Cinta Bersemi Di Bulan April (Part 1)
Waktu telah memasuki bulan April. Bulan yang seharusnya terasa penuh semangat baru mengingat matahari memijak rasi bintang pertama, Aries. 12 cycle bulan baru. Penuh harapan. Penuh semangat, layaknya rasi Aries yang berelemen api.
April-ku masih kelabu. Pengkhianatan dari keluarga, mantan pasangan, mantan teman, dan perginya orang-orang yang kukira akan selalu di sisiku menyisakan luka yang teramat dalam yang terkadang sengitannya masih menyengat. Kehidupan pribadiku berantakan. Semuanya telah hancur tak terkendali akibat banyaknya luka yang terus mengikis jiwa.
Namun Tuhanku adalah Yang Maha Baik. Ia menyisakan aku satu sahabat yang selalu hadir dalam hidupku dengan ketulusan yang begitu indah, Nona Ad. Jika aku telah mampu menata hidupku lagi, sahabatku lah orang pertama yang akan ku prioritaskan. Karena ia satu-satunya yang bertahan di sisiku di saat semua mengkhianati dan meninggalkanku.
April cukup berat untukku. Karena di bulan ini, untuk pertama kalinya setelah 4 tahun. Aku akhirnya mampu melepas kemelekatan/attachment dari Tuan Ri. Pria yang telah menipuku, mengkhiantiku dan memanfaatkan kerentananku disaat aku masih berduka dengan perpisahanku dengan Tuan Er.
April adalah bulan dimana aku mencoba membuka diri lagi dengan cinta setelah bertahun-tahun sendiri, aku berkenalan dengan Tuan Ir. Pria yang kukira dewasa namun ternyata memiliki karakter yang sangat buruk dan berkecenderungan merendahkan wanita. Membuatku sedikit menyesal telah memberinya kesempatan sekadar untuk berbicara denganku. Syukurlah kami tidak bersama setelah percakapan untuk saling mengenal itu. Aku telah berkali-kali terlibat dalam hubungan penuh racun, dan kini rasanya lebih mudah untukku mengenali hubungan yang berpotensial untuk menjadi beracun di kemudian hari.
Aku wanita yang berparas cantik menurut standar sosial. Meski semua hubunganku beracun, semua pria yang ku berikan kesempatan untuk mengenalku ataupun menjalin hubungan denganku juga pria-pria yang berparas tampan. Tuan Ir, ia terlihat seperti pria baik-baik, kutu buku dan berpostur bungkuk & kurus. Tanda bahwa ia tidak benar-benar mengutamakan fisiknya.
Hanya dengan melihatnya, kau akan menduganya sebagai pria pekerja keras yang pintar, baik, setia, dan tulus. Kini aku mencari rasa aman, itu sebabnya aku akan mencoba mengenal pria yang secara fisik dibawah pria-pria yang selama ini ku terima ataupun ku pertimbangkan.
Namun percakapan dengannya mengukir luka baru di hatiku. Ketika ia tahu aku sedang di fase untuk membangun ulang kehidupanku yang hancur berantakan, ia menyelipkan komentar-komentar bernada dingin dan merendahkan seakan-akan aku hanya mengincar uangnya.
Hal itu menyakitkan karena aku lebih menghargai urusan hati dan kepribadian diatas uang. Dan setelah mengalami rangkaian hubungan beracun aku hanya ingin mencoba berkenalan dan bukannya langsung ingin bersamanya sebelum benar-benar mengenalnya. Aku ingin teman hidup yang sama-sama bisa memberikan dan mengusahakan ruang aman untuk satu sama lain, ia menginginkan wanita yang bisa membantunya mencapai tujuan-tujuan finansialnya.
Ia meminta maaf setelah aku mengutarakan rasa sakitku akan ucapannya dan mengatakan bahwa ia memiliki trauma masa lalu akan hal itu. Namun pesan-pesan yang terasa sinis dan dingin darinya tetap berlanjut bahkan setelah ucapan maaf itu diberikan.
Setelah aku bandingkan, pria-pria yang sebelumnya hadir di hidupku yang secara fisik termasuk tampan menurut standar sosial, mereka memperlakukanku dengan lebih baik dalam artian mereka tidak pernah mengaitkan nilaiku dari kemampuanku menghasilkan uang.
Rasanya lucu. Aku selalu menyukai pria tampan, namun setelah berkali-kali mengalami pengalaman buruk dengan pria berparas tampan, aku mencoba mencari rasa aman itu melalui pria yang kurang tampan di mataku hanya untuk disakiti dalam jangka waktu lebih cepat. Ia menuntut kesetaraan finansial ketika aku telah menurunkan standarku yang sebelumnya selalu menerima pria yang secara fisik menarik di mataku.
Kini aku sadar bahwa fisik tidak menjamin apapun. Entah mereka terlihat tampan atau kurang tampan di mataku, itu tidak menjamin baik tidaknya kepribadian mereka. Aman atau tidaknya mereka untukku.
Rasanya seperti tidak nyata melihat kehidupanku saat ini. Betapa roda hidupku berbalik 180°. Anak perempuan yang dulu memiliki segalanya itu, kini kehilangan segalanya dan kesulitan setengah mati hanya untuk bertahan hidup dan menghidupi dirinya. Anak perempuan yang dulu jadi rebutan, baik untuk dijadikan pasangan maupun teman, sekarang begitu kesepian karena penuh trauma & luka dalam kisah percintaannya dan pertemanannya.
Rasanya aku ingin menyerah, tidak melakukan apapun dan memperburuk kondisiku agar ajal menjemputku lebih awal, namun selama nafasku masih ada, aku tidak punya pilihan lain selain untuk bertahan dan berusaha memperbaiki semuanya bila tidak ingin mengalami hal-hal yang bisa lebih buruk lagi.
Aku menyadari bahwa dunia bisa sejahat itu bila kau tidak berada di tahap yang dipandang cukup aman ataupun cukup stabil. Mereka akan berpikir mereka bisa menyakitimu atau memanfaatkanmu tanpa mendapatkan konsekuensi apapun karena di mata mereka, kau sedang dalam kondisi yang bahkan kesulitan hanya untuk menyelamatkan dan memperjuangkan dirimu.
Iya. Manusia bisa menjadi sejahat itu. Kau bisa menyangkalnya semaumu seperti yang ku lakukan saat aku masih lebih muda, hingga akhirnya aku mengalaminya sendiri.


















