mba dini, aku mau tanya.. sejak kapan mba menemukan passion? dan mengapa memilih itu? aku 20 tahun dan lagi galo-galo nya sama masadepan T.T
TENTANG PASSION dan MASA DEPAN
Saya bahkan tidak punya passion yang cem kata rang orang, yang do or leave everything untuk melakukan hal itu. Yang saya tahu, saya punya cita - cita dan apa - apa yang saya suka. Saya ingin menjadi ini dan berbuat itu, sementara saya suka ini dan itu. Maka saya menggunakan apa yang saya suka dan punya bakat di bidang itu untuk menuju cita - cita saya.
Apakah harus punya passion?
Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, saya sangat menyukai orang - orang yang passionate saat mengerjakan apapun meski dia belum tentu menyukainya, itu berarti dia bersungguh - sungguh dan melakukan yang terbaik.
Saya punya seorang ‘adik’ yang menjadi wakil saya dalam sebuah kepanitian besar awal tahun. Saya mendelegasikan salah satu agenda penting padanya, saya tidak banyak memberikan briefing. Tapi anak ini mengerjakan dengan sungguh - sungguh dan dia tahu apa yang harus dilakukan, kalaupun tidak tahu dia akan bertanya dan penuh inisiatif. Hasilnya di atas ekspektasi saya. Apakah jika ada amanah serupa saya akan membagikan pada anak ini? IYA, karena saya percaya. Dan ternyata setelah itu, seseorang yang melihat kinerjanya juga memberikan dia amanah yang lebih besar, dia juga berkesempatan bertemu dan bersalaman dengan Pak Habibie, idolanya.
Jadi bagi saya sendiri, passion-mu apa bukanlah yang terpenting. Yang lebih penting bagi saya adalah ketika seseorang punya kinerja baik dan berusaha passionate terhadap tanggung jawabnya. Excited terhadap amanah yang dia emban, begitu bergairah dalam bekerja, dilihat orang lain ataupun tidak.
Saya menyukai banyak hal. Menulis, branding, desain, menggambar, product development, bekerja di pabrik, berkomunikasi dengan customer, belajar cara kerja dan setting mesin (meskipun saya bukan anak mesin, dan hanya akan tahu sepintas fungsinya), dan beberapa hal lain. Akhirnya saya tidak fokus.
Kebetulan banyak tawaran yang datang dan tidak selalu sesuai dengan cita - cita saya, yang terakhir adalah ajakan bergabung di startup teman yang bergerak di bidang fintech (ini jauh sekali dari cita - cita saya). Menggiurkan loh, dia sudah mendapat investor dan sedang diinkubasi oleh inkubator profesional. Dengan alasan saya suka belajar hal baru, biasanya saya terima. Tapi ternyata ini tidak baik. Sedini mungkin kita harus bisa fokus, mana yang akan membawa kita ke cita - cita dan mana yang tidak. Yang tidak ya jangan diterima karena akan buang - buang waktu, begitu kata dosen saya.
Jadi saya menggunakan cita - cita besar saya sebagai parameter apakah sebuah tawaran akan diterima atau tidak.
Pastikan cita - citamu bisa bermanfaat untuk orang lain, bukan hanya kepentingan pribadi. Pastikan cita - cita ini digunakan untuk menuju visi misi hidup yang sesungguhnya, apakah duniawi atau berorientasi pada kebutuhan spiritual (agama).
Sepenting apa memenuhi passion?
Dalam hal passion saya setuju pada Prawitamutia yang kalau tidak salah berpendapat bahwa apa yang kita lakukan jangan hanya berdasarkan passion, tapi juga kebermanfaatan. Tambahan dari saya, apa yang kita lakukan juga harus memenuhi amanah yang perlu kita emban.
Percuma kita memuaskan passion jika ternyata passion kita tidak bermanfaat bagi orang lain dan tidak bisa memenuhi tanggung jawab kita. Jika passion kita bermanfaat dan sesuai dengan amanah, itu daebak banget, beruntunglah orang - orang yang begini. Kenyataannya, setelah saya bekerja bertahun - tahun, kita tidak selalu menemui kondisi itu dan harus mau berkompromi pada realita.
Jadi passion tidak penting?
Ndak juga. Kecintaan kita melakukan sesuatu itu penting, tapi bukan segalanya. If you can’t do thing that you love, you can learn love what you have to do. Jika memang betul - betul tidak bisa menyukai, ya tinggalkan, karena kamu tidak akan bisa maksimal mengerjakan hal yang betul - betul tidak disukai.
What I mean is, berusahalah menyukai hal - hal yang awalnya tidak kamu sukai, jangan manja dan menyerah hanya karena tidak passion. Jika memang sudah berusaha tetap tidak bisa suka, silahkan ditinggalkan. Jika bisa memanfaatkan passion untuk meraih cita - cita, memenuhi tanggung jawab, dan bermanfaat, ini bagus banget.
Saya tahu barangkali opini saya berkebalikan dengan banyak pakar yang menyebutkan bahwa passion itu sangat penting. Bagi saya yang umat muslim dan mengutamakan kebermanfaatan bagi kebaikan ummat, saya memilih jalan dan argumen yang berbeda saat ini dan saya menyukainya (apa sudah jadi passion? Ehehe ndak tahu).
Muslim tentu juga punya passion, tapi ya itu lagi kembali pada kebermanfaatan dan tanggung jawab.