Pada akhirnya aku kalah. Aku kalah dengan nuraniku. Pada bagian ini aku terlalu menyangkal, menyangkal bahwa aku tidak menyukaimu.
Lagi dan lagi nuraniku malahan yang mengambil alih peran dalam cerita yang entah bermuara kemana. Entah berlabuh pada dermaga yang membawa kebahagiaan atau justru bermuara pada sebuah rasa penyesalan.
Aku tak mengerti mengapa, kenapa dan bagaimana karena tidak semua tanya beroleh jawaban.
Aku tak mengerti kepada siapa layaknya aku melabuhkan hatiku, kepadamu yang tengah menemani ku sekarang atau justru tidak perlu melabuhkan perasaan itu kepada siapapun.
Nurani ku memberontak, Naluri ku bergejolak. Mereka sedang beradu peran untuk menentukan siapa pemenangnya.
Dan lagi lagi, nurani selalu menjadi pemenangnya. Pemenang akan segala cerita yang ada.
Kepadamu, tuan yang kini tengah menemani hari, terimakasih telah menjadikan kebetulan yang mendewasakan. Terima kasih telah menjadi peran yang lekat dalam ingatan. Frandeta
Yogyakarta, 6 Agustus 2024

















