One Hundred Years of Solitude atau jika dalam Bahasa Indonesia disebut dengan Seratus Tahun Kesunyian adalah salah satu novel mahakarya dari Gabriel GarcĂa MĂĄrquez (GGM)âperaih nobel sastra di tahun 1982; itu adalah tahun-tahun yang sama ketika novel Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, pertama kali dipublikasikan.
Karya-karya GGM banyak diapresiasi karena mampu menghadirkan karya sastra yang bertemakan fragmen-fragmen romansa yang bernuansakan mitos (termasuk mistisisme), legenda, absurditas (tabu?), dan berkenaan dengan epos. Mereka ditulis dan saling berkelindan secara harmonis.
Film serial ini adalah ejawantah dari novel GGM yang saya maksud dan disajikan dengan judul yang sama. Pengampu dan seluruh orang yang terlibat di dalam pembuatan film ini benar-benar menggambarkan apa-apa saja yang menjadi perhatian GGM; cerminan falsafah kehidupannya; disorot dengan terang dan membawa pencerahan kepada para pemirsanya.
Plot yang Rapi untuk Alih Wahana dari Novel ke Film Serial
Saya pikir, ada tiga golongan orang dalam menyikapi film-film adaptasi: pertama adalah golongan yang antiâdan pada akhirnya ogah menyaksikannya karena dianggap akan mengacaukan imajinasi; kedua, golongan yang kagum pada sinematografi, plot, pengembangan tokoh dan karakter, konflik, dan resolusi yang dihasilkannyaâyang saya curiga kalau golongan ini mungkin baru tahu belakangan soal akar karyanya; bahwa film adaptasi adalah model lain dari penggambaran karya sastra; dan yang terakhir, adalah golongan orang yang tahu dan bijakâmereka tahu dan barang tentu sudah membaca novelnya, tetapi tidak ambil pusing, berprasangka, atau mencela dan menjelek-jelekkan film adaptasinya. Golongan terakhir ini adalah orang-orang yang saya anggap legowo.
Nah, dalam film serial ini, saya adalah golongan orang kedua dan semi ketiga (?). Tahu bahwa karya ini adalah novel dari GGM, belum pernah membacanya, tetapi pada akhirnya, mampu memberikan tepuk tangan penghormatanâsambil berdiri dari kursi penontonâkepada orang-orang yang punya andil di dalam penggarapannya. Tabik!
Film serial ini dibuka dengan narator dan hal ini juga yang tertulis pertama kali di paragraf satu dari bagian satu novelnya:
"Many years later as he faced the firing squad, Colonel Aureliano BuendĂa was to remember that distant afternoon when his father took him to discover ice. At that time Macondo was a village of twenty adobe houses, built on the bank of a river of clear water that ran along a bed of polished stones, which were white and enormous, like prehistoric eggs."
Colonel Aureliano BuendĂa, di episode-episode awal tidak begitu menimbulkan kesan bahwa Ia adalah tokoh kunci dalam film ini. Namun, seiring dengan berjalannya tokoh-tokoh yang ada, kejadian-kejadian, dan fakta-fakta yang terus membuat saya berdecak kagumâini lebih kepada karena apa yang digambarkan mengarah ke absurditas; atau jika absurditas mengandung pemaknaan yang sempit, maka kata 'menggelitik' mungkin cocok untuk menggambarkan setiap alur cerita yang berlangsung dalam penilaian saya. Colonel Aureliano BuendĂa mampu menjelma menjadi tokoh yang begitu kuat; punya peranan sangat penting dalam setiap plot yang terjadi.
Jika Aureliano BuendĂa adalah kunci, maka JosĂŠ dan Ărsulaâyang mana adalah Ayah dan Ibu dari Aurelianoâadalah gembok yang akan membawa kita ke pintu gerbang Macondoâdesa perintis bagi kehidupan yang penuh dengan 'gelitikan' mitos, mistis, dan hal-hal yang di luar nalar tetapi tetap dapat diterima oleh kalbuâtingkatan suciâdari akal sehat kita.
Mula-mula 'Penemuan' itu Menggairahkan...
Kisah dimulai dengan hadirnya perjamuan dan pesta dari pernikahan JosĂŠ dan Ărsula di sebuah kampung di akhir abad pertengahan; jauh dari kota-kota modern yang sedang menjajaki Aufklarungâzaman pencerahan. Tidak digambarkan secara jelas secara geografis, di mana letak kampung itu. Namun, yang jelas masyarakatnya digambarkan masih haus dengan mitos dan takhayul; mereka meringkuk dan menyelimuti logika masyarakatnya. Dalam suatu adegan, pernikahan JosĂŠ dan Ărsula sempat ditentang karena dianggap akan membawa petaka; melahirkan keturunan yang berkelakuan seperti bukan manusia.
Peradabanâdan begitu seterusnya plot dibenamkan; dengan banyaknya adegan-adegan yang melawan mainstreaming praduga-praduga kita dalam menilai kejadian sehari-hari di masyarakat modern sekarang iniâdimulai dengan keinginan JosĂŠ membawa Ărsula dan rekan-rekan sebayanya untuk berkelana: pergi dari desa dan melihat laut; membentuk kampung dan peradabannya sendiri.
Laut yang mereka pahami ada di balik terjalnya gunung-gunung besar yang berjejer sejauh mata memandang. Dalam bayangan JosĂŠ, laut yang menjadi tempat tujuan mereka itu akan terhampar pesisir yang mereka rasa hangat dan begitu damai; dan bayangan itulah yang mereka jaga untuk memberanikan diri memulai peradaban yang benar-benar baru: peradaban yang mana mereka bisa beranak-pinak dan membentuk komunitas baru yang mereka impikanâjauh dari logika mistis, atau ketetapan-ketetapan yang tidak berdasar; mendekatkan pada Aufklarung mereka sendiri, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. LibertĂŠ, ĂŠgalitĂŠ, fraternitĂŠ!
Ada satu adegan dan narasi yang begitu saya sukaâdan tentunya menggelitik sekaliâdalam film ini, tepatnya setelah JosĂŠ dkk. berhasil menemukan Macondo dan masyarakatnya yang digambarkan sebagai masyarakat madani.
"Since the time of its founding, JosĂŠ Arcadio BuendĂa had built traps and cages. In a short time he filled not only his own house but all of those in the village with troupials, canaries, bee eaters, and redbreasts. The concert of so many different birds became so disturbing that Ărsula would plug her ears with beeswax so as not to lose her sense of reality."
...Tetapi Selalu Menyisakan 'Bencana' untuk Diatasi
Macondo dengan segala keunikannya, dan di bawah kepemimpinan JosĂŠ dan Ărsula, berkembang menjadi kota yang magis; sebuah berlian yang ada di dalam tumpukan sekam; peradaban yang mereka cita-citakan akan (setidaknya dalam bayangan mereka) mampu bersinar di tengah-tengah peradaban yang mereka anggap 'tidak masuk akal'.
"JosĂŠ Arcadio BuendĂa, who was the most enterprising man ever to be seen in the village, had set up the placement of the houses in such a way that from all of them one could reach the river and draw water with the same effort, and he had lined up the streets with such good sense that no house got more sun than another during the hot time of day. Within a few years Macondo was a village that was more orderly and hard working than any known until then by its three hundred inhabitants. It was a truly happy village where no one was over thirty years of age and where no one had died."
Pada suatu masa, Macondo disinggahi kaum Gipsiâsekelompok orang yang berpindah-pindah, mengembara dari dan ke berbagai pojok duniaâyang ternyata banyak membawa 'barang-barang dari negeri yang jauh'. JosĂŠ Arcadio BuendĂa ternyata punya daya keingintahuan yang tidak mampu diobati oleh siapapun: Ia haus akan segala hal yang berbau saintifik; seperti anak kucing yang tidak bosan bermain dengan sebilah bulu kemoceng. 'Kegilaan' itu berkat hadirnya MelquĂadesâ.
MelquĂadesâ adalah pemimpin dari kaum Gipsi yang saya ceritakan di atas. Darinya JosĂŠ Arcadio BuendĂa menjelajahi pengetahuan dan keajaiban-keajaibanâsetidaknya dalam nalar da imajinasinya sendiriâmelihat, merasa, dan mengalami hal-hal yang saya anggap absurd dan menggelitik itu. Bagi MelquĂadesâ, kegilaan JosĂŠ Arcadio BuendĂa adalah besarnya jarak antara ilmu pengetahuan di dalam otaknya dengan sains dan rasionalitas; dan menurut MelquĂadesâ 'laboratorium' adalah panti pesakitan yang mampu mengobati kegilaannya JosĂŠ Arcadio BuendĂa.
Nah, balok es yang saya kutip di narasi awal tadi adalah salah satu 'penemuan' yang membuat JosĂŠ Arcadio BuendĂa terperangah; termasuk anak-anaknya. Lalu kemudian Ia beralih ke keterperangahan lainnya: kimia, fisika, geografi, hingga beralih ke manfaat praktisnya seperti persenjataan, fotografi, musik, dan barang-barang kerajinan tangan yang begitu unik.
Bagi Macondo, hadirnya kaum Gipsi, adalah kecelakaan peradaban dalam maksud yang mungkin dapat kita asumsikan sebagai hal baik, atau setidaknya mendukung cita-cita dari pendirinya untuk menuju ke Aufklarung-nya sendiri.
Bencana-bencana dan Titik Balik
Hidup berlanjut, JosĂŠ dan Ărsula beranak-pinak, masyarakat berkembang, begitu juga dengan Macondo itu sendiri. Masyarakatnya mulai mengenal teknologi pengairan, peternakan, pertanian, pengolahan barang, pasar, nilai tukar, persenjataan, hak-hak dan kewajiban, aturan-aturan sosial, dan tentu mulai mengekspresikan asas-asas kebebasan yang mereka sebut sebagai liberalisme; pembebasan nalar dari mitos dan legenda, jauh dari logika mistis, atau ketetapan-ketetapan absurd lainnya yang tidak berdasar dari nenek moyang mereka sebelumnya.
Setidaknya, ada tiga titik balik besar yang menguji Macondo dengan bencana-bencanaâatau jika boleh diperhalus, keanehan-keanehan yang menggelitik (lagi-lagi).
Pertama, kedatangan kaum Gipsi dan hadirnya MelquĂadesââyang sudah saya ceritakan sebelumnya, membuka revolusi kognitif dan pencerahan peradaban; kedua, adalah kedatangan Rebeca, seorang perempuan yatim-piatu yang datang dari entah berantah. Berikut deskripsinya.
"That Sunday, in fact, Rebeca arrived. She was only eleven years old. She had made the difficult trip from Manaure with some hide dealers who had taken on the task of delivering her along with a letter to JosĂŠ Arcadio BuendĂa, but they could not explain precisely who the person was who had asked the favor. Her entire baggage consisted of a small trunk, a little rocking chair with small handpainted flowers, and a canvas sack which kept making a cloc-cloc-cloc sound, where she carried her parentsâ bones."
Berkaitan dengan itu, ada satu fakta yang tertinggal dari sekian banyaknya ulasan saya, Aureliano BuendĂa memiliki daya ramal, atau di kasus ini, dianggap punya kelebihan: firasat-firasatnya soal masa depan yang pada akhirnya, cepat atau lambat, menjelma kebenaran.
Kedatangan Rebeca, dengan kursi goyang dan tulang belulang mendiang orang tuanya, sudah ada dalam firasat Aureliano BuendĂa. Dan firasat iniâatau hadirnya seorang Rebeca yang gemar memamah tanah (ini juga salah satu keabsurdan yang ditampilkan)âmemicu wabah absurd yang dialami Macondo: insomnia akut yang dialami setiap orang, tanpa terkecuali.
âIf we donât ever sleep again, so much the better,â JosĂŠ
Arcadio BuendĂa said in good humor. âThat way we can get more out of life.â But the Indian woman explained that the most fearsome part of the sickness of insomnia was not the impossibility of sleeping, for the body did not feel any fatigue at all, but its inexorable evolution toward a more critical manifestation: a loss of memory. She meant that when the sick person became used to his state of vigil, the recollection of his childhood began to be erased from his memory, then the name and notion of things, and finally the identity of people and even the awareness of his own being, until he sank into a kind of idiocy that had no past. JosĂŠ Arcadio BuendĂa, dying with laughter,
thought that it was just a question of one of the many illnesses invented by the Indiansâ superstitions.
Ingat: Macondo berisi orang-orang rasional yang begitu membenci mitos dan takhayul. Kegegabahan dan ketinggian hati mereka itu pada akhirnya menghadirkan insomnia yang begitu gila selama beberapa puluh hari di Makondo. Pada tingkat akut, mereka kehilangan ingatan sampai-sampai harus memberi label setiap benda, apa yang dapat dilakukan oleh benda itu, dan bagaimana setiap orang memperlakukan benda-benda itu. Begini deskripsinya:
"This is the cow. She must be milked every morning so that she will produce milk, and the milk must be boiled in order to be mixed with coffe to make coffe and milk."
Ada satu bencana besar berikutnya yang benar-benar mulai menggambarkan judul novel ini, atau judul dari film serial ini: JosĂŠ Arcadio BuendĂa mengidap skizofrenia yang tidak berujung; larut dalam halusinasinya sendiri, terasing dari keluarga dan masyarakat yang dibangunnya bersama-sama dengan Ărsula, terikat erat di bawah pohon kastanya besar, seperti gambar yang saya sematkan di tulisan ini. Macondo kehilangan founding father-nya.
Dari Keanehan-keanehan, Masuk ke Isu Sosial-Politik
Melanjutkan dua deskripsi keanehan yang telah terjadi di Macondo, keanehan ketiga ini, menurut saya tidak bisa disebut sebagai keanehan, tetapi bisa disebut sebagai bencana kemanusiaan yang awam dan masif terjadi di percaturan dunia saat ini. Sampai kapapun akan 'bencana' ini tetap relevan.
Ya, politik dan perang antara kaum konservatifâyang belakangan datang ke Macondo untuk 'mengambil alih' peradaban dengan kedok supremasi hukum dan kontrol negara terhadap warga negaranyaâdengan kaum liberal yang mana adalah orang-orang Macondo itu sendiri; mereka merasa terusik dan teraniyaya; menghancurkan asas-asas liberal yang selama ini mereka yakini dan bangun. Untuk apa kantor hukum? Untuk apa geraja? Untuk apa kampanye politik untuk memilih dewan representatif? Untuk apa adanya jam malam dan militer?
Sampai pada titik kulminasi konfliknya, pemberontakan kaum liberal di Macondo meletus. Ya, benar, pemberontakan itu dipimpin oleh tokoh kunci kita, Aureliano BuendĂa, yang sudah muak dan jijik pada ulah kaum konservatif yang semena-mena. Sejak pemberontakan itu berhasil, saat itulah Aureliano BuendĂa menjuluki dirinya sendiri sebagai seorang 'Colonel'.
âNot madness,â Aureliano said. âWar. And donât call me Aurelito anymore. Now Iâm Colonel Aureliano BuendĂa.â
Pemberontakan, pengkhianatan, intrik, dan friksi-friksi yang kemudian berujung pada pembantaian umat manusia di Macondo; perang dan kerusuhan di mana-mana; menghiasi plot menjelang episode-episode akhir di dalam film serial ini. Segala 'bencana' mulai terurai, tetapi selalu saja ada hal-hal yang memaksa kita masuk ke dalam sisi magis dan psikologis dari setiap tokoh dan perisitiwa yang coba dipertontonkan kepada para pemirsanya.
Sepanjang film serial ini saya saksikan, tidak ada plot yang neko-neko. Semua digambarkan dengan begitu rapi. Pembangunan konflik terkesan telaten dengan fase yang 'lambat'âdalam maksud yang baik. Latar tempat dan berbagai hal-hal yang 'absurd dan menggelitik' lainnya digambarkan dengan begitu artistik. Tidak ada nuansa yang janggal, setidaknya selain adegan yang menggambarkan hujan bunga berwarna kuning, membanjiri seluruh Macondo pasca meninggalnya JosĂŠ Arcadio BuendĂa.
Pengembangan tokohâsalah satu aspek penting dalam sebuah filmâterlihat begitu memukau. Semuanya terlihat begitu totalitas. Terutama, tokoh kunci kita, Colonel Aureliano BuendĂa; digambarkan dengan awal mulanya sebagai seorang anak laki-laki yang aneh, kaku, dan pendiam, reseptif hingga diaku punya kekuatan 'magis' (ingat soal 'firasat' tadi?) dalam dirinya, kemudian saat Ia tersakitiâperasaan kemanusiaannya oleh kaum konservatifâIa menjelma sebagai seorang kolonel buas yang tanpa ampun, ahli dalam bersiasat, terampil dalam berkuda dan melepaskan peluru dari berbagai model senapan; menghujami para tentara kaum konservatif.
Pada akhirnya, Colonel Aureliano BuendĂa telah menjelma, lahir sebagai kain satin tipis, menjadi besi, dan kemudian berubah lapisan kepribadiannya menjadi sekeras baja. Ia mengaum dengan begitu buasnya. Bahkan, Ărsula, Ibunya sendiri, tidak mampu menghentikan 'kegilaan' (baca: perang sipil) antara Aureliano dengan kaum konservatif.
Pada saat perang benar-benar meletus di Macondo di bawah pimpinannya, setelah bertahun-tahun berperang di seluruh Kolombia, Colonel Aureliano BuendĂa, menyerbu dan berniat menduduki kembali kota kelahirannya itu. Di saat bersamaan, dan sebagai penutup dalam film serial ini, Ărsula mengunjungi rumah peristirahatan terakhir dari suaminya, dan berujar:
"Tuhan Yesus Kristus, penebus dunia, kasihanilah jiwa-jiwa orang-orang yang telah meninggal. Kau yang memegang kunci neraka, kami mohon kepadaMu. Tritunggal Maha Kudus, Maha Esa Tuhan, Bapa Surgawi--dari ucapan ini, terlihat bahwa Ărsula adalah seorang penganut Katolik, pada akhirnya--Kita tak lepas darinya, JosĂŠ Arcadio BuendĂa; kita akhirnya telah menciptakan seorang monster"