Baru kali ini saya merasa tidak memberikan apa apa pada pacarku yang ulang tahun.
Sewaktu kecil saya selalu ingin tanggal kelahiranku dirayakan dengan makan bersama, potong kue, meniup lilin dan berdoa. Beranjak dewasa, saya mulai merasakan jika bertambah umur tidak jauh dari menambah beban hidup, semakin banyak tuntutan yang dipikul pundak dan otak. Selamat dari bunuh diri saja sudah beruntung, apalagi sampai meraya pertambahan umur.
Sesekali, saya melihat cerminan diriku pada pacarku, meski banyak bagian memiliki istimewanya sendiri. Ia mencoba bertahan demi hari ke hari pada rutinitas yang ia tahu persis bagaimana polanya; Tidur yang tidak cukup, kesehatan tidak stabil, pikiran semerawut, dan tuntutan tuntutan hidup.
Selama disampingnya, saya jadi tahu kapan pola-pola itu terjadi. Sesekali saat jalan bersama, ia akan menatap kosong kedepan lalu mendecak sebagai luapan emosi yang ada di pikirannya, tapi lebih sering ia lakukan sore hari. Tidak menyemangati dan memberi motivasi, saya cuma selalu bilang “kau ji yang paling tau dirimu”. Sadar akan kapasitas yang kumiliki, saya tidak pernah memaksanya bercerita, jika itu layak untuk kudengarkan, ia pasti bercerita meski tidak semua cerita memiliki jalan keluar. saya lebih sering menyiapkan telinga dan anggukan kepala.
perbedaan usia membuat saya berpikir “bagaimana jika ia adalah bagaimana aku di masa depan?”, Apa yang akan saya lakukan jika saya merasa kian terhimpit? Tindakan seperti apa yang membuatku merasa tenang? Apakah aku membosankan? Apakah aku cukup menynangkan orang lain? Apa yang membuatku senang hari ini? semoga engkau menemukannya.
Pada tiap buah pikir baru yang muncul tiap hari, saya menyukainya. Saya tidak pernah merasa bosan.
——
Saya tidak tau seberapa penting peringatan tanggal lahir dan penambahan umur bagimu. Meski kau tidak berniat berumur panjang, segala upaya bertahan hidup harusnya kita syukuri, meski dengan hal hal kecil; sesederhana makan sokko/songkolo yang dipercaya orang bugis sebagai tanda rasa syukur pada Tuhan.
Selamat bertambah usia Cal. Saya turut mengamini doa-doa yang kau rapalkan tiap saat. Termasuk pada putusan yang kau pilih, saya akan tetap membaca apa yang kau tulis, mendengar apa yang kau ujar.
Bertahanlah hingga dekade-dekade selanjutnya.
-Tulungrejo, 30/10/24













