Selama seseorang bukan hamba Allah, melainkan hamba nafsunya, semua konsep ketaatan akan dianggapnya asing. Orang yang masih berpegang pada konsep taat pada ketuhanan—nonmuslimpun—akan selalu lebih baik akhlaknya ketimbang mereka yang ketaatannya di lisan saja.
Konsep ketuhanan, apalagi tauhid, akan terikat dengan "akuntabilitas." Manusia sadar bahwa dia lemah dan bukan penguasa nasibnya. Yang gagal menerima konsep ketuhanan, akan memiliki worldview yang double standard; semua disalahkan kecuali dirinya. Jika dia menang, dia merasa berkuasa mengurus nasib yang lebih lemah. Jika dia lemah, dia akan memparadekan kelemahannya itu sebagai salah pihak sebelah. Keduanya memiliki wajah dua, tergantung dengan siapa agendanya. Makanya tak heran ada orang yang amat baik di satu waktu, tapi amat jahat di waktu lain.
Parameter objektif bare minimum untuk muslim adalah penegakan shalat. Tak peduli dia pendosa, jika dia merasa dirinya dan keseluruhan kesibukan dirinya lebih penting dari sepuluh menit bersujud pada Penciptanya, maka hati-hatilah. Penegakan shalat bukan cuma menjalankan saja, ya.
— Kevin Kurnia dalam postingannya di X










