Listening to Across the Universe by The Beatles
membayangkan Lenon, Maxwell, Lorentz, Ibn Sina, Michelson-Morley, Russel, Ibn-Rusyd, Einstein, Hawkings, dan semua yang manusia yg jatuh cinta pada cahaya.. – Preview it on Path.
cherry valley forever
Lint Roller? I Barely Know Her

Janaina Medeiros
noise dept.

Product Placement

★

Andulka
Peter Solarz

pixel skylines
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Xuebing Du
d e v o n
KIROKAZE
Cosimo Galluzzi
he wasn't even looking at me and he found me
ojovivo
Mike Driver

#extradirty
art blog(derogatory)

seen from India

seen from Switzerland

seen from Malaysia
seen from Singapore
seen from Germany

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from India
seen from Türkiye

seen from Poland
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from United States

seen from India

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@hasrulekaputra
Listening to Across the Universe by The Beatles
membayangkan Lenon, Maxwell, Lorentz, Ibn Sina, Michelson-Morley, Russel, Ibn-Rusyd, Einstein, Hawkings, dan semua yang manusia yg jatuh cinta pada cahaya.. – Preview it on Path.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Thought via Path
dalam kisah penyembelihan Ismail (atau Ishaq?), kita disajikan dengan percakapan dialogis antara Ibrahim dengan anaknya: " hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. maka fikirkanlah apa pendapatmu," kata Ibrahim kala itu. Bapak para nabi itu tahu bahwa untuk sebuah perintah dari Pemilik Semesta, dia tetap meminta pendapat anaknya, menanyakan perspektif korban, meminta second opinion. meski ia sudah tahu, bahwa anakknya takkan menolak perintah itu. --sebuah dialog yg luhur dan membuat luruh. dialog yg terus diceritakan meski sudah ribuan kali revolusi matahari. sayangnya, cerita itu berhenti disitu. ritual penyembelihan species non-manusia hari ini harus berhadapan dengan masa post-human. era singularitas yg kian dekat. era dimana nano-teknologi, rekayasa genetika, dan robotika semakin mapan dan menjadi-jadi. sementara kita, species manusia, belum sadar dan tidak mau tahu tentang apa yg sementara berlangsung di luar sana. kemajuan di luar sana tidak pernah menanyakan perspektif kita. apakah kita butuh padi yg bisa panen dalam sebulan? domba ber-susu sutra? Robi si robot manusia dr jepun? kecerdasan buatan di ponsel kita yg pintar? apakah kita, sebagaimana anak Ibrahim, punya pilihan untuk menolak atau menerima "perintah" itu? tidak ada yang pasti selain sate yg menunggu dipanggang bersama rica berpestisida. – Read on Path.
Thought via Path
sejujurnya, sy tidak menyukai puasa. sy tidak suka tidak minum, tidak makan, loyo, bangun sahur, ritme harian yg terganggu. -ke-aku-an sy benci dengan batasanbatasan semacam itu. sy tidak ingin lagi berpurapura suka dengan ibadah yg namanya puasa. dan setelah sy pikirpikir, sholat juga tidak menyenangkan. mengapa harus ada ritual lima kali sehari yg menuntut waktu dan tahara yg sempurna. mengapa juga harus ada zakat yg memaksa kita mengeluarkan penghasilan yg kita cari dengan keringat dan pikiran sendiri--tanpa bantuan mereka yg mengaku miskin, fakir, papa. sy kira semua itu memang tidak menyenangkan, malah menyusahkan. tapi mungkin justru karena itu. justru karena sholat, puasa, zakat, dan ibadahibadah wajib itu tidak menyenangkan, maka Tuhan mewajibkannya. disitu niat diuji: seberapa mau kita menjalani halhal yg tidak disukai tubuh, dibenci nafsu. disitu ikhlas ditaruhkan: seberapa tulus kita menaati Dzat yg tidak pernah kita lihat. begitu pun, sy kira, meminta maaf itu tidak menyenangkan. memberi maaf juga lebih tidak menyenangkan. tapi hari ini, Tuhan mewajibkannya. di awal syawal ini, tidak boleh puasa. Dia meletakkan posisi maaf setara dengan posisi makan dan minum. hari ini, maaf menjadi "harus" sebagaimana makan dan minum. entah dengan itu, Tuhan ingin menjadikan momen "maaf" menjadi menyenangkan. mungkin dengan berhari raya makanan, kita akan lebih mudah meminta dan memberi maaf. Tuhan juga tahu, bahwa egoisme kita butuh momen, butuh alasan. maka, bersabarlah, bagi kalian yg momen sakral ini malah menjadi momen teror dengan pertanyaan "kapan nikah?" :( – Read on Path.
dalam penanggalan bulan, hari ini Binar genap setahun. hari ke-13 di rab'iul awal yg basah. Puja Tuhan yg Maha Menjaga, Binar tumbuh dengan sehat setahun ini. setahun yg--di atas segalanya--penuh rasa tenang karena tahu bahwa Ibunya akan selalu memberikan hal-hal terbaik untuk jagoan kecil kami itu. setahun yg penuh rasa terima kasih karena istri dengan rela hati bersedia menunda mimpi-mimpi masa mudanya hanya agar Binar bisa memiliki akar yg patri, batang yg teguh, dan daun yg tak kurang suatu apa. setahun permulaan Binar yg membuat kami semakin paham apa warna langit kami masingmasing. selamat buatmu, Nak. selamat satu tahun menjadi ibu, sayang. with Tika – View on Path.
At Ombudsman RI Perwakilan Gorontalo
senin adalah libur yang ditinggalkan ibu-bapaknya. libur adalah senin yang manja dan merasa memiliki segala. – at Ombudsman RI Perwakilan Gorontalo – See on Path.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Thought via Path
suasana natal sudah semerbak di udara. bagi anakanak, natal adalah televisi penuh film petualangan dan harapan masa kecil. bagi para remaja dan ibuibu natal adalah diskon besarbesaran di seantero etalase dan keinginan untuk saling membagi. bagi saudarasaudara sy di banyak tempat, natal adalah momen untuk pulang dan bergembira. bagi pekerja, natal adalah waktu untuk rehat dari rutinitas, liburan yg menunggu untuk dinikmati. natal bukan hanya perkara debat tentang kelahiran seorang juru damai, juru selamat. lebih dari itu: natal adalah suasana yg menebar damai dan kerinduan bagi kita semua--yg merayakan, dan yg bahagia melihat orang bahagia dengan apa yg mereka percayai. selamat menyambutnya. – Read on Path.
hampir setiap bulan sy singgah di kampus ini. dan perasaannya selalu sama: perasaan seorang mahasiswa baru yg penuh tanda tanya dan koma--perasaan sentimentil yg tdk pernah selesai. sore ini, di bawah langit makassar yg cengeng, sy memasuki kampus dengan berjalan kaki. melahap warna hijau lumut pedestrian, ranting yg ringkih, melewati danau kampus yg doyan meluber di musim penghujan, lalu berteduh sendirian di halte menyaksikan kendaraan dan ingatan yg lalu lalang. udara cukup dingin. tapi kenangan bersama kekasih yg dulu selalu rela diajak hujanhujanan keliling kota sungguh menghangatkan. bagi sy, unhas selalu menjadi nuansa. at Halte UNHAS – View on Path.
perjalanan singkat, menemukan masa lalu di celahcelah masa depan.
Thought via Path
KONTEMPLASI. bencana asap di borneo dan sumatera membuat sy bersyukur dengan udara pagi segar yg bisa sy nikmati sambil menggendong Binar mengagumi cahaya dan suara. setiap pagi. musim kering yg awet, air ledeng yg macet, air sumur yg nyaris tandas, membuat sy mencintai hujan lebih dari kenangan dan gorengan. hujan menjadi lebih puitik dari puisi Sapardi--dan tibatiba banyak yg lebih bijak dari Hujan Bulan Juni: mereka yg tau rasanya mandi sekedarnya. penyalaan listrik bergilir di kota sy membuat lampulampu terlihat lebih cantik dari bentuknya semula. dan Binar sudah harus belajar bahwa negara dan perusahaannya tidak pernah becus mengelola cahaya. video kesedihan nan kreatif seorang istri yg menyebar lebih cepat dari pembukaan ladang kelapa sawit membuat sy bersyukur memiliki istri yg tidak suka mengumbar rahasia untuk meminta simpati manusia. bersyukur memiliki pasangan yg membuat sy selalu bersyukur memiliknya, dengan segala lebih dan kurangnya. beberapa hal tadi menyadarkan hati: hal-hal yg sudah kita miliki seringkali adalah mimpi bagi orang lain. – Read on Path.
serpih-serpih perjalanan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Thought via Path
"Tuhan menciptakan pegal di punggungmu hari Sabtu, menjadikannya linu di hari Minggu, dan menyembuhkannya di hari Rindu". --Jokpin – Read on Path.
BETMEN BERKUMIS. opa sy adalah lelaki yg selalu bersetia dengan kenangan. dia gemar menyimpan benda-benda yg baginya punya penanda waktu, penanda hidup. dia masih saja menyimpan kemeja-kemeja tua, kitab-kitab asing yg sudah teramat usang, juga menyimpan banyak benda tentang masa kecil sy. malam tadi, setelah mengusap kepala, mendoakan keselamatan sy, dia tergopoh-gopoh mengajak sy ke kamarnya yg berbau senja, lalu bertanya: "ini mainanmu dulu. kira-kira dimana bisa sy dapatkan dinamo baru?" di tangannya ada benda itu: betmen berkumis yg dulunys bisa bernyanyi. rasanya sama seperti waktu itu: saat opa pulang dari rutinitas bulanannya ke jakarta, naik kapal berhari-hati ke ibukota, mengambil uang pensiun kehutanan yg tak seberapa. dia selalu pulang membawa mainan dan kisah-kisah perjalanan. kali itu, di usia sy sekitar 6-7 tahun dia menghadiahi betmen kecil yg tak bisa terbang--sambil bercerita ttg kiat menghadapi setan laut, bagaimana menghindari copet tanah abang, dan mengajari bahwa 'sekola' harus ditambahi huruf 'H' untuk menjadi 'sekolah'. betmen itu menjadi saksi bagaimana sy di ajari untuk menjadi seorang lelaki. ia bertanya serius dimana bisa membeli dinamo, di tangan ringkihnya masih ada si betmen yg tak bisa lagi berjalan sendiri. "untuk apa?" tanya saya. "untuk Binar. sekarang gilirannya." sy tak lagi menjawab. tiba-tiba, kamar itu seperti di penuhi doa-doa, kenangan-kenangan, kekaguman-kekaguman. – View on Path.
before n after..
Big Boss..
Sebotol Hujan untuk Sapardi
Cerpen Kompas Minggu (7/6/2015) oleh penyair Celana, Jokpin. untuk penyair Hujan, Sapardi. cerpen ini bagai kisah Avengers dalam Sastra Indonesia.
Saya jatuh cinta pada puisi gara-gara pada suatu malam, sebelum tidur, membaca seuntai kata dalam sebuah sajak Sapardi Djoko Damono: "masih terdengar sampai di sini dukaMu abadi". Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMA dan belum punya cita-cita.
Kata-kata itu terus menggema dalam kepala saya dan membuat saya semakin suka bersendiri bersama puisi. Sempat terbetik keinginan untuk ikut-ikutan menjadi penyair, tapi menurut sahabat dekat saya, kepala saya kurang abnormal untuk mendukung keinginan saya. "Lebih baik jadi teman penyair saja," ujarnya dan saya mengiyakannya.
Saya gemar mengoleksi buku puisi. Bila ada buku puisi yang hilang, saya akan mencarinya lagi di toko buku sampai ketemu. Pernah seorang teman meminjam buku puisi yang baru saya beli dan belum sempat saya buka. Diam-diam buku puisi itu ia berikan kepada pacarnya sebagai hadiah ulang tahun. Kepada banyak orang, teman saya itu sering mengungkapkan rasa bangganya karena berkat hadiah buku puisi darinyalah pacarnya tumbuh menjadi seorang pengusaha kata yang sukses dan kaya.
Saya sendiri, sekian tahun setelah malam yang diguncang puisi itu, sudah menjadi seorang karyawan yang mapan di sebuah perusahaan di Jakarta dan saya tetap belum mengerti apa sebenarnya cita-cita saya. Kecintaan saya terhadap puisi masih terpelihara dengan baik. Di tengah kesibukan saya yang tiada habisnya, saya masih bisa mencuri waktu untuk menghadiri berbagai acara pembacaan puisi, minta tanda tangan dan berfoto bersama penyair-penyair kesayangan saya. Kadang saya membantu penyair-penyair dari daerah mencari tempat untuk sekadar numpang tidur dan mandi.
Ada satu impian lama yang ingin segera saya wujudkan: berfoto bersama Sapardi dan minta tanda tangannya. Sebenarnya saya pernah punya kesempatan bagus untuk berkenalan dengannya. Dalam sebuah acara pesta puisi Sapardi lewat persis di depan saya. Ia mengenakan kaos oblong putih bertuliskan "Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma". Keren sekali. Sayang, dalam sekejap ia sudah diserbu oleh para penggemarnya dan saya tidak kebagian waktu. Selain itu, saya masih ragu untuk mendekat dan berhadapan dengannya. Saya takut ditanya, "Anda siapa ya?" Dan saya bukan siapa-siapa.
Malam itu, sepulang dari lembur di kantor, saya sempatkan berbicara dengan diri saya sendiri. Dalam naungan hangat kopi, saya membaca tulisan Seno Gumira Ajidarma: "Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa."
Asu! Kepala saya langsung menggigil. Saya memerlukan miras (minuman waras) atau obat penenang untuk menghadapi bayangan kengerian menjadi tua di Jakarta. Saat itu juga saya mengontak teman saya, Subagus, yang kenal baik dengan Sapardi. Saya minta tolong Subagus untuk mencarikan kesempatan bertemu dengan Sapardi dan Subagus menyanggupi.
Pada hari yang telah disepakati oleh Subagus dan Sapardi, hujan mengantar saya ke rumah penyair kurus itu. Saya lihat Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul-mukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak ingin mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya membayangkan ia sedang tersihir oleh hubungan gaib antara tanah dan hujan. Tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, saya balik badan dan pulang.
Dalam perjalanan pulang saya menemukan sebuah amplop berisi sepotong senja tergeletak di dekat tiang listrik. Pastilah itu sepotong senja yang dikirim Seno untuk seseorang yang sangat merindukannya. Burung yang diminta untuk mengantarkannya ke tujuan agaknya kemalaman, kemudian menjatuhkannya begitu saja di tengah kemacetan jalan. Saya ambil amplop itu, saya selipkan di saku baju. Sesampai saya di rumah, saku baju saya belepotan oleh cairan berwarna kuning kemerah-merahan. Senja yang luntur. Senja orang-orang Jakarta. "Itu bukan senjaku," kata Seno yang saat itu ternyata sedang tidak berada di dunia nyata.
Saya ceritakan kepada Subagus perihal kedatangan saya ke rumah Sapardi seraya minta tolong lagi dicarikan kesempatan kedua untuk berjumpa dengannya dan Subagus menyanggupi. Tidak lupa saya berpesan, "Cari tahu jam yang paling tepat untuk bertemu beliau ya, Su." Memperhatikan gaya bicara Subagus yang terkesan kurang serius, diam-diam saya mencium ada sesuatu yang tidak beres. Namun saya tidak mau berprasangka.
Gelap baru saja datang ketika saya tiba di tempat kediaman Sapardi. Rumahnya kelihatan sepi dan gelap. Saya ketuk-ketuk pintunya dengan sopan. Setelah diketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Tanpa ba-bi-bu ia melepaskan kata-kata: "Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar." Pintu segera ditutup. Saya terperangah dan terpana, lalu balik badan dan pulang.
Dua kali gagal tidak membuat saya menyerah dan kehilangan akal. Tanpa sepengetahuan Subagus, saya mempersiapkan kesempatan ketiga. Untuk usaha ketiga ini, saya akan datang menjumpai Sapardi tanpa janji dan pemberitahuan terlebih dulu. Saya akan memilih sebuah hari yang istimewa. Saya akan menjumpainya dengan cara yang jitu, yang akan membuatnya tidak bisa menghindari saya.
Saya siapkan semua buku kumpulan puisi Sapardi yang saya punya untuk saya mintakan tanda tangan penyairnya. Saya siapkan pula sebuah bingkisan sederhana sebagai tanda terima kasih saya karena sajak-sajaknya telah berhasil menjebloskan saya ke dunia kata-kata yang mengacak-acak ruang dan waktu. Saya merasa sudah siap mental untuk menemuinya lagi. Saya tidak tahu apakah dia juga siap mental.
Dan saat itu pun tiba. Saya datang ke rumahnya malam hari. Saya ketuk-ketuk pintu rumahnya dengan lembut. Setelah saya ketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Saya langsung menembaknya: "Tuan Tuhan, bukan? Tunggu di luar, saya sedang berdoa sebentar."
Ia tertawa tergelak-gelak dengan nada suara yang tak terlukiskan indahnya. Ia mempersilakan saya masuk, lalu membimbing saya menuju halaman belakang di mana terdapat sebuah kolam kecil yang jernih airnya. Kami duduk di tepi kolam. Kami bercermin pada kolam. Melalui air kolam saya dapat melihat dengan jelas sosok penyair hujan itu: di dalam tubuhnya yang tampak ringkih terdapat daya yang lebih.
Sapardi mengenakan sarung dan kaos oblong putih bertuliskan "Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi". Keren sekali. Rupanya dia habis nonton film "Filosofi Kopi". Dan ia menghidangkan kopi seraya berkata, "Seno dan Subagus juga barusan ngopi-ngopi sini." Kopi saya terima dengan takzim. Saya dan kopi tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih haus. Kopi dan saya tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih pahit.
Saya buka tas gendong saya, saya keluarkan sejumlah buku puisi Sapardi untuk ditandatangani oleh penyairnya. Setelah itu kami berfoto berdua. Sah. Sempurna.
Hari itu Sapardi genap berusia 75 tahun. Saya ambil sebuah bingkisan dari dalam tas. Saya ulurkan padanya sebuah botol besar berisi hujan bercampur senja. Ia mengucapkan terima kasih. Ia tempelkan botol itu di telinganya. Ia berbinar-binar mendengarkan suara hujan di dalam botol. Hujan yang hangat dan jingga oleh senja.
Ia bangkit berdiri. Dikocok-kocoknya botol hujan itu berulang kali. Tutup botol tiba-tiba terlepas dan menyemburlah air berwarna jingga. Menyembur tinggi ke udara. Saya masih mendongak takjub ketika semburan air berwarna jingga sudah lenyap tak berbekas. Sapardi menepuk punggung saya. "Lihat!" katanya sambil jari tangannya menunjuk ke arah kolam.
Saya lihat di atas kolam sudah ada sekuntum bunga berwarna jingga. Saya tidak tahu bunga apa namanya. Cahaya bulan memenuhi kolam, membuat bunga jingga itu tampak kian menyala. Kami terdiam beberapa lama. Hening malam membekukan bahasa. Dengan suara pelan dan dalam Sapardi berkata, "Yang fana adalah waktu. Kita abadi."

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Binar, jangan bertanya dimana dirimu saat foto ini dibuat. waktu itu dirimu belum ada. yang ada hanyalah: seorang lelaki dan perasaan gugupnya yang tidak pengertian. ia waktu itu datang meminta restu, menjemput ratu, dan membuka jalan kudus agar dirimu bisa ditransfer dari surga menuju semesta manusia.
di hadapan penduduk langit, lelaki itu berjanji, menyanggupi, menerima, bersedia untuk bersetia sebagai sahabat, kekasih, suami, supir, tukang angkat galon, ayah, sekaligus pecinta yang dilindungi UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
begitulah, Binar. itu setahun silam. lelaki itu, perempuan yang ia empu, dan dirimu kini tengah berlayar di laut luas, laut dalam yang dipenuhi ketidakpastian, laut tenang yang membawa kita ke titik takdir selanjutnya.
cinta itu mencukupkan. dan memiliki kalian berdua adalah kecukupan yang melampaui semua rasa cukup.
How does the U.S. compare to the world in terms of language diversity?