Hari ini, 25 Desember 2024
Pagi ini saya terbangun lebih awal dari biasanya. Mata masih berat, tetapi tekad untuk tahajud lebih kuat. Dengan sedikit perjuangan, saya melawan kantuk yang luar biasa. Agar benar-benar terjaga, saya mengambil ponsel dan membuka Instagram sejenak. Setelah merasa cukup, saya bergegas mandi. Dingin air di pukul 03:45 menusuk kulit, tetapi usai mandi, tubuh terasa segar, seperti energi baru mengalir.
Saat berdiri untuk tahajud, suasana begitu tenang. Semua orang masih lelap dalam tidur mereka, sementara saya diberi kesempatan untuk berbincang dengan Sang Pencipta. Dalam doa, saya mengadukan segala kegelisahan, kerisauan, dan dosa-dosa yang telah saya lakukan. Tanpa saya sadari, air mata mengalir begitu saja. Terlalu banyak kekhilafan yang saya sesali. Saya berdoa agar bisa istiqomah, bangun setiap malam, dan memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri pada-Nya.
Usai tahajud, saya memutuskan untuk menunggu waktu subuh. Saya khawatir jika tidur kembali, saya akan kesiangan. Ketika azan subuh berkumandang, saya segera bersiap, memakai gamis, dan mengeluarkan motor untuk menuju masjid. Alhamdulillah, pagi ini saya berhasil sholat subuh berjamaah.
Saya teringat ceramah seorang ustaz kondang yang mengatakan, “Bagi seorang suami, menjaga sholat subuh berjamaah adalah kunci keberhasilan hari-harinya.” Ternyata, benar adanya. Setelah subuh berjamaah, saya merasa lebih semangat dan optimis. Hari ini seolah dimulai dengan pijakan yang kokoh, mood terasa lebih baik, dan pekerjaan pun terasa lebih ringan.
Awalnya, saya berencana olahraga pagi, berjalan kaki menikmati udara segar. Namun, rasa kantuk yang tak tertahankan memaksa saya untuk kembali tidur. Saya memasang alarm pukul 07:35 agar tidak terlambat bangun. Alarm itu berbunyi begitu keras hingga saya tersentak. Perlahan, saya membuka mata, berusaha mengumpulkan nyawa yang masih setengah jalan. Setelah cukup sadar, saya segera mandi dan bersiap untuk berangkat kerja.
Hari ini pekerjaan berjalan lancar. Banyak ide yang sebelumnya hanya di kepala, akhirnya bisa terealisasi. Namun, menjelang sore, hati saya terasa kurang nyaman. Saya sempat berdebat kecil dengan istri mengenai sesuatu yang sebenarnya sepele. Kami sering mengalami masalah komunikasi. Sering kali, saya tersulut emosi karena perbedaan pandangan, meskipun masalahnya kecil.
Saya menyadari, seandainya saya lebih tenang dan sabar, mungkin konflik ini bisa dihindari. Saya merasa ini adalah PR besar dalam hubungan kami. Meski kami sama-sama berusaha untuk saling memahami, ego terkadang mengambil alih. Setelah merenung, saya segera meminta maaf kepada istri. Bagi saya, meminta maaf, meskipun saya tidak sepenuhnya salah, adalah langkah penting untuk menjaga hubungan.
Istri saya memaafkan dan memberikan nasihat agar saya lebih berpikir positif terlebih dahulu. Saya berjanji akan mencoba. Hubungan yang sehat membutuhkan usaha dari kedua belah pihak, dan saya ingin terus belajar menjadi pasangan yang lebih baik.
Sore ini, istri saya pamit kembali ke Padang setelah menghadiri acara pernikahan temannya. Saya merasa khawatir selama dia di perjalanan. Ketika pesan WhatsApp dari istri tak kunjung terkirim, hati saya gelisah. Alhamdulillah, pukul 19:03, istri mengabarkan bahwa dia telah sampai dengan selamat. Rasa lega langsung menyelimuti hati.
Dalam doa malam, saya memohon kepada Allah untuk selalu menjaga istri saya, menjaga hubungan kami dari segala hal yang bisa merusaknya. LDM ini tidak mudah, tetapi saya percaya, dengan pertolongan-Nya, kami bisa melewati semuanya.
Terima kasih, Ya Allah, untuk hari ini. Terima kasih atas segala nikmat dan pelajaran yang Engkau berikan. Semoga esok, saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin.












