"Harapan adalah ketika kita mampu melihat pelajaran di setiap kesalahan, kebangkitan di setiap kegagalan, dan jalan keluar di setiap kesempitan. Maka bagaimana prasangka kalian terhadap Rabb semesta alam??"
Syaikh Sa'id Raslan hafidzahullahu
styofa doing anything

Origami Around
Alisa U Zemlji Chuda

I'd rather be in outer space 🛸
TVSTRANGERTHINGS

PR's Tumblrdome
almost home
Not today Justin

titsay
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Three Goblin Art
Lint Roller? I Barely Know Her

oozey mess
art blog(derogatory)

❣ Chile in a Photography ❣
sheepfilms
Stranger Things

@theartofmadeline
RMH
seen from United States

seen from Spain
seen from United States

seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Spain

seen from Malaysia

seen from Sweden
@ruangteduh
"Harapan adalah ketika kita mampu melihat pelajaran di setiap kesalahan, kebangkitan di setiap kegagalan, dan jalan keluar di setiap kesempitan. Maka bagaimana prasangka kalian terhadap Rabb semesta alam??"
Syaikh Sa'id Raslan hafidzahullahu

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pelajaran yang kudapat setelah menjadi orang tua (dan of course aku juga pengalaman menjadi seorang anak), adalah:
Jangan pernah menuntut bakti dari anak-anak kita!
Biarkan anak-anak kita berbakti pada Tuhannya. Maka mereka akan berbakti pada orang tua dengan caranya —yang mungkin tidak kita mengerti.
Karena tidak semua bakti anak hadir dalam wujud memberikan segala kesenangan dunia pada orang tua.
Bisa jadi bentuk bakti itu hadir dalam wujud seorang anak yang berusaha untuk memaafkan dan memintakan ampunan atas segala kedzaliman yang pernah dilakukan orang tua padanya.
Bisa jadi bentuk bakti itu hadir dalam wujud seorang anak yang berusaha menutupi aib dan kesalahan orang tuanya.
Maka, jika kelak anak-anakmu sudah besar, jangan sekali-kali menuntut bakti pada mereka. Ajarkanlah mereka untuk berbakti pada Tuhannya, dan izinkan mereka berbakti padamu dengan caranya sendiri.
أسعد الناس من أسعد الناس
Syaikh Dr. Hamd Al-'Atiq hafidzahullau berkata:
"Orang yang paling bahagia adalah orang yang membuat bahagia orang lain."
Yang demikian karena manusia yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, baik dari sisi ilmu, tenaga, materil, dll. Dan juga di antara amalan yang paling Allah cintai adalah sebuah kesenangan yang kita masukan ke dalam hati seorang muslim, baik dengan membantunya, memberinya makan dan minum, melunasi hutangnya, membantunya menyelesaikan hajatnya, mempermudah urusannya dengan kita dan tidak mempersulit. Hal itu sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم Simak haditsnya!
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أحب الناس إلى الله الفعهم للناس، وأحب الأعمال إلى الله" عز وجل سرور يدخله على مسلم، أو يكشف عنه كربة، أو يقضي عنه دينا، أو تطرد عنه جوعا، ولأن أمشي مع اخ لي في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد يعني: (٩٠٦) مسجد المدينة - شهرا. " السلسلة الصحيحة رقم
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan amal yang paling dicintai oleh Allah عز وجل adalah membuat bahagia seorang muslim, atau menghilangkan kesulitannya, atau melunasi hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya.
Sungguh, seandainya aku berjalan bersama seseorang untuk membantunya dalam menyelesaikan hajatnya lebih aku cintai daripada aku beri'tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan...."
(Dishahihkan oleh syaikh Albani dalam Silsilah Shahihah no.906)
Sumber: Status WA Ustadz Ali Yuslam Dahdah hafidzahullahu
Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-gesa
Makin dewasa, kadang tidak sadar membandingkan diri sama orang lain. Mengukur diri dengan alat ukur yang tak seharusnya kita gunakan; persepsi orang lain.
Waktu pulang ke rumah orang tua minggu lalu, aku menyadari jika banyak pohon di sekitar rumah ini yang umurnya lebih tua dari umurku, mereka adalah pohon kelapa, mangga, rambutan, dan nangka. Bahkan, foto mereka saat masih tumbuh masih ada, menjadi latar fotoku saat masih kecil dulu.
Mereka masih berbuah hingga hari ini, memberi manfaat meski menetap tak berpindah sama sekali. Bahkan, seiring kesibukanku, aku tak menyadari pertumbuhannya.
Entah kenapa, sulit bagi kita meneladani pohon. Andai kita petani, kita pun akan sadar tidak bisa memaksa padi tumbuh hingga menghasilkan bulirnya dalam sebulan. Mangga yang baru bertunas, tak bisa kita paksa segera berbuah dalam enam bulan. Apalagi tanaman-tanaman yang lebih lama lagi seperti durian. Mereka, para petani, amat sabar merawatnya dari bibit hinga berbuah, hingga layak panen.
Entah kenapa kita nggak pernah sabar sama hal-hal yang lagi kita tanam sendiri, dari pekerjaan ingin segera punya pekerjaan yang baik dengan gaji besar, dari pendidikan ingin segera selesai dengan nilai memuaskan, dari berkeluarga ingin bergegas menikah - punya anak - hidup bahagia - punya rumah - punya apapun, dan entah apapun yang lagi kita mulai. Kita tergesa untuk segera lihat hasilnya, tidak hanya itu, tapi juga berekspektasi bahwa kita akan mendapatkan hasil yang baik.
Entah kenapa, kita terasa begitu tergesa-gesa. Seolah jika sudah sampai kepala tiga, semuanya telah terlambat. Seolah kita kalah dari perlombaan yang sebenarnya tidak pernah ada.
Dan karena begitu tergesa-gesa, kita kadang nggak sadar bahwa bisa jadi kita adalah pohon durian yang iri kepada padi. Kata terfamiliarnya adalah kita kehilangan jati diri. (c)kurniawangunadi
Ini doa agar pahala kita kelak tidak diberikan pada mereka yang pernah kita dzalimi, baik secara sengaja mau pun tidak. Atau agar kita terhindar dari menanggung dosa-dosa mereka.
Doa ini diucapkan setiap malam, sebelum tidur.
Kalau diterjemahin ke bahasa Indonesia, kurang lebih maknanya:
"Ya Allah, aku hanyalah manusia. Aku bisa marah sebagaimana manusia lainnya marah. Aku bisa kesal sebagaimana manusia lainnya kesal. Aku bisa cemburu sebagaimana manusia pada umumnya pun cemburu.
Jadi, jika Engkau mengetahui bahwa aku pernah menyakiti orang lain, menghina orang lain, merendahkan orang lain, jika ada di luar sana orang yang terluka atas perilakuku yang sebenarnya ia tak pantas menerimanya,
Maka ubahlah itu semua menjadi pahala shalat, menjadi pahala zakat, menjadi pahala qurban, dan menjadi jalan agar mereka mendapat rahmat-Mu di hari kiamat."
Doa ini juga sebagai pengingat bagi kita, untuk tidak membanggakan diri serta berlebihan dalam mengutuk dan menghukum orang-orang yang telah berbuat jahat pada kita.
Karena kalau kita masih menyimpan dendam pada mereka, padahal mereka sudah Allah ampuni dan malah senantiasa mendoakan kebaikan untuk kita, maka yang rugi adalah kita yang terus mendzalimi diri sendiri.
Tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur'an yang memerintahkan manusia untuk meminta maaf pada manusia lainnya. Tapi ada banyak ayat yang memerintahkan kita untuk memaafkan manusia lainnya.
Kau lihat?
Dunia ini penuh dengan tipuan. Baik, buruk, sama-sama ujian.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
KESEDIHAN ITU BERASAL DARI SETAN, DAN HENDAKNYA KITA BERUSAHA MENYINGKIRKANNYA
Syaikh Abdul Aziz Ar Rayyis حفظه اللّٰه menjelaskan; bahwa kesedihan itu tidak ada manfaatnya.
Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Madarijus Salikin "Kesedihan berasal dari setan dan setan menyukainya, sedangkan Allah tidak menyukainya." Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Sesungguhnya bisikan itu dari setan, supaya dia menimbulkan kesusahan kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Mujadilah: 10).
Karena kesedihan melemahkan badan, melemahkan semangat, melemahkan ibadah, dan menyibukkan pikiran sehingga tidak fokus pada ilmu maupun ibadah, melainkan hanya berkutat pada kesedihan yang tidak bermanfaat.
𝙆𝙚𝙨𝙚𝙙𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙡𝙖𝙡𝙪, 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙗𝙖𝙞𝙠𝙞 𝙠𝙚𝙖𝙙𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙬𝙪𝙟𝙪𝙙𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣. 𝙈𝙖𝙠𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙩𝙪, 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙛𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙘𝙪𝙖𝙡𝙞 𝙠𝙚𝙜𝙚𝙡𝙞𝙨𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖𝙣.
𝙈𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙡𝙚𝙢𝙖𝙝, 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙙𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝-𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙬𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖.
Tulisan : Terlihat Mudah
Satu hal yang kemudian kusadari setelah sekian lama mengamati, tidak hanya mengamati perjalanan sendiri melainkan juga perjalanan hidup orang lain. Pada setiap urusan hidupnya yang terlihat mudah, ternyata tidak semata-mata karena memang orang tersebut adalah orang yang pandai, cakap, terampil, memiliki banyak keahlian.
Seringkali saya meminta nasihat kepada mereka, tentunya selain mendapatkan nasihat-nasihat umum seperti kita harus belajar, berinvestasi leher ke atas, menambah jejaring dan keahlian. Ada nasihat-nasihat tambahan yang saya simpulkan, hampir sama. Berbuat baik, kepada siapa? Kepada orang tua.
Katanya, kita bisa jadi pandai dalam bersedekah bersama teman-teman kita, rutin setiap senin dan jumat. Selalu ada untuk menolong teman-teman kita. Selalu meluangkan waktu untuk orang lain. Selalu mencurahkan energi dan pikiran kita ke dalam organisasi, komunitas, dan lain-lain. Tapi, bisa jadi kita jarang hadir di rumah, tidak meluangkan waktu untuk orang tua kita, tidak membantu meringankan pekerjaannya sesederhana membersihkan kamar kita, membukakan pintu dan menutup pintu pagar ketika orang tua hendak keluar atau masuk rumah, merapikan meja makan, dan hal-hal yang tampak sederhana dan seolah tak bernilai bagi kita, dibanding dengan aktivitas kita di luar rumah. Temanku yang lain, yang tampak biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial dengan kemampuan akademiknya di kampus, pun tidak menjadi pejabat penting dalam organisasi. Ketika dia mendaftar magister di luar negeri, dengan mudahnya mendapatkan beasiswa, bahkan beasiswa penuh. Lulus dari sana langsung mendapatkan pekerjaan yang sangat baik, ketika para lulusan yang lain masih bingung mencari pekerjaan ketika pulang. Tentunya, kalau orang lain yang tak mengenal bagaimana orang tersebut tidak akan tahu kalau temanku tersebut adalah orang yang selalu ada untuk orang tuanya. Bahkan, ketika ada urusan organisasi dan orang tuanya meminta tolong untuk diantar ke suatu tempat, dia tak segan untuk minta izin ke organisasi dan memilih mengantar orang tuanya. Dulu, sebagai seorang aktivis mungkin agak jengkel ketika ada anggota yang tidak bisa hadir karena ada urusan keluarga. Tapi, hari ini, semakin dewasa, saya menjadi lebih paham skala prioritas seseorang. Itu belum termasuk dengan segala kesiap sediaannya yang lain untuk orang tuanya, yang saya tahu dari orang tuanya langsung. Anaknya adalah anak yang selalu bisa diandalkan. Ujarnya. Temanku yang lainnya lagi pun demikian. Tak jauh beda ketika memberikan nasihatnya kepadaku. “Sekalipun orang tua kita mungkin tak begitu memahami dunia kita saat ini, tetaplah berbuat baik selama itu bukan kekerasan dalam rumah tangga dsb. Perbedaan pendapat dengan orang tua, sikap dingin, perbedaan pandangan, itu semua adalah hal yang niscaya terjadi antara orang tua dan kita sebagai anak. Kita perlu untuk mencari celah di mana kita bisa berbuat baik.” Akan lebih menyesakkan kalau kita sudah tahu bahwa orang tua kita sebenarnya mudah untuk kita dekati, bisa diajak bicara, tapi justru kemudahan itu membuat kita merasa tidak perlu merawatnya dengan baik. Dan kemudian kita merasa banyak sekali hambatan dalam hidup kita, ketika mau sekolah, bekerja, memasukin kehidupan berumah tangga, bahkan mungkin saat berumah tangga. Bisa jadi, penyebabnya sedekat itu. Dan kita tidak berusaha mengatasi penyebabnya, tapi sibuk mencari cara dari luar yang jauh, yang mahal, yang berputar-putar jalannya. Lihat raut wajah kedua orang tua kita, jika keduanya masih ada, atau mungkin salah satunya. Yang mulai menua, tenaganya tidak sekuat dulu, yang lelah menyiapkan makanan di rumah yang jarang kita makan. Yang setiap pagi membangunkan kita tapi kita tak kunjung mau beranjak bangun. Setiap hari harus mengurus rumah seisinya dan kita masih mengeluh karena rumah ini terasa tidak hangat, berharap orang lain yang menghangatkan rumah ini tapi kita sendiri tidak mau. Tak terlintas dalam benak kita untuk mengantar orang tua kita ketika mereka ada urusan, menemaninya berkunjung silaturahmi, ke rumah sakit, membeli makan, tidak harus urusan yang sangat penting. Memang mungkin agak sulit bagi kita, membatalkan sedikit urusan kita, mengurangi aktivitas kita yang terlihat begitu memukau banyak orang. Tapi kesibukkan itu justru meniadakan kesempatan-kesempatan kita untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidup, melalui doa-doa orang tua kita yang begitu dekat, kepada anakknya yang dilahirkannya dan selalu ada memudahkan orang tuanya. Kehilangan orang tua itu sama saja dengan kehilangan doa-doa yang paling mustajab. Jangan sampai, kita kehilangan doa-doa itu bukan karena orang tua telah meninggal dunia. Mereka masih ada di sekitar kita, tapi kita sudah kehilangan doa-doa mustajab tersebut, karena kita tidak pernah memintanya, tidak pernah meluangkan waktu untuknya, dan tidak pernah hadir sebagai anak yang dulu pernah diberikan kasih sayang yang begitu besar ketika masih kecil. Ketika sudah besar, anak-anaknya tak lagi sedekat dulu. Tak lagi menunjukkan keinginannya untuk dekat dengan orang tuanya. Seolah-olah anak tersebut tidak menginginkan kehadiran orang tuanya, bahkan dianggap orang tua sebagai penghambat langkah kakinya. Padahal, kemudahan yang kita cari begitu dekat. Tapi, kita mencarinya begitu jauh. 18 Maret 2021 | ©kurniawangunadi
Keluarga yang Beruntung
Anak-anak yang beruntung bukan mereka yang bergelimang harta dan fasilitas mewah dari orangtuanya.
Anak-anak yang beruntung adalah yang mereka yang bergelimang hikmah dan keimanan dari orangtuanya.
Mereka beruntung karena kelak ajaran orangtuanya begitu dibutuhkan dalam menjalani setiap fase kehidupan.
Dan orangtua yang beruntung adalah mereka yang sudah tidak lagi hidup, tapi pahala terus mengalir untuknya, ialah doa dari anak-anak yang shaleh shalehah :)
Kegagalan negara itu ancaman bagi anak-anak kita. Bagaimana nanti kalau…
Danantara gagal investasi…
Bank emas gagal nyimpan aset…
IKN gagal jadi ibukota…
Food estate gagal panen….
Makan bergizi gratis gagal dilanjutkan…
Bukan kami meragukan skill, kapasitas, kehebatan, dan kecerdasan pemimpin sekarang. Bukan. Yang kami ragukan adalah KEJUJURAN dan KESERAKAHAN kalian.
Bukti kegagalan dan keburukan itu sudah ada dan banyak sekali. Tidak perlu dijabarkan lebih lanjut di sini. Ketakutan kami sebagai rakyat hanya satu:
Penanggung kegagalan-kegagalan itu adalah anak-anak kami…
(Terinspirasi dari sebuah konten yang lewat di reels IG, tetapi lupa sumbernya)
Kita terkadang ingin sekali membantu kesulitan orang lain. Namun memang tak semua bisa kita jangkau dengan jangkauan kita sebagai manusia yang begitu terbatas. Maka jalan terbaik adalah dengan mencukupkan diri dengan upaya yang semaksimal bisa kita lakukan. berdoa. mendoakan untuknya kebaikan, mendoakan untuknya jalan keluar.
hanya itu bisaku, menenun rindu dan menguntai doa. karena sebaik-baik mencintai adalah dengan mendoakan untuknya selalu.
dan bulan Ramadhan adalah momen terbaik untuk memulangkan semuanya. harap, asa, rasa, cita, dan semua hal yang sedang diupayakan. semoga bertemu di titik terbaik yang Allaah ridhai dan engkaupun Ridha atas apa yang telah Allaah tetapkan untukmu.
sebuah ruang || 19.11

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Berbicaralah sesuai kapasitas diri, jika tidak mampu atau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka diamlah. Ini tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, namun juga menyelamatkan orang lain dari kekeliruan.
Di satu sisi, saya sangat bersyukur melihat banyaknya akun-akun yang isinya tidak lepas dari dakwah. Semoga niat ikhlasnya menjadi amal jariyyah.. aamiin Allahumma aamiin.
Namun kadang ngeri membaca sebagiannya yang jika membahas satu masalah hukum yang seharusnya dijelaskan secara terperinci, jadi sangat berpotensi disalahpahami oleh yang membaca, tersebab yang menulis menyimpulkan sendiri dengan tulisan singkat dan seadanya.
Untuk memberanikan diri mengoreksi pun menjadi dilema tersendiri.
Kenapa dilema? Karena mempertimbangkan maslahat dan mafsadatnya, tepat atau tidak-kah waktunya, bagaimana bahasa ataupun diksi yang digunakan. Dan mempertimbangkan cara menyampaikan pun tidaklah mudah. Sehingga, tidak jarang saya memilih diam, saat salah satu pertimbangannya tidak terpenuhi.
Itu sebab, saya sering berpikir berkali² jika menulis tentang sesuatu yang sekiranya tidak bisa dibahas secara singkat.
Alasan pertama, karena budaya literasi kebanyakan kita begitu minim. Malas membaca tulisan panjang. Sehingga mudah menyimpulkan begitu saja sebelum dibaca secara menyeluruh.
Alasan kedua, khawatir ada yang terluput dalam menyampaikan, tersebab bisa jadi saya sebetulnya tidak memiliki pengetahuan tentangnya, hanya sekadar tahu sedikit saja, sehingga kesimpulan dari pembaca pun bisa berpotensi keliru tersebab keterluputan itu.
Apalagi semisal dalam masalah fiqh, banyak istilah² yang mungkin sulit dipahami, sehingga satu istilah saja perlu penjelasan yang panjang.
Bahkan ada saja akun dakwah yang entah siapa admin dibaliknya menukil tulisan, mengatasnamakan fatwa Ulama A, atau B, atau C. Padahal maksud Ulama tersebut tidak sesuai dengan konteks yang ia simpulkan, atau bahkan Ulama tersebut sama sekali tidak berfatwa demikian. Sebab tidak jarang, seseorang menukilkan fatwa Ulama, namun ketika ditelusuri pada kitab yang dimaksud, tidak ditemukan pernyataan yang dimaksud, sehingga tentu menimbulkan kesalahpahaman, dan ini merusak tatanan ilmu. Entah yang menukil ini mencopas dari akun lain tanpa mericek kebenarannya terlebih dulu, atau dialah yang menyebarkan tanpa ilmu, sehingga menimbulkan kegaduhan ataupun adu domba, Allahul musta'an.
Begitu pula yang bermudah-mudahan menisbatkan kepada Allah Ta'ala, semisal: "Menurut Islam....." padahal apa yang ia sampaikan adalah perkara ijtihad, bukan yang benar-benar Allah Ta'ala menghukumi sesuatu itu halal atau haram, bid'ah atau sunnah, dst. Sedangkan Allah Ta'ala sedemikian kerasnya memperingatkan tentang bahayanya berdusta atas nama Allah Ta'ala. Cukup sampaikan, siapa yang berkata atau yang berpendapat demikian, sebab jika sudah menisbatkan kepada Islam, maka telah menisbatkan kepada Allah Ta'ala sebagai Pemilik syariat.
Allah Ta'ala Berfirman;
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
“Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. an-Nahl: 116)
Disinilah perlunya berhati-hati di sosial media ini. Jangan mudah menerima berita ataupun menyebarkannya begitu saja tanpa benar² tahu kebenarannya. Walaupun yang menyebarkannya memiliki followers puluhan ribu atau jutaan sekalipun.
Bahkan kehati²an itu seharusnya kita terapkan juga ketika membubuhkan tanda "like" pada postingan siapapun, karena itu tanda kita menyukai isinya, ataupun memberikan dukungan dan membenarkan isinya. Tentu ini tidak akan lepas dari pertanggungjawaban kita nantinya. Karena di sosial media ini, sebagian banyak dari kita, beragama bukan berdasarkan tuntunan, tetapi berdasarkan apa mayoritas kata orang atau melihat berapa banyak "likers"nya, seakan dilegitimasi.. jika banyak yang ngelike, maka sesuatu itu dianggap kebenaran tanpa melalui filtrasi sebelumnya. Wal'iyadzu billah.
Apalagi jika isinya adalah postingan² yang menunjukkan aurat, postingan-postingan yang mengundang godaan lawan jenis, ataupun yang jelas-jelas keburukan jika sampai tersebar, maka jelas ini patut dihindari, bahkan kalau mampu untuk ingatkan secara personal dan dengan adab yang baik, maka lakukanlah. Karena wujud mencintai yang benar adalah ketika kita sangat khawatir murka Allah Ta'ala tertuju kepada orang yang kita cintai jika kita membiarkan, bahkan kita bisa ikut berdosa jika kitapun malah memberikan dukungan ketika mereka keliru.
Satu lagi, tanggung jawab kita di media sosial ini tidak terbatas hanya berhati-hati terhadap apa yang kita sebarkan, tetapi juga tidak membiarkan kemungkaran terjadi di kolom komentar postingan kita sendiri. Maka tugas kita selanjutnya adalah meluruskan apa yang keliru dipahami jika ada yang keliru dalam memahami, dan seterusnya.
Tinggalkanlah jejak yang baik, yang dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalla kelak. Sungguh hisab Allah itu tidaklah ringan, karena melingkupi dari hal terkecil hingga yang besar 💦
Sayapun memohon agar ketika menemukan kesalahan yang ada pada saya, jangan sungkan untuk ingatkan.
Nas'alullah as salamah wal 'afiah.
Mari pelan-pelan sadari bahwa tak segala hal ada dalam kendali kita. Namun dari semua yang menurut kita berantakan ini, pesan pentingnya adalah mereka yang membuat kita kuat, tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Badai datang bukan untuk membuat kita menjadi jahat, tapi untuk melembutkan hati kita.
@terusberanjak
Yaa Allaah, sampaikanlah kepada kami apa yang kami harapkan. Dan jadikan untuk kami permintaan yang tidak tertolak. Karuniakan untuk kami rezeki yang tidak terbatas. Dan bukakan untuk kami pintu surga yang tidak akan terhalang.
Buatlah hati kami ridho atas segala ketetapan dan takdir-Mu serta jauhkan kami dari rasa hasad dan iri dengki pada nikmat yang Engkau hadirkan untuk hamba-Mu yang Iain.
Yaa Rabb, jagalah pula kami dari sifat yang zhalim. Lindungilah kami dari orang-orang yang zhalim pula. Yakinkan kami bahwa pertolongan-Mu lebih dekat dari denyut nadi. Bahwa rahmat-Mu akan hadir tepat di saat yang terbaik.
Jadikanlah ujian-ujian kami menjadi penyelamat kami kelak di akhirat. Jadikanlah kesakitan yang kami rasa menjadi pintu kemudahan bagi kami di hari penghisaban. Sesungguhnya janji-Mu adalah pasti.
- repost instagram ariummuirhabiy_ | pict from pinterest
Bercerita pada Allah, bukan berarti tidak perlu bercerita pada manusia. Tidak apa-apa jika harus bercerita, tapi pilihlah teman bicara yang baik, ia mendengarkanmu bukan mengumbar kisahmu, yang amanah dalam menjaga aibmu dan bukan yang ingkar padamu. Temanmu mungkin bisa banyak, tapi sedikit yang bisa diajak taat.
Dijatuhkan di depan publik online itu sakit.
Dilecehkan verbal di socmed depan publik itu sakit. Baik itu sama sesama cewe ataupun cowo, walaupun dulu sebelum berkerudung.
Hati-hati dalam berkata-kata.
Sebagai muslim kita pun harus kuat kalau kena. Serahkan ke Allah.
Kalau mereka ngga malu bertutur kata ngga baik di internet, kenapa gue harus malu speak up. Ngga mau membesar-besarkan hanya mau peringatkan, pelajaran buat orang-orang!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Imam Ahmad rahimahullah,
"Maafkanlah saudaramu, apa untungnya bagimu jika Allah menyiksa saudaramu sesama muslim tersebab dirimu?"
— Siyar A'lam an-Nubala', (11/262).
Keluar rumah hanya karena harus pergi bekerja. Setelahnya kembali ke rumah dan mengunci diri di dalamnya. Seperti tak ada energi untuk bersosialisasi. Hanya ingin sendiri, sepi, tenang dan berdiam diri.
Anonim