Dering telpon yang aku kira tidak akan pernah terdengar lagi membuatku terbangun di tengah malam. Meskipun akalku berteriak untuk tidak mengangkat panggilan itu, jempolku sudah terlanjut bergeser untuk menerima panggilan itu.
“Hai.” Suara familiar menghias telingaku.
Aku tidak membalas ucapannya.
“..Apa kabar?” lanjutnya. Aku merasakan keraguan dalam nada bicaranya.
Aku masih tidak menjawab.
“Kamu baik-baik saja, ‘kan?” tanyanya lagi.
“Aku disini baik-baik saja. Semoga kamu juga begitu….”
Tanpa sekali pun aku menjawab pertanyaannya ataupun merespon, dia tetap saja berbicara. Seakan tahu, kalau aku tidak akan tega untuk menutup telpon darinya.
Perbincangan satu arah itu berlangsung cukup lama, mungkin sudah satu jam lamanya, tetapi dia tidak berhenti untuk bercerita. Tentang kehidupannya sekarang. Proyek yang ia kerjakan. Dan juga kondisi keluarganya.
Sampai suatu ketika, aku lupa kalau seharusnya aku tidak meresponsnya. Saat itu, dia sedang menceritakan salah satu lelucon terbaiknya sehingga membuatku tidak sengaja tertawa lepas.
Sambil memaki-maki kebodohanku, aku langsung membungkam mulutku lagi. Kemudian, aku sadar bahwa di ujung sana, aku sudah tidak lagi mendengar suaranya. Tapi aku tahu kalau telpon kami berdua masih tersambung.
Dia hanya diam. Seakan dia juga terkejut mendengar suaraku.
Dia tidak mengatakan apa-apa lagi untuk beberapa saat.
“…Sudah lama sekali ya, sejak aku mendengar suara tawamu..” ucapnya sambil sedikit serak.
“Aku kangen sama kamu..” akunya tiba-tiba.
Napasku tersekat begitu mendengar pengakuannya.
“Aku tahu seharusnya aku tidak menelponmu lagi,” ucapnya dengan penuh sesal. “Tapi aku tidak bisa melupakanmu.”
Air mataku, tanpa aku sadari, menetes membasahi pipiku. Dadaku sesak sekali. Benteng yang sudah aku buat tinggi-tinggi hancur seketika begitu mendengar pengakuannya.
Aku lupa dengan semua peringatan dari teman-temanku agar tidak lemah di depannya.
Aku lupa dengan rasa sakit yang menghujam hatiku saat mendengar bahwa dia sudah melamar wanita lain.
Aku lupa bahwa seharusnya aku sudah tidak mencintainya, lagi.
“…Aku juga.” Balasku pelan.
A.W.
Jakarta, 18 Agustus 2018.