Curhat
Kemarin dicurhatin murid, setelah beberapa pekan sebelumnya dia bilang mau curhat tapi ndak jadi-jadi karena menunggu waktu agar bisa cerita berdua.
'Ust, aku kan punya crush. Aku cerita ke temenku, eh ternyata beberapa pekan berikutnya, temenku itu bilang dia juga suka orang yg sama. Trus sering banget menceritakan momennya dengan crush itu ke aku. Akhirnya aku berusaha nggak suka lagi, tapi masih susah move on. Trus....'
Rasanya lucu. Apalagi pas ku perjelas, momennya kayak gimana to? Chattingan? Katanya, 'nggak Ust, nggak mungkin lah chattingan. kayak pas papasan di kantin gitu..'
Allahumma π Lucu kann, mungkin dulu akupun begitu. Bedanya, dulu aku hanya berani cerita ke teman, sedangkan mereka mau cerita kepada gurunya. Satu hal yang aku apresiasi, ketika menceritakan ke guru, artinya mereka siap ditegur dan siap diluruskan.
Tapi, jadi gurunya juga agak serba salah π Memvalidasi perasaannya, tapi harus mengarahkan agar perasaannya cukup disimpan dan dikonversi menjadi perbuatan yang masih dalam ketaatan.
Ada juga alumni yang masih rutin chattingan, tapi paling sering cerita 'Ust, aku dikasih cincin. Ust, muridnya ustadzah yg itu mulai nggak bener. Ust, ada yang nembak'
Sebagai guru, rasanya ingin berterima kasih kepada mereka. Karena merekalah, aku bisa belajar banyak hal, apalagi tentang perkembangan di usia mereka. Terima kasih mau menceritakan banyak hal, padahal pasti bukan hal mudah. Semoga Allah mudahkan untuk selalu dalam ketaatan. Meski bukan hal yang mudah, tapi ingat, Allah selalu memberi kesempatan kita untuk memilih berkebaikan ataupun sebaliknya π€ *padahal kayaknya nggak ada muridku yg bakal baca tulisan ini π


















