dia mengatakan, “Tidak mengapa, kita terus belajar. Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karena kita memecahkan masalah ini.” Lalu saya pulang, ketika baru sampai rumah, saya mendengar kabar bahwa beliau telah wafat.
Bahkan para ulama memanfaatkan waktunya sebaik mungkin di saat menjelang wafat.
Memang sangat sulit untuk meniru mereka, bahkan bisa dibilang tidak mungkin untuk menyamai mereka. Jangan bandingkan diri kita dengan mereka. Namun, kita jadika kisah-kisah tersebut sebagai penyemangat untuk senantiasa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk dunia dan akhirat kita. Rasulullah juga memerintahkan kita untuk bersemangat dalam kegiatan yang bermanfaat bagi kita
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِز
….Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu…. (HR. Muslim).
Semoga bermanfaat.
















