MENDIDIK ANAK SESUAI FITRAH
🖇️ Pendidikan Anak Usia 0-7 Tahun
Bagian # 12 (Penyimpangan Pendidikan Anak 0 -7 tahun)
Belajar iman dulu, baru Quran setelah belajar Quran maka bertambahlah iman itu. Tapi kalau iman yang belum ditumbuhkan langsung kepada ilmu, suruh menghafal ini dan itu dan sebagainya, bagaimana iman bisa bertambah yang sebelumnya itu belum tumbuh? Jadi iman itu ditumbuhkan terlebih dahulu kemudian baru ilmu atau Quran, maka setelah belajar ilmu dan Quran, iman itu akan bertambah.
5️⃣ Memberikan cerita-cerita tentang hal buruk yang dapat menimbulkan persepsi negatif antara lain misal; cerita tentang kekalahan dalam berperan atau mungkin cerita tentang di cincangnya para sahabat oleh orang-orang kafir yang sudah meninggal tadi. Jadi sahabat yang telah gugur yang telah dicincang oleh orang-orang kafir jangan kita ceritakan anak usia ini, mereka merasa ngeri, dan akhirnya punya persepsi "wajah ternyata jadi kaum muslimin itu mengerikan" nah.. ini kita hindarkan.
🔐 Kita kasih cerita2 keberanian, kemenangan, yang membuat mereka itu terkagum-kagum.
╰─> ✿--❥•••----❥•••------
6️⃣ Orangtua sering kali memberikan ancaman hukuman apabila ada anak melakukan kesalahan atau pelanggaran, ini belum waktunya dihukum, bahkan setelah 7 tahun sampai 10 saja juga belum waktunya dihukum. Hukuman yang diberikan ketika dia anak sudah berumur 10 tahun. Kadang kala itu orangtua tergesa-gesa ingin anaknya segera baik.
🔐 Mendidik anak itu seperti menanam tumbuhan, kalau baru tumbuh itu mudah patah, jangan dipaksa-paksa nanti bisa patah. Demikian juga anak kita yang masih kecil ini hatinya sensitif.
╰─> ✿--❥•••----❥•••------
7️⃣ Seringnya orangtua membandingkan anak yang satu dengan yang lain. Mereka adalah unik mereka punya potensi yang berbeda-beda maka kalau dibandingkan dengan yang lain, mereka tidak terima.
🔐 Ketika mereka dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain seolah-olah mereka merasa disalahkan. Mereka merasa disalahkan karena dibandingkan dengan yang lain.
╰─> ✿--❥•••----❥•••------
8️⃣ Orangtua berkata atau bersikap atau berwajah yang tidak ramah, apalagi kasar kepada anak. Mereka paham dengan wajah kita seperti apa, maka kejujuran hati kita untuk mencintai mereka penting.
🔐 Kita berpura-pura sayang kepada mereka, mereka juga tahu. Kita tulus kepada mereka, mereka juga akan merasakan. Inilah pekanya hati anak.
╰─> ✿--❥•••----❥•••------
9️⃣ Sering sekali orangtua berobsesi ingin menjadikan anak dengan profesi tertentu tanpa mempertimbangkan keunikan bakat anak. Karena orangtuanya berhasil menjadi pedagang akhirnya anaknya dipaksa menjadi pedagang biar berhasil seperti ayahnya. Karena merasa berhasil menjadi dokter orangtua memaksa anaknya untuk menjadi dokter, padahal anak mungkin tidak suka untuk menjadi dokter. Maka kita perlu menggali potensi unik anak kita.
🔐 Biarkan anak kita menjadi apapun yang penting dia sholeh dan bermanfaat bagi umat. Apapun itu, yang penting mereka sholeh dan bermanfaat.
╰─> ✿--❥•••----❥•••------
1️⃣0️⃣ Kadangkala orangtua menitipkan anaknya dibawah usia aqil baliqh ke pondok-pondok pesantren boarding school dengan alasan apapun, kecuali memang ada udzur yaitu orangtua yang telah meninggal atau wafat, atau mungkin faktor lain sehingga anak kurang sosok ayah dan ibu di rumah sehingga nanti harapannya kalau dia mungkin dititipkan di pondok atau boarding school, tetap harus ada sosok ayah dan ibu.
Jadi ini sebenarnya pendidikan anak 0 sampai 15 tahun sampai baliq, itu adalah tanggung jawab orangtua, pendidikan anak tanggung jawab orang tua. Setelah baligh, maka mereka menjadi dewasa, itu bisa diboardingkan, bisa di pondokan. Karena kadangkala anak usia ini ingin menangis, menangisnya kepada siapa? mungkin bisa jadi di pondok kurang sosok ayah dan ibu. Mungkin satu pondok satu angkatan bisa sampai 50 anak bisa sampai 100 anak, kemudian hanya ada satu atau dua musyrif di sana yang kadangkala belum bisa menampung semua keluh kesah dari anak-anak.
🔐 Ini akan melukai anak apabila mereka pada usia dibawah usia baligh ini, mereka diboarding kan atau di pondokan, kecuali ada udzur.
╰─> ✿--❥•••----❥•••------
1️⃣1️⃣ Seringkali kita juga menggunakan metode untuk orang dewasa dalam mendidik anak. Contoh misal; ada sebuah kisah bahwa para sahabat dulu itu ketika mereka belajar, mereka diam sekali sampai seandainya ada burung hinggap di kepala para sahabat, mereka tenang. Betapa tenangnya sahabat ketika menurut ilmu. Itu orang dewasa. Coba kalau kita terapkan di anak TK atau paud disuruh tenang seperti itu, mereka semua stres, ketakutan, dipaksa seperti itu belum bisa. Karena di usia ini sedang puncak-puncaknya aktivitas mereka, sedang puncak-puncaknya gerak, maka anak kecil itu sukanya berlari, karena memang inginnya aktif. Mereka nggak bisa diam. Jadi metode orang dewasa itu namanya andragogi belum tentu cocok untuk pedagogi, pendidikan untuk anak-anak.
🔐 Kita harus bisa membedakan mana ini untuk orang dewasa dan bahan untuk anak-anak jangan dibolak- balik.
╰─> ✿--❥•••----❥•••------
1️⃣2️⃣ Orangtua yang terlalu berkonsentrasi pada perbaikan kekurangan anak, seharusnya konsentrasi pada kelebihan anak. Sehingga kekurangan itu akan tertutupi. Kita seringnya itu su'udzon kepada anak, yang dibahas itu kurangnya saja. Kadangkala kelebihannya tidak pernah ditengok. Setiap anak itu hebat, setiap anak yang memiliki kekurangan pasti memiliki kelebihan dan semua manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu yang harus kita lihat adalah konsentrasi pada kelebihan anak. Kita kuatkan potensi ini, kita tumbuhan potensi kekuatan anak itu insya Allah nanti kekurangannya akan tertutupi. Contoh misal kita sedang di ruangan terus kemudian lampu mati, gelap. Kita tidak pernah membahas gelap, definisi gelap, jenis-jenis gelap, unsur-unsur gelap, tidak kita bahas. Yang kita bahas hanya satu, bagaimana keluar cahaya. Maka yang kita bahas adalah lampu, begitu cahaya keluar, maka gelap pun dengan sendirinya akan hilang. 🔐 Maka apabila kita menghadapi anak yang bermasalah temukan potensinya kita kuatkan potensinya, setelah potensi itu tumbuh maka insya Allah kekurangan akan tertutupi.
╰─> ✿--❥•••----❥•••------
📚Sumber: Notula Kajian Parenting Pendidikan Karakter Nabawiyah, Ustadz Abdul Kholiq Hafidzahullah.