Ryan Kwanten and Alexander SkarsgΓ₯rd in True Blood (2008-2014)
HMU letβs have fun π€©
πͺΌ
noise dept.
ojovivo

PR's Tumblrdome
KIROKAZE

blake kathryn


JVL
Alisa U Zemlji Chuda

β
Today's Document
Monterey Bay Aquarium
Three Goblin Art

oozey mess
One Nice Bug Per Day
Lint Roller? I Barely Know Her
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

β£ Chile in a Photography β£
Keni
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from T1

seen from T1
seen from United States
seen from Poland

seen from Australia

seen from United States
seen from United States
seen from France

seen from France

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from TΓΌrkiye
seen from Greece

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Singapore
seen from Greece
@froggayboy
Ryan Kwanten and Alexander SkarsgΓ₯rd in True Blood (2008-2014)
HMU letβs have fun π€©

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Here for fun π€©
Your boyfriendβs favorite distraction.
Let me remind you idiot girls. You are not allowed on my blog. I only do men only.
Learn to read before trying to friend me on here
Kissed like chaos. I stayed anyway.
Thank you @bo111blr and everyone who got me to 25 reblogs!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Kissed like chaos. I stayed anyway.
"Kalau kamu udah capek banget dan mau mundur, nggak apa-apa kok. Apapun pilihan dan keputusan kamu, akan selalu aa dukung."
-Andrian, pada suatu malam saat istrinya tiba-tiba nangis karena kena deadline jurnal tapi nggak selesai-selesai. Aku? Ya makin nangis lah digituin T_T
Tuhan.. paruh kedua tahun ini aku pengen istirahat sebentar, boleh ya?
tapi.. lulus tuh rasanya unreal banget saking susahnya jalanin ini 6 tahun ke belakang. hhfff..
Ke-Hectic-an Duniawi
mesti ngerjain dua revisian artikel sekaligus, karena dua-duanya terbit barengan di bulan Mei. sementara uji kelayakan kurikulum juga belum kelar karena sibuk mikirin siapa validator yang paling pas. belum lagi semester ini udah mulai dan yak tentu saja mulai ngajar lagi. ada tugas tambahan juga mesti bikin modul ajar dari salah satu mata kuliah yang diampu karena prodi lagi persiapan akreditasi. TK lagi penerimaan siswa baru dan persiapan pensi. visilab yang udah lama terbengkalai, senin nanti mulai meeting buat persiapan marketing product baru.
dan aku?
hari-hari masih aja sibuk marathon drakor sama bolak-balik nontonin TPSnya Day6 di youtube dan ngumpulin foto-foto dowoon dari twitter.
emang gitu ya. kalo terlalu banyak yang mesti dikerjain, jadinya malah bingung mesti ngapain. kayakkkk.. harus ngerjain yang mana dulu ya? akhirnya tuh jadi.. ah ya udah besok aja. besoknya, ngomong gitu lagi. besoknya kejadian lagi. nah ini udah dua minggu belom ada progress karena kebanyakan nanti aja. astagaaaaa..
ayok lah. abis ngepost ini lanjut revisi artikel.
BISMILLAH LULUS JULI 2025 YA ALLAHHHH. LELAH BANGET MAU UDAHAN AJA SEKOLAHNYA.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Hobi Orang Dewasa
Pagi ini ngobrol random sama Andrian perkara hobi.
"Aa nggak pernah tau hobinya Bapak tuh apa."
"Baca buku?"
"Oh iya, baca koran. Bapak hobi baca koran. Dia langganan koran setiap hari. Kalau lagi keluar kota naik bus, ada yang jual koran, dia beli. Kayaknya itu deh satu-satunya hobi bapak yang aa tau."
Lalu mengalirlah cerita betapa kerasnya hidup Bapak sejak kecil karena jadi yatim sejak SMP. Bagaimana ia harus mengurus ibu dan adiknya yang sakit. Putus sekolah dan kehilangan kesempatan jadi guru agama. Andrian menyadari kalau Bapak nyaris tidak pernah melakukan hal yang benar-benar ia sukai. Sejak kecil sampai tua, punya anak dan cucu, Bapak bekerja keras. Menafkahi ibu, adik, istri, anak, keponakan, juga mertuanya. Seluruh keluarga bergantung pada Bapak. Wajar kalau akhirnya Bapak bahkan kehilangan keinginan mempertimbangkan apa yang ingin ia lakukan. Apa yang disukainya. Hobi? Hobi hanya untuk mereka yang tidak perlu bertarung dengan nasib.
Walaupun belum sempat bertemu Bapak, aku tau beliau orang yang hebat. Karena itulah suamiku pun bisa jadi suami yang luar biasa.
"Aku paham sih kenapa Bapak begitu," kataku. Ada jeda sekian detik untuk menghela nafas, lalu aku melanjutkan, "Aku sendiri udah nggak pernah beli novel sejak kita menikah. Padahal dulu berapapun harganya selalu diusahain buat beli kalau memang pingin. Tapi sekarang, beli novel tuh rasanya feelin guilty. Kalau butuh hiburan, aku bisa nonton drakor aja yang murah, nggak perlu beli novel."
"Padahal kalau mau beli ngga apa-apa lho. Kan uangnya ada. Aa juga masih suka beli buku."
"Aa beli buku buat kerja. Aku juga beli buku, tapi buku-buku kuliah. Aa juga koleksi novelnya banyak, makanya rak buku kita penuh, berarti sebenernya suka? Tapi semenjak kita nikah, ada nggak aa beli novel lagi? Nggak kan?"
"Iya sih."
"Semenjak punya keluarga, prioritas kita tuh bergeser. Yang penting kebutuhan keluarga aman, hobi kita mah belakangan."
Terus kami sama-sama diem.
Kami nggak kesulitan ekonomi, walaupun juga nggak berlebih. Tapi kalau sekedar membiayai hobi baca novel atau hobi olahraga, kami bisa. Yang nahan aku dan suami mementingkan diri sendiri, mungkin karena kami dididik orang tua yang biasa mengutamakan kebutuhan keluarga. Jadi saat kami punya keluarga sendiri, kami paham kalau kami punya kewajiban untuk memastikan satu sama lain bisa hidup dengan nyaman, sampai lupa kalau kami juga punya keinginan.
Ternyata.. orang dewasa itu kadang-kadang hobinya memastikan kebahagiaan orang lain, ya?
Kala Hujan-7
Juni 2013
Sejak pertengkaran mereka terakhir kali, Alan dan Hujan tak pernah meributkan apapun lagi. Hubungan keduanya kembali seperti sedia kala. Punya kelompok pertemanan sendiri-sendiri, tapi coba saling mengisi diwaktu sepi. Sampai di titik ini, tekad Alan sudah bulat. Ia tidak akan gegabah. Menyatakan perasaannya dan kehilangan Hujan adalah risiko yang terlalu besar untuk diambil. Alan masih punya waktu untuk menunggu.
Namun Hujan yang mulai menyadari perasaannya pada Alan tidak begitu. Ia tidak ingin menunggu. Hujan tidak ingin mengharapkan apapun dari Alan, selain pertemanan yang selama ini membuat nyaman. Ia tidak bisa membayangkan kehilangan seseorang seperti Alan lewat kata "Putus" yang selama ini selalu dihadapinya dari hubungan dengan pria-pria sebelumnya. Seperti Alan yang tidak ingin kehilangan Hujan, Hujan pun memilih berjarak agar Alan tetap dalam jangkauan.
***
Jam pulang kantor masih beberapa menit lagi. Tapi Alan tidak berniat pulang tepat waktu hari ini. Sebagai pegawai magang teladan, ia harus menyelesaikan pekerjaan sesuai target. Akibat banyak melamun, jam pulang kantornya harus ikut jadi korban.
Ponsel Alan berdering nyaring, memecahkan lamunannya. Terlihat nama "Kala" terpampang jelas di layar.
"Ya?"
"Bisa ngobrol sebentar?"
"Wait, aku cari tempat yang tenang dulu. Di sini terlalu berisik," kata Alan sambil berjalan menuju tangga yang mengarah ke rooftop.
"Ada apa, Hujan?
"Kamu masih marah?"
"Marah kenapa?"
"Kejadian di kafe kemarin. Kamu tiba-tiba pergi gitu aja setelah ngomelin aku gara-gara ceritaku tentang Adri."
'Ah, I don't want to talk about it, Hujan. Aku sedang nggak punya energi untuk terluka saat ini, please...' keluh Alan dalam hati.
Akhirnya yang ia lakukan, "Ohhh... itu. Aku nggak marah, dan nggak punya alasan untuk marah."
"Lalu?"
"I was just... In a rush. Harus balik ke kantor. Mmm... kemarin lembur."
"Baguslah. Berarti aku yang overthinking."
"Jadi, gimana Adri?"
"Dia baik-baik aja."
"Kamu tau bukan itu maksud pertanyaanku."
"Dia baik-baik aja. Kami baik-baik aja. Dia dan pacarnya mungkin bakal segera putus."
"Ann... come on," ucap Alan dengan nada memelas.
"Dengar dulu. There's something I haven't told you yet. Waktu itu aku dan Adri ada program di luar, terus kami harus mampir ke rumah Adri buat ambil sesuatu. Kebetulan orang tuanya ada di rumah, dan Adri ngenalin aku ke mereka sebagai pacar barunya."
Alan tidak merespon.
"Orang tuanya ramah banget sama aku, Lan. Mereka ajak ngobrol dan makan siang bareng. Minta aku datang lagi lain waktu. I'm so happy karena mereka nyambut aku dengan baik."
"Good for you."
"Adri melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain ke aku. Walaupun belum kenal lama, dari apa yang dia lakukan hari itu, aku tau dia mau serius sama aku."
Alan mulai menyesali pertanyaannya tentang Adri. Harusnya ia tidak bertanya, maka tidak perlu ada perih lainnya yang mesti susah payah ia tutupi.
"Kamu sendiri, mau serius sama dia?" tembak Alan.
Tidak ada jawaban dari Hujan.
"Hujan, still there?"
"Aku sedang mempertimbangkan. Setidaknya aku tau, hubungan kami nggak akan abu-abu. Adri mau memperjuangkan aku."
"Memperjuangkan? Dengan ninggalin pacarnya, maksud kamu?"
"Kenapa kamu bikin kami jadi nampak jahat?"
"Karena apa yang kalian lakukan sekarang itu salah, Hujan."
Hujan menghela nafas, "Kami cuma ingin bahagia. Adri bilang, dia nggak bahagia sama pacarnya. Dia mau aku. Aku..." kalimat Hujan menggantung.
"Dan kamu mau dia? Yakin? Atau kamu cuma senang karena ada seseorang yang nampak memperjuangkan kamu? Karena kamu terlalu sering ditinggalkan." tanpa Alan sadari, kata-katanya semakin tajam.
"Iya, aku memang selalu ditinggalkan. Nggak pernah ada yang memperjuangkan aku seperti Adri. Lalu, aku salah karena sekarang merasa senang diperlakukan begitu?" Nada suara Hujan mulai berubah, antara marah atau kecewa, orang yang selama ini selalu memihaknya kini terasa seperti sedang menghakimi.
Alan mendengarnya. Rasa marah dan kecewa Hujan pada kata-kata jahatnya. Alan ingin terus mendebat Hujan, menyadarkannya bahwa ia tidak bisa begitu saja memercayai pria yang berniat meninggalkan kekasihnya demi bisa berbahagia dengan wanita lain yang menurutnya lebih baik. Bagi Alan, pria yang baik seharusnya tidak melakukan kekejaman semacam itu. Tapi ia tau, ini bukan saat yang tepat. Hujan hanya akan semakin marah.
"Maaf, kata-kataku tadi sudah kelewatan. Harusnya aku nggak bicara begitu," Alan memilih mengalah.
"Kamu satu-satunya orang yang aku ceritakan tentang Adri. Kuharap kamu akan ikut berbahagia saat aku sebahagia ini."
Sebelum Alan sempat menjawab...
Ponsel Hujan bergetar, menandakan ada panggilan lainnya yang masuk. Nomor tidak dikenal.
"Sorry ya, Lan, there's another call. Talk to you later."
Tuut tuut tuut...
Tanpa mendengar jawaban Alan, telepon terputus.
Hujan tidak curiga atau menduga-duga siapa penelepon dengan nomor tidak dikenal itu. Ia hanya khawatir itu telepon penting, jadi ia tetap menjawabnya.
"Halo?"
"Betul ini dengan Ann?"
"Iya. Maaf, dengan siapa ya?"
"Niken. Pacarnya Adri."
DEGGG... Jantung Hujan rasanya mencelos.
"Ya, ada yang bisa dibantu? Tapi ini kebetulan saya nggak lagi sama Adri sih. Hari ini dia nggak masuk kerja."
"Saya perlunya cuma sama kamu kok."
"Oh, oke. Is there anything I can help?"
"Ada. Saya harap, saya nggak menemukan nama kamu lagi di chat room pacar saya. Saya juga nggak mau lihat nama kamu diriwayat panggilan telepon pacar saya, terutama dengan durasi lebih dari dua jam di tengah malam."
"Niken, saya nggak ada hubungan apa-apa sama Adri."
"Saya nggak tau yang bohong itu kamu atau orang tuanya Adri. Tapi apapun itu, mungkin kamu perlu tau satu hal. Saya nggak berniat pisah sama Adri."
"Saya juga nggak berniat merebut Adri. Dia yang datang ke saya dan bilang kalau dia mau putus sama kamu."
"Kami nggak akan putus. So, stay away from him. He's mine."
Satu detik kemudian telepon terputus. Menyisakan suara degup jantung Hujan yang memburu. Hujan bisa merasakan dadanya berdegup kencang, matanya panas, tangannya sudah mengepal siap memukul apapun yang bisa jadi pelampiasan. Tapi ia sadar posisinya terlalu lemah untuk melawan, ia tidak punya apa-apa selain keyakinan bahwa Adri memilihnya ketimbang perempuan bernama Niken yang baru saja meluluhlantahkan harga dirinya dalam hitungan menit.
Dalam kekalutan itu, Hujan berusaha mengumpulkan kembali serpihan harga dirinya dengan menghubungi Adri, berharap mendapat jawaban seperti apa yang ia harapkan. Tapi nihil. Seketika ia tau kalau nomornya sudah diblokir.
Ketika itu juga, seseorang menepuk bahunya dari belakang.
"Ann, sibuk nggak?"
Suara yang Hujan kenal. Mentornya, Bu Nita.
"Oh, nggak kok, Bu. Ada apa, ya?"
"Are you ok? Pucet banget kamu."
"Nggak apa-apa, Bu. Efek kurang tidur aja mungkin."
"Oh.. Iya, Hujan, ini lho, saya mau minta tolong. Nambah-nambahin kerjaan kamu sih. Tapi semoga kamu nggak keberatan."
"Kerjaan apa, Bu?"
"Jadi, pagi ini tuh saya mendadak dapat kabar dari Adri, katanya dia mengundurkan diri dari internship program. Dia cuma bilang karena alasan pribadi, dan mau ngasih tau saya detailnya nanti saat ketemu. Yang jelas mulai hari ini dia nggak akan ngantor lagi. Agak kaget sih karena ini mendadak sekali, sementara kita lagi banyak program yang harus segera running. Kamu handle beberapa tugas Adri sementara nggak apa-apa, ya? Ini sudah saya bagi sama yang lain juga kok. Detailnya nanti kita bahas lebih lanjut saat meeting," Bu Nita menjelaskan panjang lebar.
Hujan belum bisa berpikir jernih. Ia kesulitan mencerna penjelasan Bu Nita. Yang bisa ia tangkap hanya bagian Adri mengundurkan diri.
"Jadi, gimana? Oke ya?" tanya Bu Nita memastikan.
Hujan yang masih tidak fokus akhirnya hanya mampu mengangguk tanpa tau apa yang diminta Bu Nita. Ia hanya ingin segera pulang dan menata kembali pikiran juga hatinya saat ini.
Hujan menyadari bahwa kehilangan Adri tidak membuatnya terlalu sedih, yang menyakitkan adalah kenyataan bahwa lagi-lagi ia ditinggalkan, tidak diperjuangkan, tidak menjadi pilihan, apalagi tujuan. Dan disaat seperti ini, ia tidak bisa menelepon Alan yang baru sesaat lalu memberinya peringatan.
Rangkasbitung, 19 November 2024
Find the previous story here:
April 2013 Jangan ajari Alan arti sabar, sudah lebih dari satu bulan ia menahan diri untuk bicara dengan Hujan yang masih dengan konsisten m
Cukup
Seperti saat mencintaimu, akupun meninggalkanmu dengan alasan. Sesuatu yang sulit kamu cerna. Dan aku juga tau, apapun yang kamu dengar hanya akan menjadi alat untuk menyerang. Berharap aku menyerah dan berbalik. Menyelamatkan harga diri yang kamu hancurkan sendiri. Tapi seperti kamu yang juga tetap berdiri pada apa yang kamu yakini, aku pun sudah berada pada titik yang tak bisa kamu jangkau lagi.
Sempat kulihat bagaimana kamu mencoba tegar. Iya, tetap berdiri meski terhuyung. Hingga akhirnya kamu jatuh. Jatuh cinta lagi, dan merasa hidup kembali. Kamu benar, tetaplah hidup. Karena aku bukan meninggalkanmu untuk menghadiri pemakaman yang takkan sempat kudatangi.
Perpisahan ini adalah satu-satunya obat. Agar aku, kamu, tidak lantas saling membunuh. Karena ada saatnya nanti, kita akan kehabisan cara untuk saling menyembuhkan, dan luka-luka takkan lagi ada penawarnya.
Mari kita cukupkan saja.
Sampai jumpa di waktu kita telah menjadi bahagia seutuhnya.
Beberapa waktu ini aku belajar..
Orang lain tidak perlu sepakat denganku bahwa ada jenis kebahagiaan yang tidak bisa dilunasi dengan materi.
Bangun pagi tanpa perasaan khawatir, misalnya. Khawatir terlambat berangkat kerja, khawatir dengan kemacetan luar biasa dalam perjalanan menuju kantor, khawatir dengan pekerjaan yang tak pernah menemui kata selesai, khawatir dengan omelan atasan, khawatir dengan gunjingan rekan sejawat atas apa-apa dari diri kita yang tidak sesuai ekspektasi mereka, dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya.
Atau bergembira saat bekerja karena memilih untuk menjalani pekerjaan yang dicintai, bukan berusaha mencintai pekerjaan yang dijalani. Selalu merasakan hati yang penuh dengan suka cita saat berhasil menyelesaikan satu pekerjaan, meskipun nilainya tidak setara dengan upayanya. Tapi rasa syukur adalah kunci, kan?
Bahwa tidak apa-apa dianggap bukan siapa-siapa dengan pencapaian yang tidak seperti manusia kebanyakan.
Semua orang berlomba dengan prestasinya. Semuanya berkompetisi menjadi yang nampak paling sempurna di laman media sosial masing-masing. Semuanya butuh validasi. Semuanya butuh pengakuan diri. Semuanya tidak salah dengan melakukan itu. Tapi apakah aku juga harus terbawa arus? Bolehkah aku menjadi yang tidak seperti semuanya? Karena aku pernah dan akhirnya lelah.
Ternyata menjadi yang bukan siapa-siapa tapi menjadi yang paling bisa diandalkan saat orang-orang kesulitan adalah berkah tersendiri bagi si aku yang nampak kecil ini.
Bahwa ukuran kesuksesan seseorang adalah dirinya dihari kemarin. Bukan orang lain.
Pencapaian orang lain akan selalu terlihat lebih baik. Ketika kita berhasil mengimbangi yang satu, akan ada orang lain yang lebih lagi dan kita kembali merasa kurang. Apa gunanya mengejar tujuan orang lain? Tidak bisakah fokus pada tujuan kita sendiri? Tidak bisakah fokus pada apa yang membuat kita bahagia, dan bukan pengakuan orang lain sebagai patokannya?
Dan bahwa.. apa yang membuat kita bahagia lebih berarti dari pikiran orang-orang tentang kita.
Ruang Tenang
Menulis ini disela beresin kerjaan.
Tiba-tiba mood swing dan kepingin nulis. Baru mikirin kata-katanya aja udah mrembes mili. Padahal dari semalam sampe tadi siang tiap cerita ini sama aa selalu nangis. Harusnya udah kenyang dong ya nangisnya? Oh ternyata belum. Ketika ditinggal aa yang pergi kerja dan sekarang di rumah sendirian, langsung kepikiran lagi dan yes, sedih lagi. Kerja depan laptop sambil nangis. HAHAHAAA kelakuan si megan menjelang datang bulan memang agak random sih.
Entah gimana, lagi ngerasa capek banget aja. Terutama ketika mikirin disertasi yang udah 4 tahun ga selesai-selesai. Gilak sih ngerjain disertasi 4 tahun. Bandung Bondowoso aja ngerjain candi cuma semalem. Langsung kepikiran, apakah ada jin yang bisa bantu ngerjain disertasi? Hamba udah hopeless banget ini sumpah.
Hal lain ya tentu saja perkara kerjaan. Ada beberapa kerjaan freelance yang belum selesai tapi mager banget ngerjainnya. Pengen mulai ngajar lagi tapi juga takut nggak kuat sama tekanan kerja dan nggak betah sama lingkungan kerjanya, seperti yang pernah terjadi pada 2022 lalu. Tapi yahhh udah bosen banget merasa dianggap pengangguran sama orang-orang hanya karena nggak punya profesi yang "mentereng" (kalau freelancer dan ketua yayasan, nggak bisa dianggap profesi). Ego dan harga diriku sering terluka ketika ada yang nanya, "Megan nggak kerja?". PADAHAL HAMBA KERJA LHOOOO. Atau ketika pagi-pagi udah siap mau ke TK, masih juga ditanya, "Megan emangnya mau kemana?". YA KEMANA LAGI KALO BUKAN KERJA?
Apakah aku harus daftar CPNS lagi tahun ini dan apply formasi dosen seperti sebelumnya? Biar ketika orang-orang tanya, "Megan kerja di mana?", aku bisa mantap jawabnya. Biar nggak ada lagi yang mempertanyakan, aku kerja atau ngga, karena itu cuma melukai harga diriku, bikin aku ngerasa useless dan nggak dianggap.
Mungkin harusnya aku nggak ngerasa tenang dan bahagia dengan pekerjaan sekarang. Mungkin harusnya aku kayak orang-orang, kerja senin-jumat 8 jam sehari penghasilan 2 digit sebulan. Mungkin harusnya aku nggak perlu mikirin kesehatan mentalku gimana, biar aja jadi gila sekalian walaupun harus tersiksa sama kerjaan yang nggak bikin aku nyaman.
Aku cuma lagi berusaha hidup bahagia dengan cara terbaik yang aku bisa. Bolehkah kasih aku sedikit ruang?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Disertasi adalah jalan panjang yang teramat sepi.
Badai terhebat kadang tidak harus selalu diterjang, tapi boleh ditunggu sampai mulai mereda.