Anak Pertamaku
Tulisan ini mungkin akan dibacanya bertahun-tahun kemudian, ditulis 9 Mei 2026 jam 5 pagi. Saat kakak masih tertidur.
Ayah dan Mamamu, sama-sama anak pertama. Dan seperti narasi yang sering kubaca di internet, anak pertama itu kayak salinan seorang ayah. Dan, itulah kakak.
Kenapa bisa ayah katakan begitu? Karakter kakak, benar-benar mirip dengan ayah. Jadi kalau kita sering bertengkar dan bersilang pendapat, karena kakak sudah cukup logis untuk berpikir di umur sekarang (tapi tetap saja masih anak-anak). Itu seperti ayah menghadapi diri ayah sendiri, waktu kecil dulu. Kita sama-sama berpikir jauh, bahkan memikirkan apa yang belum terjadi. Bahkan, di kepala ini, menciptakan berbagai macam alternatif kemumgkinan. Dan itu, sering bikin kita stres/overthinking.
Kita sama-sama super duper well-prepared, menyiapkan segala sesuatunya. Tapi sayangnya, kita sama-sama nggak pandai untuk ngelola ekspektasi kalau sesuatu nggak sesuai rencana. Kita sama-sama rapi, ingat detail, pinter di akademis, tapi malu untuk tampil. Takut dilihat banyak orang, penginnya jadi orang di belakang layar.
Ada banyak hal yang mirip sekali diantara kita. Ayah ingin menulis panjang, tapi nanti ayah jadikan buku aja. Semoga ayah diberi waktu untuk menulisnya, draftnya udah ada, sempat ayah kirim ke editor ayah untuk preview beberapa halamannya.
Beberapa waktu lalu, hasil evaluasi belajar kakak di sekolah. Statementnya hampir sama sepanjang tahun, kakak perlu lebih percaya diri. Bisa lebih lantang saat berbicara di depan, sebagaimana lantangnya kakak kalau bicara di rumah, atau ketika sedang berdebat dengan ayah. Nah, seperti itu lantangnya.
Kakak itu pintar, tapi sering ragu sama diri sendiri. Ya, itu ayah juga begitu dulu. Merasa butuh validasi orang lain untuk bisa menunjukkan bahwa kita itu bisa. Nah, kakak perlu kepercayaan diri untuk bisa meyakini bahwa kakak itu bisa, kakak mampu.
Oh ya, satu hal yang tidak pernah ayah sangka adalah; kakak pandai memasak. Punya sense takaran yang bagus, setiap racikannya terasa pas. Padahal hanya modal lihat di video ig/tiktok, lalu ujicoba sendiri. Benar-benar keren.
Mungkin tulisan ini akan dibaca bertahun-tahun kemudian, saat kakak sudah cukup mengerti atau mungkin sudah dewasa. Satu hal yang ayah ingin kakak selalu tahu, ayah selalu menyayangi kakak.
Meski kita sering berdebat, kita sering beda pendapat, kita sering ngambek-ngambekan - tapi kemudian baikan lagi, begitu seterusnya berulang-ulang. Ayah selalu merasa bahagia setiap hari mengantar kakak berangkat ke sekolah. Atau saat kita pergi berdua mencari jajan. Atau saat kita tiduran di kasur, diam saja, kakak membaca komik dan ayah main hp.
Sebagai sesama introver, ayah bisa memahami dunia yang membuat kita nyaman. Tapi introver ini, jangan sampai menjadi alasan dan penghambat kakak untuk berani tampil percaya diri. Ayah yakin, mungkin suatu saat, kakak akan menulis juga seperti ayah. Tahu dari mana? Kemampuan linguistik kakak sangat bagus! Betah baca buku! Semoga ayah ada kesempatan untuk membaca karyamu nanti.
Ayah nggak tahu, saat tulisan ini kamu baca. Apakah ayah masih ada atau tidak. Tapi ayah ingin kamu selalu tahu, bahwa ayah bangga padamu. KG













